
"Oh iya. Berapa usia Elea sekarang, Nak? Dan kapan tanggal lahirnya? Bibi ingin merayakan ulang tahunnya disini?"
Luna mendadak berhenti. Tubuhnya gemetar dan jantungnya tiba-tiba saja berdetak lebih kencang begitu mendapat pertanyaan istimewa dari sang bibi.
"Em ... Em...." Luna mematung, mulutnya seperti terkunci seketika. Keringat dingin membasahi kedua pelipisnya.
Tanpa sadar tangan Luna bergerak untuk segera menghapusnya. padahal punggung tangannya yang ia gunakan untuk menghapus juga basah.
"Kamu lelah, Sayang? Jangan dipaksakan, ayo kita duduk dulu disana. Mungkin kamu belum kuat berjalan jauh."
Christina segera membimbing Luna untuk menepi, menuju salah satu kursi taman yang tersebar di seluruh halaman belakang rumahnya itu.
"Apa yang kau rasakan? Sebentar bibi ambilkan minum," Christina yang terlihat khawatir segera berlari menuju dapur. Ia bahkan lupa memiliki banyak pelayan yang dapat ia panggil kapan saja ia perlukan.
Luna sejenak bernapas lega. Otaknya berpikir cepat untuk mencari jawaban terbaik yang tidak akan menimbulkan banyak pertanyaan lebih jauh. Karena jika Luna mengatakan tanggal dan tahun lahir Elea yang sebenarnya, sudah pasti bibinya itu akan curiga.
"Minumlah."
Christina datang beberapa saat kemudian diikuti oleh seorang pelayan dibelakangnya.
"Bibi membuat teh Chamomile tadi. Bunga ini bisa membuatmu tenang. Dan air hangat bisa membantumu mengurangi sesak yang kau rasakan." ucap Christina yang menyerahkan sendiri gelas berisi teh bunga berwarna kuning cerah itu.
"Terima kasih, Bi," ucap Luna seraya menyunggingkan senyumnya.
"Bagaimana? Bibi ingin sekali membuat kue ulang tahun untuk Elea. Sepertinya akan sangat menyenangkan melewati pesta kecil di rumah ini," seloroh Christina yang sudah membayangkan tentang pesta yang akan ia buat.
"Em ... Iya Bi. Ulang tahun Elea masih beberapa bulan lagi. Jika nanti sudah waktunya, aku akan mengingatkan Bibi," ucap Luna pelan. Ia takut menyinggung Christina.
"Baiklah terserah kau saja. Janjimu Bibi pegang untuk mengingatkan, Ok!"
Gluk!
Luna menelan salivanya. Wanita itu berdoa semoga semua baik-baik saja sampai hari ulang tahun Elea tiba.
"Iya, Bi. Ayo kita lekas kesana. Hari sudah hampir gelap," ajak Luna yang memimpin di depan. Sedangkan Christina mengikuti dari belakang dengan semangat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Aku mohon, izinkan aku bertemu dengan Luna," pinta Adam pada Andrew yang menyempatkan diri menemui adam pagi itu.
Andrew baru saja sampai di Kanada saat mendapat laporan dari kurir yang beberapa hari sekali mengantarkan kebutuhan harian Adam. Kurir itu mengatakan jika Adam memohon untuk bertemu Andrew.
"Sir...."
"Aku mohon, Tuan."
Adam menangkupkan kedua tangannya di depan Andrew. Kondisi lelaki itu sungguh memprihatinkan. Kabarnya ia sama sekali tidak pernah bicara dengan orang lain. Badannya semakin berisi namun terlihat tidak sehat. Beberapa bagian terlihat lebih besar dari ukuran normalnya.
Lelaki itu terlihat frustasi dan tidak mengurus dirinya sendiri. Rambutnya mulai menyentuh bahu dan jambang memenuhi sebagian wajah. Pakaian yang lelaki itu kenakan terlihat kumuh. Padahal semua kebutuhan harian selalu diberikan oleh Andrew sesuai pesan Luna.
Bahkan hari ini Andrew tidak melihat sosok Adam yang dahulu. Yang penuh percaya diri dan meyakinkan setiap tekan bisnisnya.
"Maaf, Sir. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya. Nyonya Luna memutuskan untuk meninggalkan Kanada beberapa hari setelah hukuman anda diputuskan."
Andrew terlihat beberapa kali menghela napas beratnya. Baru beberapa bulan berlalu dan semuanya seperti diputar seratus delapan puluh derajat.
"Tapi kau bisa menghubunginya, bukan? Katakan padanya aku ingin bertemu. Ah.. tidak, aku ingin meminta maaf. Iya aku ingin meminta maaf." Tatapan Adam pilu. Lelaki yang masih berstatus suami Luna itu sampai mencengkeram tangan Andrew.
"Saya pikir, Nyonya Luna pasti sudah memaafkan anda. Buktinya, sudah anda bisa lihat sendiri sampai detik ini," jelas Andrew yang kembali mengingatkan kerelaan Luna mengurus kebutuhan Adam selama lelaki itu tinggal di dalam bui dan selama masa hukuman.
Bulir bening membasahi pipi Adam yang mulai ditumbuhi jerawat karena tidak terurus.
Adam menunduk kemudian membuang wajahnya dari tatapan Andrew.
Setiap orang yang kecewa dan sedih selalu memiliki cara tersendiri untuk menyembuhkan dirinya.
Dan itulah yang dilakukan Luna. Mungkin dengan ia meninggalkan Kanada dan membuka lembaran baru di negara kelahirannya, membuat wanita itu merasa nyaman dan sedikit melupakan rasa kecewanya pada Adam.
"Anda harus sabar. Menghadapi orang yang anda sayang sekaligus anda sakiti tentu tidak mudah. Rasa sakitnya menggores lebih dalam daripada menyakiti orang yang tidak anda kenal. Saya pamit dahulu, Sir. Jika anda tidak bisa menemuinya, setidaknya berdoalah yang terbaik untuknya."
Andrew menepuk singkat bahu Adam dan segera beranjak dari tempat itu. Berada di tempat itu lebih lama juga tidak baik untuk mentalnya.
Andrew kasihan melihat Adam, namun ia juga lebih kasihan dengan Luna.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Seorang lelaki sedang duduk di sebuah mini cafe dari perusahaan milikinya.
"Silahkan Sir?" Seorang pelayan datang dan mengulurkan dengan sopan daftar menu mereka.
"Emm ... Apa yang menurutmu paling enak disini? Lasagna, Bruschetta atau Ravioli?" Lelaki itu balik bertanya pada pelayan yang berdiri di depannya.
"Tergantung selera Sir, atau anda ingin mencoba ketiganya?" tawar pelayan itu mengembangkan senyumnya.
Hari ini cafe mereka cukup sepi, akibat banyak saingan kedai makan di luar perusahaan. Aji mumpung, kebetulan saat ini pemilik perusahaan makan siang di sana.
"Aku sudah pernah makan ketiganya. Apa sudah ada yang memesannya sebelum aku?" tanya lelaki tampan berpakaian kasual itu.
"Belum, Sir. Beberapa minggu ini tempat kami cukup sepi," keluh pelayan itu namun tetap dalam mode ramah dan kedua sudut bibir yang terangkat.
"Baiklah aku pesan ketiganya. Apa dessert yang kau miliki?" tanya lelaki tampan itu kemudian.
"Pana cotta, Gelato dan Affogato, Sir."
"Gelato saja," jawab lelaki tampan itu dengan penuh keyakinan. "Aku telah lama merindukannya."
Senyum tipis yang terlihat di sudut bibirnya menambah ketampanan yang lelaki itu miliki.
"Kau semakin cantik," gumam lelaki itu yang menggeser layar ponselnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Mama bisa mengemudi?" tanya Elea yang masih menatap bingung sang ibu.
"Tentu saja, bukankah El juga tahu," jawab Luna yang tengah bersiap dengan sedikit memoles tipis wajah cantiknya.
"Maksud El, kaki Mama masih sakit. Bagaimana Mama bisa mengemudi mobil?"
Anak-anak memang kritis. Dan itu membuat bahagia setiap ibu karena merasa hal itu adalah sebuah perhatian.
Luna mengambil tas kecilnya kemudian menghampiri Elea yang duduk di dekat jendela menatap luar.
"Mobil opa Will matic, Sayang. Jadi tanpa sopir Mama bisa mengemudikannya," jelas Luna pada anak semata wayangnya itu.
"Oh ... Ayo kita berangkat kalau begitu. Tapi ... Apa boleh kita pergi tanpa om-om berpakaian hitam itu, Ma?"
💜💜💜💜💜