I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Ayam Kremes untuk Macan



Mira dan Ajeng pulang, tapi tidak menemukan keberadaan baby Khansa ataupun Mathew. Rumah dalam keadaan kosong dan terkunci, namun Ajeng memegang kunci cadangan, sehingga dia bisa masuk.


" Mereka kemana ya?"


" Mungkin jalan-jalan." Jawab Mira.


" Dek.... Mama pulang." Ajeng mencari ke setiap ruangan, tetapi tidak menemukan siapa yang dicarinya, hanya wangi bayi yang tertinggal di kamar. Sedangkan Mira ikut mencari ke taman belakang, tapi juga tidak ada.


" Ada nggak?" Tanya Ajeng saat bertemu Mira di pintu belakang.


" Enggak ada tuh, emang gak kasih kabar mereka kemana?"


" Kalau kasih kabar, ya aku gak bingung nyariin Mir."


" Oh... Iya ya. Coba telpon mas Mathew."


" Bentar." Ajeng mengabil hp dan segera menghubungi Mathew. Baru berdering langsung tersambung.


" Aku lagi ada di luar, adek aku bawa."


" Kemana? Masih lama enggak?"


" Enggak lama, bentar lagi balik."


" Ya, sudah. Aku pikir kemana kalian."


" Ke tempat kerja papa lho mama, jangan kawatir, dah mama, papa lagi sibuk ini." Gaya bicara Mathew yang dibuat seolah mirip baby Khansa membuat Ajeng terdiam, hatinya terharu dengan perlakuan pria itu yang begitu bahagia bersama anaknya.


" Kemana mereka?" Suara Mira mengejutkan Ajeng.


" Katanya ditempat kerja."


" Berarti mereka sama mas Rayyan donk, kan mas Mathew kerja sama mas Rayyan."


"Sebentar."


Kini gantian Mira yang mengeluarkan hp, dan mengirim pesan pada suaminya.


Mas, lagi sama mas Mathew ya?


Tak lama balasan diterima.


Mas lagi sama pak Markus sayang, kenapa?


Lho, mas Mathew bilang lagi di tempat kerja, dia bawa baby Khansa juga.


Kerja? Mungkin ke kantor management dia, soalnya menjelang keberangkan dia emang sibuk.


Oh, aku kira mas sama dia. Ya udah, maaf mas ganggu.


Gak ganggu, ini mas bentar lagi pulang, belum sarapan kan?


Belum, kan nunggu suami tercinta pulang.😍


Berani sekarang ya!😌


Udah ya, mas selesaiin dulu kerjaan mas, biar bisa cepet pulang.


Ok mas.


Mira senyum-senyum, menengok ke samping tempat Ajeng berdiri, ternyata Ajeng sudah tidak ada disana. Ia kemudian masuk dan menemukan Ajeng sedang membereskan kamar Khansa.


Mira ikut membantu dengan membereskan ruangan lain.


" Kamu gak cari asisten Jeng? Rumah kamu lumayan besar lho, apalagi kamu juga ngurusin baby Khansa."


" Aku belum begitu butuh Mir, semua masih bisa aku handle semampu aku." Jawab Ajeng.


" Hebat lho kamu, kerja bawa anak bisa, di rumah beberes sambil ngurusin anak bisa. Bener-bener wonder women kamu tuh."


" Ya mau gimana lagi Mir. Tapi sekarang ada papanya Khansa yang bantu jaga Khansa kalau aku kerja, jadi enggak repot-repot amat. Kalau urusan rumah, bisa di kerjain kalau pas Khansa tidur."


" Apa kamu enggak capek banget Jeng?"


" Resiko jadi single parent ya begitu Mir. Semua harus bisa sendiri."


Mira hanya bisa kagum dengan ketegaran hati Ajeng, dia tidak menyerah dengan keadaannya. Benar kata orang, seorang wanita akan menjadi terlalu kuat saat dihadapkan pada situasi terberat.


" Sudah, aku tinggal mandi ya, gerah ini. Mumpung baby Khansa belum pulang."


Mira mengangguk membiarkan Ajeng berlalu.


Suara mobil memasuki halaman rumah Ajeng, itu adalah mobil Rayyan. Mira segera keluar, menyambut sang suami tercinta dengan senyum merekah.


Pintu mobil bagian kemudi terbuka, tetapi bukan Rayyan malah Mathew yang nongol dari sana, selang beberapa saat Rayyan keluar menggendong baby Khansa. Pemandangan langka yang manis. Seorang Rayyan menggendong baby dengan begitu luwesnya, apalagi dengan caranya berkomunikasi dengan baby Khansa yang membuat Mira menjadi gemes, hingga membayangkan yang tidak-tidak.


Baby Khansa terkekeh ketika Rayyan menggelitik bagian perutnya, sambil menggendong baby Khansa di dadanya, mereka berjalan masuk ke rumah.


" Seneng banget mas."


" Lihat, dia lucu banget kan." Rayyan mengangkat, melambungkan tubuh gembul itu ke udara, dengan sedikit melepas lalu menangkapnya lagi, dan itu malah membuat baby Khansa tertawa terpingkal-pingkal. Mira ikut tertawa melihat reaksi baby Khansa.


" Pengen? Buat sendiri!" Celetuk Mathew yang baru menyusul setelah mengambil barang dari mobil. Memberikan bungkusan berupa sarapan untuk para nyonya.


" Jangan kawatir Met, masih di proses!" Jawab Rayyan, sambil mengajak Mira masuk.


Potret keluarga bahagia, seorang pria menggandeng wanitanya sambil menggendong baby berjalan beriringan memasuki rumah. Mathew hanya berdiri di ambang pintu, menyaksikan pasutri bahagia itu, dengan pandangan yang sulit diartikan.


" Katanya enggak sama mas Mathew, kok pulangnya bisa bareng?" Mira duduk di karpet sambil membuka bungkusan makanan. Sedangkan Rayyan tengah berbaring dengan menelungkupkan baby Khansa yang asyik bermain dengan kancing bajunya.


" Tadi mas mampir dulu ke kantornya, ternyata dia pas keluar mau pulang, jadi bareng."


" Mas udah makan?"


" Sudah tadi sama pak Markus."


Mira bangkit, mengambil piring di dapurnya Ajeng.


" Mereka udah pulang Mir?" Ajeng keluar dari kamar, sudah terlihat segar dengan rambut pendeknya yang basah.


" Sudah, sarapan yuk."


Mereka berjalan beriringan keluar menuju ruang tengah. Disana Rayyan masih berada di sofa, tetapi baby Khansa sudah berpindah ke pangkuan Mathew sambil memegang botol susu.


" Menu sarapannya apa?" Ajeng bertanya.


" Ayam kremes."


Rayyan langsung bangkit, melihat makanan yang ada di meja. Melihat yang ada di meja bukan makanan yang disebutkan oleh Mira, Rayyan melirik si istri yang berjalan santai dan duduk di karpet diiringi oleh Ajeng.


" Ngibul lu! Ayam kremes dari mananya?!" Ajeng mendengus melihat menu yang tak sesuai dengan ucapan Mira, tapi Mira malah tertawa.


" Mau tau gak ayam kremes itu apa?"


" Apa?" Ajeng dan Rayyan menunggu jawaban Mira, sedangkan Mathew hanya mendengar tanpa menoleh, fokusnya masih pada baby Khansa yang mulai terlelap sambil mengenyot botol susu yang hampir habis.


" Lihat." Mira menunjuk ke arah Mathew, otomatis Ajeng dan Rayyan berpindah melihat arah tangan Mira " Dia? Apa hubungannya sama ayam kremes?" Tanya Ajeng.


" Berhubungan pake banget, karena dia ayam kremesnya."


Kini Mathew ikut berpandang-pandangan dengan ke dua orang yang sedang menunggu kelanjutan ucapan Mira.


" Mau tau enggak?" Tanya Mira membuat Ajeng makin penasaran.


" Ayam kremes tuh.... Dengerin baik-baik!"


Ketiga orang itu dengan patuh mendengarkan Mira, bahkan raut wajah yang serius hampir membuat Mira tertawa.


" Ku tambahin dulu ya kata-katanya biar gak salah paham, takutnya ntar ada yang marah. Maaf ya suamiku sayang, sebelumnya, peace." Ucapan Mira malah membuat Ajeng makin kesel.


" Apaan sih!"


Sedangkan si Rayyan senyum-senyum senang dapet panggilan sayang dari si istri, sudah cukup membuatnya paham kalau istrinya itu sedang kumat jahilnya.


" Kamu tadi bilang kalau macan itu mama cantik, iya kan... Inget kan?" Ajeng mengangguk.


" Nah ayam kremesnya ditambahin biar lengkap. Ayam kremes untuk macan."


" Jadi apa tuh?"


" AYah Muda KeREn bikin geMES untuk MAma CANtik." celetukan Mira langsung mendapat pukulan dari Ajeng yang kesel sama kelakuan sableng si Mira.


" Maassss..... Istrimu dianiaya nih." Mira merengek minta pertolongan Rayyan, yang langsung mendapat pelukan mesra dari sang suami.


" Dasar sableng!" Ajeng makin sewot.


" Iri bilang bos! Noh ayam kremesnya udah siap di makan macan."


Ternyata si ayam malah mesem-mesem gak jelas, membuat Ajeng langsung kicep! 😶