
Luna memejam, kepalanya terasa amat sakit. Wanita itu panik dan memegangi kepalanya.
Brakk.
"Mama! Oma... Oma!"
Suara teriakan panik Elea terdengar di sore yang tenang itu.
"El?"
Christina yang tengah membawa piring berisi kue meninggalkannya begitu saja di meja dapur.
Wanita paruh baya itu mempercepat langkahnya mencari dimana Luna dan Elea.
"Oma...! Tolong Mama!"
Christina bergegas. Dibelakangnya para pelayan dan pengawal ikut panik. Mereka berlarian menuju rumah peristirahatan terakhir Stefan.
Begitu sampai disana, mata Christina terbelalak melihat Luna sudah terkapar di lantai di tidak jauh dari kursi rodanya.
"Sayang ... Apa yang terjadi?" Wanita paruh baya itu menghambur mendekat. Segera diangkatnya kepala Luna dan membersihkan wajahnya dari tanah.
"Bantu aku bawa Luna kedalam Le," titah Christina pada Leo pengawalnya. Sedangkan ia sendiri kemudian berdiri dan mendekati Elea yang bersimpuh dan menangis dengan keras.
"Tidak apa-apa, Sayang." Christina menarik tubuh Elea kedalam pelukannya. "Jangan takut." wanita paruh baya itu mendekapnya erat.
"Ma-ma ... Mama jatuh Oma," ucap Elea tergagap akibat tangisannya.
"Iya Sayang. Tidak apa-apa." Christina membantu gadis kecil itu berdiri.
"Hubungi dokternya, katakan urgent. Ceritakan apa yang terjadi Le," titah Christina sebelum Leo menggendong Luna ke dalam rumah.
"Baik, Nyonya."
"El, dengan oma ya. Oma temani ke kamar. Ayo,Sayang."
Gadis kecil itu melambatkan langkahnya. Ia seperti ragu pergi bersama Christina. Wajahnya diselimuti kecemasan.
"Ma-ma baik-baik saja kan, Oma?" tatapan Elea nanar pada Christina.
"Kita doakan yang terbaik, ya. Sekarang, Oma temani El istirahat di kamar."
Gadis kecil itu menggeleng. "Oma temani Mama saja. El takut Mama sakit lagi."
Christina tersenyum pada cucunya itu. "Mama kuat seperti El. Dia pasti akan baik-baik saja. Baiklah, Oma antar el ke kamar setelah itu Oma temani Mama."
Elea akhirnya menurut. Rupanya gadis kecil itu sangat khawatir dengan sang ibu. Sebenarnya Christina ingin tahu apa yang terjadi. Tapi wanita paruh baya itu menahannya karena Elea terlihat ketakutan.
Leo segera menghubungi dokter rumah sakit yang merawat Luna. Wanita itu dibaringkan di tempat tidurnya, ditemani Christina di sampingnya. Dan tangan Christina sama sekali tidak melepaskan genggamannya.
Tidak lama kemudian dokter datang dan melakukan segala pemeriksaan yang diperlukan.
"Jangan khawatir, Nyonya. Nyonya Luna baik-baik saja. Tidak ada luka berarti di kepalanya. Beliau hanya pingsan. Bagaimana beliau bisa jatuh dari kursi rodanya?" tanya dokter tentang kronologi yang juga belum diketahui oleh Christina.
"Saya menemukannya sudah tergeletak di lantai, Dok. Luna sedang bersama putrinya waktu itu. Saya belum bisa meminta keterangan, karena saya perhatikan cucu saya shock melihat mamanya jatuh."
"Saya masih memiliki waktu setengah jam. Saya tunggu saja, mungkin beliau segera bangun. Nanti kita bisa meminta beliau bercerita dan melihat kondisinya. Saya menunggu di ruang tamu, nyonya," pamit dokter yang segera keluar dari kamar Luna.
Apa yang terjadi sebenarnya?
Kedua alis Christina mendadak naik ketika memikirkannya. Ia baru ingat jika Luna jatuh di makam Stefan. Itu berarti....
Tangan Christina merasakan gerakan, bersamaan dengan sebelah tangan Luna yang langsung memegang kepalanya.
Wanita itu mengerjap, dan nampak bingung. Kemudian dengan susah payah menggeaer tubuhnya untuk bersandar.
"Berbaring saja, Bibi panggilkan dokter dulu."
"Tidak usah, Bi. Kepalaku rasanya hanya sedikit berat. Aku-aku tadi...." Luna nampak kesusahan mengingat peristiwa yang terjadi padanya.
"Apa kabar, Nyonya. Anda baru saja tiba di rumah. Saya sampai kaget begitu dihubungi tadi."
Dokter yang baru saja masuk itu mendekat. Sedikit menanyai Luna kemudian memeriksanya.
"Apa anda mengingat apa yang terjadi sebelum anda jatuh tadi?" Luna dipancing dokter untuk bercerita. Lelaki berpakaian biru langit itu menduga bahwa Luna mendapati kenyataan akan ingatannya yang hilang.
"Saya mengejar El. Dia sedang memetik banyak bunga mawar dan keluar masuk ke sebuah bangunan kecil. Saya penasaran saat dia mengatakan jika ada.... Stefan didalam sana...." Luna mendadak tercekat. Suaranya berhenti hanya sampai di tenggorokan.
Tanpa sadar Luna berkaca, kemudian airmatanya menetes. Dia menoleh, menatap sang bibi yang juga menatapnya dengan perasaan yang sama.
"Bibi? Apa Stefan...."
Christina susah payah mengangguk. Wanita paruh baya itu nampak kesulitan menjawab. Dadanya terlihat kembang kempis tidak teratur.
Ingatannya seakan terbang ke waktu satu bulan yang lalu. Saat dimana ia menerima jenazah Stefan yang sudah tidak dapat dikenali akibat ledakan itu.
Stefan yang sebelumnya hanya dikatakan kritis oleh sang adik ipar. Tapi kenyataannya, putra satu-satunya itu telah menutup mata untuk selamanya.
"Kapan, Bi? Kenapa aku tidak tahu?" Luna bertanya sambil meraung menangis. Tangannya mencengkeram pakaian yang menutupi lengan Christina.
Sang bibi hanya tergugu. Sungguh ia lebih sedih dari siapapun di ruangan itu.
Luna perlahan melepas cengkeramannya. Ia tidak tahu apa yang ia lakukan tadi. Kenapa air mata itu seperti terdorong keluar dengan sendirinya. Dan rasanya ia seperti ingin menangis keras meski tidak tahu alasannya.
Dan yang paling menyakitkan adalah mengapa ia tidak bisa mengingat kematian Stefan.
"Jadi aku ... Aku...."
"Ya, Nyonya. Setelah kecelakaan anda mengalami amnesia traumatis, hal itu menyebabkan beberapa ingatan dalam hidup anda menghilang. Terutama yang membuat anda trauma."
Dokter akhirnya menjelaskan langsung pada Luna.
"Tapi saya tidak trauma, Dok. Saya selalu bisa mengkondisikan hati dan pikiran saya untuk menerima segala sesuatu seburuk apapun itu."
Dokter itu tersenyum. Lalu ia melangkah dan meminta izin duduk di tepi ranjang Luna.
"Apa yang keluar dari sini, itu bisa dikendalikan." Dokter menunjuk bibir Luna. "Tapi dari sini dan sini, tidak semudah itu." Kali ini dokter menunjuk kepala dan dada Luna.
Maksud dokter, setiap manusia bisa mengendalikan apa yang akan ia ucapkan. Namun otak dan hati, tidak bisa dikendalikan semudah itu. Mengatakan tidak memikirkannya namun pada kenyataannya tidak begitu.
"Anda mengatakan tidak. Namun hati anda mengatakan iya dan otak membacanya. Anda tahu maksud saya bukan?" tanya dokter setelah menjelaskan.
"Apa ingatan yang hilang itu akan terhapus selamanya, Dok?" Luna tertunduk. Tatapannya jatuh pada selimut yang mengurung sebagian tubuhnya.
"Hanya waktu yang tahu, Nyonya. Banyak keajaiban diluar nalar manusia bukan. Seperti anda yang sempat koma, dan akhirnya anda sadar. Keluarga anda sangat luar biasa. Mereka bertindak cepat untuk menyelamatkan anda."
"Saran saya. Anda harus banyak berdamai dengan diri anda sendiri. Ketahuilah keinginan hati anda. Itu akan memininalisir trauma dan kesedihan anda."
"Iya, Dok. Terima kasih."
"Saya siap dihubungi kembali jika ada yang urgent," pesan dokter. Ia berdiri setelah menjabat tangan Luna. Kemudian Christina mengantarkannya hingga ke pintu.
Kapan Stefan pergi? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya?
"Bi, kapan Stefan ... meninggal?" Luna langsung melontarkan pertanyaan itu kembali ketika melihat Christina masuk kembali ke kamarnya.
"Em... Nanti jika pamanmu pulang. Kau boleh bertanya apa saja padanya. Bibi ambilkan kue, ya. Tadi Bibi panik kau jatuh, jadi Bibi meninggalkannya begitu saja di dapur,"
Belum juga sampai di dekat Luna. Christina terburu -buru keluar lagi.
Bagaimana mungkin ia menceritakan tentang kehilangannya. Sedangkan sampai saat ini saja Christina masih belum bisa menerima kenyataan tentang kepergian putra satu-satunya itu.
Klek!
Pintu kamar Luna ditutup dari luar, dan Christina merosot sambil memegang dadanya yang sesak.
🥰🥰🥰🥰