La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 37



"Auw...."


Luna memekik kaget saat merasakan kepalanya terbentur lantai. Perlu mengumpulkan nyawa terlebih dahulu untuk membuat kesadarannya kembali.


Ia terduduk menghadap mejanya dengan mata merah yang mengerjap.


"Ternyata cuma mimpi. Berharap sekali datang pahlawan bertopeng yang menolong. Orang-orang orang seperti itu selalu hanya ada di film saja," gumam Luna lirih.


Wanita itu berdiri dan melemaskan otot-ototnya yang kaku. Posisi tidurnya yang seadanya, ditambah dengan insiden jatuh yang tidak ia sangka tentu menjadi penyebab utamanya.


Setelah merasakan tubuhnya sedikit lebih nyaman, wanita itu menghampiri mejanya yang berantakan, dan segera membereskannya.


Saat hendak menutup macbook nya, Luna mengingat sesuatu. Sebelum macbook itu mati, ia mendapat satu nama yang ia curigai, namun ia jadi ragu sendiri. Karena tidak mungkin orang itu menusuknya dari belakang. Lagipula Luna belum memiliki bukti apapun.


Luna segera meneruskan apa yang dikerjakannya. Besok adalah pembuktian terakhir akan kecurigaannya. Karena orang yang ia curigai itu pasti mempunyai andil dalam peristiwa besok. Namun entah kenapa Luna jadi ketakutan sendiri, takut jika semua itu benar.


Jarum jam sudah menunjuk diangka 11 malam. Waktu yang terlalu larut berada di perusahaan sebesar itu sendirian. Namun itu harus, demi mempertahankan apa yang telah ia sudah perjuangkan selama ini.


Luna mengambil tasnya, kemudian keluar dari ruangannya dan menuju basement.


Suasana sangat sepi, membuat waktu terasa lambat berputar. Untung saja satpam yang kebetulan keliling mengantarnya hingga ke mobil.


Baru beberapa menit meninggalkan gedung perusahaannya, ia teringat akan ponselnya. Benda itu lupa ia masukkan ke tas. Dan ketika ia memeriksa tasnya hanya sekedar untuk meyakinkan, ternyata benar. Benda canggih itu ketinggalan. Ia pasti lupa memasukkannya karena terlalu fokus dengan kertas-kertas yang berserakan tadi.


Luna memutar mobilnya untuk kembali lagi ke kantornya. Saat ia sampai di pos jaga depan gerbang, tidak ada seorangpun disana. Mungkin para satpam itu sedang patroli. Tapi seharusnya mereka berbagi tugas, pos jaga tetap harus ada yang menjaga walaupun hanya satu orang.


Luna kembali memasuki basement, dan buru-buru masuk ke lift khusus untuknya.


Ting!


Suara lift yang telah sampai di lantai yang dimaksud, terdengar nyaring di telinga.


Luna melangkah keluar, saat pintu lift terbuka. Perbedaan suhu dalam dan luar lift menciptakan sensasi tersendiri untuk wanita itu. Lampu yang remang-remang membuat suasana semakin mencekam. Tidak ada seorangpun disana dan Luna memaksa diri naik sendirian.


Bodoh!


Wanita itu merutuki diri, kenapa ia tadi tidak menunggu satpam kembali saja supaya ditemani naik ke lantai atas atau bahkan ia bisa menyuruh mereka untuk mengambilkan ponselnya.


Terlambat!


Dalam keadaan sepi seperti ini, masih sempatnya Luna menoleh kesana kemari, memastikan tidak ada yang mengagetkannya disana.


"Hmpp ... Emm." Luna merasa ada yang membekap mulutnya kemudian menariknya ke belakang. Berulang kali teriak dan melawan ia kalah tenaga. Tangan besar itu membekap mulutnya,dan sebelah lagi menarik pinggangnya dengan kuat. Bahkan ketika ia mencoba menggigitnya, si pemilik seakan sudah tahu hingga Luna hanya bisa menggigit angin.


Tidak kehabisan akal, wanita itu mendorong sikunya ke belakang.


"Eppp...." Terdengar desisan dan suara yang tertahan dari orang dibelakangnya. namun tangan pemilik kostum yang semuanya serba hitam itu malah semakin kuat menahan Luna.


"Lep_"


"Ssttt ... dengar! Ikuti apa kataku, dan kau akan tahu yang sebenarnya," bisik orang yang berpakaian hitam itu pada Luna.


Mereka berdua masih berada di tempat yang sama. Berlindung di dekat sebuah pohon besar buatan. Suasana yang remang cenderung gelap menyamarkan keberadaan mereka.


Semakin lama terdengar langkah kaki yang mendekat. Mendadak, orang dibelakang Luna itu menarik tubuh Luna hingga keduanya terduduk dibelakang kursi.


"Kau yakin dia benar-benar sudah pergi?" tanya orang itu dengan suara sangat pelan.


"Tentu saja. Saya sendiri yang mengantarnya ke mobil. Silahkan langsung masuk saja. Kami sudah mengamankan CCTV yang menyorot pintu masuk ruangan itu," ucap seorang lelaki yang tentu dikenal oleh Luna. Karena suara itu milik satpam yang mengantarnya tadi.


"Baiklah, kalian kembali ke bawah saja. Aku bisa sendiri. Penjagaan kalian disana lebih efektif dari pada menungguku di tempat ini," ucap seseorang yang sepertinya memiliki jabatan lebih tinggi dari kedua satpam itu.


Wajah seseorang yang diajak bicara oleh satpam itu tidak begitu jelas, karena minimnya penerangan serta sedari awal orang itu nampak terus menunduk dan menyembunyikan wajahnya dibalik hoodie yang ia kenakan.


Langkah kaki kedua satpam itu terdengar menjauh. Kemudian langkah kaki pelan yang terdengar sangat hati-hati tengah menuju ke sebuah ruangan.


Sosok hitam yang berada di belakang Luna langsung menarik tangan wanita itu keluar dari tempat persembunyian untuk mengikuti. Tetap dalam mode diam dan pelan, agar orang yang diikuti tidak mengetahuinya.


Sosok yang nampak menggunakan sweater gelap itu rupanya berjalan menuju ruangan Luna.


"Itu ... Ada_" Luna menunjukkan wajah panik.


Sosok hitam yang berada di sebelah Luna mengeluarkan sesuatu dari balik kostum hitamnya. Rupanya sebuah ponsel. Ponsel milik Luna.


"Bagaimana bisa?" tanya Luna yang masih tidak percaya karena rupanya ia kalah cepat.


"Ssttt...." Sosok hitam itu memberi gestur untuk mengikutinya. Luna dibawa pada ruangan yang agak jauh. Ruangan itu adalah ruang tempat makan siang para karyawan di kantornya. Memang hanya ruangan itu yang tidak terkunci setiap harinya.


Didalam sana sudah ada monitor kecil yang menunjukkan hampir semua sudut ruangan Luna.


Hanya dalam sekejap, sosok yang bersamanya itu telah melakukan banyak hal. Membuat Luna semakin takjub.


Dengan gestur tubuhnya, kembali sosok itu meminta Luna duduk di depan monitor. Mengawasi sang penjahat yang memasuki ruangannya dengan leluasa.


Semuanya berlangsung cepat. Seseorang yang menggunakan sweater gelap itu akhirnya mengeluarkan sesuatu dari balik tas kecil yang menggantung di lehernya.


Rupanya ini benar sebuah konspirasi untuk menjatuhkan nama baiknya. Orang yang berada di belakang semua ini pasti seseorang yang memiliki kekuatan dalam dunia bisnis di Kanada.


Dan yang paling mengejutkan, saat kotak berlian itu sudah masuk ke tempat yang diinginkan. Seseorang yang ada di dalam ruangan Luna itu menurunkan hoodie yang dari awal menutup kepalanya.


"Oh Tuhan ... tidak...." Luna hampir menangis melihatnya. Ia tidak percaya jika selama ini dirinya memelihara tikus yang berlagak manis didepannya.


Punggung yang awalnya tegak itu sedikit melorot menahan kecewa. Luna bersandar di kursi putar itu dengan lesu.


Berusaha menguasai diri, ia menatap seseorang yang sedari tadi berdiri di sebelahnya. Sosok penolong sekaligus pahlawan yang tidak disangka- sangka datangnya.


"Apa rencanamu?" tanya sosok itu.


"Kau?" Luna merasa mengenali suara itu. Padahal sosok yang menolongnya itu sedari tadi juga sudah berbicara dengannya, mungkin karena ia panik jadi ia tidak begitu memperhatikannya.


"Percuma menutupinya bukan? Kau pasti bisa menebaknya." Sosok yang pastinya laki-laki itu membuka penutup wajahnya.


"Aku sudah mengusirmu kemarin. Kenapa kau kembali lagi?" Luna menatap tajam Stefan. Rupanya, sepupunya itu yang menjadi pahlawannya hari ini.


"Aku hanya ingin menolongmu Lun. Sungguh, tidak lebih," ucap Stefan pelan. "Apa rencanamu selanjutnya?"


"Membuka semuanya. Bukankah tikus itu harus dibasmi?"


"Itu tidak akan membuat keluar tokoh utama dibaliknya, Lun. Aku yakin ia hanya suruhan. Ada yang memegang kendali atas semuanya." Sebenarnya, analisis Stefan sama dengan apa yang dipikirkan Luna. Namun wanita itu malas jika masalah ini berlarut-larut. Ia memikirkan Elea dan juga ayahnya.


"Apa kau punya ide lebih baik?" tanya Luna dengan tatapan sendu.


"Jika dikatakan lebih baik, sepertinya tidak. Tapi aku yakin bisa membuka siapa tokoh utamanya jika kita mengikuti drama yang mereka buat," usul Stefan. Lelaki itu berjanji pada dirinya akan melakukan yang terbaik untuk ibu dari anaknya itu.


Stefan melangkah mendekati Luna. Lelaki itu mengatakan rencananya untuk menghadapi insiden esok hari yang tentunya akan banyak drama.


"Itu akan menyakiti El dan Papa." Luna terdiam kemudian. Haruskah ia mengikuti rencana Stefan yang beresiko?


"Besok pagi aku yang akan menghubungi Paman Ellard untuk mengatakan rencana kita. Untuk El, bukankah masih ada Adam?"


"Adam tidak bisa dihubungi," sahut Luna dingin. Tentu wanita itu tidak ingin mengatakan masalah ini pada Stefan, dan membuatnya nampak lemah. Namun percuma juga menutupinya, lelaki itu pasti akan tahu.


Begitu juga Stefan. Titik dimana Luna menghentikan ucapannya membuat lelaki itu tidak ingin membahasnya lebih jauh hubungan pribadi Luna dengan Adam.


"Biar aku juga yang mengurus El." Luna menoleh, menatap tidak rela pada ucapan Stefan yang hendak mengurus putri semata wayangnya itu


"Biar Papa saja," putus Luna akhirnya.


"Baiklah, kita pulang sekarang. Kau butuh istirahat. Tinggalkan mobilmu disini. Besok pagi setelah pergantian satpam, aku akan mengambilnya."


"Tidak! Aku pulang sendiri saja!" tolak Luna yang langsung bangkit dari kursinya.


"Jika kau membawa mobilmu keluar dari basement sekarang, tentu satpam yang tadi akan curiga dan semua yang kita rencanakan terbongkar."


Luna berhenti. Benar juga kata Stefan, tapi ia tidak mau satu mobil dengan lelaki itu.


"Aku naik taxi saja."


"Ini sudah malam, Lun. Terlalu beresiko seorang wanita naik mobil umum sendirian."


Stefan tentu tidak akan membiarkannya. Keselamatan wanita itu prioritasnya sekarang.


"Aku hanya setuju keluar dari tempat ini bersamamu, Stef. Tidak untuk yang lainnya," tegas Luna yang tidak ingin di debat lagi.


Akhirnya Stefan hanya menurut pada apa yang Luna katakan. Untuk mempersingkat waktu dan Luna juga butuh istirahat untuk mempersiapkan perang esok pagi sesuai rencana.


Mereka berdua keluar lewat pintu samping. Setiap kali mereka berhasil melewati para penjaga, Luna tidak habis pikir bagaimana bisa lelaki yang bersamanya itu melewatinya dengan mudah. Stefan membawa alat-alat canggih untuk membantu aksinya, yang bahkan Luna sendiri tidak tahu apa namanya.


Wanita itu hanya mengikuti apa perintah Stefan, agar mereka bisa keluar tanpa hambatan.


Saat mereka sudah sampai diluar pagar, Luna yang memang berjalan di depan menunggu Stefan yang masih membereskan alat-alat yang digunakannya.


"Aku menumpang sampai jalan depan saja," ucap Luna. Tentu ia tidak bisa mendapatkan taxi dari tempatnya berada sekarang. Atau ia harus memutar balik untuk menemukan taxi itu.


Stefan menyerahkan kunci mobilnya pada wanita yang ada disebelahnya itu.


"Pakai saja mobilku."


"Aku hanya menumpang sebentar. Sebaiknya kau saja yang menyetir," jawab Luna sambil berjalan meninggalkan Stefan.


Lelaki itu mengejar, menarik tangan Luna dan meletakkan kunci mobilnya di tangan milik sepupunya itu.


"Bawa saja mobilku." Setelah berucap demikian, Stefan berbalik dan lari menjauh.


"Stefan! Bukan begitu maksudku," teriak Luna yang sayangnya tidak akan di dengar oleh lelaki itu. Stefan yang berlari cepat meninggalkan Luna sudah menghilang di balik gelapnya malam.


😁Terima kasih yang masih setia. Like, komen dan vote nya ditunggu ya❤