La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 48



"Mama...."


Terdengar teriakan dari dalam gedung tua itu. Meski hanya terdengar samar, namun cukup bagi Ellard mengenali jika itu suara cucunya.


"Elea!"


"Iya, Tuan. Itu suara Nona Elea."


"Apa yang mereka lakukan padanya?" Jemari Ellard mengepal. Napasnya memburu menahan pikiran buruk yang bergelayut didalamnya.


"Perubahan rencana! Kita harus masuk sekarang juga!" titah Ellard dijawab anggukan yang lainnya.


Untung saja mereka memang sudah bersiap sedari awal tiba. Hanya tinggal menunggu perintah pasti dari sang majikan.


"Kami siap, Tuan!" ucap Alex mewakili.


Lelaki itu memberi tanda pada semuanya. Rencana yang awalnya penyergapan diam-diam kini dengan cepat berganti karena keadaan yang dianggap darurat oleh Ellard.


"Kalian bersamaku masuk lewat pintu belakang, fokus pada penyelamatan Elea. Yang lain akan lewat depan dipimpin Alex. Tugas kalian melumpuhkan siapapun yang membahayakan dan menjaga kami," ucap Ellard memberikan perintah.


Kemudian orang-orang Ellard secara terstruktur membagi diri menjadi dua kelompok. Mereka sudah siap di posisinya masing-masing.


Alex menggerakkan tangannya sebagai kode. Mereka bergerak masuk satu persatu. Saling menjaga satu sama lainnya dengan waspada, setelah sebelumnya berhasil melumpuhkan kedua orang yang berjaga di depan dengan alat kejut listrik milik mereka.


"Aa...."


Brak!


Nampak seseorang terjatuh diatas meja. Alex yang memukulnya. Anak buah musuh itu memergoki mereka masuk. Suara teriakannya menarik perhatian yang lain.


"Apa itu?"


Rupanya, suara teriakan yang memang terdengar nyaring itu mengejutkan yang lainnya. Hingga tiba-tiba mereka bergerak bersama dan menghadang kedatangan Alex dan anak buahnya.


Namun mereka malah kocar-kacir mencari perlindungan, ketika Alex dan anak buahnya menembak beruntun ke arah mereka.


Dor!


Dor!


Empat orang musuh yang keluar dari mobil tadi tengah turun dari lantai atas. Mereka mengangkat sebuah kotak dan berjalan cepat hendak kabur.


"Lindungi kami!" perintah salah satu dari keempat orang itu.


Dan orang-orang yang tadinya bersembunyi dengan cepat membentuk pagar untuk melindungi keempat orang itu.


Mereka bergerak maju menuju mobil. Sepertinya, selain menculik El, mereka berbisnis lainnya.


Entah apa isinya namun mereka nampak terburu-buru untuk meninggalkan tempat itu.


Alex tidak perduli, ia berjibaku menembaki anak buah geng Lu Xi yang masih bertahan disana. Karena Ellard dan yang lainnya akan segera masuk menyelamatkan Elea.


Suara desing peluru menggema hingga sudut ruangan. Sangat gaduh.


"Beritahu Bos untuk segera masuk! Kita hadang mereka disini!"


Alex memerintahkan anak buahnya untuk memberitahu Ellard. Ia sendiri sudah berada di tangga, sesekali menembaki musuh yang mengincar mereka.


Ellard naik ke lantai atas di ikuti yang lain. Ia langsung menuju kamar yang sedari awal sudah diduga digunakan untuk menyekap Elea.


Brakk!


Ellard menendang pintunya. Didalam sana ada seorang anak kecil yang ditutup wajahnya dengan kantong plastik hitam.


Itu pasti Elea. Untung saja mereka cepat menemukannya. Ellard sangat mengkhawatirkan keadaan cucunya itu.


"El! Ini kakek, Sayang!" teriak Ellard begitu melihatnya.


"Emm ... Emm...."


Suara Elea tidak jelas, pasti para penjahat itu menutup mulutnya dengan sesuatu.


Ellard segera menghampirinya. Membuka dengan cepat tali yang mengikat kaki hingga tangan cucunya itu. Kemudian dengan tidak sabar membuka penutup kepala Elea.


"El?"


Ellard membuka lakban yang membekap gadis kecil didepannya itu.


"Kamu bukan El! Kemana Elea?" tanya Ellard gusar.


"Tuan mencari gadis kecil yang berpakaian sekolah dan dikepang dua?" tanya gadis kecil yang disekap itu pada Ellard. Pantas saja Ellard terkecoh, tinggi mereka berdua hampir sama.


"Iya! Kau tahu ia dimana, Nak?"


"Tuan harus mengejar empat orang yang membawa kotak tadi. Gadis kecil itu dimasukkan kesana. Ia tadi sempat melawan dan berteriak tapi malah dibekap dengan saputangan hingga pingsan," jelas gadis kecil itu dengan terperinci.


"Brengsek! Lalu kau siapa? Kenapa kau juga disekap disini?" tanya Ellard.


"Saya pemulung, Tuan. Saya diberi uang banyak dan baju bagus ini untuk berada disini. Katanya akan ada yang melepaskan saya nanti."


Tentu saja benar yang dikatakan penculik Elea. Ellard yang mengira bahwa yang disekap adalah Elea pasti akan melepaskan gadis pemulung yang tidak tahu apa-apa itu.


Dug! Tangan Ellard yang mengepal meninju dinding di sebelahnya.


Lelaki paruh baya itu kecolongan karena berfokus menyelamatkan Elea di kamar ini. Sampai ia tidak menyadari jika para penjahat itu mengecohnya. Pantas saja pergerakan mereka terlihat buru-buru tadi.


"Tuan, bagaimana Nona Elea. Dia baik-baik saja, bukan?"


Alex yang baru saja masuk tidak mengetahui yang tengah terjadi.


"Alex, kau tahu mobil yang membawa empat orang dengan kotak tadi bukan?"


"Iya, Tuan?"


"Ikuti mereka secepatnya, cari sinyal GPS dari jam tangan Elea sebelum mereka mengetahuinya," titah Ellard.


"Bukannya Nona Elea?" Mata Alex terhenti pada gadis pemulung yang ada disebelah Ellard. Dan seketika otaknya membaca yang telah terjadi. "Baik Tuan, saya sendiri yang akan menemukan Nona El," janji Alex.


Lelaki itu melesat cepat menuju mobilnya. Bersama dengan satu anak buahnya.


Mereka mengejar mobil hitam yang membawa Elea. Alex mencari sinyal GPS Elea, sedangkan anak buahnya yang memegang kemudi.


"Antar anak ini ke rumahnya," titah Ellard pada anak buahnya. "Yang lain, kita kembali ke markas menunggu kabar dari Alex."


Lelaki paruh baya itu tersenyum singkat pada gadis kecil pemulung sebelum mereka berpisah.


\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dini hari, Stefan tiba di depan pintu gerbang sebuah perumahan Real Estate di Edmonton. Lelaki itu mengemudikan mobilnya pelan, melewati rumah rumah mewah yang ada disana. Matanya awas memperhatikan satu persatu nomor rumah dan mencocokkan informasi yang diberikan Ellard padanya.


Akhirnya alamat yang diberikan Ellard tertuju pada sebuah rumah diujung jalan. Rumah dengan pagar dan pintu gerbang yang tinggi sehingga tidak kelihatan sama sekali seperti apa bangunan di dalamnya. Dan terlihat sangat heninghening seperti tidak berpenghuni.


Stefan menghentikan mobilnya. Namun belum sempat ia turun, pintu gerbang terbuka dan seorang lelaki yang sepertinya bagian keamanan dari rumah itu menghampirinya.


"Tuan Stefan?" tanya lelaki itu yang dijawab anggukan oleh Stefan. "Tuan kami sudah menunggu di dalam."


Stefan mengendarai mobilnya dan diarahkan untuk langsung masuk ke garasi. Di tempat itu ia mengenali salah satu mobil yang berjajar rapi disana. Mobil sang paman, Ellard. Mungkin, ini adalah rumah rahasia yang pernah diceritakan Ellard diawal kedatangannya di Kanada.


"Masuklah!"


Stefan mengenali suara itu. Lelaki itu memutar tubuhnya dan benar saja, disana berdiri Ellard yang sudah menyambutnya.


"Paman, tempat apa ini? Berkali- kali ebih mewah dari rumah yang Paman tinggali sekarang," ucap Stefan yang masih takjub dengan bangunan didepannya ini.


Rupanya rumah ini dibangun berbeda bahkan sangat jauh berbeda dari rumah-rumah yang lain. Itu sebabnya gerbang luarnya dibuat begitu tinggi hingga menutup keseluruhan dari bangunan didalamnya.


"Ini rumahku yang sebenarnya," ucap Ellard menimpali. "Kau percaya?" Ellard tersenyum miring pada keponakannya itu.


"Tentu saja aku percaya. Papa juga memiliki tempat rahasia yang lebih mewah dari rumah yang kami tempati," sahut Stefan.


"Itu ciri khas Efrain, Stef. Baru kau dari keluarga kita yang menginjakkan kaki disini."


Itu berarti baik Aglen ataupun Luna sama sekali tidak mengetahui jika ayah mereka memiliki istana semegah ini.


Stefan mengikuti langkah kaki Ellard yang membawanya ke ruang kerja lelaki paruh baya itu.


"Duduklah. Aku ingin bertanya sesuatu padamu."


"Paman membuatku takut. Kenapa harus membawaku kesini? Padahal, Paman bisa bertanya kapan saja dan dimana saja." Stefan hanya bercanda tapi memang hal itu yah dirasakannya.


"Kita keluarga, Stef. Bagaimana perkembanga kasus Luna?"


"Andrew mengatakan penyelidikan masih terus berjalan, Paman. Apa aku perlu mengeluarkan bukti CCTV itu sekarang? Selama ini aku masih membiarkannya bebas bekerja. Tapi aku mengutus beberapa anak buahku untuk bekerja di kantor Luna. Menyadap CCTV yang sengaja mereka manipulasi untuk menghilangkan bukti."


"Masalah ini sebenarnya sederhana. Bukankah kita sudah menemukan tersangka utamanya? Kita keluarkan bukti untuk meringkus mereka semua. Selesai!"


"Aku menduga ada orang lain dibalik semua ini, Paman. Otaknya. Aku tidak tahu apa motif sebenarnya. Bersabarlah." ucap Stefan menenangkan.


"Bagaimana dengan, El?" Stefan yang khawatir dengan putrinya akhirnya tidak tahan untuk mennayakannya.


"El belum bisa kutemukan. Mereka membawa lari cucuku saat keadaan gaduh. Padahal kami sudah mengintainya dari sore. Seperti ada yang memberitahu mereka."


"Memberitahu? Siapa Paman?"


"Entahlah. Yang jelas dia berada di dekat kita, sampai dia tahu pergerakan kita."


Di otak Ellard sudah ada satu nama yang pantas ia curigai, namun ia masih enggan mengatakan pada keponakannya itu.


"Kasihan Luna. Aku sudah mengatakan padanya jika Paman sudah menemukan lokasinya." Stefan yang saat ini menyandarkan tubuhnya di meja pun menunduk. Lelaki itu tahu kalutnya Luna kehilangan Elea. Juga perasaanya sendiri yang lebih khawatir dari Ellard.


"Stefan! Kau ceroboh sekali. Aku hanya memintamu untuk menjaganya bukan menyampaikan berita ini."


"Maaf Paman, aku khawatir dengan kondisi Luna. Aku hanya berpikir ia pasti bahagia mendengarnya. Kemarin aku mengatakan hal ini pada Adam, karena Luna baru saja beristirahat. Dan lelaki itu berjanji menyampaikannya, saat Luna bangun."


Sepertinya Ellard bertambah yakin dengan apa yang dipikirkannya.


"Kita hubungi Luna untuk memastikannya," ucap Ellard yang mengkhawatirkan sesuatu, pikiran buruk mulai membayanginya.


"Ini jam 3 pagi, Paman. Dia pasti masih beristirahat," ucap Stefan mengingatkan.


"Kita hubungi Ofelia."


"Paman, sabarlah sebentar. Ini masih terlalu pagi." Stefan meraih lengan Ellard, kemudian memgusapnya pelan. Pamannya itu nampak gelisah.


"Kau sudah tahu tentang Adam?"


Ellard menoleh pada Stefan. Keponakannya itu nampak mengangguk tenang.


"Aglen menceritakannya. Aku hanya khawatir dengan keselamatan Luna. Mungkin Adam mempunyai alasan sendiri mengapa ia melakukannya."


Meski khawatir, Stefan masih bisa tenang karena yang dilakukan Adam tidak menyangkut keselamatan luna.


"Menurutmu jika semua sudah terkuak, bukankah keselamatan Luna juga akan terancam?"


"Aku tahu apa yang Paman pikirkan. Tapi mereka terikat pernikahan, pasti ada perasaan sayang yang yang membuatnya tidak akan mencelakai Luna."


Stefan mencoba berpikir bijak. Tidak ada lelaki yang akan menyakiti seseorang yang disayanginya bukan?


"Alasan apa yang membuatnya bertindak bodoh dan berani seperti itu? Aku mencukupi semua kebutuhan keluarganya beserta fasilitas penuh, Stef. Tanpa luna ketahui. Gaji Adam juga diatas yang telah kami sepakati dengan Luna sebagai Direktur, itu juga karena aku. Apa menurutmu yang kulakukan masih kurang?"


Ellard mengungkap semua yang diberikannya pada Adam selama ini. Sesuatu yang hanya diketahui oleh dirinya dan menantunya itu.


Dimana pada awalnya, ia hanya berharap semua akan baik-baik saja dengan melakukannya. Semacam reward untuk Adam. Karena lelaki itu sudah menerima putrinya apa adanya.


"Mengapa Paman melakukannya? Luna wanita yang cantik, tidak ada lelaki yang tidak menyukainya. Apalagi Paman melakukannya tanpa sepengetahuan Luna. Dia pasti akan marah saat mengetahuinya."


Stefan kaget mendapati kenyataan seperti itu. Ellard seperti tengah membeli menantunya itu. Bukankah Adam tulus pada Luna? Itu yang selalu dibanggakan sepupunya.


"Menurutmu...?"


Ponsel Ellard bergetar. Kemudia muncul nama Alex disana.


"Bagaimana?" tanya Ellard.


"Tuan, Saya sudah menemukan Nona Elea. Sudah saya pastikan itu dia. Tuan harus cepat datang kesini. Saya kirim lokasinya sekarang," ucap Alex bersemangat.


"Baiklah! Kita serang sekarang juga," titah Ellard mengakhiri panggilan itu.


"Aku ikut, Paman" pinta Stefan. Ellard hanya diam.


Lelaki paruh baya itu konsentrasi membuka ruang senjata yang berada di balik rak dimana buku-buku koleksi pribadinya tertata rapi.


"Paman? Izinkan aku ikut."


"Baiklah."


Pintu ruang senjata terbuka. Stefan sampai kaget melihatnya. Rupanya koleksi senjata sang paman lebih banyak dari milik ayahnya.


"Cepat ambil Stef! Jangan membuang waktu. Atau kau menjaga Luna saja, aku tidak bisa percaya pada lelaki itu."


Ellard mengambil beberapa senjata yang ia perlukan.


"Paman, mereka suami istri. Tidak mungkin Adam akan mencelakai Luna."


"Baiklah.Tanggung jawab keselamatan Luna tetap ada padamu. Baik kaubersamanya, ataupun tidak!" tegas Ellard yang malas bertengkar dengan keponakannya.


💗💗💗