
Luna mendengar teriakan kesakitan dari Stefan setelah baku tembak hebat di luar. Otaknya seketika kosong, ia takut terjadi sesuatu dengan lelaki itu.
"Stefan!" panggil Luna, begitu ia tersadar. Berharap lelaki itu menjawabnya dan mengatakan kondisi di luar. Namun yang ia dengar malah berondongan peluru tanpa henti.
Luna yang ketakutan, menguatkan hatinya. Dengan penuh tenaga, kembali ia mengayunkan kapak untuk merusak pintu yang membelenggunya di dalam.
Setelah mencoba beberapa lama, akhirnya perjuangannya membuahkan hasil. Pintu itu rusak dan akhirnya bisa dibuka.
Baru saja hendak keluar, sebuah besi panjang hampir saja mengenai kepala Luna, jika wanita itu tidak lekas merunduk.
"Luna!" teriak Stefan yang kaget saat mendengar besi yang terlempar itu membentur tembok. Karena pintu yang tadi melindungi Luna di dalam telah rusak.
Bahkan lelaki itu tidak tahu jika Luna berhasil merusak pintu yang ia kunci dengan tongkat besi tadi.
"Masuk! Mereka banyak sekali dan!" titah Stefan yang cemas jika sampai ada peluru menyasar pada wanita itu.
"Aku ingin membantumu. Lenganmu terluka Stefan," cicit Luna dengan polosnya. Dia tidak perduli dengan keadaan genting yang terjadi.
Luna tengah berjongkok menutupi kepalanya dengan kedua tangannya. Matanya terpaku pada lengan Stefan yang mengeluarkan darah.
"Aku tidak apa-apa. Cepat masuk, jangan disana. Mereka terus menembak kita." Stefan kembali fokus pada musuh-musuh di depan. Untung saja ia benar-benar siap dengan banyak peluru hari ini. Meski sendiri, setidaknya dengan persenjataan lengkap, Stefan merasa mampu melawan mereka.
Luna menurut. Wanita itu bergeser ke belakang dan berlindung pada dinding di sebelah sebuah lemari. Kemudian ia mencoba mendorongnya. Meski berat, rupanya tenaganya mampu membuat benda itu bergerak.
Wanita itu senang sekali. Ia segera mendorong lemari itu keluar. Dan hendak menyejajarkanya dengan lemari es yang sudah tidak karuan bentuknya karena terbentur peluru. Tempat dimana Stefan menjadikannya tameng pelindung.
"Apa yang kaulakukan?"
"Kita bisa berlindung disini. Aku ingin membantumu melawan mereka." Stefan hanya mengangguk. Kemudian mereka berdua melawan orang-orang Lu Xi yang semakin lama merasa rasa semakin banyak.
Mungkinkah mereka selalu menambah orang-orang mereka saat sudah dalam pertempuran seperti ini?
Taktik bertempur yang curang! Tapi memang dalam kejahatan tidak ada yang berjalan lurus bukan? Siapa yang kuat dialah yang menang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Mereka semakin banyak, Tuan," ucap Alex melalui microphone yang tersambung dengan milik Ellard.
"Iya. Sepertinya mereka terus menambah orang-orangnya. Jika kita tidak cepat, kita pasti akan kalah telak."
Ellard berpikir sejenak.
"Plan E, Lex! Fokus kita keselamatan kita sendiri!" titah Ellard yang langsung dimengerti oleh Alex.
Itu berarti, mereka akan menyerang sambil bergerak mencari Luna dan Stefan. Dan setelahnya, mereka akan kabur dari tempat itu. Karena jika tidak, Ellard dan yang lainnya pasti akan kalah karena kehabisan peluru, tenaga dan juga kalah jumlah.
Ellard memimpin anak buahnya. Mereka menggunakan apa saja yang bisa digunakan sebagai tameng untuk bergerak maju.
Dor!
Dor!
Suara tembakan sama sekali tidak berhenti. Mereka terus menyerang dan menyerang. Meski kemampuan anak buah geng Lu Xi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan anak buah Ellard, tapi jumlah mereka yang banyak tentu menjadi pertimbangan sendiri oleh para lawan.
\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=
"Peluruku habis, Stef," ucap Luna sambil menunjukkan pistolnya. Ia bersembunyi di balik lemari, tidak jauh dari Stefan.
"Gunakan milikku. Aku masih ada satu lagi." Stefan memberikan senjata laras panjangnya pada Luna.
"Aku tidak bisa menggunakannya." Luna meringis, ia merasa bersalah. Sayangnya wanita itu memang belum pernah belajar senjata laras panjang.
"Lihat saja caraku menggunakannya. Kau pasti bisa!" teriak Stefan.
Untung saja, Luna cepat memgerti. Ia hanya belum tepat sasaran dalam menembak. Ternyata menggunakan senjata laras panjang tidak semudah kelihatannya.
Meski begitu, keinginan Luna yang kuat tidak membuatnya menyerah. Ia terus menembak dan menembak hingga akhirnya ia dapat membidik sasaran dengan benar.
"Kita harus bisa kebawah untuk menyelamatkan diri. Sepertinya anak buah mereka terus bertambah."
Stefan mengisi penuh pelurunya. Mereka berdua bersiap merayap menuju tangga dengan menggunakan tameng seadanya.
"Ikuti perintahku jika menembak. Jika aku bilang 'Ya' itu berarti kau harus menembak, untuk titiknya kita gunakan arah jarum jam," jelas Stefan singkat.
Luna mengangguk. Ini pengalaman pertamanya melawan musuh dalam jarak dekat. Karena sebelumnya ia hanya gadis rumahan.
Bahkan ia tidak mengira kehidupan orang kaya juga tidak luput dari kejahatan dan perkelahian. Ia pikir semua itu hanya ada dalam film.
Aku harus bisa!
Luna menyemangati dirinya sendiri. Setiap ia lemah dan hampir menangis, wajah Elea yang menunggunya pulang selalu melintas dalam otaknya.
Elea, putri kecilnya.
Stefan menarik tangan Luna. Beberapa kali tubuh Luna terombang-ambing, karena gerak cepat Stefan membidik target.
Pada akhirnya, lelaki itu tidak tega dan khawatir akan keselamatan Luna. Ia memilih untuk melindungi dan menggunakan kekuatan penuh untuk melawan anak buah musuh yang berada disana, hingga ia bisa membawa Luna sampai ke lantai tangga.
"Ayo cepat!"
Mereka menuruni tangga dengan bergandengan. Stefan berada di depan diikuti Luna di belakangnya.
"Papa!"
"Kita akan membuat perhitungan nanti, Stef!" ucap Ellard mengungkap kekecewaannya pada keponakannya itu.
"Iya, Paman." Stefan hanya mengiyakan karena memang ia merasa bersalah dan tidak bisa lagi menolak.
"Kita harus cepat pergi dari sini," ucap Ellard. Dan itu sudah dimengerti oleh Stefan. Bahwa yang dimaksud sang paman adalah kabur.
Bahkan mereka tidak perlu berbicara panjang lebar untuk mengerti apa itu plan E. Karena mereka orang-orang lama Ellard.
Benar saja dugaan mereka. Geng Lu Xi menambah lagi armadanya. Perlawanan semakin sengit. mereka yang hanya berlima belas melawan musuh yang berpuluh-puluh jumlahnya.
Ellard-Alex dan Luna-Stefan terpisah. Mereka yang fokus melawan sampai tidak memperhatikan sekitar jika jarak mereka cukup jauh.
Stefan melihat sang paman dan bodyguard nya itu hampir mencapai pintu depan. Sedang kan mereka berdua masih berada di tengah-tengah ruangan luas itu.
"Luna, ikuti Paman Ellard. Kau harus keluar," ucap Stefan pada wanita disebelahnya itu.
"Kita keluar bersama!" jawab Luna. Wanita itu masih ikut melawan musuh, namun beberapa menit berikutnya pelurunya habis.
Stefan yang melihatnya bergegas lari menghampiri kemudian menarik tangan Luna dan membawa wanita itu disebelahnya.
"Kamu harus keluar bersama mereka." Stefan memaksa, ia mengisi kembali peluru pada senjata laras panjangnya. "Ayo!"
Stefan menembak membabi buta. Ia ngin segera mengeluarkan Luna dari kekacauan ini. Bahkan nyeri di lengannya akibat tertembus peluru tadi sama sekali tidak dirasakannya.
Ellard dan Alex sudah sampai di luar. Mereka menunggu Luna dan Stefan sambil sesekali menembaki anak buah geng Lu Xi yang satu dua keluar mengejar mereka.
Dalam perjalanan mengeluarkan Luna dari gedung itu, Stefan mengungkapkan sesuatu yang mengejutkan.
"Kamu harus selamat!"
"Kita Stefan! Kita semua harus selamat!"
"Terimakasih mau mengandungnya dan melahirkannya." Mata Stefan basah, namun ia terus berjibaku melawan orang-orang itu.
Luna tertegun. Mungkinkah Stefan tahu? Ia sempat menghentikan langkahnya, namun Stefan terus menariknya karena tidak mungkin selamat jika mereka berhenti begitu saja.
"Terima kasih juga sangat menyayanginya, maafkan aku." Stefan masih bersuara meski tatapan matanya tidak pada Luna.
Luna terisak. Mengapa lelaki itu meminta maaf disaat seperti ini.
"Kau sengaja agar kumaafkan!?" Luna berucap ketus agar Stefan emosi. "Kau tidak memberiku pilihan untuk tidak memaafkan."
Airmata Luna terus mengalir.
"Tidak Luna. Aku hanya takut kalau ini... Adalah terakhir untukku."
"Apa yang kau katakan!?" Hati Luna mendadak panas dan sakit. Ia tidak merasakan apapun yang membuatnya sedih. Tapi airmatanya tidak mau berhenti. Rasanya sangat sakit mendengar Stefan yang merasa bahwa ini adalah akhir hidupnya.
"Tidak akan kubiarkan kau mati dengan mudah seperti ini!" ucap Luna keras. Wanita itu sampai memukuli tangan Stefan yang sakit, kemudian berusaha melepaskan diri, namun tidak berhasil. Stefan menggenggam tangannya dengan erat.
"Lex, aku butuh perlindungan!" teriak Stefan saat jarak mereka semakin dekat. Dan hampir mencapai pintu keluar.
"Siap, Tuan!"
Alex beserta beberapa anak buahnya membuat lingkaran terbuka untuk melindungi majikannya.
Mereka sudah masuk ke dalam lingkaran. Dan Stefan melepaskan tautan tangannya dengan Luna.
"Pastikan mereka selamat, Lex!"
"Siap, Tuan!"
Stefan tiba- tiba memeluk Luna. Wanita itu kaget namun tidak menolak. Kemudian lelaki itu mencium puncak kepala Luna dan membisikkan sesuatu.
"I love you. Hiduplah dengan baik. Aku sangat mencintai kalian berdua."
Stefan melerai pelukannya dan ia segera beranjak pergi.
"Stefan?"
"Tuan?" Alex pun tidak mengerti dengan tindakan Stefan.
"Harus ada yang menghabisi mereka. Aku membawanya. Cepat pergi dari sini!" Stefan menunjukkan bom dengan daya ledak besar ditangannya.
Stefan melesat ke dalam bangunan dan menutup pintunya. Alex baru menyadari apa maksud Stefan.
Sedangkan Luna, wanita itu tertegun melihat kejadian yang cepat ini.
"Stefan! Apa yang kau lakukan!? Alex kita kedalam lagi!" titah Luna.
"Tidak bisa, Nyonya. Akan sangat berbahaya. Lebih baik kita segera pergi. Kita ikuti pesan Tuan Stefan, jangan sampai beliau sia-sia karena sudah berkorban,"
"Tidak! Aku tidak mau. Kita harus pulang bersama Lex. Kita tidak bisa meninggalkannya."
Ditengah perdebatan mereka berdua.
Boom!
Bangunan itu luluh lantah seketika!
💙💙💜