
Elea terpaku ketika ia masuk kedalam rumah kakeknya. Gadis kecil itu melihat sosok Stefan yang tengah berdiri membelakanginya. Sosok asing yang tidak pernah dijumpainya.
"El." Aglen melihat sang keponakan yang mendadak menghentikan langkah kakinya. "Oh ... itu Paman Stefan, masih saudara juga dengan El," jelas Aglen yang kemudian berjalan mendahului Elea.
"Kesini, Sayang." Aglen melambaikan tangannya. Elea nampak ragu menghampiri, namun dalam hatinya ia penasaran.
Sepanjang usianya kini, ia hanya mengenal saudara dari ayah dan ibunya. Dan disana tidak ada paman tampan di depannya ini. Ia baru tahu jika memiliki saudara setampan Paman Stefan.
Elea hanya berjarak satu meter di depan kedua lelaki yang tingginya sama-sama menjulang itu.
Dan tahukah saat ini, Stefan yang sudah memutar tubuhnya menghadap kedua orang beda usia itu hanya mematung.
Jantungnya kembali berdetak kuat tidak terkendali. Belum lagi berulang kali ia mencoba memasukkan oksigen kedalam paru-parunya dan gagal, rasanya sungguh sesak.
Eleanor Ellard Walton, gadis kecil yang pada akhirnya tersenyum malu-malu di depan Stefan ini langsung mencuri hatinya.
Gadis yang kemungkinan besar adalah darah dagingnya ini, sungguh cantik. Dia memiliki rambut hitam selegam milik ibunya, mata bulat coklat serta bulu mata yang lentik. Dan ... yang paling tidak bisa dibohongi adalah rahang dan hidung mancung itu. Sangat mirip milik Stefan.
Aglen menyaksikan kekakuan Stefan dan Elea yang saling pandang. "Kalian ... Aku tak salah lihat, kalian sangat mirip," celetuk Aglen kemudian.
Deg!
Jantung Stefan hampir copot mendengarnya. Kata "mirip" yang diucapkan Aglen bukanlah sebuah tuduhan, namun Stefan merasakan demikian.
"Ah ... Aku lupa kita kan bersaudara. Jadi wajar saja jika kita mirip." Aglen tertawa sumbang, namun Stefan yakin ada perasaan aneh pada diri sepupunya itu yang tidak terjelaskan.
"Sayang, ayo kenalkan. Yang tampan ini juga pamanmu." Aglen membungkuk, mensejajarkan tinggi badannya dengan Elea.
Kemudian membimbing gadis kecil itu untuk menjabat tangan Stefan.
"Stef, kau jangan menakuti anak kecil seperti itu. Ulurkan tanganmu!" Aglen sampai berdiri kembali, kemudian berbisik sambil menggertak Stefan yang masih saja diam tak menanggapi. "Stefan!! Kau menakutinya dengan terus diam," pekik Aglen lirih sambil mengerutuk giginya.
"Ah.. maaf." Stefan segera membungkuk di depan Elea. "Anak cantik, kenalkan aku Paman Stefan, sedikit lebih tampan dari Paman Aglen. Dan aku ... ayahmu." Stefan hanya berani mengucapkan kalimat terakhirnya dalam hati.
Aku yakin kau darah dagingku, Elea. Mengapa Luna tidak pernah memberitahukannya. Ia menanggung sendiri semuanya.
"Namaku Elea, Paman. Panggil El saja. Semua orang memanggilku begitu. Paman juga mau ikut jalan- jalan bersama kami?" tanya Elea dengan gaya kocak khas anak kecil.
"Sebenarnya paman ingin ikut, El. Tapi sepertinya urusan Paman dengan Kakek Ellard harus diselesaikan lebih dahulu. Paman janji akan mengajakmu jalan- jalan jika pekerjaan Paman disini sudah selesai."
Stefan membelai puncak kepala Elea. Ada rasa sayang yang meletup-letup dalam hatinya. Sepertinya mereka memang saling terikat.
Bahkan Stefan dengan lancar mengucapkan janjinya pada gadis kecil itu.
"Jadi papa yang mengundangmu kesini? Bekerja lagi. Kapan kau liburan Stef? Sepertinya kau memang bekerja terlalu keras sejak keluar dari Amerika."
"Aku menyukainya. Lagipula, hal itu persiapan untuk keluarga kecilku kelak, bukan?" Stefan menolak dikatakan terlalu keras bekerja. Padahal kenyataannya memang demikian, ia hanya ingin membuatnya cepat selesai. Namun disaat semuanya sudah ia dapatkan, keinginan terbesarnya justru harus tumbang kini.
"Mana calonmu, tidak kau kenalkan padaku?" ejek Aglen.
"Kau mengenalnya. Em ... maksudku, kau pasti mengenalnya nanti." Stefan dengan segera meralat ucapannya.
"Anakmu pasti secantik Elea nanti," Aglen menepuk bahu Stefan yang tercekat kaget.
Astaga!!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kau berubah pikiran?" Senyum mengejek Aglen terbit begitu saja.
"Sekali- kali kau harus merilekskan otakmu, Stef," cibir Aglen.
"Asyik ... Paman tampan ikut! Ups!" Gadis kecil yang lucu itu mendadak membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangan.
"Apa Paman Aglen tidak tampan, El?"
"Paman juga tampan, tapi lebih tampan Paman Stefan." Elea menjepit bibirnya, gadis kecil itu menunduk karena ia tahu kejujurannya pasti membuat paman kesayangannya itu marah. "Tapi El sangat sayang Paman Aglen. Sungguh!" ucapnya bersemangat.
"Itu sangat menghibur Paman, El. Cepat masuk!" Aglen hanya bercanda.
Jika dengan Stefan ia tentu kalah pamor. Bahkan di negara kelahiran mereka, semua wanita yang Aglen kenal tahu siapa Stefan.
Lelaki itu masuk mobil Aglen bersama Elea. Stefan mengambil tempat di sebelah Aglen dan memangku gadis cantik yang sejak tadi tanpa sadar memperhatikannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Saya mau, gedung baru nanti hanya digunakan untuk customer premium. Jadi semua fasilitas yang menyertainya juga harus eksklusif," ucap Luna memimpin rapat di sebuah ruangan dengan arsitek dan design interior yang akan mengerjakan pengembangan gedung baru miliknya itu.
"List nya akan saya kirimkan ke Ibu. Barang-barang apa saja yang harus ada disana, Ibu bisa memilihnya," ucap seorang wanita berumur 30-an yang berprofesi design interior.
Luna mengangguk. Ia mencermati setiap detail kerangka gedung yang masih dalam bentuk gambar tiga dimensi yang dikirimkan sang arsitek di macbook pribadinya.
"Hemm ... Aku suka ini. Berikan privasi untuk setiap customer. Buatlah akses yang berbeda, dimana sebisa mungkin jika ada dua orang customer bersamaan datang, mereka tidak akan bertemu satu sama lain," Luna mengeluarkan idenya.
"Bagaimana jika kita buat labirin saja. Lalu kita peta-kan jalan yang harus customer lalui, dan kita buat maps yang disambungkan ke peralatan pintar ini. One way for one customer," ucap arsitek yang juga adik dari sang design interior itu.
"Aku setuju. Itu terasa sangat pribadi, seperti berada di rumah sendiri. Kira- kira seperti itu konsepnya. Jadi setiap orang benar- benar terjaga kerahasiaannya," puji Luna secara tidak langsung pada kakak adik itu.
"Yap, benar sekali Bu. Ya ampun ini proyek pertama saya menggunakan teknologi mutakhir. Terasa seperti di film-film saja. Padahal kita baru merencanakannya." Sang arsitek tersenyum takjub. Jika proyek ini berhasil, pasti akan menjadi batu pijakan untuknya menjadi arsitek handal yang pantas diperhitungkan di negara ini.
"Oh iya, Bu. Saya mengenal teman yang memiliki perusahaan di bidang teknologi. Dia memiliki produk sebuah pintu dengan pin yang tercipta sangat rumit hingga susah untuk diretas. Barangkali Ibu berminat," tawar sang design interior.
"Boleh."
Luna menerima sebuah kartu nama ditangannya. Namun ketika ia membaca nama pemiliknya, mata bulat itu terpaku sempurna.
Dengan segera ia menggenggam kartu nama itu dan meremasnya di bawah meja.
"Terima kasih. Sepertinya aku ingin pintunya di setting dengan pemindai mata saja."
"Di tempat teman saya itu juga ada, Bu. Yang saya tawarkan tadi adalah produk terbaru."
"Tidak. Terima kasih bantuanmu. Aku sudah memiliki perusahaan terpercaya yang akan mengerjakannya."
"Oh, baiklah."
"Kita akhiri sampai disini pertemuan hari ini. Untuk kurang lebihnya, kalian bisa menghubungiku langsung, atau ke Emma," tunjuk Luna pada sekretarisnya.
Kedua orang kakak adik itu mengangguk hormat. Kemudian mereka berpamitan.
💓 Terima kasih readers masih setia, dukung saya biar saya bersemangat terus ya💪