La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 116



Tatapan Adam menerawang. Ia ingat betul hari itu. Hari dimana ia bertemu tidak sengaja dengan Pauline dan ia mendengar semua pernyataan wanita itu yang membuatnya kecewa.


"Benarkah?" tanya pengacara Adam memastikan pernyataan kliennya.


"Itulah yang saya dengar dari Pauline. Stefan menyukai Luna sejak mereka masih sama-sama tinggal di Amerika. Dan Luna tahu itu. Saya marah meskipun saya tidak tahu bagaimana perasaan Luna yang sebenarnya pada sepupunya itu. Hingga saya bergabung untuk mencelakainya bersama Pauline."


"Ini kejahatan besar, Sir. Sesuatu yang direncanakan akan memperberat hukumanmu. Apalagi anda melakukannya secara sadar," jelas pengacaranya.


"Saya tahu. Saya benar-benar gelap mata saat itu. Hati saya dipenuhi amarah apalagi...." Adam terdiam.


Lelaki berambut pirang itu mengingat, jika Luna dalam keadaan hamil saat menikah dengannya. Itu membuat Adam lebih sakit hati lagi, karena ia lelaki yang menerima Luna apa adanya. Tapi ia malah sama sekali tidak mengetahui tentang istrinya itu.


"Apakah anda menduga Nyonya Luna berselingkuh dari anda?"


Adam menggeleng. Dan hal itu juga yang menambah beban hatinya saat ini. Ia tidak pernah mendapati sang istri begitu dekat dengan lelaki lain selain dirinya. Bahkan saat Stefan disini, bahasa tubuh keduanya biasa saja.


Yang ia tidak tahu sampai sekarang adalah siapa ayah biologis dari Elea. Luna tidak pernah mau menceritakannya. Wanita itu mengatakan jika itu bagian dari masa lalunya yang tidak ingin ia ingat.


Hal itu juga yang mendasari sikapnya yang tidak bisa seratus persen sayang dengan Elea. Gadis kecil itu bukan darah dagingnya.


Namun bukankah sekarang semuanya sudah terlanjur? Bahkan ia tidak hanya menyakiti Luna tapi juga Elea dan terlebih lagi Ellarsld yang percaya padanya. Yang telah mempercayakan Luna dan Elea untuk ia jaga.


"Sir, masalah anda yang pertama sudah sangat memperberat hukuman anda. Sebuah percobaan pembunuhan, apalagi pada seseorang yang seharusnya anda lindungi." Pengacara itu memperjelas apa yang ia dengar dan memperkirakan besarnya hukuman yang akan diterima Adam.


"Lalu, tuduhan Tuan Aglen Efrain, mengenai_"


Adam mengulas senyumnya masam.


"Itu juga karena kekecewaan saya pada keluarga Efrain. Hingga akhirnya saya mengambil uang di perusahaan istri saya sendiri." Adam terlihat menunduk setelah mengucapkannya. Sepertinya penyesalannya begitu dalam. Tidak seperti sebelumnya dimana ia menolak tuduhan itu.


"Sidang berikutnya menghadirkan saksi dari pihak mereka. Yang saya tahu, sebenarnya ada dua saksi dari pihak lawan. Nyonya Luna dan Nona Elea. Tapi karena Nona Elea dibawah umur dan kasusnya sama dengan yang menimpa Nyonya Luna, maka Nyonya Luna saja yang sah sebagai saksi."


"Luna akan datang?" Adam nampak berbinar dan sangat mengharapkan hal itu.


"Sebagai saksi beliau diharuskan hadir, Sir. Ini panggilan resmi pengadilan." Pengacara Adam nampak menuliskan beberapa point kata-kata yang disampaikan Adam.


Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya.


Ada perasaan rindu yang menelusup dihati Adam. Namun tentu ia tidak bisa berbuat apapun. Apalagi sekarang dengan status yang disandangnya.


"Jadi, tentang sosok Nona Pauline Osbert akan disampaikan di pengadilan nanti?"


Adam mengangguk. Memperkuat keyakinannya akan menyeret nama wanita itu.


"Anda mempunyai bukti yang lebih menguatkan pernyataan anda?"


"Ada beberapa rekaman pembicaraan kami di ponsel." Adam memberikan alamat seseorang yang ia minta untuk menjaga barang-barangnya. "Sampaikan pesan saya dan bukalah untuk keperluan bukti. Ini sandinya." Adam terlihat menuliskan sesuatu pada secarik kertas.


"Apa hal ini bisa meringankan hukuman saya?" tanya Adam penuh harap. Meski harapan itu setipis kertas.


"Saya tidak ingin memberi Anda harapan kosong. Tapi yang anda lakukan ini hanya mengungkap otak pelaku lainnya yang masih bebas. Menyatakan bahwa anda tidak sendirian. Kalau menurut saya, tidak akan mengurangi apapun," jelas pengacaranya yang membuat Adam menelan salivanya sendiri.


"Apa Pauline akan menerima hukuman yang sama dengan saya."


"Tergantung tuntutan jaksa penuntut, Sir. Namun tuntutan anda lebih banyak dari Nona Pauline."


"Tapi Pauline juga terlibat pada peristiwa yang terjadi di perusahaan Luna. Ia juga harus mendekam di penjara sama seperti saya," geram Adam. Ia tidak akan melepaskan wanita yang ingin lepas tangan itu.


"Ya. Kami yang merencanakan dan Angelin eksekutornya. Lakukan apapun agar Pauline juga mendapatkan balasan yang setimpal." Adam menggigit giginya sendiri hingga bersuara.


"Itu tergantung sedalam apa ia terlibat dan bukti yang memberatkannya nanti, Sir."


"Baiklah, cukup untuk hari ini. Dua hari lagi anda harus siap mengungkapnya di pengadilan," ucap pengacara yang kemudian mohon pamit pada Adam.


"Tuan Eric."


Adam menahan pengacaranya untuk pergi.


"Saya mohon pertemukan saya dengan Luna setelah sidang. Sebentar pun tidak apa-apa," pinta Adam dengan tatapan mengiba.


"Saya tidak bisa berjanji, Sir. Tapi akan saya usahakan," ucap pengacaranya itu yang kemudian melangkah pergi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Luna kembali ke Kanada hanya bersama sang kakak. Sementara Elea ia tinggalkan dengan sang bibi di Amerika.


Wanita paruh baya itu nampak sangat menyayangi Elea. Dan Elea pun nyaman bersama sang oma. Luna hanya berharap Elea bisa menghibur Christina di tengah kekalutan kehilangan Stefan yang disebabkan olehnya.


"Papa!"


Luna menangis saat melihat wajah Ellard yang tiba-tiba keluar dari pintu ketika ia sampai di rumah sang ayah.


"Sayang, Kau baik-baik saja kan?" Ellard menghampiri. Bahkan ia sampai berlutut untuk memeluk anak perempuannya itu.


Lelaki paruh baya itu terenyuh melihat keadaan Luna yang berada di kursi roda. Ia mengelus kursi roda itu, seakan ada sebuah perasaan yang tidak bisa ia jelaskan.


"Aku harus mulai terbiasa dengan ini sekarang, Pa," ucap Luna berusaha tersenyum. Ia yang sedianya akan belajar mandiri baru kembali ke Kanada malah urung.


Persidangan akan kasusnya tidak bisa menunggu lagi.


"Tenang saja, ada Papa dan Kakakmu yang akan selalu menjagamu. Kau harus giat terapi, supaya kau cepat bisa berjalan," nasihat Ellard yang terdengar seperti sebuah perhatian kecil itu di dengarkan dengan seksama oleh telinga anak perempuannya itu.


"Jadi waktuku mempelajari hanya hari ini saja, Pa?" tanya Luna.


"Istirahatlah dulu. Papa yakin hanya sekali dua kali baca kau dapat dengan mudah memahaminya. Papa tahu kau pintar, Sayang," ucap Ellard menenangkan. Lelaki paruh baya itu mencium kening Luna.


"Ya. Aku sangat butuh itu sekarang, Pa," liriknya pada Aglen yang hanya diam saja berada diantara mereka.


"Aku pasti nomor dua kalau Luna sudah ada disini," ucap Aglen tiba-tiba.


"Kau ini! Luna sedang butuh perhatian dan istirahat lebih untuk menghadapi hari esok, Ag. Jangan seperti anak kecil, ingat usiamu sudah setengah usia Papa."


"Aku juga capek, Pa. alAku yang kesana kemari mengurusi anak kesayangan Papa ini, tapi malah dia yang Papa suruh istirahat. Buakankah seharusnya aku yang membutuhkannya? "


Tuk!


Ellard memukul dahi anaknya itu. Aglen terlihat seperti seorang anak kecil yang berebut kasih sayang orang tua saja.


"Kalian berdua anak kesayangan Papa. Tidak ada yang lebih antara satu dan lainnya!"


😍😍😍😍