
Rasa benci tak akan dibawa sampai mati
Karena Cintalah yang abadi
Benci hanyalah rasa sementara
Tapi cinta untuk selamanya ~ Fillia
Satu bulan berlalu
Kekuatan cinta sangat besar pengaruhnya, karena cinta adalah obat untuk segala penyakit. Tidak percaya? Jatuh cintalah, maka kamu akan bahagia, dan rasa sakit akibat apapun akan menghilang terkikis dengan sendirinya oleh cinta.
Rayyan sudah bisa berjalan walaupun belum sempurna, kadang masih menggunakan bantuan kruk, walaupun dia lebih suka jika Mira yang membantunya. Tapi apa daya, jika keinginannya berjalan berdampingan dengan kekasih hati dengan dia yang menggandeng, bukan yang digandeng lebih besar, maka dengan tekad dia harus bisa berdiri dan berjalan sendiri.
" Mas, aku kembali tinggal di bengkel ya?" Pamit Mira malam itu saat mereka sedang bersama.
" Disini aja."
" Dari sini jauh kalau berangkat ke toko, bareng oma kesiangan, gak enak sama karyawan yang lain mas." Mira mengungkapkan kegundahannya.
" Mulai besok mas yang anterin."
"Emang sudah bisa nyetir?"
" Demi kamu, apapun pasti bisa aku lakukan sayang."
Blushing, Mira berdecak untuk menutupi perasaan yang membuatnya serasa terbang.
" Terserah mas ajalah." Mira mengalah, berdebat dengan Rayyan tidak ada gunanya, sudah pasti dia yang kalah.
" Belajar nurut apa kata calon suami."
" Iya!" Kesal Mira, selalu begitu yang jadi andalan Rayyan saat mereka sedang berargumen.
Hp Mira berdering.
" Ibu? Kenapa ya?"
Tiba-tiba perasaan tak enak menyelinap di hati Mira. Karena biasanya Mira yang selalu menghubungi ibu, bukan ibu yang menghubungi Mira.
" Angkat yank, siapa tahu penting."
Mira mengangguk, dan menjawab telpon dari ibu tanpa pergi dari samping Rayyan, jadi Rayyan bisa mendengar dengan jelas suara ibu.
" Assalamualaikum ibu."
" Waalaikum salam. Nak, bisa pulang hari ini?"
Tanya ibu, terdengar nada kawatir.
" Ada apa ibu, kenapa ibu seperti kawatir?" Mira menjadi semakin tak tenang, Rayyan menunggu kelanjutan ucapan ibu.
" Bapak kamu kritis."
Jantung Mira seakan berhenti berdetak, kabar yang tak pernah terpikir untuk ia dengar kini ibunya langsung yang mengatakannya, apakah ibu berbohong? tentu tidak! Dan itu berarti dia tak punya pilihan lain selain datang menemui bapaknya. Mengenyampingkan segala ego yang ada di hatinya, rasa bencinya akibat kekecewaan mendalam yang diperbuat oleh sang bapak. Tetapi hubungan mereka tetaplah berstatus kandung, dan benar bahwa darah lebih kental daripada air, itu berarti sebenci apapun perasaan Mira sebagai anak, tetap saja darah bapaknya yang mengalir di dalam tubuhnya.
" Mas?" Mira memandang Rayyan dengan genangan air mata yang sudah menganak sungai. Rengkuhan lengan Rayyan bukan membuatnya kuat, tetapi semakin membuatnya merasa rapuh.
" Kita pulang, mas antar."
Rayyan menghubungi Dony, mama, papa dan bu Rita, Nathan tak mungkin karena dia sedang di luar kota.
" Siap-siap, kita berangkat setelah Dony datang."
Kritis. Hanya kata untuk memberi kabar tentang sesuatu yang lebih buruk dari yang telah terjadi. Nyatanya, bukan hanya kritis, tetapi bapak sudah terbujur kaku dalam sebuah kamar rawat.
Tangis histeris seorang istri pecah, tangan seorang putra tak mampu menjadi tumpuan.
Sigit hanya memandang tak berdaya ibunya yang menangis di atas jasad sang bapak. Hatinya sendiri terasa hancur, begitu pula dengan Andre dan bu Santi, mereka larut dalam suasana duka, sedangkan seorang pria sedang mengurus administrasi kepulangan jasad pak Purwadi, dia adalah pak Subagio.
Rombongan dari Bogor berisi Opa, Oma, Rayyan dan Mira serta Dony yang menghantar Mira sudah dalam perjalanan.
Hanya butuh waktu 3 jam dari kabar yang Mira terima, kini mereka sudah ada di rumah kediaman pak Purwadi di Tangerang.
Kerumunan di halaman rumah menjadi tanda bahwa apa yang dikawatirkan memang terjadi.
Mira melemas, melihat tubuh tertutup kain yang sedang dibacakan ayat yasin.
" Bap....." Satu kata yang tak selesai diucapkan, karena kesadaran Mira sudah menghilang. Dengan sigap Rayyan memapah dibantu opa dan orang-orang yang ada di dekat Mira.
Ibu mengarahkan jalan untuk merebahkan Mira di atas sofa ruang tengah. Ada bu Reni yang sedang dikerumuni ibu-ibu.
Apa yang terlihat, sungguh pemandangan yang mengharu biru, membuat semua orang yang hadir menjadi iba.
Mata Mira perlahan terbuka, ia seketika ingat bapaknya. Ia mengangkat satu tangannya saat melihat dua ibu di hadapannya.
" Ibu....." Suara lirih yang tercekat di tenggorokannya, membuat dua ibu langsung menggapai tubuh lemah yang berusaha bangun.
Keluarga Rayyan memyingkir, memberikan tempat untuk mereka.
" Ikhlaskan bapak, maafkan dia nak." Pelukan ibu Reni tak lepas, bu Santi tak kuat, memilih meninggalkan tempat itu.
" Biarkan bapak tenang disana."
Mira tak mampu membendung air mata, sesal tak bisa mengubah segalanya. Apa yang dikatakan ibu benar, ikhlaskan, maafkan dan biarkan tenang, ya walaupun semua terlambat, Mira melakukan itu di dalam hatinya.
" Ingin melihat bapak?"
Mira mengangguk, tetapi saat berdiri kakinya seolah tak bisa untuk tegak, Rayyan dengan sigap langsung memapah, membawa kembali duduk ke sofa.
" Jangan dipaksakan." Bisiknya di telinga Mira.
Sigit, hanya bisa menyaksikan dari jendela hatinya yang terluka, keharusan merelakan yang baru bersemi untuk diakhiri, dan kini ditinggal oleh orang yang ia cintai, cukup untuk membuatnya harus berdiri tegar, karena sekarang ia harus menjadi pengganti sang bapak, memikul ganti tanggung jawab bapak untuk melindungi ibu dan adik-adiknya, ya walaupun itu tidak mudah.
Ia ingat bagaimana pesan bapaknya ' Bantu bapak untuk menyatukan yang telah pecah, menemukan yang hilang, dan berikan hak adik-adikmu yang selama ini tak mereka dapatkan.'
Bapak menghembuskan nafas terakhir setelah memberikan amlop coklat yang belum sempat ia buka hingga saat ini. Serangan jantung yang tiba-tiba menjadi jalan terakhir kepulangan bapak ke Surga.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Acara pemakaman dilakukan hari itu juga.
Tak sempat menyambut kedatangan tamu, karena ini bukan acara kondangan tetapi kematian. Keluarga berduka, sedangkan warga sibuk membantu. Semua yang melayat memaklumi jika tak ada sambutan, ataupun suguhan.
Setelah acara pulang dari makam, barulah keluarga bisa duduk menemui tamu yang masih tinggal.
Bu Santi dan pak Subagio meminta maaf pada keluarga Rayyan.
" Maafkan atas ketidaknyamannya bapak, ibu." Pak Subagio menyalami tamunya dan bu Santi ke belakang meminta minuman hangat dari ibu-ibu yang masih tinggal.
" Tidak apa-apa pak, kami maklum." Jawab papa Jo dan mama Sarah sambil tersenyum ramah.
Warga baru berani memperbincangkan tamu yang berwajah bule dan terlihat berkelas, walaupun mereka memakai baju sederhana. Tapi sesederhana orang kaya, tetap saja terlihat wow di mata masyarakat menengah.
" Trima kasih sudah repot-repot menghantarkan anak kami Mira." Pak Subagio melanjutkan berbincang.
" Jangan sungkan pak, kita ini keluarga." Sahut papa Jo.
" Mari silahkan diminum, hanya ala kadarnya."
Pak Subagio mempersilahkan tamu minum setelah teh hangat dihidangkan. Jangan mencari cemilan, karena ini acara melayat, bukan kondangan.
Sigit ikut menemui keluarga mantan bosnya itu, biar bagaimanapun ia pernah hidup bersama mereka dan ia juga diperlakukan sebagai keluarga disana.
Ia menyalami satu persatu keluarga Rayyan.
" Yang sabar ya Git." Oma menepuk bahu Sigit.
" Iya oma, trima kasih sudah datang."
" Jangan sungkan." Jawab oma.
Mereka bercengkerama cukup lama, bu Santi menyimpulkan diam-diam penilaiannya pada keluarga Aquino yang kaya, tetapi mereka ternyata sangat rendah hati. Ia jadi tenang untuk melepas Mira pada keluarga itu, walaupun saat ini belum ada pembicaraan tentang bagaimana hubungan antar anaknya dan anak mereka. Benar kata Mira, bahwa mereka memang orang kaya yang berbeda. Mata bu Santi beralih pada pemuda yang ada di samping anaknya. Ternyata lebih tampan dari yang pernah ia lihat di hp ataupun di TV.
Kemunculan Andre adalah yang terakhir. Walaupun canggung ia menyalami juga keluarga Rayyan.
" Andre." Jawabnya saat oma menanyakan nama padanya.
" Ray, kayaknya cocok jadi penggantimu."
Rayyan memandang tubuh tinggi Andre yang hampir sama dengan dirinya, ia tersenyum menjabat erat tangan Andre.
" Selesai sekolah kapan?" Tanya Rayyan pada Andre.
" Tahun ini bang."
" Saya tunggu ya."
Andre mengangguk senang, begitu melepas jabatan tangannya dari Rayyan, matanya menangkap mata kakaknya. Seketika bahunya meluruh, ia menghambur memeluk tubuh Mira dengan erat, seolah mencari kekuatan dari tubuh kakaknya. Tangis keduanya pecah, dan semua mata yang memandang langsung mencari tisu untuk menyeka air mata masing-masing.
Penyesalan tak pernah datang di awal. Turunkan sedikit ego, bukalah hati untuk ikhlas menerima yang masih ada apapun keadaan dan perlakuan yang kita dapatkan dari orang terdekat yang melukai kita. Maafkan saja apapun rasa sakit yang ditorekan oleh mereka, karena saat diakhir kita hanya akan merasa kehilangan saat semuanya usai.