
"Paman, bolehkah aku menghubungi El?" Luna tengah berada di posisi setengah duduk sambil menonton televisi.
Kaki kanannya patah akibat kerasnya hantaman mobil bagian depan hingga mengenai kakinya. Beruntung bagian tubuh yang lain tidak terluka parah. Hanya sedikit lecet-lecet saja. Selain kepalanya yang juga terbentur karena melindungi Elea.
"Paman janji jika kau sudah pulih, Paman akan membawa El kesini. Dia juga sedang istirahat di rumah sakit dan ditemani bibimu."
Napas berat William terdengar. Lelaki itu lelah membujuk keponakannya itu. Ini sudah ketiga kalinya dan belum ada 24 jam, Luna meminta untuk menghubungi Elea.
Sementara ia masih harus istirahat total untuk memulihkan tubuh dan juga daya ingatnya yang sebagian menghilang.
"Tapi aku merindukannya, Paman." Luna tertunduk lesu. Hari ini ia sudah melewati terapi singkat bersama fisioterapisnya, untuk menggerakkan beberapa anggota badan yang masih terasa kaku. Juga pergerakan kecil dan ringan pada tungkai kakinya.
"Bahkan kau baru bangun tadi pagi setelah dua hari koma. Paman tahu apa yang kau rasakan. Tapi kau harus sabar, Nak. Apa kau ingin jalan-jalan ke taman? Paman akan mengantarmu," tawar William setelah kehabisan cara membujuk keponakannya itu.
"Tidak, Paman. Aku disini saja. Apakah Papa tahu kalau aku kecelakaan?"
"Paman belum memberitahu Papamu. Tapi kakakmu sudah tahu."
William belum setegar itu memberitahu pada Ellard jika Luna kecelakaan.
"Syukurlah. Itu lebih baik untuk Papa. Masalah yang menimpa kami sudah banyak, Paman. Aku hanya tidak ingin membuat Papa khawatir. Apa Kakak bisa dipercaya?"
Diam-diam Luna merasa lega. Setidaknya ia tidak menambah beban sang ayah disana.
"Kau lebih mengenalnya dari pada Paman. Kalau menurut Paman, kakakmu lelaki yang baik. Ia hanya kurang beruntung saja dalam hal percintaan." William terkekeh saat mengatakannya.
Ya, Stefan memang selalu lebih unggul dari sepupunya itu soal wanita. Bahkan putra satu-satunya William itu banyak digilai adik kelasnya dulu.
"Paman bisa saja. Semoga Kakak bisa menjaga rahasia," ucap Luna menenangkan dirinya sendiri.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Adam merintih kesakitan begitu merasakan kakinya tertembus peluru.
Ia memang berencana kabur. Namun tidak pernah menduga jika gedung perusahaan ini sudah dikepung oleh polisi.
Apes.
Semua yang ada di otak Adam yang sudah ia susun dengan matang, tidak ada yang berjalan sesuai rencana.
Semuanya melenceng dan malah merugikan dirinya sendiri. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga bertubi-tubi.
"Angkat tangan!" Teriakan keras anggota polisi yang melepaskan peluru pada kaki Adam terdengar menggema.
Bukan hanya kaki yang sakit, tapi juga malu yang harus ia tahan karena lalu lalang para karyawannya di hari yang masih tergolong pagi itu tidak terelakkan.
Semua pasang mata menatapnya. Dan mereka bergerombol saling berbisik.
Meski tidak ada para pencari berita disana, namun kamera-kamera ponsel milik mereka membidik dalam jarak dekat dan sembunyi-sembunyi.
Adam pasrah. Dirinya hancur dalam sekali waktu. Hidupnya, karirnya dan mungkin yang terakhir juga rumah tangganya.
Lelaki berambut pirang yang menjabat Direktur itu dipapah oleh polisi menuju mobil, dengan mendapat tatapan tajam dan prihatin dari para bawahannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kita kemana?"
"Ikut saja. Seperti biasanya kita akan bersenag-senang keluar negeri," ucap lelaki tampan berbadan tegap serta memiliki beberapa tato ditubuhnya dengan rambut dikepang kecil-kecil ala rastamania.
"Aku tidak mau! Kau mengurungku sejak kemarin. Bahkan ke makam mamaku saja kau tidak mengizinkan. Sejak kapan kau tidak percaya padaku?"
Kylie berucap ketus pada lelaki yang dekat dengannya itu. Seseorang yang membantunya menyelesaikan segala hal. Siapa lagi jika bukan Alfonso.
"Jangan berteriak padaku!" balas Alfonso kesal.
Ia tidak terima dengan sikap Kylie yang akhir-akhir ini memberontak, dan tidak semanis awalnya. Lelaki itu sampai berdiri dan mencengkeram dagu Kylie yang tengah duduk diranjangnya.
Kylie merintih dengan airmata yang tiba-tiba saja keluar akibat menahan sakit.
"Lep-pas Alf-fonso! Hkk...."
Tangan Kylie mencengkeram pergelangan tangan lelaki didepannya itu. Namun tentu saja gadis itu kalah tenaga.
Alfonso tidak menggubrisnya sama sekali. Bahkan napas sesak Kylie yang tercekik sama sekali tidak diperdulikannya.
"Kau sudah tidak menguntungkan aku lagi. Jadi apapun yang kulakukan padamu, itu terserah padaku!" Mata Alfonso melotot dengan senyum menyeringai.
Alfonso melepaskan cengkeramannya. Lelaki itu memutar tubuhnya hendak meninggalkan Kylie.
"Kamu jahat! Kukira kamu benar-benar menyukaiku, hingga aku rela melakukan apa saja untukmu. Tapi ternyata semua itu palsu!"
Lelaki bertato itu berdecak. Rupanya gadis di depannya itu tengah menghitung jasanya dimasa lalu.
"Aku tidak pernah memintanya! Dan bukankah kau juga menikmati segala fasilitas yang kuberikan selama ini!? Hemm...."
Alfonso sengaja berbalik. Semua yang dikatakan Kylie membuatnya semakin kesal.
Lelaki bertato itu kembali mencengkeram leher Kylie. Dan kali ini kian kencang.
Kylie melawan dengan menendang dan memukul lelaki yang ia cintai itu. Namun ia bagaikan memukul angin. Alfonso sama sekali tidak terpengaruh apalagi melepaskannya.
Tanpa diduga, dengan cepat Alfonso melepaskan cengkeramannya serta melempar Kylie hingga tubuh yang sudah rapuh dan lemah itu terbentur pada lemari dan jatuh.
Kylie terisak dan menangis tanpa suara. Ia terluka, mulutnya mengeluarkan darah, dan rahangnya terasa patah.
Ia kesakitan namun tidak mampu berteriak. Bukan hanya tubuhnya yang merasa sakit, tapi juga hatinya. Ditatapnya wajah lelaki yang melemparnya itu. Wajah yang pernah ia gilai dan sekarang malah hampir membunuhnya.
"Bawa wanita itu ke dalam kapal. Ada banyak yang menginginkannya disana! Berikan secara gratis! Dia sudah tidak sempurna untuk dijual!" Perintah Alfonso pada anak buahnya.
Tangisan pilu Kylie terdengar. Meski hanya seperti orang gagap yang tidak mengeluarkan suara dengan jelas.
Dan setelahnya, hanya tawa senang Alfonso yang terdengar.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Nona Evelyn kenapa?" tanya seorang office boy yang baru saja masuk ke dalam pantry.
"Emm ... Ini kopi, kan?"
Evelyn memegang toples yang hanya berisi sedikit bubuk halus berwarna coklat kehitaman dengan aroma khas kopi.
"Tentu saja, Nona. Tapi habis, saya baru saja pulang membelinya." Pemuda dengan rambut ikal itu menunjukan bungkusan di tangannya.
"Lalu ini? Kopi juga, kan?"
Evelyn menunjukkan sebuah kantong kecil transparan berisi bubuk coklat kehitaman. Dari penampakan saja sangat mirip dengan yang ada di dalam toples kopi. Meskipun aromanya sama sekali tidak.
"Nona menemukan itu dimana?"
"Di pojok lemari ini, di belakang toples," jawab Evelyn yang terdengar bimbang.
Dalam hati Evelyn merapal doa. Semoga itu memang kopi. Karena dia sudah menyeduhnya tadi di dalam cangkir yang ia berikan pada Aglen.
Lelaki berseragam office boy itu mendekat. Lalu meminta sesuatu yang ditunjukkan oleh Evelyn tadi.
Ia mengendusnya, dan mengeluarkan sedikit untuk merasakannya.
"Hkkk ... Huek ... Pahit sekali."
Lelaki berambut ikal itu memuntahkan isi mulutnya di wastafel kemudian mencuci mulutnya dengan air. Padahal ia hanya menjilatnya sedikit.
"Non, ini sepertinya obat pelangsing milik Bu Jumini. Dia berasal dari Indonesia. Sangat menyukai minum jamu-jamu begini. Biasanya memiliki efek tidak lama setelahnya. Jadi lebih sering ke toilet," jelas office boy itu.
"Hah!" Evelyn merosot lemas. Pikirannya mendadak buruk.
"Apa aku akan dipecat?" keluhnya dengan tangan berpegangan pada kursi di dekatnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Mama...."
Elea berlari dan menghambur di pelukan Luna. Hari ini William membawa Christina dan Elea ke rumah sakit.
Sesuai janji sang Paman. Jika kesehatan Luna semakin membaik, maka ia akan membawa putri kecilnya itu kemari.
"Masih ada yang sakit, Sayang? Maafkan Mama, ya." Luna melerai pelukan Elea dan mengusap puncak kepala gadis kecil penyemangat hidupnya itu.
"I'm okay, Mama. Oma berjanji mengajak kita ke Grand Canyon. Mama harus lekas sembuh." Gadis kecil itu menatap Christina yang mengangguk mengiyakan.
Luna membayangkan dirinya yang sudah pasti akan menyusahkan yang lainnya jika sampai liburan disana.
"Kenapa tidak ke tempat lain saja, Sayang?"
"El ingin kesana, Ma. Ingin mengambil foto di tempat yang sama, dimana Paman Stefan bergaya." Gadis kecil itu menirukan gaya Stefan seperti dalam foto yang dilihatnya.
"Kau ini ada-ada saja." Senyum Luna mengembang. Elea selalu menjadi hiburan tersendiri baginya.
"Mama kapan bisa pulang? Paman stefan sudah menunggu. Kita makan es krim lagi sama-sama," ajak Elea dengan manja.
Stefan?
"Kenapa pamanmu itu tidak kesini saja?" tanya Luna aneh. Dia yang sakit kenapa dia yang harus menghampiri Stefan?
"Paman kan_"
Christina dengan cepat membekap mulut Elea. Wanita paruh baya itu menyadari sesuatu. Ia menarik tangan William untuk membawa Elea keluar.
"El beli es krim dulu dengan Paman. Nanti bawakan untuk Oma dan Mama, ya," bujuk Christina pada cucunya.
Elea hanya menurut saat William menggendongnya keluar.
"Fokus saja untuk sehat, Sayang. Yang lain kita bicarakan nanti saja." Christina menengahi. Ia dengan cepat mengalihkan pembicaraan ke hal lain.
Ternyata, kepergian Stefan masuk dalam daftar hilang di memori Luna.
Apakah wanita itu sebenarnya trauma kehilangan Stefan meski hubungan mereka tidak terlihat dekat? Atau ada hal lain yang tersembunyi?
Terkadang, sesuatu yang berasal dari hati tidak pernah kita sadari kekehadirannya. Atau separah apa ia membuat luka, sampai kita benar-benar sadar. Jika kita membutuhkannya.
{thanks masih setia, love u💕}