
"Mam, kakak akan mendepakku jika aku masih tidak bisa bekerja," keluh Kylie pada ibunya.
"Maksudmu apa, Kei? Tidak bisa bekerja bagaimana?" Lilyana sampai menoleh dan mengangkat kepalanya.
Saat ini, ibu dan anak ini sedang berada di tempat spa. Mereka ingin rileks dan sedikit melupakan masalah hidup mereka.
"Aku sudah mengerjakannya, Mam. Tapi kata kakak salah terus, jadi aku menyuruh anak buah kakak untuk mengerjakannya. Bukankah itu lebih baik daripada terus saja salah?"
Kylie yang tidak pernah hidup kekurangan, tentu tidak mau menyusahkan dirinya sendiri. Dia akan melakukan apapun agar tetap merasakan kenyamanan seumur hidupnya.
"Kamu tidak belajar? Bagaimana jika kakak iparmu tahu, Kei? Mama susah payah membantumu mencari surat pengalaman kerja di kantor papamu. Jangan sampai kau dipecat hanya karena kebodohanmu!"
Lilyana ketar ketir mendengar ucapan anak gadisnya. Kylie benar-benar seratus delapan puluh derajat berbeda dari Adam.
Anak laki-lakinya itu mandiri sedari kecil. Bahkan ia sudah bisa membiayai kuliahnya sendiri, dulu.
"Kenapa Mama menyalahkanku? Mama juga yang memanjakanku," ketus kylie.
Lillyana terdiam. Salahnya juga terlalu memanjakan anak gadisnya itu dengan berbagai fasilitas. Bahkan disaat keadaan keuangan tidak baik-baik saja, Lilyana tetap mendidiknya sama.
"Sudah, bekerja saja dengan benar. Kalau tidak bisa, ya belajar. Jangan sampai kakakmu marah. Ia sudah mengupayakan banyak hal untukmu. Lihat saja, bahkan lulusan terbaik di Universitas mu belum tentu bisa masuk di perusahaan keluarga Efrain itu."
Lilyana merendahkan intonasi kata-katanya. Berharap anak gadisnya itu mengerti dan merubah wataknya. Karena pikiran Lilyana benar-benar buntu ketika Adam tidak dapat dihubungi beberapa hari ini. Anak lelakinya itu juga tidak pernah kerumah beberapa bulan terakhir.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Angeline tersenyum lebar. Ia mendapat info disaat yang tepat hingga bisa membawa kabur gadis kecil yang menjadi tawanannya itu.
Partnernya menghubungi jika tempat persembunyian mereka telah tercium oleh Ellard dan anak buahnya. Meski dalam keadaan yang serba mepet akhirnya anak buahnya berhasil mengecoh lelaki paruh baya ayah dari orang yang paling ia benci itu.
Nona kaya berjuluk trouble maker itu sudah memikirkan banyak hal yang akan ia lakukan pada Luna. Wanita yang ternyata disukai Stefan. Angeline masih tidak terima atas penolakan yang dilakukan Stefan padanya.
Padahal Angeline tidak memiliki perasaan khusus pada Stefan. Ia hanya terobsesi karena ditolak. Bayangkan saja di seperempat abad usianya, tidak pernah sekalipun ada lelaki yang tidak jatuh pada pesonanya. Mereka rata-rata menggilai gadis itu, dan berebut untuk menjadi pasangannya. Meskipun Angeline juga tahu banyak dari para lelaki itu yang juga mengincar hartanya.
Dan Angeline menikmati sorotan media, setiap kali ia membuat sensasi tentang kisah cinta dan kehidupannya. Bukankah kehidupan para sosialita seperti itu? Menikmati setiap momen yang terjadi pada hidup mereka jika perlu dilebihkan agar khalayak benar-benar mengakui keberadaan mereka.
"Anak itu sudah bangun?" Angeline tengah menghubungi anak buahnya ditempat persembunyian mereka yang lain.
"Belum, Nona?"
"Lakukan apa yang kukatakan tadi, dan segera kirim padaku!" titahnya pada anak buah ya diseberang.
"Baik, Nona."
Angeline menutup panggilannya. Ia bersiap menemui seseorang untuk merayakan kemenangan mereka. Meski kemenangan ini belum sempurna, tapi dengan adanya gadis kecil itu dalam genggamannya, Angeline merasa sudah melumpuhkan sebagian hidup Luna.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Tuan, sepertinya Nona Elea belum sadar." Alex memberikan kamera pengintainya pada sang majikan.
Dari kamera itu Ellard bisa melihat berapa jumlah keseluruhan musuh di dalam. Bersama dimana posisi sang cucu berada.
Tempat persembunyian yang kedua ini sungguh menguntungkan pihak Ellard. Para penjahat itu berada di sebuah rumah diantara pemukiman penduduk meskipun tidak begitu padat.
Dan yang lebih mengejutkan, rupanya rumah-rumah disekitarnya itu kosong. Hingga Ellard dapat dengan leluasa mengepungnya dari segala arah tanpa diketahui oleh mereka.
"Kita serang langsung saja, Stefan! Kau selamatkan Elea, bawa pergi secepatnya ia dari sini. Kami akan menyusul setelahnya," titah ellard.
"Baik, Paman."
"Ingat! Jangan perdulikan apapun yang terjadi dengan kami. Kita bertanggung jawab pada tugas utama kita masing-masing." Ellard mengingatkan keponakannya itu, dia tidak ingin kecolongan lagi.
Alex yang maju pertama kali memberi kode pada beberapa anak buah yang bersamanya. Dia menyerang dari depan.
Dengan lincahnya, Alex beserta anak buahnya bergerak dalam senyap. Mereka menggunakan alat kejut untuk melumpuhkan para penjaga di depan.
Keempatnya kini lunglai tidak sadarkan diri. Selain mengikat para musuh, Alex juga melucuti senjata mereka.
Setelahnya, jemari Alex kembali menari. Memainkan kode-kode rahasia untuk berkomunikasi dengan anak buahnya.
Dor! Dor! Dor!
Satu orang langsung tersungkur karena mengenai kepala. Sedang dua orang lainnya luka tembak diarea dada. Mereka hanya merintih sakit dan tidak dapat berbuat apa-apa saat Alex kembali mengamankan senjata mereka.
Sementara Stefan, dia masuk dari pintu samping setelah diberi tanda oleh Alex. Lelaki itu langsung merangsek masuk mencari ruangan kecil tempat Elea disembunyikan.
Stefan yang bergerak sendiri, membuat dirinya waspada di level 10. Dia tidak ingin terluka juga Elea.
Sungguh mengenaskan, Stefan yang hanya melihat ruangan itu dari sketsa yang dibuat Alex pun tertegun. Ia mengira jika ruangan itu seperti kamar pada umumnya. Namun kenyatanya hanya ruang kecil seperti gudang yang tinggi bangunannya pun tidak ada 100 centimeter.
Stefan melangkah maju. Dia yang awalnya sempat ragu dan hampir berpindah tempat memeriksa ruangan yang lain hanya tercekat ditempatnya.
Tanpa sadar Stefan menginjak sebuah sepatu yang ia yakini milik putri kecilnya itu. Sepatu putih dengan tambahan bunga-bunga kecil diatas velcronya.
Ya!
Tidak salah lagi!
Stefan menggedor pintu berwarna coklat itu. Tidak ada jawaban apapun yang terdengar.
"El... Elea... Sayang... Jawablah jika kau didalam!" Lelaki itu mengintip celah diantaranya, tidak terlihat apapun, hanya gelap. Pikirannya semakin limbung, ia takut terjadi sesuatu pada Elea.
Stefan mengeluarkan pisaunya. Mencongkel pintu dedepannya yang tertutup rapat. "Ahh... Akhirnya." Ia bernapas lega saat pintu itu berhasil ia buka.
"Syukurlah... Sayang, Elea," ucap Stefan yang mendapati putri kecilnya itu sedang meringkuk.
"Paman Stefan, Mama...."
Elea memanggil Luna juga dirinya. Namun mata gadis kecil itu terpejam. Dia berada di alam bawah sadarnya.
Stefan menempelkan punggung tangannya pada leher Elea. Anak itu tengah demam. Mungkin ia dehidrasi selama dalam penyekapan.
Elea membutuhkan pertolongan medis segera. Stefan melepas jaketnya setelah menghubungi dokter pribadi Ellard. Lelaki itu memastikan jika sang dokter sudah tiba lebih dulu daripada dirinya.
Elea bersandar di dada Stefan kini. Gadis itu terus memeluk sang paman sekaligus ayah biologisnya itu dengan erat. Tubuhnya menggigil karena demam tinggi.
"Kita harus pergi secepatnya, El," gumam Stefan.
Bertahanlah, Sayang... Papa mohon.
Stefan menghapus bulir bening yang mendadak menganak sungai di kelopak matanya.
Papa sayang El, Papa akan menjaga El seumur hidup Papa.
Stefan menciumi putri kecilnya itu. Dan setelahnya, ia segera bangkit dengan Elea yang berada di gendongannya.
Klek!
"Tidak semudah itu!"
💗💗💗