La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 54



"Bos. Nyonya Luna dibawa geng Lu Xi."


"Apa!?" Setengah kaget Stefan mendengarnya. Namun ia segera kembali ke mimik yang baik-baik saja.


Tangan Stefan mengepal, hingga buku-bukunya memutih. Lelaki itu memendam kekhawatirannya sendiri.


Mereka bertiga sedang ada di taman saat anak buah Stefan menghubungi. Stefan, dan juga Ellard keduanya menjadi pendengar setia dari Elea yang dengan semangat bercerita tentang sekolahnya.


"Paman, aku izin ke belakang sebentar," pamit Stefan yang hanya dijawab anggukan oleh Ellard.


Lelaki paruh baya itu juga merasa ada yang tidak beres. Namun mereka sedang bersama Elea sekarang. Jadi tidak mungkin keduanya bebas bicara di depan gadis kecil itu.


Stefan berlari cepat menjauh dari taman. Tangannya yang terluka terasa sedikit nyeri akibat pergerakan yang terjadi berulang-ulang.


"Ulangi! Apa yang kalian katakan tadi!" titah Stefan.


"Maaf,Tuan.Nyonya Luna dibawa geng Lu Xi. Kami terlambat tiba disana."


"Bagaimana bisa? Bukankah aku menyuruh kalian mengawasinya 24 jam!" geram Stefan.


"Iya Tuan. Nyonya Luna sempat kabur saat kami mengikutinya. Rupanya beliau menuju apartemen Anda. Kejadiannya sangat cepat dan kami baru saja tiba saat beliau dibawa oleh mereka. Kami kehilangan jejaknya, Tuan."


Suara di seberang pelan dan serak. Anak buah Stefan tentu menyadari kesahan mereka.


Stefan berkali-kali menendang dinding dapur di belakangnya. Baru saja lelaki itu tersenyum karena bisa menyelamatkan Elea, sekarang malah Luna yang diculik.


"Amankan mobil Luna beserta isinya. Dan cari pada siapa geng itu bekerja. Sebelum kalian mendapatkannya. Jangan harap aku mengampuni kalian!" ucap Stefan tegas.


"Baik, Tuan."


Stefan menyandarkan belakang kepalanya ke dinding yang ada dibelakangnya. Kepalanya mendongak. Menahan sensasi panas dimatanya yang membuatnya berkaca.


Memikirkan tahun-tahun berat yang dilalui Luna hingga akhir-akhir ini, Stefan menyalahkan dirinya. Bahkan kehadirannya sebagai seorang saudara di samping Luna tidak bisa membuat hidup Luna tenang. Apalagi rencana masa depannya dimana ia ingin menjadikan Luna wanita satu-satunya dalam hidupnya. Pasti akan lebih berat dan terjal. Segala tantangan dan hambatan akan siap menghadang.


"Apa yang terjadi, Stef?"


Tiba-tiba saja Ellard sudah berada di depannya.


"Luna, Paman. Mereka membawanya,"


"Apa? Bukankah keselamatannya sudah kuserahkan padamu! Kenapa kau memelihara anak buah yang tidak becus bekerja seperti itu!" Ellard marah bukan main.


"Aku sudah_"


Lelaki paruh baya itu meninggalkan Stefan begitu saja.


"Paman!"


Bahkan panggilan Stefan tak dianggapnya sama sekali. Ellard menuju kamar Alex dan menyuruh bodyguard nya itu turun tangan. Ia pikir perkara culik menculik ini sudah selesai. Dan ia akan fokus menyelesaikan masalah yang lain. Namun rupanya semuanya ini masih berlanjut. Itu berarti, pihak musuh yang belum diketahuinya itu tengah menabuh genderang perang padanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Adam selesai meeting sudah sore. Hari ini, ia memang meeting bersambung. Semua klien meminta cepat diselesaikan, sedangkan ia sempat beberapa hari tidak ke kantor karena kepergianya keluar negeri seminggu yang lalu.


Lelaki itu sengaja membuat ponselnya dengan mode diam. Karena tidak ingin diganggu siapapun agar semuanya cepat selesai.


Namun apa yang ia lakukan itu tentu akan membuatnya menyesal. Karena setelah membuka ponselnya, ia mendapati banyak panggilan dari sang istri yang terlewat.


Lelaki berambut pirang itu mendesah pelan. Dan dengan segera ia menghubungi balik Luna, namun istrinya itu tidak menjawabnya.


Adam terdiam menatap ponselnya. Mungkinkah Luna marah, karena ia tidak pamit pagi tadi dan juga panggilannya yang terabaikan sore ini?


Berbagai pikiran buruk berkecamuk dalam otak lelaki itu. Namun ia mencoba melerainya. Luna adalah sosok yang berbeda, ia selalu mengerti dirinya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hari berganti malam. Suasana di rumah sekaligus markas milik Ellard nampak sepi. Mereka bertiga tengah makan malam saat ini. Namun tidak ada pembicaraan berarti selain mendengarkan celotehan Elea yang sedikit menghibur.


Ellard terlihat gusar. Meski matanya menatap pada makanan yang ada di piringnya. Namun hatinya tidak ada disana. Jelas terlihat, suap demi suap dari tangan itu, tidak fokus.


Seringkali saat sendok berisi makanan itu sudah sampai di depan mulutnya, Ellard tidak segera memasukkannya namun malah mengembalikannya diatas piring dan mengaduknya kembali.


Stefan memperhatikan hal itu. Meski nampak tenang, dia tidak ada bedanya dengan Ellard. Hatinya gundah dan risau karena sudah beberapa jam berlalu dan anak buahnya sama sekali belum memberinya kabar. Begitu juga dengan Ellard yang menantikan kabar dari Alex.


Stefan begitu khawatir dengan Luna, takut jika orang-orang jahat itu melukainya. Karena pada gadis kecilnya saja orang itu tega. Meski tidak melakukan kekerasan, namun Elea dibiarkan kelaparan dan kehausan sampai dehidrasi. Padahal ia hanya anak kecil.


"Kakek, makanannya jangan diaduk terus. Kapan habisnya?" tanya Elea yang rupanya juga memperhatikan kegundahan sang kakek.


"Kakek sudah kenyang, Sayang. Tadi baru saja makan," jawab Ellard yang malah mendorong piringnya menjauh.


Lelaki itu membersihkan mulutnya, lalu berdiri dan hendak beranjak dari tempatnya duduk.


"Paman?"


"Ikut Paman, Stef," titah Ellard. Lelaki paruh baya itu sudah tidak bisa menahan dirinya. Bahkan ia sama sekali tidak berbalik hanya untuk sekedar pamit dengan Elea maupun Stefan.


"El, habiskan makanannya, ya. Ada bibi Jen yang akan menemani." Stefan sengaja memanggil wanita yang biasa memasak di rumah rahasia Ellard ini untuk menemani Elea.


"Setelah itu, El masuk ke kamar, nanti paman menyusul. Paman dipanggil oleh kakek sebentar," pamit Stefan pada gadis kecil itu.


"Jangan lama-lama ya, Paman." Elea berucap manja pada penyelamatnya.


Stefan hanya mengangguk seraya mengulum senyum. Kemudian mengusap puncak kepala Elea sebelum meninggalkan gadis kecil itu bersama bibi Jen.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Berikutnya terdengar seperti suara sesuatu tengah dirobek.


"Mana anakku?" tanya Luna dengan napas memburu. Meski merasakan bibirnya sangat sakit karena plester yang digunakan untuk membungkam mulut wanita itu telah dilepaskan secara paksa oleh para lelaki yang membawanya, Luna sebisa mungkin menahannya. Ia tidak ingin terlihat lemah.


"Ikut saja!" jawab salah satu dari mereka.


"Tidak! Tunjukkan dulu dimana anakku!" Didalam iring-iringan, Luna menarik mundur tubuhnya, ia bersiap lari sebelum dibawa masuk kedalam sebuah gudang tua yang entah dimana keberadaannya.


"Anakmu ada di dalam. Ayo masuk!"


"Kalian menyekapnya di tempat seperti ini?"


Tidak ada yang menjawab Luna lagi. Tangan kekar para lelaki itu menarik tubuh Luna secara paksa. Untuk mengikuti langkah mereka masuk ke gudang tua yang tidak terpakai itu. Kemudian pada saat pintu gudang itu berhasil dibuka. Mereka mendorong keras Luna hingga wanita itu jatuh terduduk di atas tumpukan kain kotor yang sudah usang.


Luna meringis nyeri. Sakit yang terasa menjalar hingga area pinggulnya. Apalagi tubuhnya sempat terseret akibat dorongan kuat yang ia dapatkan.


"Aku ingin bertemu anakku." Luna yang pantang menyerah mencoba berdiri dan hendak menghampiri orang orang yang membawanya itu.


Bug!


Sebuah pukulan diterima Luna tepat dibelakang tengkuknya. Membuat wanita itu limbung dan jatuh tidak sadarkan diri.


"Harusnya kita melakukannya sejak tadi. Ia cerewet sekali, bertanya ini itu. Membuatku pusing saja," keluh si pemukul dengan santai.


"Apa kau lupa kita tidak boleh membuat tubuhnya terluka sedikitpun? Bos yang akan menghabisinya." sahut yang lain.


"Kita tidak menyakitinya. Apalagi ini tidak akan menimbulkan bekas. Kita hanya membuatnya diam. Apa kau tak pusing mendengar ia bertanya sejak tadi!?"


Keempat orang yang menyekap Luna itu malah saling berdebat satu sama lain.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Tuan, saya mendapat kabar jika adik Anda berada di Rusia."


Seorang detektif swasta yang sengaja disewa oleh Adam berhasil melacak keberadaan Kylie.


"Kau yakin?"


"Iya, Tuan. Ia beberapa kali pindah tujuan hingga akhirnya cukup lama disana."


"Adikku? Ini belum ada 24 jam. Jangan bicara omong kosong."


Adam murka, karena menurutnya itu tidak mungkin. Kylie hanya gadis manja dan tidak mungkin bisa berpikir secerdas itu.


"Ada yang membantunya, Tuan. Adik Anda tidak selugu yang Anda kira. Yang Anda katakan dia gadis manja, tapi di luar dia menjadi orang lain."


Lelaki plontos yang menemui Adam di sebuah cafe selepas jam kerja kantor usai itu mendekat. Ia mengulurkan ponselnya, menunjukkan sebuah gambar.


"Kei!!!"


Adam merapatkan giginya. Gambar yang ditunjukkan oleh detektif swasta yang ia sewa itu benar Kylie. Dan ia berada di sebuah club malam dengan pakaian yang terbuka.


"Pastikan ia masih disana. Aku akan menyusulnya!"


"Baik, Tuan."


Adam menghubungi sang ibu. Ia akan mengajak Lilyana bersamanya, karena hanya sang ibu yang dekat dengan Kylie. Bahkan ia sebagai kakak saja, sama sekali tidak dianggap gadis manja itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Paman, El mau pulang. El kangen dengan Mama."


Gadis kecil itu memohon pada Stefan saat lelaki itu masuk ke dalam kamarnya.


"Iya, besok- besok kita pasti akan bertemu Mama. Mama belum pulang, Sayang."


Stefan mencoba membujuk putri kecilnya itu. Setelah ia membahas tentang Luna dengan Ellard tadi, keduanya sepakat untuk menyewa detektif swasta untuk mencari keberadaan wanita itu.


Karena ternyata baik Alex ataupun anak buah Stefan menemui jalan buntu. Mereka memang mengetahui jika Luna diculik geng Lu Xi, namun mereka sama sekali tidak menemukan jejaknya.


"Kapan Mama pulang, Paman? Kenapa lama sekali?"


Elea berbaring dengan kepala berada di pangkuan Stefan. Gadis kecil itu nampak berkaca merindukan ibunya.


"Paman janji kita akan bertemu Mama. Tapi tidak dalam waktu dekat ini, karena Mama masih banyak pekerjaan," hibur Stefan seraya memberi pengertian Elea.


"Tapi kenapa? El juga tidak boleh sekolah. Malah Ibu Guru yang datang kesini. El bosan, Paman," keluh Elea dengan bibir mengerucut.


"Paman tahu, Sayang. Sabar, ya. Doakan semua berjalan dengan baik."


Stefan membuang tatapannya ke luar jendela.


Menyedihkan ketika kita harus menunggu untuk menyelamatkan orang yang kita cintai karena terhalang ketidaktahuan.


Jika ia segera mendapat kabar keberadaan Luna, ia berjanji pada dirinya akan berangkat saat itu juga untuk menyelamatkannya.


❤❤❤❤❤