La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 11



Wanita paruh baya itu menyentuh punggung kecil yang nampak rapuh itu. "Ayo kita masuk."


Mantan Kepala pelayan kepercayaan keluarga Efrain itu mengajak luna berdiri kemudian memeluknya dan membawanya ke kamar.


Bibi Ofelia membantu Luna berbaring di ranjangnya.


"Tunggu sebentar, ya. Biar Bibi ambilkan minum untuk Non Luna."


Tangan Luna menggapai wanita paruh baya itu. "Aku tidak butuh minum, Bi. Jangan kemana-mana," pinta Luna memohon.


"Baiklah, Bibi akan disini menemanimu." Bibi Ofelia mengurungkan niatnya. Dia duduk bersandar di ranjang besar itu sambil menggenggam erat tangan sang majikan.


"Menangislah jika itu bisa membuat hatimu lega," bisik wanita paruh baya itu sambil mengusap lembut surai hitam yang nampak acak-acakan itu.


Bibi Ofelia tidak tahu apa yang sudah terjadi. Namun melihat Luna yang tidak baik-baik saja membuatnya berpikir ada suatu masalah besar yang terjadi antara dua majikannya yang sama -sama memiliki darah Efrain itu.


Terdengar dengkuran halus dari gadis cantik yang memiliki mata coklat nan lebar itu. Melihat Luna yang sudah lebih tenang, Bibi Ofelia berniat meninggalkannya untuk mengerjakan pekerjaan yang lain.


Ditariknya selimut dari bulu-bulu lembut itu sampai ke leher Luna. Kemudian sebelum pergi, ia sempat mengecup dahi yang tertutup anakan rambut itu.


ceklek!


"Tuan?" Bibi Ofelia kaget saat tiba-tiba Ellard membuka pintu kamar anak gadisnya itu.


"Ada apa dengan Luna?"


"Tuan!" Bibi Ofelia kaget saat tiba-tiba Ellard membuka pintu kamar anak gadisnya itu.


"Ada apa dengan Luna?"


"Emm ... itu Tuan." Bibi Ofelia juga tidak mengerti masalah sebenarnya. Namun ia tahu jika Luna seperti itu setelah kedatangan keponakan sang majikan. "Saya juga kurang tahu. Saya menemukan Nona menangis dibawah meja taman."


"Bagaimana keadaannya?" Ellard berucap sangat lirih, setelah mendapati sang anak tengah terbaring dengan mata terpejam.


"Sudah tenang, Tuan. Saya permisi dulu." elEllard mengangguk, kemudian lelaki itu menghampiri anak gadisnya, mengecupnya dengan sayang setelah mengusap puncak kepalanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Kukira kau sudah tertidur lama dan tidak bangun lagi." Aglen berucap sarkas pada lelaki yang berjanji akan kembali satu jam kemudian saat akan pergi tadi. Namun kenyataannya, sampai hampir tiga jam Stefan baru kembali.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu?"


"Sejak kapan kau harus izin dulu jika bertanya padaku?" Masih dengan berfokus menandatangani beberapa berkas di depannya, Aglen hanya sesekali melirik sang sepupu. Wajah gelisah Stefan tentu tertangkap oleh ekor matanya. Namun Aglen tidak menyinggungnya sama sekali.


Lelaki berambut ikal sebahu yang jarang menguncirnya ini tengah menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya ia kerjakan dengan Stefan. Dan malah berakhir menjadi tanggung jawabnya sendiri.


Stefan yang nampak sendu, mengambil duduk di sofa. Lelaki itu meremas kedua telapak tangannya yang menyatu.


"Kenapa Luna bersikeras pindah ke luar negeri?" tanya Stefan tiba-tiba.


Aglen menghentikan aktifitasnya. Lelaki itu bangkit dari kursinya kemudian menghampiri sang sepupu yang duduk di sofa.


"Jangan katakan kau mulai perhatian dengan adik tiriku itu."


"Hah? Tentu saja tidak!" Stefan menjawab sekenanya, padahal dalam otaknya memukul keras dadanya karena ia sedang berbohong.


Mungkin, perasaan cinta belum ada. Tapi rasa suka mulai tumbuh dan menggerogori hati Stefan. Dan tentu saja lelaki itu tidak mau mengaku.


"Lalu mengapa kau ingin tahu? Bukankah selama ini kalian tidak pernah berbicara satu sama lain." Aglen mengulik motif Stefan menanyakan adik tirinya.


"Sudahlah. Kalau memang kau tak ingin menjawab kita selesaikan saja pekerjaan kita, dan segera pulang."


Aglen menahan tubuh Stefan yang hampir berdiri meninggalkannya.


"Lupakan. Anggap saja aku tidak pernah bertanya tentangnya. Tidak penting juga kan, apapun tentang dia."


Stefan berucap sambil memegang dadanya. Entah mengapa setiap ia mencoba tidak perduli dengan apapun tentang Luna. Saat itu juga dadanya mendadak sakit.


Lelaki tampan dengan mata setajam Elang itu menarik napas panjang untuk memberi ruang paru-parunya bernapas.


"Ayo kita selesaikan! Sebelum Papa mengamuk karena ia menganggap kita dua anak remaja yang hanya main-main saat bekerja."


Stefan mengangguk menurut.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Makan malam tiba. Di ruangan yang besar nan mewah ini hanya ada dua manusia yang nampak. Ellard dan Luna.


Biasanya mereka bertiga. Sudah bisa ditebak bukan, kemana anak laki- laki keluarga itu. Dia pasti masih sibuk dengan kertas- kertas di meja kerjanya.


Gadis itu masih saja diam meski seringkali sang ayah melirik anak perempuannya itu.


"Makanlah, jangan diaduk saja," ucap Ellard yang hampir menghabiskan makan malamnya. Sup jagung yang dicampur dengan telur, dan sepotong roti gandum sebagai pelengkapnya.


"Iya, Pa." Luna terkejut. Rupanya gadis itu melamun sedari tadi. Dan sungguh, ia sama sekali tidak napsu melihat berbagai makanan di depannya. Apalagi untuk memasukkannya ke dalam mulut.


"Apa yang kau pikirkan?" Lelaki dengan surai putih itu mengambilkan satu potong dada ayam ke atas piring dan menyodorkannya pada Luna.


"Ini masih banyak, Pa," protes Luna, namun sepertinya gadis itu tidak bisa menolaknya.


"Kau butuh banyak asupan protein. Papa perhatikan akhir-akhir ini kau lemas dan jarang sekali menghabiskan makananmu."


Ternyata Ellard sangat perhatian.


Luna menatap sendu sang ayah. Sungguh, ingin sekali ia bercerita, namun ia tak bisa.


"Apa kau sudah persiapkan semuanya? Kita berangkat lusa, semua surat-surat serta perpindahan kuliahmu disana sudah selesai."


"Hah? Secepat itu, Pa!" Luna terkesiap. Bahkan ini hanya beberapa hari setelah ia mengucapkan permintaan itu pada sang ayah.


"Apa kau lupa jika kakakmu itu ahlinya mengurus hal-hal seperti ini? Lebih cepat lebih baik, Sayang. Papa ingin yang terbaik untukmu."


"Kakak?" Luna menjepit bibirnya dengan perasaan gelisah. "Apa papa juga bercerita mengapa aku meminta pindah ke luar negeri?"


Luna bahkan tidak bisa menelan salivanya karena takut jika sang ayah menjawab iya. Ia pasti sudah benar-benar tidak akan memiliki harga diri, bahkan dirumahnya sendiri.


"Tentu saja tidak. Ini akan menjadi rahasia Papa dan anak gadis Papa yang cantik ini, selamanya. Selama kau ingin menyimpannya." Ellard meremas tangan kiri Luna yang bebas.


Lelaki itu berencana menceritakan hal ini pada Aglen. Agar anak lelakinya itu yang akan mencari tahu, siapa lelaki biadab yang menodai Luna.


Namun sepertinya, hal itu urung dilakukannya. Karena ternyata Luna tidak menginginkannya.


"Papa." Luna menatap nanar sang ayah.


Mulai saat ini ia akan menurut pada sang ayah. Gadis itu merasa sangat bersalah karena tidak bisa menjaga diri dengan baik seperti janjinya saat menolak tawaran bodyguard dari sang ayah.


"Terima kasih." Air mata Luna menetes tanpa terasa.


"Papa yang harusnya mengucap hal itu. Sekian lama Papa menelantarkanmu tanpa tahu jika kamu ada. Dan kamu tetap menerima lelaki tidak bertanggung jawab ini dengan sebutan Papa, Sayang." Ellard pun tidak sanggup menahan harunya.


Mereka berdua tersenyum saling mengeratkan tangan, dengan mata yang berkaca.


❤like, vote dan komennya jangan lupa ya sayang... gomawo😍