
Dirimu mengalihkan duniaku ~ Rayyan Aquino
Mira membeku merasakan kecupan di keningnya. Diam tak bereaksi sesaat, bahkan ketika tubuhnya kini di tarik dalam pelukan Rayyan, tubuhnya masih saja membatu.
Ciuman pertama yang ia rasakan, membuat saraf-sarafnya seakan melemas, detak jantung yang semakin memburu, dan hawa panas menjalar dipipinya.
Pernah pacaran selama 5 tahun, bukan berarti dia pernah merasakan hal seperti ini.
Jadian lalu ditinggal pergi dengan alasan melanjutkan pendidikan, pulang belum pasti 1 tahun sekali karena jika libur orang tua Bobby yang datang menjenguk, giliran bertemu kembali sang pacar sudah menggandeng istrinya, yang lebih menyakitkan pakaian pernikahan yang menempel saat itu cukup membuktikan bahwa dia bukan siapa-siapa dimata Bobby.
Tapi sekarang, seseorang sedang merengkuhnya dalam pelukan, mengecup pucuk kepalanya begitu lama.
" Kenapa dekat denganmu malah membuatku semakin rindu." Ucap Rayyan.
" Mas pergi aja lagi." Celetuk Mira.
Rayyan menjauhkan tubuhnya, menatap Mata Mira dengan datar.
" Romantis dikit napa yank?!" Nada kesal jelas terdengar, membuat Mira menarik kedua ujung bibirnya ke atas.
" Katanya deket kangen, ya udah pergi aja lagi."
" Emang kamu gak kangen sama mas?"
Jail mulai bangun! Emang Mira!
" Enggak." Dibarengi dengan gelengan kepala.
" Ish!" Rayyan jengkel, kemudian bersiap menjalankan kruknya, tapi Mira menahannya.
" Apalagi?"
Emosi dia, hemmm...🤔
" Luv you."
Rayyan ingin melonjak-lonjak tapi karena kakinya sakit, dia hanya bisa meluruhkan pundaknya, merasakan lega dihatinya setelah merasa jengkel, dongkol dengan kelakuan gadis di depannya ini. Ia merengkuh kembali tubuh yang masih memegangi lengannya.
" Luv you too."
Mira kali ini membalas pelukan Rayyan, tapi hanya sesaat, karena ia ingat oma menunggu untuk berbuka bersama. Ia menjauhkan tubuhnya tiba-tiba.
" Kenapa?"
" Kita ditunggu."
" Siapa?"
Mira menuntun Rayyan, membantu duduk di ranjang. Mengambil sisir serta keperluan Rayyan yang lain yang biasa dipakai Rayyan setelah mandi.
Rayyan bingung dengan sibuknya Mira menyiapkan dirinya, bahkan terkesan buru-buru.
" Ngapa sih yank?" Tanyanya bingung.
" Laper." Jawab Mira asal, tapi benar. Dia memang lapar habis puasa seharian.
Rayyan mengangguk paham.
" Kita makan di luar ya."
" Kan ruang makannya di bawah?" Tanya Rayyan.
" Dipindah di atas." Jawab Mira.
" Sudah siap, yuk."
Mira membantu Rayyan keluar dari kamar dengan hati-hati. Begitu sudah ada di ruang tengah, lampu yang mati membuat Rayyan bingung.
" Kok lampunya mati yank?"
Mira tersenyum dalam gelap " Mira hidupin lampunya dulu ya. Tunggu disini."
Rayyan menurut, dengan bertumpu dengan satu kruk, ia menunggu Mira menghidupkan lampu.
" Lama amat yank." Keluhnya.
1
2
3
lampu menyala
" HAPPY BIRTHDAY TO YOU"
" HAPPY BIRTHDAY TO YOU "
" HAPPY BIRTHDAY, HAPPY BIRTHDAY, HAPPY BIRTHDAY TO YOU "
Rayyan luruh, hampir jatuh jika saja Mira tak gesit memeganginya.
Ia hampir menangis jika saja suara manusia tak menghentikannya.
" Nangis malu sama umur!" Celetuk dokter Tomy. Rayyan menatap seram pada manusia yang malah terkekeh.
" Merusak suasana aja!" Sungut Rayyan.
" Sudah! Kita lanjut." Oma menengahi. Maju membawa kue dengan lilin angka yang sudah menyala ke depan Rayyan.
" Make a wish."
Rayyan terpejam, suasana hening menunggunya selesai.
Begitu ia membuka mata, serentak lagu kembali dinyanyikan.
" Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga, sekarang juga."
" Selamat ulang tahun nak."
Mama Sarah merangkul tubuh Rayyan setelah Mira menerima kue dan meletakkan di atas meja yang sudah disediakan.
Pemandangan haru saat ibu dan anak itu masih saling memeluk, mencium menjadi momen yang tak bisa dibindari. Biarpun umur bertambah, seorang anak tetaplah anak bagi ibunya dan ayahnya.
" Gantian ma." Papa menarik ujung kemeja yang dikenakan mama Sarah.
" Oh.... Iya! Mama lupa! Mama kira dia cuma anak mama." Celetuk oma sambil mengelap matanya yang basah.
Hahahaha.....
Semua tertawa mendengar kata tak bermakna dari wanita paruh baya itu.
" Opa, eyamat uyang ahun."
Si Geby salah sasaran, gara-gara memeluk Rayyan.
Hahahaha, kembali semua tertawa dengan salahnya si gembul.
Di dalam sana, di dalam hati seseorang, menatap gambaran keluarga bahagia di depannya merasa iri, walaupun dibibirnya terukir senyum. Dia menangis di dalam sana, walaupun tangannya bersorak. Kadang ia mengalihkan wajahnya untuk mengusap air mata yang mencuri keluar dari sudut matanya.
" Ikutlah bahagia, jangan pernah merasa sendiri, kami semua disini keluargamu juga."
Tangan itu merangkuhnya, Mira terguguk tak bisa menyembunyikan perasaannya. Bukan hanya dia, semua yang hadir disana seolah tersetrum untuk ikut mengelap genangan air mata yang sudah meluap.
" Encuss.... Eby apparrr."
Detik berhenti, semua mata beralih pada bocah gembul yang sedang memperlihatkan puppy eyes.
" Ya ampun, buka puasa kok pakai air mata, mana-mana cendolnya, bi Ijah....." Oma heboh, suasana ikut mencair, dan mereka kini larut dalam suasana bahagia. Makan bersama dan bersendau gurau bersama.
" Selamat ulang tahun bos." Mathew dengan menggendong tangan yang di perban muncul di puncak tangga bersama Dony yang mengenakan jaket seperti seoarang polisi.
Emang dia polisi, gimana sih tor? 😡
" Met..." Rayyan menerima pelukan dari manager setianya itu, kemudian Dony.
Sibuk dan asyik dengan hidangan yang disediakan, Rayyan berkali-kali melirik Mira yang sedang membantu oma membuat beberapa minuman hangat.
Kenapa malah sibuk bikin minum, sampai lupa gak ngucapin?!
Kesal dia, tapi ia tutupi dengan menanggapi obrolan para pria.
" Nginep sini aja ya beb." Ucap dokter Tomy pada sang istri.
" Pulang, gak ada kamar buat kamu!" Ucap Rayyan.
" Ada! Nginep sini aja, kita tidur rame-rame di sini. Kursi sama meja disingkirin dulu, gelar karpet." Ucap oma.
" Kalau di karpet, mending pulang ajalah tante." Ucap dokter Tomy " Gak bisa sayang-sanyangan, ya kan beb." Lanjutnya sambil menggoda sang istri yang sedang memangku si gembul.
" Te, gembul bawa pulang aja." Ucap si Gea.
" Boleh, pinjem semalem?" Tanya Tanisa istri dokter Tomy.
" Bikin sendiri Tom, pinjem gak model." Ucap papa Jo.
" Udah om, tiap malam tapi....."
" Tapi kopyor." Mathew yang motong omongan.
Hahahaha.....
Rayyan kembali melirik Mira yang duduk sambil berbincang dengan kaum wanita.
Gak peka banget sih dia! Sungut Rayyan dalam hati.
" Om, ini hadiah dari Gea. Selamat ulang tahun ya..." Gea menyerahkan kotak kecil untuk Rayyan berakhir dengan pelukan dan disusul oleh si gembul.
Oma membawa hadiahnya dan memberikan juga untuk Rayyan, begitu juga yang lain. Namun seseorang yang ditunggu malah asyik sendiri dengan hpnya.
Apa aku lebih menarik ketimbang benda itu?
" Mira, mana hadiahmu?" Tanya oma, semua mata memandang Mira, bahkan Rayyan dengan wajah sumringah penuh harap untuk mendapat kado dari sang kekasih pujaan hati.
Mira hanya menggerakkan bola matanya.
" Kado yang oma bilang tadi?" Tanya Mira ke oma.
" Iya, cus... Kasih." Ucap oma.
Mira terdiam, tetap duduk ditempat, Rayyan sudah menanti penuh harap.
" Ayo...." Oma juga sudah tak sabar, yang lain menanti, ingin tahu kado apa yang akan Mira kasih untuk Rayyan.
" Yang tadi oma bilang kan?" Tanya Mira lagi.
" He'em.... Iyaaaa." Oma gemas sendiri.
" Udah diminta sama dia tadi." Tunjuk Mira pada Rayyan.
" Hah! Apa? Kapan?" Rayyan yang merasa belum menerima jadi bingung.
" Kado apa? Kayaknya belum kasih deh yank." Ucapnya lagi.
" Sesuatu yang sudah diminta tak mungkin kembali Ray....." Oma paham sekarang, ia mendekat dan berbisik pelan di telinga Rayyan.
" Kamu nyium Mira tadi?"
Rayyan mengangguk pelan, oma senyum.
" Udah, gak usah kasih kado Mir. Yuk kita beres-beres."
" What?!"