La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 27



"Tidak! Aaaa...."


Luna berteriak merasakan tubuhnya yang melayang dalam gendongan Stefan. Lelaki itu tanpa izin dan berbicara lagi langsung mengangkat tubuh Luna dalam pelukannya.


"Lepaskan! Stefan, lepaskan!" Luna memukuli dada Stefan yang menggendongnya didepan ala bridal style.


Padahal pukulan Luna begitu keras mengenai dadanya, namun Stefan seperti tidak merasakannya. Atau lebih tepatnya menahan rasa sakit. Karena lelaki itu tetap bergeming dan malah mendekap Luna semakin erat sambil berlari entah kemana.


"Aku suka sekali bekerja saat malam seperti ini. Sepi, lancar dan minim resiko," ucap seseorang yang suaranya semakin mendekat.


Mereka berdua mendengarnya. Seketika Luna menghentikan teriakannya. Dan ia juga berhenti memukuli Stefan.


Didepan ada sebuah tiang tinggi yang berbatasan dengan dinding. Terdapat celah sempit diantaranya. Stefan menurunkan Luna, kemudian menarik paksa tubuh langsing itu bersamanya untuk masuk bersembunyi disana.


"Mereka?"


"Sstttt!" Stefan meletakkan ujung jarinya di bibir Luna. Dan wanita itu seketika diam.


"Aku juga." Terdengar suara yang lainnya. "Kita akan mendapat imbalan sangat besar jika misi ini sukses. Wanita itu menjanjikan banyak hal kepada kita untuk menjatuhkan bu Luna."


Gluk!


Luna tercekat mendengarnya. Apa yang dimaksud dengan menjatuhkannya? Mata Luna menatap Stefan mencari jawaban. Namun lelaki itu hanya menggeleng.


"Haaaagg...."


Dengan cepat tangan Stefan menekan cuping hidung Luna yang hendak bersin. Pasti celah sempit dan kotor itu menggelitik hidung milik Luna.


Air mata Luna menetes, sekuat hati ia menahan bersin. Dan setelah Stefan melepaskan tangannya. Napasnya terasa plong, namun air dalam hidungnya juga ikut menetes.


Stefan yang melihat kemudian merogoh saku celanya. Mengeluarkan seutas sapu tangan yang ia berikan pada Luna.


Sebenarnya Luna ingin menolaknya, namun ia juga membutuhkannya.


"Kau mendengarnya?" Mendadak terdengar suara yang lirih dan sangat dekat.


"Hemm ... ada orang lain disini," tambah yang lainnya.


"Tidak mungkin! Hanya kita yang berjaga. Mungkin ini pantulan dari kita sendiri, atau pantulan suara dari luar."


"Mungkin juga. Kau harus memastikannya. Bahaya jika kita ketahuan dan semuanya belum terlaksana."


"Jika ada orang disini. Hanya celah kecil itu yang memungkinkan untuk sembunyi," tunjuk salah satu dari mereka pada tempat persembunyian Luna dan Stefan.


"Biar aku lihat!"


Luna yang panik merangsek lebih masuk kedalam celah yang besarnya hanya muat satu orang itu. Dan tanpa sadar tangannya menarik tubuh Stefan untuk ikut bersamanya.


Saat ini mereka dalam posisi berhadapan, dan Luna masuk kedalam pelukan Stefan. Lelaki itu sempat melepas jasnya yang berwarna gelap untuk menyamarkan keberadaan mereka.


"Gelap... tidak mungkin ada orang di tempat berdebu seperti ini," ucap lelaki yang memeriksa.


Tidak berapa lama, lelaki yang memeriksa tadi perlahan menjauh dari celah kecil itu. Membuat keduanya bernapas lega.


Luna memang tidak melihat dan tidak tahu siapa Orang-orang itu. Namun dari pergerakannya sudah bisa dipastikan jika yang berkeliaran di ruangan ini dimalam hari adalah karyawannya sendiri.


Orang-orang yang bertugas menjaga keamanan gedung tempat penyimpanan.


"Aman?"


"Tidak ada siapapun. Disana kotor dan gelap."


"Kita pergi saja dari sini. Kak, kau harus pastikan wanita itu tidak akan mengingkari janjinya. Kita harus mendapatkan imbalan yang setimpal, karena resikonya sangat besar."


"Sebenarnya Bu Luna baik. Namun kita juga butuh uang itu. Ah, sudahlah. Kenapa aku jadi memikirkan orang lain."


"Jangan bimbang. Kita harus kuat. Jika kita lemah, kita tidak akan pernah berhasil, Kak."


"Benar juga."


Luna mendelik. Ia masih tidak percaya jika perusahaannya memelihara serigala berbulu domba saat ini.


Wanita itu memaksa keluar dan ingin membongkar kedok kedua karyawannya itu. Namun stefan menahannya.


"Belum saatnya, Lun," Stefan mengingatkan lirih. "Kita masih memerlukan banyak bukti untuk menjerat mereka sampai ke otaknya."


"Aku tidak perduli! Semua harus segera diselesaikan sebelum terlambat."


Terjadilah perdebatan sengit dari keduanya. Meskipun tidak terdengar apapun dari luar. Luna memukuli Stefan agar lelaki itu tidak mencegahnya keluar, sementara Stefan hanya bertahan dan tidak membalas sama sekali ulah Luna.


"Biarkan aku keluar!" bentak Luna lirih.


"Tidak! Kita harus menyelidikinya dulu. Aku akan membantumu menyelesaikannya. Diamlah disini, mereka tidak boleh tahu jika Kita sudah mendengar rencana mereka. Kita_"


"Aku tidak butuh bantuanmu! Dan jangan nasehati aku, ini perusahaanku."


Stefan yang berkata lembut untuk menenangkan malah mendapat teriakan dari Luna.


Wanita itu berhasil lepas dari Stefan dan keluar dari persembunyian mereka.


"Kalian! Hmmphh...."


Tarikan cepat Stefan pada tubuh Luna membuat keduanya tidak bisa menghindar untuk bertubrukan. Dan bibir mereka pun menyatu.


"Kau gila! Lelaki gil_hmmmph."


Untuk kedua kalinya, saat bibir Stefan mulai sedikit merenggang Luna berteriak kembali.


"Stefan, kau! Awas kau ... Hmpph." Dan untuk ketiga kalinya bibir mereka bersentuhan.


"Aduh!" Terpaksa Stefan melepas ciumannya saat Luna menggigit bibirnya.


"Kau memang gila! Dasar, lelaki gila!" umpat Luna yang kesal.


"Sudah kubilang untuk diam tapi kau tidak menurut," jawab Stefan seraya membersihkan sedikit darah yang keluar dari bibirnya.


"Bukan urusanmu! Mereka sudah jauh gara-gara kamu!" kesal Luna. Wanita yang diliputi kemarahan itu melangkah pergi meninggalkan Stefan.


"Kamu mau kemana?" Stefan mengejar Luna. Mengikuti kemanapun kaki Luna melangkah.


"Pulang!"


"Aku antar. Ini sudah malam," Di luar dugaan, Stefan masih berbaik hati menawarkan tumpangan. Lelaki itu tidak marah sama sekali dengan perlakuan Luna.


"Tidak perlu! Aku bisa Sendiri!"


"Ini sudah malam, Lun." Stefan mengulang ucapannya. "Bahaya jika naik kendaraan online sendiri. Orang rumah pasti memgkhawatirkanmu," bujuk Stefan.


"Mereka akan lebih khawatir jika aku pulang bersamamu! Penjahat!" Tatapan Luna menghujam. Membuat Stefan berhenti mengikutinya. Lelaki itu mematung.


Luna pergi setelah memaki Stefan. Wanita itu turun ke lantai bawah dan masuk kedalam mobil yang ia pesan lewat aplikasi online tadi.


Secepat kilat Stefan mengikutinya dari belakang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tepat ketika mobil berhenti di depan pintu gerbang, Adam sudah berdiri diluar.


"Sayang, kau membuatku khawatir." Adam menyambut istrinya yang baru saja keluar dari mobil yang dinaikinya. "Kenapa tidak meminta Alex menemani?"


"Paman Alex menjemput El di rumah Papa. Aku tidak apa-apa, Sayang. Ada pekerjaan yang harus kuperiksa hari ini. Aku takut besok tidak akan sempat karena sudah deadline," Luna berbohong agar sang suami tidak banyak bertanya.


"Padahal kau bisa meminta sopir mengantarmu."


"I am okay, Adam. Kau mengenalku, bukan?" Luna menatap lekat sang suami untuk menjelaskan.


"Baiklah. Yang penting kau bisa menjaga dirimu." Pada akhirnya Adam pasrah, Luna yang ia kenal memang keras kepala. "Bagaimana kakimu?"


"Awalnya masih terasa sakit untuk berjalan. Namun lama-lama setelah terbiasa, rasa itu menghilang dengan sendirinya,"


"Bersihkan dirimu." Adam mendorong sang istri ke kamar. "Sepertinya tubuhmu kotor sekali, Sayang." Adam mengusap siku lengan Luna yang terkena debu di celah sempit di kantor tadi.


"Hemm....?" Wanita itu nampak berpikir. "Mungkin terkena meja satpam yang tidak pernah dibersihkan. Aku disana saat menunggu mobil datang tadi." Luna berbohong dengan lancar. Bibirnya berucap dan mengalir begitu saja mencari alasan.


Sang suami hanya menggeleng menanggapinya. Istrinya itu memang diluar dugaan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Pagi Daddy, Mama." Elea yang sudah berseragam rapi mengecup singkat pipi sang ayah setelah sebelumnya ia mengecup dahulu pipi Luna.


"Pagi, Sayang?" sambut Luna bersemangat. Adam hanya tersenyum menyambut gadis kecilnya itu.


"Apa nanti Mama yang akan menjemput El di rumah Kakek?"


"Tentu saja. El tunggu Mama ya," pinta Luna yang mengambilkan sarapan pagi untuk Elea.


"Mama, bolehkah El jalan-jalan dengan Paman Tampan?"


"Paman Tampan siapa Sayang?" Adam yang tidak tahu panggilan Luna pada Stefan melirik istrinya meminta penjelasan.


"Paman Stefan, Dad," jawab gadis kecil itu sembari memasukkan makanan kedalam mulutnya.


"Oh, tentu saja boleh. Paman Stefan sudah disini lagi. Daddy bahkan tidak mengetahuinya," ucap Adam menanggapi Elea.


"El jalan-jalan dengan Mama saja ya, Sayang. Nanti Mama_"


"Mama pulangnya sore. El sudah lelah karena menunggu Mama pulang." Gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya untuk protes.


Luna mendengkus lirih. Ia bahkan tidak memiliki waktu untuk El dihari biasa. Padahal gadis kecilnya itu hanya ingin jalan-jalan dan bermain di pusat permainan dengannya dan Adam.


"Baiklah, Mama akan usahakan pulang lebih awal, Sayang." Luna membelai surai hitam Elea. Wanita itu bahkan tidak mempercayai ucapannya sendiri. Mana mungkin ia bisa pulang cepat? Apalagi kondisi perusahaan seperti saat ini.


"Benarkah?"


Mata bulat dan berbinar milik Elea mengerjap. Jangan lupakan bibir kecilnya yang cerewet. Semua itu adalah obat untuk Luna disaat- saat keterpurukannya. Bahkan Elea lah yang membuatnya kuat dan berdiri tegak hingga saat ini.


"Mama sayang El," bisik Luna lirih.


"El juga sayang Mama. Sayang... sekali," balas Elea.


Gadis kecil itu mendekap sang ibu erat dan menciumi rambut Luna berkali-kali.


๐Ÿ’—๐Ÿ’—๐Ÿ’—Terima kasih masih mengikuti. Love u