
"Em, mungkinkah pelakunya orang dalam?" tanya Luna tiba-tiba, membuat gadis itu kaget lalu mendekat.
"Bu Luna mencurigai seseorang?" Emma malah bertanya.
"Entahlah. Tapi sepertinya tidak mungkin benda itu bisa berpindah tempat sendiri tanpa merusak pengaman disekitarnya tanpa orang ... dalam?" Luna melirik Emma.
"Benar sekali, Bu." Gadis itu mengangguk mengiyakan. "Berarti kita harus mencari siapa-siapa saja yang berpotensi atau mempunyai akses untuk masuk kesana," usul Emma yang diiyakan oleh Luna.
"Aku, Manager Gedung, Pengantar Tamu dan Satpam." Luna mengabsen satu persatu. "Mereka semua mengetahui sistematis buka tutup pintu, peletakkan barang hingga menguncinya. Meski Satpam sangat kecil kemungkinannya."
"Berarti target utama kita hanya tinggal dua bu. Manager Gedung dan Pengantar Tamu. Untuk Satpam kita lingkari kecil saja," ucap Emma mengelompokkan orang-orang yang pantas dicurigai.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Paman, lihat ini!" Elea mengeluarkan kertas yang berisi coretan-coretannya di rumah tadi.
"Gambar siapa ini El?"
"Gambar Paman sedang di rumah sakit," jawab Elea bangga.
"El yang menggambarnya?" Gadis kecil itu mengangguk. "Paman tampan sekali ya, disini?" Elea mengangguk kembali.
"Paman mau main sama El?"
"Tentu saja. El membawa mainan apa?" Stefan membuka selimutnya dan mengangkat Elea naik ke ranjang, untuk ikut duduk disampingnya.
"Tidak ada, Paman. Mama buru- buru saat mengantar El tadi." Wajah Elea mengkerut kecewa. Ia tidak membawa mainan satupun.
"Aha ... Paman ada ide." Stefan segera mengambil ponselnya. Lalu lelaki itu membuka situs penjual boneka Barbie online yang memiliki layanan antar, saat itu juga. "El pilih yang mana?"
Stefan menyodorkan ponselnya pada Elea. "Wahhh ... cantik-cantik sekali, Paman." Mata Elea berbinar dimanjakan oleh berbagai macam model Barbie. Dan Stefan, berada sedekat itu dengan Elea membuat hatinya sangat bahagia.
"El pilih yang El mau. Lalu nanti kita tinggal tunggu sebentar, dan bonekanya akan datang sendiri kesini," ucap Stefan menjelaskan.
"Asyikk...." teriak Elea kegirangan. Gadis kecil itu berkali-kali memeluk Stefan.
\=\=≠≠\=\=\=\=\=\=\=
"Berikan aku laporan keuangan, anak muda," titah Ellard pada Direktur Keuangan yang sengaja ia hubungi untuk tetap masuk pada Sabtu ini.
Lelaki berpakaian kasual yang masih nampak muda itu terkejut. Selama ini Ellard tidak pernah memintanya saat hari-hari biasa di kantor. Lelaki paruh baya yang kini menjadi Dewan Komisaris itu cenderung statis dan hanya mengamati, meskipun ia juga pergi ke perusahaaan itu setiap hari.
"Semuanya, Pak?"
"Enam bulan terakhir," ucap Ellard yang berdiri di depan jendela kaca menatap pemandangan luar dari ruangannya di lantai 10.
"Baik, Pak."
Lelaki muda itu mengambil macbook nya di tas, membukanya, kemudian menyodorkan pada Ellard setelah ia membuka password pada program di benda canggih itu.
"Itu pengeluaran setiap bulan, Pak," jelas Direktur Keuangan pada Ellard.
"Baiklah, random saja. Katakan ini pengeluaran apa?" tanya Ellard yang menunjuk angka-angka disana dengan menggerakkan mouse.
Setiap apa yang ditunjuk oleh Ellard dijawab dengan gamblang oleh Direktur Keuangan itu.
"Berikan aku rincian pengeluaran gaji dan tunjangan untuk karyawan," titah Ellard.
"Iya, Pak."
Lelaki muda itu nampak mencari beberapa file. Kemudian memberikan kembali pada Ellard. "Silahkan."
Ellard terkesima. Rupanya tunjangan Direktur sangat besar selama ini. Padahal seingatnya dulu, ia tidak pernah mengambil tunjangan itu semasa ia menjabat. Dan nominal yang ia dapatkan pun jauh dibawahnya.
"Ini?"
"Iya, Pak. Itu tunjangan Pak Adam. Saya mendapatkan mandat dari Direktur Keuangan yang lama, itu permintaan Pak Adam atas izin Bu Luna," jelas lelaki muda itu.
"Tidak mungkin," gumam Ellard. "Salin ke flashdisk sekarang. Aku tunggu," titah Ellard.
"Baik, Pak."
Setelah memasukkannya dalam flashdisk dan diserahkan pada Ellard, lelaki muda itu diperbolehkan pulang.
"Ingat, pertemuan ini hanya antara kau dan aku," ucap Ellard yang dijawab anggukan oleh lelaki muda yang menjabat Direktur Keuangan itu.
\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=
Klek!
Pintu kamar Stefan terbuka. Dan pemandangan yang membuat dada Luna perih terpampang disana.
Dua kali ini Luna melihat Stefan dan Elea tidur layaknya ayah dan anak. Meskipun memang seperti itu kenyataannya, namun Luna yakin Stefan belum mengetahuinya.
Elea tertidur dalam pelukan Stefan. Dan lelaki itupun juga tengah tertidur pulas.
Luna tidak berani mengganggu. Hingga ia hanya duduk di sofa menunggu keduanya bangun. Namun lama sudah ia menunggu dan dua orang itu masih juga nyenyak.
Wanita yang merasa lelah dan capek itu akhirnya tertidur disofa. Meringkuk memeluk tasnya.
Stefan bangun, saat jarum jam menunjuk di angka 4. Matanya mengerjap tidak percaya melihat ada Luna dikamarnya.
Tidak berapa lama datanglah seorang perawat memberitahu. Jika Stefan diperbolehkan pulang hari ini karena tidak ada komplikasi serius pada efek dari alergi yang dideritanya. Bahkan wajah Stefan yang tadi pagi membengkak merah seperti udang rebus sudah kembali normal saat ini.
Hanya tinggal menunggu dokter visite satu kali lagi yang akan memastikan Stefan benar-benar boleh pulang.
Beberapa jam berlalu. Dokter yang menangani Stefan sudah selesai visite. Bahkan obrolan dokter dan Stefan diruangan itu sama sekali tidak membuat Luna terganggu. Buktinya, wanita itu masih setia meringkuk di sofa, hanya beberapa kali terlihat berganti posisi tanpa membuka matanya sama sekali.
"Silahkan, Tuan," ucap Alex, bodyguard Ellard yang dimintai tolong oleh Stefan untuk mengantarkan mobilnya.
"Terima kasih Lex. Kamu pulang saja," titah Stefan.
"Tapi, Tuan. Nyonya Luna dan Nona El sedang tidur. Tuan pasti kesusahan membawa mereka sendiri. Sedangkan Tuan baru saja sembuh." Alex yang di tugaskan Ellard untuk membantu Stefan menolak diusir oleh keponakan majikannya itu.
"Apa Tuanmu sudah pulang?" tanya Stefan.
"Saat saya pergi dari rumah, Tuan Adam belum nampak kembali, Tuan."
"Baiklah, aku antar ke rumah paman Ellard saja. Besok hari Minggu, El juga masih libur," putus Stefan.
"Kamu tunggu dibawah saja. Aku akan memggendong mereka satu persatu," titah Stefan.
"Baik, Tuan."
Stefan menggendong Elea lebih dulu. Berjalan melewat lorong, masuk keluar lift hingga sampai di mobil yang sudah ada Alex disana. Kemudian lelaki itu kembali lagi ke atas untuk mengambil Luna.
Stefan sempat memandangi lama wajah Luna. Ia ragu sekaligus bingung, takut jika Luna marah padanya karena telah lancang menyentuhnya. Tapi sama saja, disini hanya ada dia dan Alex. Bodyguard Ellard itu tidak akan mau menggendong Luna karena ada dirinya yang dirasa lebih pantas melakukannya.
"Baiklah, kita coba. Harus terima segala resikonya nanti," gumam Stefan menyemangati dirinya sendiri.
Lelaki itu mulai melepaskan tas tangan Luna lalu mengalungkan di lengannya. Berikutnya dengan lembut, Stefan mengangkat tubuh Luna dan menggendongnya ala bridal style.
Dalam perjalanan, Luna sempat menggeliat, namun ia tenang kembali setelah Stefan sengaja berhenti dan menepuk lembut tangannya pada lengan Luna.
Stefan sudah keluar dari lift. Hari beranjak gelap, hingga ia terburu berjalan karena sudah hampir mencapai mobil.
"Kamu! Turunkan aku Stefan!" teriak Luna yang membuat Stefan kaget. Bahkan lelaki itu tidak menyadari jika guncangan yang terjadi akibat dirinya yang terburu-buru, membuat Luna bangun.
"Sebentar lagi sampai," ucap Stefan yang tidak memperdulikan gerakan absurd Luna untuk melepaskan diri.
"Apa kamu bilang? Aku tidak perduli mau sebentar lagi atau lama. Turunkan aku sekarang!" titah Luna keras.
Stefan tetap tidak menggubrisnya, ia terus melangkah hingga sampai di depan mobil baru ia turunkan Luna dari gendongannya.
"Tidak sopan!" Luna membenarkan pakaiannya kemudian merebut tasnya dari lengan Stefan.
"Maaf, aku hanya tidak tega membangunkanmu Lun," Stefan tetap saja lembut meski segala bentakan dan teriakan ia terima.
"Tapi bukan berarti kau bisa menyentuhku sesukamu!" Luna kesal dan segera berlalu pergi begitu melihat Alex ada disana. Wanita itu memilih pulang dengan bodyguard yang ditugaskan untuk menjaga Elea itu.
"Nyonya...."
"Apa! Paman juga sama saja. Kenapa membiarkanku digendong olehnya! Aku ikut denganmu, mana mobilmu?" bentak Luna yang kesal dengan kedua lelaki yang ada di depannya itu.
"Itu yang mau saya sampaikan, Nyonya. Saya kesini karena diminta Tuan Stefan untuk mengantarkan mobilnya. Jadi...."
"Kenapa tidak bicara dari tadi!?" Luna melotot tidak percaya. Ia kesini diantar sopir perusahaan tadi, karena ban mobilnya kempes dan harus masuk bengkel. Dan sedianya ia akan menghubungi Alex untuk menjemputnya.
"El? Mana Elea?" panik Luna yang menyadari apa tujuannya ke rumah sakit tadi.
"Elea ada di dalam," jawab Stefan membuka pintu belakang mobilnya.
Luna langsung menghambur masuk ke dalam mobil. Dan begitu ia melihat putri kecilnya itu tertidur sangat pulas beralaskan selimut kecil milik Stefan, Luna malah tidak tega membangunkannya.
"Paman Stefan ... He he he barbienya cantik ya, seperti aku." Elea memgigau sambil tersenyum dan malah menyebut nama Stefan. Sepertinya gadis kecil itu terbayang- bayang akan kebersamaan mereka siang tadi.
"Aku antar pulang. Kau bisa di belakang dengan El jika tidak nyaman duduk di depan," tawar Stefan seperti membaca pikiran Luna.
Luna nampak diam berpikir. Ia tidak mungkin memaksakan keinginannya menggendong El keluar dari mobil Stefan dan naik jasa mobil online.
"Antar ke rumah saja," pinta Luna dengan ketus, meskipun ia menyetujui tawaran sepupunya itu. Stefan tersenyum bahagia meresponnya.
"Kamu mau bareng Lex?" tawar Stefan sebelum ia masuk ke dalam mobil.
"Tidak, Tuan. Saya masih ada tugas dari Tuan Ellard. Saya pulang sendiri saja," jawab Alex yang membungkuk hormat pada keponakan majikannya itu.
"Baiklah, aku duluan." Alex melambaikan tangannya.
Dalam perjalanan, tidak ada suara yang terdengar selain lagu yang diputar Stefan di dalam mobilnya. Keduanya nampak tenang dengan pikiran masing-masing.
Luna bingung mencari alasan jika Adam bertanya, mengapa ia pulang diantar Stefan. Karena tidak mungkin ia mengatakan jika Elea sampai pergi ke rumah sakit hanya untuk bermain dengan pamannya itu.
Sementara Stefan, ia sibuk melirik apa yang terjadi di kursi belakang dari spion dashboard nya. Setiap gerak-gerik Luna tidak ada yang luput dari perhatiannya. Meskipun ia harus berbagi fokus dengan jalanan didepannya.
Bahkan lelaki itu sampai senyum-senyum sendiri untuk nasibnya hari ini. Nasib sial sekaligus baik yang ia syukuri.
Bayangkan saja, dia masuk rumah sakit karena Luna, dan seharian ini wanita itu dan anak mereka malah lebih banyak dengannya daripada Adam.
Mobil hitam milik Stefan memasuki halaman rumah Luna. Mobil alAdam sudah nampak di garasi, itu berarti Luna sudah harus siap dengan alasannya.
Tanpa diminta, Stefan membantu Luna menggendong Elea.
"Biar aku saja." Luna menolak dengan keras.
"Tidak apa-apa. Aku hanya membantu menggendongnya sampai dalam."
"Sayang...." Suara Adam terdengar. Lelaki itu keluar karena mendengar ada suara lelaki bersama suara istrinya.
"Oh, rupanya ada Stefan," sapa Adam begitu melihat sepupu istrinya itu. "Kau darimana Sayang? Sampai Stefan yang mengantarmu."
"Em ... Aku...."
"Dia berkunjung ke rumah paman Ellard tadi. Dan aku menawarkan untuk mengantarnya karena searah dengan apartemenku." Stefan memotong penjelasan Luna sebelum wanita itu bisa menjelaskan alasannya.
"Oh, terima kasih Stef. Maaf kami merepotkan,"
Stefan pamit dengan Adam. Karena begitu masuk, sepertinya Luna tidak ingin keluar lagi.
"Stef, apa benar Papa mengajakmu kerjasama untuk perusahaan barunya?" tanya Adam tiba- tiba saat Stefan hendak masuk mobilnya.
"Iya."
"Katanya kau juga pemegang saham disana. Sama besar dengan Papa."
Stefan melirik lelaki yang menjadi suami Luna itu. Kenapa sang paman sampai harus berbohong mengenai status Stefan disana pada Adam.
"Begitulah."
"Aku tidak tahu, kenapa Papa tidak mengajakku. Padahal aku ingin sekali ikut memiliki saham disana. " Adam menyampaikan kekecewaannya.
"Mungkin lain waktu," hibur Stefan yang mengetahui arah pembicaraan Adam.
"Mungkin."
💓💓 Terima kasih...
jangan lupa vote ya!