
Beberapa kali Luna nampak meminta pelayan mengisi kembali gelasnya. Dan ia sama sekali tidak memesan makanan, rasa lapar menguap begitu saja dari perutnya. Namun rasa haus, malah menjerat tenggoeokannya.
Wanita itu baru tersadar jika dirinya telah menghabiskan waktu berjam-jam di rumah makan itu. Dan hari sudah menjelang sore.
Namun Luna terlihat sedikit bahagia. Meski selama disana, ia hanya diam dan menatap air terjun buatan yang tepat berada di samping gedung dari rumah makan itu.
Ya, hanya lewat jendela. Semua terasa berbeda. Ia seperti tengah memasuki dimensi lain. Menjumpai hal-hal yang tidak pernah ia lakukan sepanjang hidupnya. Menikmati alam dalam ketenangan.
Suasana seperti itu mampu membuat Luna melupakan sejenak masalahnya. Terlebih hubungannya yang mulai terasa hambar dan berbagai masalah yang menimpa perusahaannya.
Namun ada satu yang tidak bisa ia hapus ataupun simpan. Dan itu adalah kenangan tentang Stefan.
Kebaikan Stefan tak mampu Luna simpan karena masa lalunya yang bagai terus meminta pertanggungjawaban. Sementara kebenciannya di masa lalu juga tidak mampu Luna hapus, apalagi sampai terlahir seorang anak akibat perbuatan lelaki itu.
Luna menghela napasnya berat. Mengapa harus wajah lelaki itu yang selalu hadir saat ia tertekan, ataupun saat ia bahagia.
Rasanya lelaki itu masih ada dan mengawasi setiap gerak-geriknya.
Namun setiap kali Luna menengok ataupun sengaja memutar kepalanya mengawasi sekitar, tidak ada siapapun disana.
Luna membuang jauh pikirannya itu. Ia takut segala yang ia pikirkan tentang lelaki itu akan membuat berat perjalanan hidup barunya disurga.
Sejenak Luna bisa melakukannya. Dan detik berikutnya wajah lelaki itu kembali terbayang dan memenuhi otaknya.
Hahh....
Luna mengesah kencang. Kemudian wanita itu menempelkan wajahnya diatas meja. Memejamkan matanya sejenak, mencari kelegaan dalam batinnya.
Rasanya berat.
Mengapa sangat berat kehilangannya, daripada membencinya.
"Maaf Nyonya, kita hampir tutup. Apakah ada hal lain yang bisa kami bantu?"
Seorang pelayan yang datang mengagetkan Luna. Pelayan wanita itu tiba-tiba sudah berada di sampingnya. Bahkan Luna saja tidak mendengar langkah kakinya.
"Tidak, terima kasih." Luna menetralkan detak jantungnya yang sempat berdetak cepat. "Aku yang seharusnya minta maaf. Aku akan segera pergi," ucap Luna yang melirik sejenak bon yang diletakkan diatas mejanya oleh pelayan itu. Kemudian Luna mengeluarkan uang dan meletakkan diatasnya.
"Ambil saja kembaliannya." Luna mengulas senyum kemudian bangkit dan mengambil tasnya.
Wanita itu pergi sesaat sebelum rumah makan itu tutup. Ya, itu hanya sebuah rumah makan kecil yang terletak di sebuah gang yang tidak jauh dari jalan besar.
Sembari melangkahkan kakinya, Luna masih tidak habis pikir dengan apa yang dilakukannya.
Mengapa tadi ia memilih tempat ini setelah ia menjalani persidangan pertamanya hari ini.
Tempat dimana akhir-akhir ini menjadi saksi kebersamaannya dengan Stefan.
Meski disana mereka tidak sedang kencan. Karena mereka kesana hanya untuk makan siang seraya membahas banyak hal. Tentang masalah yang membelit perusahaan Luna yang akhirnya juga menyeret Luna kedalamnya. Dan sudah bisa ditebak, pembahasan mereka pun selalu berakhir dengan perdebatan yang tak kunjung usai.
Keduanya bukan pribadi yang keras, tapi Luna memang hampir selalu berselisih pendapat dengan Stefan. Dan lelaki itu menikmati perdebatan diantara mereka.
Benarkah hal-hal seperti itu akan menjadi kenangan yang akan dirindukan saat ini?
Mungkin.
Bahkan kepergian Stefan belum genap satu minggu. Dan semuanya terasa sepi, mengalahkan hilangnya Adam dari keseharian Luna.
Bagaimana nanti jika satu tahun, dua tahun atau bertahun lamanya.
Apakah Luna masih akan tetap. sulit untuk menghapus kenangannya?
Entahlah.
Hanya Dia yang menentukan segalanya. Dan tentu, juga hanya Dia yang tahu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=≠
Adam menunduk pasrah, saat polisi membawanya. Sungguh nasib seseorang tidak bisa ditebak.
Ia yang merupakan pengusaha
muda, menantu keluarga Efrain di Kanada, malah berada dalam tahanan polisi di Rusia. Dengan masalah yang sepele pula.
Warga asing tanpa surat- surat mengemudi yang lengkap sedang mengebut di jalanan dan dituduh membahayakan keselamatan orang lain karena jalan merupakan fasilitas umum.
Meski begitu Adam tetap saja lelaki yang beruntung. Peristiwa ini tidak terjadi di negaranya. Jika tidak, sudah pasti beritanya ini sudah menjadi makanan empuk bagi pencari berita.
Adam terduduk bagai seorang tahanan di kantor polisi. Saat ini seorang kepala polisi tengah menjelaskan banyak hal padanya.
Pada intinya, ia bisa keluar dari tempat itu jika ada seseorang yang menjaminnya. Namun yang menjadi masalahnya kini, siapa yang dengan rela bersedia menjaminnya? Ini bukan perkara uang, tapi penjaminnya harus warga negara Rusia atau orang asing yang memiliki kedudukan yang diakui, semisal publik figur atau orang-orang terkenal.
Dan sialnya, Adam tidak mengenal siapapun disini. Bahkan teman kuliah pun tidak ada yang berwarga negara Rusia.
"Tidak bisakah saya membayar denda saja, Pak? Saya akan memberikan berapapun," tawar Adam pada para polisi itu.
"Maaf, banyak warga asing yang melanggar dan berakhir dengan denda. Namun mereka seperti menyepelekan instansi kami, karena kenyataannya mereka mengulangnya lagi," tolak polisi itu halus.
Habis sudah.
"Tapi Pak, saya_"
"Saya yang akan menjaminnya."
Seorang wanita tinggi langsing dan mengenakan penutup wajah, tiba-tiba berdiri di sebelah Adam. Wanita itu menyodorkan kartu namanya dan sebuah amplop coklat yang tebal.
Sayang sekali jarak dengan meja tempat amplop dan kartu nama itu diletakkan cukup jauh. Sehingga tidak terbaca sama sekali identitas yang tercetak pada kartu berbentuk persegi itu.
Mimik wajah polisi yang berhadapan dengan Adam sedikit berubah. Dia tersenyum simpul kemudian segera memasukkan amplop beserta kertas kecil itu kedalam lacinya.
"Silahkan Nyonya tunggu di luar lebih dahulu. Ada beberapa dokumen yang harus ditanda tangani oleh Tuan Walton," ucap polisi itu mempersilahkan.
Beberapa menit kemudian, proses penandatangan dokumen selesai. Adam diperbolehkan meninggalkan kantor polisi bersama dengan barang-barangnya yang dijadikan jaminan tadi.
Begitu keluar dari ruangan kepala polisi, Adam menghampiri wanita yang menolongnya tadi.
"Terima kasih atas bantuan anda. saya tidak tahu harus melakukan apa jika tidak ada anda." Adam mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan wanita itu.
Namun uluran tangannya tidak diterima.
"ikutlah denganku. bantuanku tidak gratis, Tuan Walton," ucap wanita itu seraya pergi meninggalkan Adam. Namun para pengawalnya masih tertinggal bersama Adam.
Lelaki itu akhirnya mengikuti wanita yang menyelamatkannya setelah para pengawalnya mengangguk mempersilahkan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Nyonya ... Anda kemana saja? Saya sangat khawatir." Bibi Jen tergopoh menghampiri Luna saat mobil wanita itu baru saja berhenti di parkiran markas Ellard.
"Aku hanya jalan-jalan sebentar, Bi," jawab Luna santai. Meski pikirannya sedang penuh namun ia tidak mungkin menumpahkannya sekarang. Bibi Jen tidak sedekat dengannya seperti bibi Ofelia.
"Saya sudah menyiapkan makan malamnya, Nyonya." Bibi Jen menawarkan paksa makanan yang sudah dimasaknya.
"Sebenarnya aku tidak lapar, tapi baiklah sedikit saja, Bi. Buatkan coklat panas setelahnya untukku ya, aku akan membersihkan diriku lebih dulu," pinta Luna yang tidak tega melihat wajah bibi Jen yang begitu berharap Luna menikmati makanan yang dibuatnya.
Pelayan ayahnya itu pasti mendapat mandat dari sang ayah untuk memastikan Luna makan dengan benar meski banyak masalah mendera.
Luna naik ke kamar setelahnya. Namun dalam perjalanan ponselnya berbunyi.
Wanita itu gegas mengeluarkan benda persegi dari tasnya. Rupanya bagian keuangan kantor adam yang menghubungi.
"Ya."
"Maaf, Bu. Tuan Adam meminta dana dalam jumlah cukup besar untuk ditransfer ke rekening pribadinya. Saya sudah mengatakan kepada beliau jika harus izin Tuan Ellard atau anda. Namun beliau mengatakan jika beliau juga memiliki hak untuk mengambilnya."
"Apa dia mengatakan alasannya?"
"Nyonya Lilyana sakit, dan membutuhkan dana cukup besar."
"Sakit?" Luna mengulum senyumnya dengan sinis. Wanita itu berpikir sejenak, bahkan Adam tidak mengabarinya jika sang ibu sakit. "Apa kau tahu dia dimana?"
"Beliau di Rusia. Maaf Bu, ini ... emm masalahnya, uang perusahan juga dibawa kabur oleh nona Kylie dalam jumlah yang cukup besar pula. Jadi kita benar-benar harus menghemat pengeluaran bulan ini, Bu."
"Kylie? Kapan itu?" napas Luna memburu. Ia sama sekali tidak tahu masalah ini.
"Sekitar satu minggu yang lalu, Nyonya. Kita juga rugi banyak karena harus mengeluarkan biaya ulang untuk mengganti barang-barang kita yang ditolak oleh customer kita disana.
"Apalagi itu!?"
😍😍😍 terimakasih masih setia