
Beberapa tahun berlalu...
"Selamat pagi Mama." Dengan gaya kocaknya, seorang gadis kecil berusia kurang lebih lima tahun menerobos masuk setelah sang ayah membukakan pintu kamar pribadinya itu.
Gadis kecil cantik itu bermata bulat coklat dengan rambut bergelombang sepunggung. Bulu mata yang lentik, alis hitam laksana bulan sabit dan kulit seputih porselen.
"Pagi, Sayang. Ya ampun, Mama terlambat bangun ya!" Luna masih mengucek matanya. Tubuhnya terasa sakit semua hingga ia tidak bisa bangun pagi hari ini.
"Kamu sakit, Sayang?" tanya Adam, yang merupakan suami Luna. Lelaki berambut pirang dengan mata abu ini menempelkan telapak tangannya di dahi sang istri.
"Hangat, pasti karena semalam kau membantu pekerjaanku. Sudah kubilang untuk istirahat lebih dulu tapi kau tak mendengarkan." Adam mengomel khas emak-emak yang khawatir dengan anaknya.
Dia selalu begitu.
Lelaki itu merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga orang yang dicintainya.
"Aku tidak apa-apa, jangan khawatir." Luna menenangkan sang suami dengan mengusap pundaknya.
"Kau selalu seperti itu." Adam berucap lirih, lelaki itu kesal karena sang istri adalah wanita mandiri yang tidak pernah ingin merepotkannya. Bahkan Luna selalu membantu menyelesaikan beberapa pekerjaannya.
Meski begitu, Adam membantu Luna bersandar di ranjang mereka dengan posisi setengah duduk. Dan setelahnya memelototi wanita itu seolah marah dengan anak kecil.
Luna sudah biasa, Adam memang selalu perhatian bahkan sejak saat pertama kali mereka bertemu dan belum menjadi suami istri seperti sekarang.
"Daddy, Mama sakit?" tanya gadis kecil yang hanya menoleh kesana kemari karena bingung mendengarkan ucapan orang tuanya.
"Iya, Sayang. Mama sakit tapi Mama bandel." Adam berbisik pada gadis kecil itu.
"Tidak, Sayang. Daddy! Jangan mencari teman untuk membelamu!"
Adam menjawab iya sedangkan Luna menjawabnya tidak. Gadis kecil itu semakin bingung.
"Daddy, aku tidak apa-apa," ucapan Luna menekan agar sang suami meluluskan permintaannya.
"Mama sakit, Sayang. Tapi tidak apa-apa. Biar Daddy yang merawatnya. Elea tetap pergi ke sekolah, ya. Nanti diantar paman Alex dan bibi Ofelia."
Gadis kecil itu mengangguk mengerti dan menuruti ucapan ayahnya.
"Saat Elea pulang, Mama pasti sudah sembuh," janji Adam pada putri kecilnya.
Elea keluar dari kamar orang tuanya. Di depan pintu, bibi Ofelia sudah menunggu.
"Ayo Sayang kita bersiap," ajak bibi Ofelia pada gadis kecil itu.
Sepeninggal keduanya, Adam mengambil bubur yang tadi dibawakan oleh bibi Ofelia.
"Makanlah lebih dulu agar kau bertenaga." Tanpa menunggu jawaban Luna, lelaki itu menyodorkan bubur dalam sendok yang siap ia suapkan.
"Emmm...." Luna menelan bubur yang disuapkan sang suami. Rasa hangat menjalar di tenggorokannya.
"Mandilah, Sayang. Biar aku makan sendiri. Nanti kau terlambat."
Luna yang menyandarkan tubuhnya setengah duduk, segera mendorong sang suami untuk segera membersihkan diri karena jarum jam sudah menunjuk diangka 7 pagi.
"Tidak apa-apa, bukankah aku bosnya? Istriku sedang sakit jadi aku boleh sedikit terlambat," bela Adam pada dirinya sendiri.
"Berilah contoh yang baik untuk karyawanmu Mr. Adam Walton," lirik Luna.
"Baiklah, Sayang. Jika soal profesionalitas kau memang nomor satu." Lelaki itu mengecup Luna, kemudian meninggalkan istrinya itu setelah mengusap puncak kepalanya dengan sayang.
Luna mengaduk bubur dalam mangkuk yang ditinggalkan suaminya. Ingatannya kembali beberapa tahun yang lalu.
Dia hanya fokus pada pendidikannya serta meningkatkan ekspansi perusahaan baru yang dirintisnya bersama sang ayah.
Luna yang di negara barunya dikenal berkepribadian dingin ini, dikenalkan oleh Ellard pada Adam yang karirnya cemerlang meski perusahaan milik ayahnya sendiri di ambang kebangkrutan.
Adam tidak bekerja di perusahaan ayahnya. Dia memilih merintis kariernya dari nol dengan bekerja di salah satu perusahaan ternama di Kanada.
Lelaki berambut pirang yang menikahinya empat tahun yang lalu itu memang baik. Dan selalu sabar dengan Luna dalam keadaan apapun.
Bahkan Adam dan keluarganya menerima Luna apa adanya, dan mencintainya setulus hati meski wanita cantik bermata coklat itu merasa banyak kekurangan.
"Sayang, kau melamun? Bahkan buburmu hanya kau aduk sejak tadi." Adam keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, dia menghampiri sang istri yang dilihatnya tidak fokus saat ini.
"Cepat sekali mandinya?" Luna mengerjap karena terkejut.
"Bukan aku yang mandi lama, tapi kau yang melamun sejak tadi," sahut Adam. "Mau kusuapi?" Masih dengan mengenakan handuk, Adam duduk di sebelah Luna.
"Bersiaplah dan berangkat kerja, Sayang. Papa pasti lebih membutuhkanmu di kantor."
"Apa istriku tidak membutuhkanku saat ini?" Wajah Adam nampak kecewa.
"Bukan begitu. Sungguh aku tidak apa-apa, Sayang. Sebentar lagi aku akan baikan." Luna meyakinkan sang suami dengan menggenggam tangannya.
"Apa kau ingin aku mampir ke kantormu untuk menggantikanmu hari ini? Papa pasti memaklumi nya karena kau sakit, Sayang. Lagipula aku akan langsung datang jika papa membutuhkanku di kantor," tawar Adam pada istrinya.
Bukan sekali ini saja Adam menawarkan diri seperti itu, jika sang istri sedang sakit. Namun Luna selalu menolaknya. Wanita itu tahu Adam paling diandalkan selain dirinya di kantor, ia tidak ingin merepotkan suaminya itu.
"Tidak. Aku akan menghabiskan bubur ini lalu minum obat dan aku akan cepat sembuh, Sayang. Aku hanya perlu memberitahu Emma jika aku datang agak terlambat," tolak Luna.
"Hubungi aku jika kau tidak kuat, aku akan langsung datang menjemput. Awas kalau kau memilih pulang sendiri disaat sakit seperti ini!" ancam Adam.
"Iya, Mr. Walton. Semua advice sudah tertanam disini." Luna menunjuk kepalanya. "Aku tidak akan berani."
"Baiklah Sayang, aku bersiap dulu. Dan lekas habiskan sarapan pagimu." Adam pergi setelah kembali mengusap lembut puncak kepala sang istri.
\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=
"Maaf Pa, aku datang terlambat. Luna demam pagi ini." Adam terlambat setengah jam, dan Ellard bahkan sudah menunggu di ruangannya.
"Luna sakit?"
"Iya, Pa. Sebenarnya itu salahku, semalam ia membantuku menyelesaikan analisa proyek Mr. Albert. Mungkin ia kelelahan dan aku tidak memperhatikannya," sesal Adam.
"Luna memang pekerja keras. Dan ia juga terlalu keras dengan dirinya. Kau harus lebih memperhatikannya, ingatkan selalu untuk menjaga jam istirahatnya. Papa ingin segera menimang cucu dari kalian," ucap Ellard.
"Iya, Pa. Tapi juga sudah ada Elea."
"Tentu saja, ia cucu kesayanganku yang pertama. Dan kalian sudah menikah empat tahun namun belum memiliki keturunan. Apa kau tidak menginginkannya?"
"Tentu aku sangat menginginkannya, Pa. Tapi aku tidak ingin membebani Luna. Biarlah semua berjalan sebagaimana mestinya saja."
"Papa juga berpikir seperti itu. Tapi Papa hanya tidak ingin keluargamu_"
"Papi dan Mami tidak pernah mempermasalahkannya, Pa. Mereka menyayangi Luna seperti anak mereka sendiri."
"Aku percaya itu. Terima kasih untuk kasih sayang tulus kalian pada putriku." Ellard menepuk pundak sang menantu. Hatinya lega mendengar penyataan yang diucapkan Adam.
❤readers tercinta, Terima kasih dukungannya🙏