La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 140



"Sudah siap?"


"Tentu saja. Paman seperti bertanya pada karyawan baru yang akan masuk kerja saja," sahut Luna yang merasa seperti akan ada kejutan di perusahaan William nanti.


"Cara kerja pamanmu berbeda dengan ayahmu Luna. Nanti kau akan melihatnya disana," ucap sang bibi yang mengambilkan sarapan untuk suaminya.


"Untung papa sudah kembali ke Kanada, kalau tidak pasti akan ada perdebatan besar disini." Luna tersenyum mengejek sang paman yang seperti menakut-nakuti Luna.


"Papamu tahu aku Luna. Jika tidak ada kau, dia juga seperti aku. Itu sudah mendarah daging dalam keluarga Efrain. Tapi karena Ellard memilikimu, ia sedikit melunak pada putrinya sendiri."


William menatap lekat keponakan yang sudah ia anggap anaknya sendiri itu.


Apalagi William telah kehilangan Stefan. Hal itu membuatnya semakin menyayangi keponakan-keponakannya.


"Harus itu, Paman!" sahut Luna bersemangat. Sang ayah memang ayah terbaik di dunia. Lelaki terhebat dalam hidup Luna.


"Aku juga akan begitu kalau memiliki anak perempuan. Sayangnya ... aku tidak bisa memilikinya."


Christina mendekat dan merangkul sang suami. "Kita memiliki Luna dan Elea disini. Mereka anak dan juga cucu kita Will," hibur Christina.


Kecelakan puluhan tahun silam mempengaruhi kesehatan William. Hingga ia divonis oleh dokter tidak bisa lagi memiliki keturunan.


"Maafkan aku ya, Sayang," ucap William pada sang istri. Tatapan mata William penuh rasa bersalah.


"Kau ini bicara apa? Sudah, jangan membuatku marah lagi. Teruskan makanmu dan segera bersiap," ucap Christina yang mencium pelipis William kemudian mengambil duduk disebelah lelaki itu.


"Kalian selalu membuatku iri. Bibi sangat mencintai Paman," ucap Luna lirih seraya memasukkan makanan kedalam mulutnya.


"Kami saling mencintai, Luna. Hidupku untuk William. Dan begitu juga dirinya."


William mengikatkan jemarinya kedalam jemari Christina. Tatapan mereka penuh cinta. Saling menguatkan tepatnya. Karena mereka sudah pasti melalui banyak hal dalam perjalanan rumah tangga mereka.


"Pagi-pagi sudah melow semua. Nanti pada saatnya kau akan memiliki seseorang yang akan menjagamu dengan nyawanya, Sayang. Seperti pamanmu dan aku." Jemari Christina menyentil lengan Luna.


Wanita paruh baya itu menetralkan suasana dengan berdehem dan tersenyum pada semuanya.


"Sudah ada, Ma." William menambahi.


"Aku masih istri Adam, Paman," protes Luna lirih. Status mereka memang masih suami istri bukan.


"Lelaki itu tidak pantas dipertahankan Luna."


"Sayang...." Christina menengahi. William memang selalu emosi jika membahas tentang Adam. "Pamanmu terlalu menyayangimu, Luna," ucap Christina lirih.


"Sudah,ya. Kalian selesaikan sarapan dan segeralah berangkat. Untuk Elea, biar bibi yang mengantar ke sekolahnya."


"Terima kasih, Bi."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Kau yakin bosmu itu orang baik?"


"Sella, apa yang kau katakan. Dia memang orang baik, hanya ... Sedikit egois dan gengsi saja. Bukankah semua bos seperti itu?" Kecuali Luna tentunya. Dalam hati Evelyn mengakuinya. Bahkan gadis itu menjadi korban keegoisan Aglen sampai berkali-kali.


"Kau mengatakannya bukan karena sepatu itu, bukan?" Sella yang tahu asal dari sepatu brand ternama yang kini dikenakan oleh Evelyn langsung menuduh.


"Ya ampun, Sel. Hari itu memang cuma Mr. Aglen yang mengetahui jika sepatuku rusak karena terjepit di besi saluran air. Semua orang pasti akan melakukannya jika mengenalku. Dia membelikannya juga karena kasihan, tidak ada maksud lain."


Ucapan Evelyn membuat dirinya sendiri meringis. Entah dia sedang membangga atau mengharapkan hal lain dari sosok Aglen, ia tidak tahu.


Kasihan?


Apa iya Aglen mengenal rasa kasihan? Sedangkan Evelyn saja beberapa kali dikerjai oleh lelaki itu.


"Baiklah, jangan matikan ponselmu selama perjalanan. Jika ada apa-apa langsung kau hubungi aku," pesan Sella.


"Bukankah jika di dalam pesawat harus dimatikan?"


Sella menepuk dahinya sendiri. "Aku jadi ikut-ikutan bodoh karena bosmu itu."


"Sella!"


"Ah sudahlah. Pokoknya sebisa mungkin jangan putus komunikasi."


"Iya."


\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=


"Selamat pagi semuanya!"


"Selamat pagi, Sir," jawab beberapa karyawan yang sedang briefing pagi serempak.


William menunjuk pada Luna. Dan Luna mengangguk sebagai sapaan atas perkenalan yang diucapkan sang paman.


"Perlakukan beliau ini sebagaimana mestinya. Tidak perlu sungkan karena beliau keponakan saya. Karena dalam keluarga atau dimanapun, kami tidak pernah mengajari untuk gila hormat ataupun penjilat. Salah tetap salah dan benar juga tetap benar. Terima kasih. Silahkan lanjutkan pekerjaan kalian."


William menutup perkenalan pagi ini dengan singkat dan jelas. Lelaki paruh baya itu menuju ruangannya. Sedangkan Luna dibimbing oleh seseorang yang mengaku kepala bagian marketing. Seorang wanita cantik yang bernama Lolly.


Sungguh, sang paman langsung melepasnya tanpa bimbingan dihari pertama bekerja di sini. Dimana perusahaan ini sudah jelas milik pamannya itu. Luna seperti seorang titipan yang hanya diperkenalkan tanpa diberi bekal apapun.


"Silahkan, boleh saya panggil nama?" tanya Lolly sopan.


"Tentu saja, Bu. Panggil nama saja," jawab Luna sembari berjalan beriringan dengan Lolly.


"Saya juga boleh dipanggil nama. Saya belum cukup tua untuk dipanggil ibu," pinta Lolly tanpa sungkan.


"Tapi ini di kantor dan anda atasan saya. Jadi saya_"


"Baiklah, jika berdua jangan panggil ibu atau terlalu kaku. Usia saya hanya terpaut beberapa tahun di bawah kamu."


Luna kaget. Hebat juga wanita disebelahnya ini. Masih muda dan sudah menjabat kepala bagian marketing.


"Ini ruangan kamu. Tanyakan pada saya apapun yang tidak kamu mengerti. Apa kamu pernah bekerja dibidang yang sama sebelumnya?"


"Emm ... Belum. Ini pertama kali, Bu."


"Benarkah? Apa kamu baru bekerja pertama kali ini?" tanya Lolly yang sedikit terkejut mendengarnya.


"Tidak, tapi ini kali pertama saya masuk dunia marketing, Bu."


Luna tidak mungkin mengatakan jika dirinya mantan CEO yang turun pangkat menjadi karyawan.


"Sebelumnya?"


"Hanya karyawan biasa, Bu," jawab Luna dengan senyum sumbang. Wanita itu tidak pandai berbohong.


"Mana mungkin! Kamu keponakan Tuan William Efrain dan setahuku beliau hanya memiliki satu adik yaitu Tuan Ellard. Apa kau putrinya?" tanya Lolly penasaran.


Senyum Luna masam. Ia tidak bisa menyembunyikan identitasnya. Padahal ia berada di Kanada untuk beberapa lama bersama sang ayah.


Luna mengangguk. "Tapi jangan sungkan, Bu. Jika salah saya siap ditegur," ucap Luna merendah.


"Jangan begitu. Selamat bekerja, ya. Marketing itu menyenangkan. Bekerjanya juga komisinya." Lolly tersenyum simpul sebelum akhirnya meninggalkan Luna di dalam ruangannya.


"Jangan lupa satu jam lagi divisi kita ada rapat. Akan ada perwakilan untuk presentasi pada klien baru kita." Lolly yang sudah keluar kembali menyembulkan kepalanya untuk mengingatkan.


"Siap, Bu."


Ruangan baru, kantor baru. Luna bersiap membuka lembaran baru meski di Kanada akan ada banyak kenangan yang ia rindukan.


Sudah berlalu beberapa bulan dari sidang putusan dimulainya hukuman Adam. Luna sama sekali belum siap untuk bersikap biasa saja dan menjenguk suaminya itu. Semuanya masih terasa sakit.


Sangat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=


"Sayang, El ke sekolah dengan oma ya."


"Kenapa tidak dengan Mama, Oma?"


"Hari ini kebetulan bersamaan dengan hari pertama masuk kerja untuk mama. Jadi mama harus berangkat lebih pagi untuk mengenal sekitarnya. Sama seperti El yang harus berkenalan dulu dengan teman-teman."


Elea termangu. Nampak jelas gurat kecewa di mimik wajahnya.


"Besok mama bisa mengantar El ke sekolah," tambah Christina.


"Benarkah Oma?"


"Iya."


"Hore!"


Gadis kecil itu ceria kembali mendengar sang ibu akan mengantarnya besok.


"Ayo kita berangkat, Sayang," bimbing Christina yang mengambilkan tas dan memasangnya dipundak Elea.


"Let"s go Oma!"


😍😍😍😍