La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 45



"Sir, ada Nona Angeline ingin bertemu dengan bu Luna," ucap Emma meminta izin melalui interkom.


"Katakan saja padanya, Luna cuti hari ini."


"Sudah, Sir. Beliau memaksa bertemu dengan yang mewakili,"


jawab Emma.


Stefan terdiam sejenak. Ia tidak mungkin menghindar dan memilih tidak menemui gadis itu. Cepat atau lambat mereka tetap akan bertemu kembali, karena ia membela Luna kali ini.


"Persilahkan masuk," titah Stefan.


"Baik, Sir."


Stefan berdiri ketika mendengar pintu ruangan Luna terbuka dan sosok gadis yang dikenalnya itu masuk.


"Selamat siang," ucap gadis itu.


Angeline tidak nampak kaget dengan keberadaan Stefan disana. Gadis itu memang sudah mengetahui jika saat ini Stefan berada di negara ini.


"Siang. Ada perlu apa?"


"Anda tidak mempersilahkan saya duduk, Tuan Stefan Efrain? Saya tamu sekaligus customer premium dari perusahaan Anda, Tuan. Setidaknya masih seperti itu status saya sampai saat ini. Anda harus bersikap baik pada saya."


Senyum sinis sekaligus mengejek Angeline, nampak menjengkelkan bagi Stefan. Lelaki itu malas menatap nona kaya yang pernah dijodohkan dengannya itu.


Angeline menenteng tas tangannya. Tatapannya penuh dendam dan meremehkan.


"Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan. Jadi, bukankah tidak ada gunanya anda duduk? Nona Angeline yang terhormat, Saya hanya bersikap selayaknya."


Stefan menanggapinya dengan santai. Mau bersikap sebaik apapun, tidak akan berpengaruh untuk Angeline. Karena gadis itu bersikap semaunya. Apalagi jika dia membenci seseorang, M


Membuatnya terpuruk dan benar-benar jatuh adalah wataknya.


"Apa kau tidak takut nama baik perusahaan kalian semakin jatuh dengan kasus yang sedang berlangsung ini? Bukankah seharusnya kau baik padaku agar kita bisa damai dan perusahaan ini terselamatkan."


Wajah sombongnya mendominasi. Angeline memang nona kaya sejati, dia memang hidup lebih dari cukup sejak lahir karena kekayaan keluarganya yang tidak akan habis tujuh turunan.


Gadis itu berjalan kesana kemari. Bertingkah seakan enggan duduk, seperti sofa yang ada di ruangan Luna itu tidak layak untuknya.


"Aku akan menyelamatkannya tanpa bantuan siapapun, terutama dirimu. Dan aku tidak butuh kata damai itu, Nona. Semua akan tetap baik-baik saja, sekuat apapun kau berusaha menjatuhkannya."


Stefan menekan ucapan disetiap kata-kata yang ia keluarkan. Membuktikan dirinya tidak gentar hanya oleh ancaman seorang nona kaya yang hanya bisa mengandalkan nama keluarganya itu.


"Kau yakin sekali? Kau tentu tahu siapa aku kan, Ste-fan Ef-rain?Keluarga Peterson tidak pernah kalah dengan siapapun, dan dalam masalah apapun." Angeline pun tjdak mau kalah, ia juga melakukan hal yang sama dengan menekan beberapa kata dalam ucapannya.


Gadis itu mengukuhkan kekuatan keluarganya yang memang tidak bisa dipandang sebelah mata.


"Yang salah, akan tetap salah Nona. Bangkai tetap akan tercium selayaknya bangkai, serapi apapun kau menyimpannya," ucap Stefan membalas perkataan Angeline yang selalu merendahkan.


"Dan ingat! Seorang Efrain tidak pernah takut menghadapi siapapun! Dimanapun tempatnya. Karena kami berjalan pada langkah yang benar," bisik Stefan yang sengaja menghanpiri di tempat Angeline kini berdiri.


"Kau masih saja sombong, Stefan! Penolakanmu jelas membuat ayahku murka. Dia pasti akan turun tangan untuk mendukungku, seperti yang sudah-sudah.


Lihatlah! Bahkan ayahmu telah membuatmu melepaskanmu sebagai pewarisnya. Poor Stefan! Akan kupastikan kalian menjadi debu!" Angeline masih saja berani.


Nona berjuluk trouble maker ini mungkin memang tidak mengenal siapa keluarga Efrain, dulunya. Sehingga ia tetap saja mengandalkan kekuasaan sang ayah untuk mengancam orang-orang yang tidak disukainya,dan berbuat sesuka hatinya.


"Aku akan selalu siap dengan ancamanmu itu! Oh, iya. Maaf aku sedang sangat sibuk dengan pekerjaanku. Aku bukan orang yang kurang kerjaan hingga menyempatkan waktu datang ke kantor orang lain tanpa tujuan yang jelas." lirik Stefan tajam.


"Silahkan keluar Nona! Pintu masih berada di tempat yang sama," tunjuk Stefan. "Saya tidak mengundang Anda, dan kita adalah rival sejak Anda menantang Luna," ucap Stefan dengan jelas.


Angeline menggeram, gadis itu kesal hingga sampai ke ubun-ubun. Hatinya panas karena Stefan selalu bisa mengimbangi setiap ucapannya dengan tenang.


Ia menggerutu dan mengumpat sambil melangkahkan kakinya menuju pintu.


Angeline tidak pernah menemui lelaki setampan sekaya dan sesombong Stefan sebelumnya. n


Nona kaya itu selalu bisa membuat para lelaki manapun bertekuk lutut di kakinya.


Namun tidak dengan Stefan.


Angeline menutup pintu dengan kasar. Dia bahkan mengacuhkan panggilan Emma padanya.


"Jangan biarkan wanita itu masuk ke perusahaan ini lagi, Em. Ingat perintahku ini! Baik aku ataupun Luna yang duduk disini. Jika sampai aku tahu dia kembali bisa masuk lagi, jabatanmu taruhannya!" ucap Stefan pada sekretaris Luna melalui interkomnya.


"Ba-ik, Sir." Emma memegang dadanya. Bencana apa lagi yang akan terjadi kali ini?


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Stefan... Stefan...." Luna memanggil lelaki itu. Sepupunya yang ia peluk tadi saat menangis. Lelaki itu yang ada disini, bukan Adam.


Tangan Luna meraba-raba mencari keberadaannya. Karena tidak menemukannya, Luna mencoba membuka kelopak matanya yang terasa berat akibat banyak menangis tadi.


Kosong. Tidak ada Stefan disana. Luna hanya memeluk jaket tebal yang ia pikir adalah Stefan.


Luna meraba perutnya yang terasa perih. Jarum jam sudah menunjuk di hampir angka satu. Luna merasa lapar. Namun makan siangnya yang ada diatas nakas, sama sekali tidak bisa menggodanya.


Wanita itu turun, ingin meminta tolong pada siapapun yang ada diluar. Tidak mungkin Stefan meninggalkannya sendirian. Lelaki itu pasti meninggalkan seseorang penjaga untuknya. Mengingat keberadaannya sudah tidak aman lagi.


Belum juga tangannya meraih gagang pintu, telinganya menangkap sayup-sayup seseorang tengah berbicara diluar.


Suaranya tertangkap jelas ditelinga Luna, meskipun sedikit lirih.


"Kamu masuk, dan aku yang berjaga diluar. Lakukan dengan cepat, jangan lupa nyalakan penghitung waktumu."


"Saputangan sudah siap? Bubuhi agak banyak, kita harus meminimalisir perlawanan. Kita hanya memiliki paling lama sepuluh menit, sebelum orang itu sadar dan mengundang kecurigaan."


Luna membeku mendengarnya. Ia membekap mulutnya karena panik dan hampir menangis. Rupanya kejahatan ini belum selesai. Padahal jelas ia berada dirumah sakit. Di fasilitas umum yang ramai. Mereka pasti menyamar, hingga bisa masuk ke ruang VVIP dengan leluasa.


Wanita itu menyeret kaki dan tiang infusnya dengan cepat dan hati-hati. Sebisa mungkin tanpa menimbulkan suara yang bisa membuat kedua penjahat diluar curiga.


Luna mengembalikan tiang infus pada tempatnya. Kemudian mencabut selang yang menancap pada pembuluh venanya. Ia tidak memperdulikan darah yang menetes dari tangannya.


Luna meringis menahan sakit. Ia kebingungan harus lari kemana, sementara ia berada didalam kamar dimana akses keluar masuk melalui pintu yang sama.


"Berpikir Luna! Ayo berpikir!" Luna meremas kedua tangannya mondar mandir memikirkan jalan keluar.


Klek!


Klek!


Untung saja, badannya yang kecil dapat ditampung oleh lemari yang tingginya hanya sepinggang orang dewasa itu. Hingga lemari itu bisa tertutup sempurna tanpa membuat curiga orang yang berada diluar.


Luna tidak sadar, sejak tadi darah yang keluar dari bekas infus itu menetes di lantai. Ia baru mengetahuinya saat sudah berada di dalam lemari.


Dengan cepat wanita itu menarik jaket Stefan dan menggunakannya untuk menghapus jejak darah, kemudian melemparkannya menjauh dari lemari tempatnya bersembunyi.


"Cepat!"


Kedua orang itu bergerak cepat menuju ranjang Luna. Dan kaget tidak mendapati wanita itu disana.


"Tidak ada siapa-siapa disini! Apa kau salah melihat nomor kamar?"


"Tidak mungkin! Jelas tertulis disana, Luna Efrain VVIP nomor 3."


"Lalu kemana dia? Tidak mungkin dia kabur dari sini bukan? Sedangkan pintu keluar masuk hanya ada satu. Dia pasti masih disekitar sini, ayo cepat cari!"


Suara dua orang yang saling berbicara terdengar sangat keras di telinga Luna.


Apalagi tendangan yang begitu keras ia rasakan saat pintu lemari tempatnya bersembunyi bergetar.


Wanita itu membekap mulutnya didalam sana. Ia menangis tanpa suara dan tidak berani bergerak sedikitpun karena tidak ingin membuat kedua orang itu curiga.


Suara diluar sangat gaduh. Tiang infus jatuh, nampan makanan yang digeser, pintu kamar mandi yang sepertinya dibuka dengan cara ditendang sampai suara gorden yang dibuka dengan kasar.


"Dimana dia? Bos pasti akan marah karena kebodohan kita."


"Kamu yang salah! Kenapa tadi tidak membawanya sekalian. Malah cuma anak kecil yang tidak berguna itu yang kamu bawa!" teriak salah satu dari mereka.


Kedua orang itu terdengar beradu mulut beberapa kali. Saling mengumpat dan menyalahkan.


"Sudah! Dia tidak ada di mana-mana, waktu kita hampir habis. Lebih baik kita pergi sebelum ketahuan," ajak satu yang lainnya.


"Sial! Benar-benar sial! Padahal kita sudah berhasil melumpuhkan orang itu. Tapi kita malah tidak berhasil membawanya."


"Ayo cepat! Kita akan ketahuan jika berlama-lama disini."


Terdengar langkah kaki yang cepat seperti berlari. Semakin lama semakin jauh. Kemudian setelah itu terdengar pula suara pintu ditutup.


Luna masih berada di dalam sana. Wanita itu tidak berani keluar dan menangis di dalam lemari. Ia memeluk erat tubuhnya bersama jaket Stefan yang sudah kotor terkena darahnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Papa?"


Adam langsung berdiri. Lelaki berambut pirang itu kaget melihat sang mertua yang tiba-tiba berdiri di depannya.


Pikirannya yang kalut karena masalah pribadi dalam keluarganya, juga bisnisnya yang merugi membuat lelaki itu melamun. Bahkan ia tidak mendengar suara pintu yang dibuka oleh Ellard.


"Dimana ponselmu?"


"Ada, Pa." Adam mengambil ponsel dari dalam tasnya. Rupanya benda itu belum keluar sama sekali sejak ia tiba di kantor tadi pagi. Bahkan Adam seperti tidak mengingatnya sama sekali.


Lelaki itu bingung dengan pertanyaan sang mertua tentang suatu hal yang menurutnya tidak penting sama sekali.


"Buka!"


Adam mengikuti perintah Ellard. Lelaki itu menggeser layar ponselnya, dan melihat ada banyak panggilan dari Stefan juga ayah mertuanya itu.


"Ada apa Stefan menghubungiku?" gumam Adam lirih, namun Ellard masih mendengarnya. Lelaki itu melihat daftar panggilan dimana sepupu istrinya itu mendominasi .


"Seharusnya kau lebih peka daripada Stefan. Istrimu dihadang penjahat saat berangkat ke kantor tadi pagi. Dan mereka menculik Elea." Ellard geram, bahkan menantunya itu baru tahu detik ini karena ia yang memberitahunya.


"Apa? Bagaimana keadaan Luna, p


Pa? El diculik? Tapi tidak ada yang menghubungiku tentang El." Adam menjadi panik sekarang. Pertanyaannya yang beruntun malah membuat Ellard semakin kesal.


"Luna di rumah sakit. Buang saja ponselmu yang tidak berguna itu." Suaranya rendah namun sindiran nya tepat sasaran.


Ellard beranjak keluar, sesaat setelah melontarkan kekesalannya pada menantunya itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Stefan berjalan dengan menenteng kantong plastik ditangannya. Dia baru tiba di rumah sakit. Lelaki itu sengaja keluar dari kantor saat makan siang, karena pasti Luna sudah bangun sekarang.


Dada stefan berpacu saat melihat ada beberapa orang di depan kamar Luna.


"Ada apa ini?" tanya Stefan memburu. Pikiran buruknya mendominasi melihat seorang perawat yang sengaja ia sewa untuk menjaga Luna, dalam keadaan memprihatinkan kini.


Wajahnya bengkak dan memar. Pakaiannya nampak kotor dan lusuh.


"Maaf, Tuan. Saya dipukuli dan disekap oleh dua orang yang menutup wajahnya dan berpakaian hitam-hitam. Mereka membicarakan tentang Ibu Luna tadi," ucap seorang perawat yang disewa Stefan itu.


"Dimana Luna sekarang?" napas Stefan memburu. Kekhawatirannya terbukti. Pantas saja ia merasa tidak tenang di kantor.


"Saya tidak tahu, Tuan. Mungkin mereka membawanya. Saya sudah memeriksa kedalam. Dan tidak menemukan siapapun. Saya panggil-panggil bu Luna tidak ada jawaban, dan_"


Stefan berlari menuju kedalam ruangan meninggalkan beberapa orang yang membantu lelaki yang ia sewa itu. Ia bahkan tidak mendengarkan cerita perawat itu sampai selesai.


Brak!


Pintu kamar Luna, Stefan buka dengan kasar. Didalam sana keadaan sangat berantakan.


"Luna... Luna... Oh Tuhan kumohon. Jangan sampai mereka membawanya." Stefan membuka pintu kamar mandi, membuka gorden hingga ujung dan mengintip keluar. Barangkali Luna bersembunyi disana.


Kemudian Stefan membuka semua pintu lemari dan tidak menemukan sosok yang dicintainya itu.


"Luna... Luna... Tidak! Tidak Luna! Jangan seperti ini."


Stefan menunduk, matanya merah menahan sakit di dadanya. Rasanya bagaikan kehilangan separuh nyawa. Elea belum ditemukan keberadaanya, dan sekarang Luna.


"Ini tidak adil! Jangan mereka... Jangan Tuhan...."


💗💗love you semua... semakin seru 😄


semoga bisa menghibur sedikit hatimu yang dilanda kegalauan.


grazie mille! jangan lupa vote nya🙏