I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
First kiss



Rayyan benar-benar kesal bagaimana tidak, Mira malah membantu Mira beberes bekas acara ulang tahunnya, sedangkan dia akhirnya dibantu Nathan masuk ke kamar. Benar-benar menyebalkan!


Menatap atap plafon bernuansa biru laut yang didesain khusus seperti warna langit cerah dengan gumpalan awan putih yang tipis, kamar Rayyan terasa indah, apalagi cahaya dari lampu yang terang, tak pernah meredupkan keindahan plafon kamarnya, hanya saja itu tak membuatnya tertarik sekarang, karena hanya wajah Mira saja yang terlihat indah dan akan selamanya indah jika ia yang memandangnya. Sayangnya wajah itu kini menghilang, hanya suaranya saja yang terdengar, kadang tawanya bersama dengan para wanita keluarga Aquino. Ada bersit kebahagiaan dihatinya, ketika dengan mudahnya wanita itu diterima di keluarganya, semudah ia menerima kehadiran Mira dalam hatinya. Namun kini ia mendesah pasrah dikamarnya sendiri dan seorang diri dengan rasa kecewa Karena tidak mendapatkan ucapan selamat dari sang kekasih pujaan hati, apalagi hadiah yang katanya sudah ia ambil.


Mana bisa begitu, tadikan aku yang kasih bukan dia yang beri.


1,5 jam berlalu, pintu terbuka, dengan senyum di wajah tanpa rasa bersalah, dia yang sudah membuat rasa dongkol di hati melenggang masuk dengan teko air serta gelas dan kini berdiri meletakkan barang bawaannya di atas meja, tanpa menengok sedikitpun pada wajah cemberut Rayyan, dia malah santai memisahkan obat dari bungkusnya, baru kemudian menuang air dalam gelas. Bukan langsung diberikan, si dia malah berjalan menghampiri pojokan kamar tempat tong sampah berada.


Apa aku lebih menarik dari tong sampah?!


Hatiku dongkol, aku kesal.... Rayyan ingin segera menarik tubuh wanita yang sedang kembali ke meja, namun langkahnya seolah diperlambat, agar tak segera sampai.


" Cepetan sih yank." Gemas Rayyan dengan cara jalan Mira yang malah kemana-mana, buang sampah, nutup horden, mematikan lampu kamar mandi, dan sekarang malah berhenti di depan lemari menyiapkan baju tidur untuknya.


" Ncuuuuusss." Berlagak seperti Geby dia sekarang.


" Sebentar."


Apa dia bilang? Sebentar! Oh my God.


" Kenapa jadi Geby dua sih, sabar kenapa?" Mira menengok sebentar wajah murung dengan bibir bak ikan cucut.


Mira berjalan ke meja lagi mengambil racikan obat, baru sekarang ia duduk di pinggir ranjang milik Rayyan. Dengan kesal Rayyan meminum obat dan air yang langsung tandas ditelannya karena jengkel.


" Halah, gitu aja ngambek." Malah ngeledek si Mira.


" Gak peka." sungut Rayyan, Mira biasa saja mengambil alih gelas kosong dan kembali meletakkan di atas nampan.


" Ganti baju dulu."


Mira masuk ke kamar mandi, menyalakan lagi lampu yang tadi dia matikan. Menyiapkan keperluan Rayyan disana. Begitu siap dia kembali untuk membantu Rayyan.


Menurut sambil menggerutu, persis si Gea...


Hadew, kelakuan pembalap profesional, kok malah kayak anak SD lagi ngambek.


Mira tak terpengaruh tentunya, so cool and calm.


Hingga semua selesai, Rayyan sudah beres, Mira diam berdiri memperhatikan Rayyan yang membuang muka dari dirinya.


Senyum lembut, walau tak dilihat, yang penting tersenyum.


" Ngapain senyum-senyum!" Rayyan melirik sekilas wajah Mira. Hampir meledak tawa Mira, tapi dia takut Rayyan marah. Sudah marah dari tadi mbak Mira, kemana aja sih loe... 😩


" Marah?"


" Hem."


" Kenapa?"


Rayyan ingin berteriak, bagaimana tidak, sudah tahu marah dia yang buat masih tanya!


" Aku mau tidur." Rayyan merebahkan tubuhnya. Mira membantu membenarkan dan terakhir menyelimuti.


Halah mak, pengen banget teriak aku!


Rayyan pura-pura terpejam, Mira menganti lampu dengan lampu tidur. Rayyan membuka sedikit matanya, begitu Mira melihatnya lagi dia kembali terpejam.


" Selamat tidur mas, selamat ulang tahun, doa terbaik untukmu. Cup."


Mata itu terbuka seketika, menatap tak percaya pada mata yang masih menatapnya dari atas. Dan tadi itu, kecupan di kening..... Trima kasih Tuhan, akhirnya.


Tak butuh jeda, Rayyan kembali duduk, menarik tubuh Mira hingga Mira terpekik, karena terkejut.


" Auw."


" Kanapa?" Rayyan otomatis melepas tangannya, dia kawatir terjadi sesuatu.


Mira berdiri tegak.


" Nggak papa." Jawabnya enteng.


" Yank, udah sih ngerjainnya." dengus Rayyan kembali kesal, baru saja ia melambung, ehh.. malah di hempaskan lagi.


Mira mengambil sesuatu dari luar, kemudian masuk lagi.


" Maaf, kadonya bukan sesuatu yang mahal. Belum gajian."


Rayyan tertohok, antara malu juga senang.


Senang dapat kado dari sang pacar, tapi kata terakhirnya seolah mengingatkan dia, bahwa dia adalah pacar tajir tapi pelit, bahkan dari 3-4 bulan berhubungan dia belum pernah memberikan apapun untuk Mira, sungguh terlalu!


Rayyan membuka kado dari bungkusnya, melihat sebuah kaos hitam bertuliskan ' I LOVE YOU MAS RAYYAN' yang berikut dengan fotonya yang berada di atas motor, lengkap dengan pakaian balapnya.


" Kapan buatnya?"


" Waktu masih di rumah." Mira duduk di tepi ranjang.


" Emang tahu darimana mas ulang tahun?"


" Nyari biodata orang terkenal itu gak susah mas, lebih susah cari biodata orang desa kayak aku mas." Jelas Mira.


" Kenapa bisa begitu?"


" Cari tanggal lahir orang kayak mas tinggal searching di Google udah ketemu, tapi kalau aku sampai dunia kiamat gak bakal ketemu."


" Jangan gitu yank. Tapi emang bener, mas sampai sekarang tanya tanggal lahir kamu aja gak ada yang tahu."


" Tanya aja sama mas Sigit."


" Enggaklah, bikin panas."


" Kok gitu?"


" Dia lho suka sama kamu."


" Dia saudara aku."


" Belum tentu dia bisa terima kenyataan, kalau dia ternyata nekad."


" Berpikir yang baik aja, jangan seudzon."


" Hemmm."


" Kok cuma hem?"


" He'em."


Mira akan beranjak, tapi Rayyan mencegah.


" Mau kemana?"


" Mau tidurlah, udah malam."


" Bobo sini aja." Mata jenaka Rayyan bermain.


" Takut."


" Takut apa? Kan ada mas, janji gak ngapa-ngapain."


" Bukan takut itu."


" Terus takut apa?"


" Takut ada setan lewat."


" Gak ada setan disini, sama setan aja takut."


" Bukan setannya yang Mira takutin, tapi orang yang kebujuk sama setan."


" Siapa?"


" Gak tau! Sudah malam, Mira keluar ya."


" Tidur sama siapa?"


" Sama Gea sama Geby, mereka nginep disini."


" Kenapa gak bikin sendiri aja sih?"


" Apanya?" Wajah Mira bingung.


" Kamu tidur sama anak orang, apa gak pengen tidur sama anak sendiri."


" Berarti maunya dinikahin dulu baru dianakkin nih. Ayuk." ucap Rayyan sambil menaik turunkan alisnya, wajahnya terlihat aneh di mata Mira. Kayak orang mesum.


" Ngajak nikah begitu wajahnya, kabur duluan ntar mas akunya. Iih! Serem." Mira langsung bergidik ngeri.


" Terus kayak gimana harusnya wajahnya biar kamu mau nikah?"


" Minta saran noh, sama yang udah nikah. Dah ya, selamat malam." Mira melenggang pergi meninggalkan Rayyan, tapi baru sampai pintu Rayyan memanggilnya lagi.


" Apa lagi?" Mira kesal dipanggil.


" Sini bentar." Rayyan melambai.


" Apa." dengan malas Mira melangkah masuk lagi.


" Tolong ambilin koper mas." Tunjuk Rayyan pada benda persegi yang bersender di dekat lemari.


" Ini?" Rayyan mengangguk.


Mira membawa koper yang sudah tidak berat ke atas ranjang.


" Duduk dulu." Pinta Rayyan, Mira kembali duduk di tepi ranjang, menunggu Rayyan yang mencari sesuatu di dalam kopernya.


" Nah ketemu." Rayyan menarik benda yang ia cari keluar. Mira hanya mengikuti tangan Rayyan yang mengeluarkan benda hitam kecil dari dalam kopernya.


" Buat kamu." Rayyan memberikan benda itu di tangan Mira.


" Apa ini?" Mira hanya memandang benda hitam itu tanpa berniat membuka.


" Buka aja, atau mas yang buka. Bawa sini."


Rayyan meminta kembali benda hitam itu, membukanya dan mengeluarkan isinya.


" Harusnya gak gini cara ngasihnya, tapi mau gimana lagi, kondisi mas lagi kayak gini."


" Sini tangannya."


Mira diam saja, bukan tidak senang dengan benda yang dipegang oleh Rayyan. Sebuah cincin dengan titik bening menghiasi lingkaran itu, terlihat berkilau dan tentu sangat indah.


" Bawa sini tangannya." Rayyan menarik tangan Mira, menyematkan benda itu di jari manis milik Mira.


" Suka enggak?" Tanya Rayyan kemudian.


Mira hanya diam, tak menjawab, menatap benda berkilau yang terpasang di jarinya.


" Kok malah diem yank."


" Ya kamu juga aneh Ray, nglamar anak orang mbok ya yang bener. Datengin orang tuanya, bukan malah di kamar berdua." Celetuk mama Sarah yang berdiri di pintu sambil membawa kotak-kotak hadiah untuk Rayyan.


Mira jadi merasa serba salah dengan hadirnya oma. Dia akan melepas cincin itu.


" Jangan di lepas." Cegah oma.


" Minta tambah lagi besok, oma ada koleksi baru di toko. Cegah oma.


" Murah kok Ray, cuma 3,4M. Kemarin aja temenmu beliin istrinya yang 4,..... Berapa M kemaren Mir?"


" 8 oma."


" Tuh... Jangan kalah sama Alex, malu-maluin aja!"


" Terserah mama aja deh, promosi sama Rayyan gak bakal laku."


" Bilang aja gak punya duit."


" Bukan gitu ma."


" Terus apa?"


" Mama ingat taruhan kita?"


Mama berpikir sejenak, mengingat sesuatu.


" Ambil aja yank, barang koleksi mama yang baru. Itu punya mas sekarang."


Oma menepuk dijadatnya.


" Ingat ma?" Tanya Rayyan sambil menaik turunkan alisnya, mengejek sang mama.


Mama ingat kesepakatan itu, dan dia tahu dia kalah.


" Sok, ambil-ambil aja, bebas mana yang kamu mau, itu bukan punya mama lagi."


Mama melenggang pergi. Tak lama oma berbalik, menepuk pundak Mira.


" Minta mas kawin sekalian tokonya."


" Iya oma." Tanpa sadar Mira mengiyakan.


" Good! Itu baru menantu oma." Kemudian oma pergi.


" Kalah bilang bos! Udah Rayyan bilang, selama mama merestui, tidak ada kata kalah dalam kamus seorang Rayyan Aquino." Ucapnya pongah."


" Mas, jangan gitu! Itu mama lho."


" Iya sayang, terusin memanggil mama-nya, jangan oma lagi."


Ups 🙊apa yang kamu katakan Mira.


" Gak papa, belajar dari sekarang. Sini geh, tolong taruh lagi disana."


Mira mengembalikan lagi koper Rayyan di Tempat semula.


" Kesini dulu." Rayyan melambai, Mira menurut.


" Bantuin berbaring."


" Manja amat sih."


" Manja sama calon istri mah gak papa."


Mira diam tak menaggapi, baginya malam ini dia sudah cukup dibuat melambung, sudah kebal dia.


Sudah selesai, Mira menyelimuti Rayyan, mengatur suhu kamar.


" Sini bentar yank."


" Apa lagi sih mas, aku udah ngantuk banget ini, lihat sudah jam 11." Tunjuk Mira pada benda bulat di dinding.


" Bisanya juga sampai tengah malam."


Mira malas berdebat, dia mendekat.


" Apa?" Ucapnya ketus.


" Selimutnya ketinggian ini."


Mira langsung bergerak, dia tahu Rayyan mengerjainya, tapi lebih baik dikerjakan daripada kelamaan. Namun begitu ia menunduk, tangannya di tarik, dan wajahnya jatuh tepat di wajah Rayyan, gak butuh lama, Rayyan menahan wajah Mira, menjauhkan sedikit dan mendaratkan kecupan di kening, di Mata, turun ke hidung dan yang terakhir lanjutin sendiri ya....... hahahaha 😂😂😂


**** sedikit kok rasanya manis, lanjut aaahhh.... Kayak rasa es cendol tadi ya, oh iya dia kan tadi habis minum itu.


Dirasa cukup, tautan itu berakhir dengan kening Rayyan yang menempel di kening Mira, terpejam sebentar untuk menetralkan perasaan dan deru nafas yang tertahan selama acara berlangsung, baru setelah tenang ia membuka matanya, menatap mata yang memandangnya juga dengan sinar yang sulit ia pahami.


" Trima kasih, selamat malam, selamat bobo, jangan lupa mimpiin mas." Rayyan menyeka bibir basah itu dengan jarinya.


Mira perlahan menegakkan tubuhnya yang melemas tak berdaya, berjalan linglung keluar kamar Rayyan dengan perasaan tak karuan, menutup pintu secara perlahan dan berdiri bersender di depan pintu. Meraba bibirnya yang terasa tebal, padahal aslinya tipis, entah bisa apa yang membuatnya terasa begitu tebal. Dengan gelengan tak percaya, Mira bergumam sendiri.


" My first kiss."


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Ada yang bilang sama otor kayak gini " Thor, aku udah kasih like disetiap part karyamu, otor mau kasih apa buat aku?"


Trima kasih, otor anggap itu doa buat otor biar karya otor sukses dan bisa kasih GA. Ada yang mau? Kalau mau, sabar ya cayank-cayankku, mungkin 2 atau 3, 4, 5 tahun lagi bisa terwujud, karena sementara ini melihat ada kalian yang setia sama otor aja udah cukup buat otor, punya mimpi jadi otor hebat kayak senior, tapi pelan-pelan aja.


Sekarang kita seru-seruan aja dulu ya, like dikit gak papa, rangking vote ada dikisaran 500 juga gak masalah, yang penting tetap semangat untuk menghibur kalian semua. Katanya menghibur itu ibadah yang paling mudah tapi banyak berkah. Setuju gak?


Yang setuju, lanjut baca di part berikutnya ya...


Salam Fillia


Luv you all 😍😍