I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Obrolan Unfaedah



Sesuai planning, Rayyan seminggu kemudian memboyong kekuarga kecilnya ke Jogja. Menyewa sebuah rumah untuk mereka tinggali beberapa hari.


" Nginap di hotel aja kenapa yank?"


" Kita bandingkan gimana enaknya nginap di hotel sama tinggal di rumah mas."


Rayyan segera menghubungi Alex.


" Al, lu bisa cariin rumah buat kontrakan gak?"


" Kenapa?"


" Bini gak mau nginap di hotel."


Alex terdiam, beberapa saat kemudian dia berbicara lagi.


" Rumah mertuaku bisa dipakai. Tinggal disana aja. Lama gak ditempati, tapi dirawat kok."


" Ok, thanks."


" Gimana mas?" Tanya Mira.


" Alex nawarin tinggal di rumah mertuanya."


" Lha terus mertuanya gimana?"


" Mertuanya tinggal di rumah Alex."


" O" Mulut Mira membulat sempurna, Rayyan ingin sekali mencubit bentuk mulut yang terlihat menggemaskan itu.


" Bajunya gak usah banyak-banyak."


" Kita belanja di pasar Malioboro aja banyak baju kualitas bagus disana."


" Ok." Mira mengangguk, kemudian menyiapkan keperluan untuk besok.


" Met, udah dapet tempat tinggal." Rayyan menelpon Mathew.


" Atur aja." Suara Mathew terdengar singkat.


" Lu masih kerja."


" Masih meeting."


" Ups, sorry."


" Ok!"


" Me....."


Tut tut tut


Sambungan terputus sepihak membuat Mathew menggeleng.


" Kalau aku jadi pacarnya Mathew langsung tak putusin! Main matiin aja tanpa pamit." Gerutu Rayyan.


" Ngapa sih mas?" Mira heran dengan kelakuan Rayyan yang menurutnya aneh.


" Belum pamit udah dimatiin telponnya, padahal aku yang telpon. Gak sopan." Rayyan terus menggerutu. Mira makin gak ngerti.


" Mas kurang tidur apa ngapa? Kok ngomong sendiri gak jelas." Mira menepuk pundak Rayyan, agar Rayyan merespon dirinya.


" Ini Mathew ditelpon belum pamit udah dimatiin. Gak sopan kan?" Mira hampir tertawa melihat wajah kesal Rayyan yang seperti ABG jatuh cinta.


" Emang dia lagi ngapain?" Mira melanjutkan memasukkan baju ke dalam koper.


" Masih meeting."


" Ya terang ajalah mas, dia lagi sibuk. Apalagi meetingnya juga untuk kemajuan usaha kamu kan. Kalau dia gak serius nanti dikira klien gak sportif."


" Kok kamu belain dia sih yank." Ucapan yang membuat Mira langsung berhenti berkegiatan, hanya demi melihat wajah suaminya yang kesal.


" Mas lagi PMS?" Mira menatap Rayyan dengan seksama.


" Emang aku perempuan?!" Rayyan merebahkan tubuhnya telentang di atas ranjang.


" Kok sensitif gitu?!"


" Kesal aja, ngomong belum selesai udah diputusin."


" Haiyah! Lagakmu kayak ABG jatuh cinta."


" Ya enggaklah yank, tua gini kok kayak ABG!" Rayyan tak trima.


" Kurang sanjen apa?"


" Pikir sendiri!" Rayyan mencelos. Mira terkekeh.


" Jadi keinget mama sama papa."


" Apa?!" Masih dengan nada kesal Rayyan ingin tahu kelanjutan kalimat Mira.


" Gak dijatah si papa marah-marah mulu sama mama."


" Itu tau!"


" Jadi karena itu mas sensi?"


" Jangan dibahas!"


" Kan mas tau, seminggu ini si kembar rewel terus tiap malam. Mau tumbuh gigi baru." Jelas Mira.


" Iya, sibuk sama si kembar lupa sama suami."


Mira menggaruk kepalanya yang tak gatal, bingung dengan kelakuan Rayyan.


" Bisa-bisanya cemburu sama anak sendiri." Mira tersenyum mengejek.


" Taulah!" Rayyan telungkup, matanya terpejam.


" Bantuin dulu biar cepet selesai! Nanti aku kasih jatah plus bonus."


" Mau nipu kan?" Mira ingin tertawa dengan kelakuan suaminya.


" Si kembar mau dijemput mama, dibawa kesana. Malam ini mereka nginep disana buat obat kangen mama selama sebulan kita di Jogja."


" Terus."


" Ada mbak Rita sama Gea dan Geby juga nginep disana. Tapi...."


" Apa? Kamu juga pengen nginep disana?"


" Mama gak kasih aku ikut. Katanya biar mereka punya quality time, ngurus si kembar tanpa emaknya. Si Gea sama Geby juga ngotot pengen main sampai puas sama kembar."


" Kamu tega ninggalin mereka disana?"


" Enggak juga. Kita juga ikut kesana. Tapi..."


" Tapi apa?"


" Kita nyusulnya setelah mereka tidur aja."


" Emang kapan mama mau jemput?"


Tepat suara mobil oma terdengar.


" Tuh udah dateng." Mira segera keluar dari kamar.


" Ma..." Sapa Mira pada mama Sarah.


" Makin cantik aja." Puji mama Sarah pada penampilan Mira yang tubuhnya kini terlihat lebih berisi, terlihat lebih segar.


" Tambah gendut ini ma."


" Gak papa, masih nyusuin kan. Berarti gizinya cukup. Nanti aja benerin badannya kalau udah lepas ASI."


" Iya ma."


" Mereka udah siap?"


Mereka berjalan menuju kamar si kembar.


" Wah... Cucu oma, cantik bener." Mama Sarah mencium baby Azzura yang didandani bak princes dengan bando di atas kepalanya, namun tangannya mungilnya segera menarik benda itu dan membuangnya kesembarang arah.


" Gitu dia ma, gak suka kepalanya dipakaiin hiasan, beda sama Azzam, dia malah seneng kalau dipakaiin bando yang ada telinga kelincinya."


" Salah alamat itu kasih onderdil, harusnya sosisnya ke Azzura, terus yang tembem ke Azzam." Celetuk mama Sarah sambil mengambil baby Azzam yang merangkak mengelendotinya.


" Mau ikut oma ya, sini.... Ulu...ulu, cucu oma yang paling ganteng sekeluarga, gak ada saingannya, yang nyaingin udah karatan semua."


Mira dan para suster ingin tertawa tapi takut dosa mendengar kalimat tak berfaedah dari mama Sarah.


" Ketawa aja Mir, emang kenyataannya gitu. Lihat tuh, udah karatan kan?!" Mama melirik Rayyan yang baru masuk.


" Mama mau bawa mereka."


" Hemm, kenapa? Seneng ya?!" Tebak mama Sarah begitu melihat garis melengkung ke atas dari bibir Rayyan.


" Makasih sama mama, tapi jangan lupa transferannya, bonus lembur jaga semalaman!"


" Minta sama bosnya!" Rayyan berkedip ke Mira.


" Gak! Maunya dari kamu!" Mama Sarah tak peduli.


" Duwitku dikit ma, cuma cukup buat beli bensin sama makan siang."


Dua suster ingin tertawa tapi takut, makanya hanya saling lirik. Mira menepuk bahu suaminya.


" Miskinlah dihadapan istrimu mas, jangan ngaku sama ibumu. Kamu ingin menunjukkan bahwa aku istri kejam hah?! JAHAT KAMU MAS!"


" Ya bener kan, tiap pagi kamu cuma kasih duwit buat beli bensin sama makan siang." Rayyan tak mau kalah.


Mama, si kembar dan dua suster jadi penonton drama keluarga.


" Yang minta uang pas siapa?" Tanya Mira dengan pandangan menantang.


" Aku." Jawab Rayyan santai.


" Jadi menurutmu kasih berapa biar pas?"


" 5it, 10jt, 100jt, 1M, 1T?" Mira menyebutkan jumlah satuan uang."


" Ya kan kalau 1M atau 1T pas untuk beli rumah makan siang yank, hehehe."


" Hais! Kamu itu mas, bercandanya gak lucu!" Mira kesal.


" Ma, aku ikut ke rumah mama sekarang ya."


" NO! Stay at home!" Cegah Rayyan.


" Kamu nyebelin!" Sungut Mira.


" Kalian terlalu lama main dramanya." Mama Sarah mengeluh.


" Gak ada ujung, gak ada faedah."


" Mira kalau mau ikut, ayok."


" Big NO!" Rayyan menahan tangan Mira, membuat mama Sarah menggeleng.


" Karepmu!"


" Mbak, jangan lupa bawa yang diperlukan si kembar."


" Iya oma."


" Kita berangkat sekarang!" Mama Sarah mengintruksi, acuh dengan dua manusia yang sedang saling menatap dengan tajam.


Begitu semua sudah keluar dan hanya menyisakan dua manusia di dalam kamar baby, mereka mulai beradu argumen lagi.


" Buka aib istri itu dosa tau mas!"


" Memang nyatanya kamu kalau kasih uang cuma pas buat beli bensin sama makan siang kan?" Rayyan tak mau kalah.


" Mas kan bisa ambil sendiri pakai kartu yang ada di mas." Sungut Mira.


" Malas!" Jawab Rayyan santai.


" Malas kok dipelihara!" Mira kesal, memilih meninggalkan Rayyan, tetapi Rayyan langsung menghadang.


" Kalau enggak gitu, kapan lagi dapat perhatian istri."


" Gak maksud!" Mira menyingkirkan tangan Rayyan, melangkah keluar dari kamar. Rayyan mengikuti.


" Mau tahu penjelasannya?" Rayyan menjajari langkah Mira.


" Enggak perlu!" Mira semakin cepat.


" Perhatian kecil dari istri tentang kebutuhan suami saat akan berangkat kerja itu sangat berarti yank."


" Misalnya?!" Mira berhenti, berdiri di depan Rayyan sambil bersedekap.


" Misalnya ya kayak kamu yang selalu ingetin mas bawa uang cas buat jaga-jaga kalau kehabisan bensin sewaktu-waktu di jalan, buat makan siang kalau pas lagi berada di tempat yang tidak memungkinkan untuk order online atau cari resto yang bisa pakai kartu."


" Dari situ mas jadi ketergantungan sama kamu tiap kali mau berangkat kerja. Makanya mas selalu minta uang sama kamu walaupun ada kartu di dompet."


" Ma kasih ya sayang, udah perhatian sama aku. Caramu itu yang semakin mas sayang dan cinta."


Mira melengos.


" Rayuanmu gak mempan!"


Rayyan mengusap tengkuknya, bingung kalau menghadapi Mira yang sudah terlanjur marah.


" Yowes gak usah dirayu." Rayyan berbalik meninggalkan Mira yang masih berdiri, tetapi pergerakan Rayyan yang tiba-tiba tanpa disadarinya sudah mengangkat tubuhnya membuatnya seketika menjerit.


" Kamu marah kurang sajen juga ya?" Ledek Rayyan sambil menatap nakal pada Mira yang melotot.


" Jangan melotot! Tambah cantik." Ledek Rayyan, sambil terus berjalan masuk menuju kamar mereka, tanpa menghiraukan Mira yang ngromet tak jelas.


" Mau diem apa tak cium?!" Seketika Mira langsung kicep.


" Kok diem?" Rayyan menurunkan Mira di atas ranjang, kemudian berbalik menutup pintu.


" Capek!" Sungut Mira.


" Belum apa-apa kok udah capek, mas pijitin mau?"


Mira mengerutu saat Rayyan menawari pijatan tetapi tatapan matanya melihat bagian belahan dadanya tanpa berkedip.


" Mesum!"


" Mesum sama istri gak dosa." Rayyan mendekat.


" Mau nambah pahala enggak?" Rayyan merangkak naik, berada di atas Mira, mengungkung tubuh Mira sambil mulai..... Beraksi.


" Gak ditawari aja udah ngambil!" Ucap Mira.


" Nunggu ditawari kelamaan, keburu keluar udah berbentuk jelly."


" Apanya?"


" Ya kalau cair jadi kentel, lama-lama jadi kayak jelly."


" Apanya?"


" Mau tau jawabannya?"


" Bantu keluarin yaaahhhh."


" Hemmm... Ah... Jangan tinggalin jejak disituhh.. Ah.. Hmmm... Uhh."


" Kalauah disinihhh bolehhhh hmmm?"


Selanjutnya percakapan di skip... 😂