
" Saya melakukan overtaking bukan karena saya ingin mendahului motor yang berada di depan saya, melainkan saya fokus dengan kejanggalan yang saya lihat dari motor dia (Rider yang gugur) yang sudah terlihat tidak beres." Ucap Rayyan saat diwawancarai mengenai kronlogi kejadian, mengingat reaksi Rayyan yang langsung berhenti saat kejadian, dan langsung berlari menuju korban.
" Bukan karena anda sedang fokus untuk menjadi peraih podium pertama?" seorang dari para wartawan bertanya.
Rayyan menggeleng " Dengan jarak kami yang 15 meter, sedangkan dia hanya beberapa detik lagi sudah finish, itu berarti sudah tidak bisa diharapkan saya berada di podium pertama kan?"
Hitungan meter dan detik itu sangat berarti ya saat para rider perform, apalagi saat mereka sudah diakhir menuju finish.
" Bukannya anda seharusnya senang dengan kejadian kemarin, akhirnya anda yang menjadi juara dalam kompetisi grand prix musim ini?" suara yang membuat emosi Rayyan hampir meledak, jika tidak ingat saat ini seluruh mata dipenjuru dunia menyaksikannya, Rayyan tentu sudah menonjok wajah manusia yang tak secara langsung mengatakan dirinya ' Manusia Tak Punya Hati'.
" Itu jika anda yang menjadi saya, mungkin jawabannya adalah 'YA'! Tapi maaf, saya bukan anda, walaupun ini adalah kompetisi tapi sebagai manusia saya masih punya hati. Terima kasih."
Rayyan langsung mundur, walaupun para wartawan belum puas ingin bertanya, tetapi suasana hatinya sudah tidak mendukung, lebih baik segera menyingkir daripada dia lepas kendali.
Kerumunan para wartawan berusaha mengejar namun saat itu pula para bodyguard langsung menghalangi, Mathew dengan sigap langsung membawa Rayyan menuju ruangan khusus dimana Mira sudah menunggunya disana.
Melihat kedatangan sang suami, Mira paham bahwa Rayyan saat ini berada dikondisi yang sedang tidak baik.
Mathew dan Dony segera menyingkir, memberi ruang pada pasangan itu.
Mira mendekat, dimana Rayyan sedang duduk bersandar pada sofa dengan mata terpejam.
Tangannya memegang botol minum, tetapi tidak langsung ia berikan pada Rayyan. Duduk perlahan, memberikan sentuhan lembut mungkin akan lebih membantu.
Rayyan membuka mata, merasakan pundaknya disentuh, melihat Mira yang tersenyum lembut. Detik berikutnya dia baru mengingat keberadaan Mira diruangan itu.
" Minum mas." Mira memberikan botol minum yang sudah dibukanya.
" Terima kasih." Rayyan langsung meminum sampai hampir mengosongkan seluruh isi dari botol yang tadi penuh, untuk membuat perasaannya sedikit tenang.
Mira hanya memperhatikan wajah yang biasanya ceria itu kini terlihat tegang, dengan guratan otot di dahi yang bermunculan, serta wajah merah akibat kemarahan yang tertahan.
" Lepaskan!" Mira menepuk dada yang bergerak naik turun, seolah penuh dengan rasa muak akibat tuduhan yang tak mengenakkan saat sesi wawancara tadi.
Tetapi Rayyan, sekali lagi adalah orang yang bisa dengan mudah menguasai keadaan, dia tidak mungkin lepas kendali melampiaskan kemarahannya dengan membabi buta, apalagi dengan adanya Mira disampingnya, hanya akan membuat Mira takut padanya nanti, dan itu bukan hal yang dia inginkan.
Dengan gerakan cepat, ia merengkuh tubuh Mira, mencari kenyaman dalam pelukan lembut dari sang istri.
Disinilah peran pasangan dimulai. Saat dimana suami jatuh, sang istri harus ada untuk mendampingi.
Niat untuk berbuat baik, memang mulia, tetapi saat niat baik kita dipandang buruk dimata orang lain, itu lebih menyakitkan.
Mira mengelus lembut punggung Rayyan yang bersandar padanya, meletakkan wajahnya diperpotongan lehernya, seolah disanalah tempat yang paling nyaman bagi Rayyan saat ini.
" Kenapa orang selalu salah sangka saat kita ingin menjadi baik?" Rayyan.
" Karena menjadi baik itu lebih susah, daripada menjadi buruk mas." Mira.
" Tapi aku tidak punya pikiran seperti apa yang mereka tanyakan tadi." Rayyan.
" Aku tahu dan aku percaya mas bukan orang seperti itu."
Rayyan menarik tubuhnya, menunduk sambil menyeka air mata yang sempat mampir. Sisi lemahnya tak bisa lagi dia tekan.
" Disana (sirkuit) kami memang lawan, tapi bukan berarti kita tidak solid. Ada aturan untuk ditaati, yang tidak semua orang tahu betapa susahnya kami para rider untuk tetap taat pada peraturan itu, apalagi disaat detik-detik terakhir permainan, seolah semua yang ada disana berlomba untuk menjadi yang tercepat, hingga kadang lupa dan melanggar aturan itu, jika mas memang hanya ingin mengincar posisi, mana mungkin mas langsung berhenti saat itu juga, ya walaupun memang posisinya tepat disana (garis finish) itu kebetulan, bukan mas sengaja, karena kejadiannya juga tepat disana, kamu juga lihat kan?"
Mira mengangguk dan tersenyum saat ini dia berperan menjadi pendengar disaat Rayyan mengeluarkan isi hatinya.
" Tapi mengapa mereka malah punya pikiran seperti itu." Ada tekanan emosi dari kalimat yang Rayyan katakan.
" Mas..."
" Hem." Rayyan menatap Mira.
" Kita hidup dengan orang lain, itu berarti hidup kita tak lepas dari penilaian orang yang melihat kita. Kadang penilaian buruk terasa begitu menyakitkan, dan penilaian baik membuat kita senang. Tetapi... Hidup kita tidak tergantung dari nilai yang diberikan oleh orang, biarkan mereka menilai apapun tentang kita, yang terpenting adalah kita tetap menjadi diri sendiri dan selalu berusaha menjadi 'baik' untuk diri sendiri bukan semata-mata menjadi baik karena ingin terlihat baik dipandang orang."
Rayyan tersenyum, ingatannya kembali pada saat Mira dilabrak oleh ibunya Bobby, ketika mama Sarah bercerita saat itu.
" Apa itu yang kamu pikirkan saat ibunya Bobby..."
" Jangan ungkit itu lagi mas. Sekarang waktunya buat kita 'aku dan kamu' bukan 'aku dan dia' kecuali kalau mas mau aku balik sa..."
" Jangan harap! Mas gak mau itu, yang mas mau kita tetap bersama, masa lalu biarkan menjadi masa lalu, dan sekarang kita wujudkan masa depan kita, kebahagiaan kita."
" Dengan apa?"
" Berpikir positif, tetap menjadi baik tanpa memikirkan apa kata orang."
" Pinter." Mira mencubit kecil hidung mancung Rayyan, membuat Rayyan terkekeh.
" Sudah bisa tertawa sekarang." Mira lega, Rayyan'nya kembali.
" Berkat kamu." Rayyan gantian mencubit hidung kecil Mira.
" Bisa ae..."
Mereka tertawa bersama, hingga suara perut Rayyan ikut tertawa.
" Tenyata marah bikin lapar ya." Sindir Mira, membuat Rayyan memeluknya lagi.
" Jangan ngledek, tapi emang iya marah bikin lapar, makan yuk...."
" Makan apa enaknya?" Rayyan berpikir sejenak.
" Gado-gado." Iseng Mira menjawab, dia kira Rayyan akan tertawa dengan menu yang ia sebutkan.
" Pengen makan gado-gado kamu yank?" pertanyaan yang membuat Mira tak menjawab, dia tadi hanya bercanda saja, tak tahunya malah Rayyan menganggap serius.
" Mana ada disini mas."
" Serius pengen makan gado-gado? Kalau pengen ya ayok, ada kok yang jual." Ucap Rayyan.
" Serius ada?" Mira belum percaya.
" Ya adalah, setiap negara pasti punya kok resto yang nyediain masakan negara lain, termasuk disini."
" Mas telpon Mathew ya, kita rame-rame kesana."
Rayyan menghubungi Mathew untuk mengajak keluarga besar menuju jalan Carrer de I'or dimana disana ada restoran yang menjual gado-gado dan makanan indonesia lainnya.
Dan ketika sampai disana, Mira baru percaya kalau Spanyol punya resto yang menyediakan masakan Indonesia.
" Katanya mau gado-gado?" Tanya Rayyan ketika Mira malah memesan makanan yang bisa dimakan pakai nasi.
" Kangen sama nasi."
" Enggak kangen sama mas."
" Itu nanti aja, yang penting nasi, nasi dan nasi."
Seminggu lebih tak bertemu nasi, membuat Mira kangen, lalu apa kabar dengan negera ku tercinta Indonesia?
" Mas pulang yuk."
" Kemana?"
" Indonesia."
" Uhuk-uhuk." Rayyan kesedak toge dia... Hahaha!