
" Lalu bagaimana kamu akhirnya menerima kenyataannya itu Mira?"
Mira mendesah, membuang nafas berat yang mengisi rongga dadanya " Menolakpun memang begitu keadaannya, mau bagaimana lagi!" Ucap Mira sambil mencoba untuk tersenyum.
" Pasti sulit untukmu ya?" Ucap Ajeng.
" Dibuat mudah aja Jeng. Hidup cuma sekali, semua yang terlewat tidak akan kembali. Begitukan?"
" Kamu benar." Jawab Ajeng.
" Lalu sekarang menurutmu baiknya bagaimana? Apa mungkin aku mengenalkan anakku pada papanya yang 'brengsek' itu?" Ada tekanan dalam nada Ajeng.
" Apapun itu, dia tetap ayahnya." Jawab Mira.
" Kalau menurutku, ada baiknya kamu membuka diri untuk bisa menerima mas Mathew. Maksudku, memberi dia haknya sebagai seorang ayah. Dan kamu masih bisa menikah dengan Dony." saran Mira.
Ajeng nampak berpikir lagi.
Haruskah begitu?
" Tapi apa dia tidak akan mengambil Khansa dariku?" Ajeng mengatakan ketakutannya.
" Kurasa dia tidak akan punya niatan untuk menjauhkan anaknya dari ibunya. Dia hanya ingin dekat dengan anaknya." Jawab Mira.
Ajeng menarik nafas, seolah hatinya memang terasa berat.
Tok tok tok
" Iya..." Jawab Ajeng.
" Dokter ada pasien." Seorang perawat masuk ke ruangan Ajeng.
" Ok. Saya kesana." Ajeng berdiri akan keluar. Namun ia berhenti menengok ke arah Mira.
" Bisa titip Khansa? Biasanya perawat yang menemaninya saat aku ada pasien." pinta Ajeng.
Mira menyeringai " Boleh aku bawa ke kamarku? Aku takut alat-alatmu akan hilang kalau aku disini."
" His... Apa RA masih kurang kaya, sampai kamu mau mencuri?" Ajeng tahu Mira hanya bercanda.
" Bawa saja, titip sekalian untuk malam ini, karena aku akan sering meninggalkannya saat sedang jaga." Jawab Ajeng.
" Kalau mas M....."
" Sesuai katamu, biarkan dia mendapat haknya sebagai ayah." Ajeng memotong pembicaraan, dia paham tentang kalimat yang akan Mira ucapkan.
" Ok! Trima kasih mama, aku mau tidur sama papa dulu malam ini." Mira berbicara seolah dia adalah Khansa.
" Ambil susunya di kulkas, itu ASI murni. Kalau aku sedang bekerja dia minum pakai botol."
" Iya mama, makasih, udah kasih aku yang terbaik."
" Aku tinggal ya Mira."
" Siap bu dokter."
Ajeng keluar sambil menggeleng, melihat tingkah Mira.
Sepeningalan Ajeng, Mira langsung memboyong bayi yang terlelap, bahkan saking lelapnya, bayi itu menurut saja dbawa oleh Mira menuju kamarnya.
Pelan-pelan Mira membuka pintu, agar tidak mengganggu para pria yang sedang beristirahat.
Mira berjingkat masuk, setelah menutup pintu. Namun karena bunyi pintu tertutup, Rayyan jadi terbangun.
Peka sekali sih dia!
" Syut...!" Mira meletakkan jarinya di depan bibir.
Rayyan paham, namun ia masih ingin bertanya kenapa Mira membawa bayinya Ajeng.
" Tolong." Mira meminta Rayyan menyusun tempat tidurnya untuk menidurkan baby Khansa. Rayyan segera melakukannya. Begitu baby Khansa sudah ada di ranjang Mira, baru Mira berisik pelan.
" Di tinggal mamanya kerja."
" Ow..." Rayyan paham.
" Kamu belum ngantuk yank?" Rayyan memeluk Mira dari samping, mereka berbicara pelan, agar tidak mengganggu.
Hanya gelengan yang Mira lakukan.
" Kan baru pulih, harusnya istirahat." Rayyan menciumi kepala Mira.
" Iya nanti." Mira malah sibuk mengamati bayi yang sedang bergerak, berganti posisi tidur. Melingkarkan lenganya di pinggang Rayyan.
" Gak nyangka si Mathew udah punya anak!" Gumam Rayyan pelan. Mira hanya tersenyum.
" Mau bangunin dia enggak mas?" Tanya Mira mengarah pada Mathew yang tidur di sofa bersama Sigit.
" Untuk apa?" Tanya Rayyan.
" Mumpung Ajeng kerja, biar dia yang jaga si baby."
Rayyan tersenyum mendengar ide Mira.
" Bisa-bisa, dia yang jaga Khansa, tapi kamu tidur dimana? Itu tempat tidur cuma satu."
" Iya juga ya." Mira mencari tempat yang bisa ia gunakan untuk berbaring.
" Itu ada kasur lipat." tunjuk Mira pada benda di balakang sofa.
" Iya... Ya.. Ya udah tunggu sebentar mas siapin kasurnya ya. Kamu jaga si baby dulu."
" He'em."
Mira mengangguk, tapi juga tersenyum, membuat Rayyan memandang aneh pada Mira " Kenapa?"
" Enggak."
" Bilang enggak! Kalau enggak bilang mas cium ini." Ancam Rayyan.
" No!" Mira langsung bergeser menjauh dari Rayyan.
" Makanya bilang geh, bikin penasaran."
" Apa ya." Mira mau bilang tapi malu.
" Apa hem...?!" Rayyan mendekat selangkah.
Tentu itu membuat Mira jadi takut, bukan apa, jika hanya berdua dengan Rayyan, mungkin itu biasa, tapi di ruangan itu ada Mathew dan Sigit, kan jadi kesian kalau sampai mereka menyaksikan adegan romantis ala Rayyan -Mira.
" Iya, aku bilang, tapi jangan deket-deket."
Rayyan menunggu " Apa?"
" Udah kayak orang punya anak aja." Celetuk Mira, akhirnya kata itu lepas juga. Benar kan Rayyan jadi senyum-senyum setelah mendengar itu.
" Itung-itung belajar ntar kalau kita punya baby sendiri, bagi tugas." Senyum Rayyan yang dikulum, membuat Mira membuang muka ke samping.
Mira menunggu Rayyan menyiapkan kasur untuknya, namun karena berisik Mathew dan Sigit jadi terbangun.
" Ngapain lu Ray?" Mathew duduk, melihat Rayyan menyusun tempat.
" Lihatnya gue ngapain? Main dakon?"
" His, ganggu aja orang tidur!" Sungut Mathew. Ia merebahkan tubuhnya lagi.
" Urusin tu anak lu."
" Kan lagi sama emaknya, jugaan mana boleh gue deket sama anaknya, baru bilang gitu aja udah digampar."
" Syut! Pelan-pelan ngomongnya!" Mira memberi peringatan dengan menempelkan jari di bibirnya.
" Apa? Kenapa?" Mathew bingung kanapa Mira hanya berdiri di samping ranjang.
" Nangis tanggung jawab lu!" Rayyan yang bicara.
" Hah! Nangis? Siapa?" Mathew makin bingung.
" Ya anak lu lah, masa iya aku yang nangis."
Mendengar nama anaknya, Mathew berjingkat berdiri, melihat di atas ranjang. Ia mendekat, seolah tak percaya kalau anaknya ada disana.
Mathew terpaku, hatinya bergetar melihat bayi mungil yang tertidur nyenyak dalam balutan selimut.
Ia membungkuk untuk mengapai tangan mungil yang begitu gempal. Memandang lebih dalam, tak kuasa, ia langsung meraup tubuh mungil itu, membawanya dalam dekapan. Dipeluknya agar lebih dekat, diciuminya bayi yang menggeliat, saat bersentuhan dengan wajahnya. Berkali-kali, bahkan tidak ada rasa puas saat ia ingin mencurahkan perasaanya terhadap darah dagingnya itu. Ia menatap mata bening yang terbuka, memandangnya seolah bertanya...
" Ini papa sayang..." jawabnya.
Titik air mata tak dapat dibendung lagi, mengharu-biru rasa hati setiap insan yang menyaksikan bagaimana seharusnya kasih sayang yang tercurah dari orang tua untuk anaknya, terlepas kesalahan dari cara mereka menghadirkannya.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Piye iki, kok jadi pengen 😢😢😢ðŸ˜ðŸ˜