I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Resiko Bercinta



" Hai teman, sedang apa?" Rayyan menyapa Mira malam itu, bukan lewat VC tapi lewat telpon biasa.


Ia memulai hubungan dengan berteman seperti yang ia katakan pada Mira diakhir perbincangan mereka malam itu.


" Menerima telpon." Jawab Mira, yang mana itu membuat Rayyan terkekeh.


" Ya aku tahu, maksudku sambil ngapain?" Rayyan memperjelas maksud ucapannya.


" Berbaring."


" Belum ngantuk? Apa malam ini tidak tidur bersama Gea dan Geby?"


" Tidak, mereka tidur sama mama dan papanya."


" Mbak Rita sudah pulang?"


" Hem..."


Terdengar suara berisik dari hp Rayyan, membuatnya memperjelas pendengarannya.


" Suara apa sih?" Rayyan cukup terganggu dengan suara yang di timbulkan oleh Mira.


" Suara plastik. Lagi bikin mie instant. Mau?"


" Katanya berbaring? Kok sekarang bikin mie."


Tidak ada jawaban, karena sekarang Mira sedang mencari tempat menyimpan cabe di rak bumbu. berlanjut dengan memasak mie.


" Jangan banyak-banyak makan mie. Tidak bagus untuk kesehatan." Omel Rayyan.


" Hanya satu bungkusan, enggak banyak."


" Maksudku jangan sering-sering." lagi Rayyan kesal karena ucapannya dibantah oleh Mira.


" Orang sekelasku itu makan mie udah berasa makan mewah mas, dan sudah menjadi menu yang pas saat lapar malam begini."


" Kamu ini bicara apa? Masih banyak makanan lain yang jauh lebih sehat dan murah."


Rayyan yang tak pernah makan mie instant merasa ngeri membayangkan makanan itu dikonsumsi oleh orang yang dia cintai.


" Mau?" Mira menawari Rayyan setelah mie siap saji.


Rayyan memindah panggilan menjadi video. Hal pertama yang ia lihat adalah asap yang mengepul dari mangkuk mie.


Mira mengambil air dingin dari kulkas.


" Kalau makan panas jangan minum dingin." larang Rayyan.


" Ini segar, kenapa emang?"


Mira mulai menyuap mie kuah yang masih menepul.


Hanya meniup beberapa kali lalu memasukannya ke dalam mulut. Sesekali ia terlihat kepanasan dan kepedasan secara bersama, dan langsung meminum air dingin yang terlihat mengembun dari balik gelas kaca.


" Mira, itu tidak baik untuk tubuhmu. Kalau kamu makan panas, setidaknya minumlah air hangat, agar tubuhmu bisa menyesuaikan."


" Ini segar, dan kamu tahu ini sangat nikmat.... Aaahhh.." Mira malah sengaja memperlihatkan raut wajah senangnya.


" Tapi kamu bisa sakit kalau seperti itu cara makanmu." Rayyan menjadi gemas sendiri.


" Kadang kita perlu menikmati apa yang terlihat enak, walaupun itu menyakitkan mas." Ucap Mira.


" Maksudmu?"


Seperti kisah cintanya yang memanas bersama Bobby namun berakhir juga dengan dinginnya hati yang mulai menjadi beku.


" Sekali-kali hidup itu perlu keluar jalur, agar bisa tahu apakah selama ini kita sudah berada ditempat yang benar mas. Seperti makanan juga, kadang kala kita tidak harus makan sehat, karena untuk menetralkan racun, kita juga butuh racun."


Rayyan tercengang mendengar ucapan Mira yang baginya seperti memiliki makna terlalu dalam.


" Kadang omonganmu susah dimengerti." Ucap Rayyan.


" Emang gak gampang mengerti orang lain. Diri sendiri aja kadang susah." Ucap Mira.


" Susah dan mudah itu tergantung kita sendiri Mira. Katakan mudah maka semua akan menjadi mudah, tapi kalau kita bilang sulit ya, akan jadi sulit. Tidak ada orang yang tak memiliki ke sulitan, hanya saja semua ada porsinya."


" Ya, mas Rayyan benar. Hanya kadang karena situasi, semua tak bisa dianggap jadi mudah."


Mira tetap sambil menyantap makanannya, tanpa rasa canggung dilihat oleh Rayyan. Biasanya perempuan suka jaga image jika dihadapan laki-laki, tapi itu tidak berlaku bagi Mira. Baginya rasa malu tak membuat rasa laparnya menghilang.


Hingga suapan berakhir, Mira tetap mengobrol dengan Rayyan lewat VC.


Nano yang akan masuk ke dapur tak jadi, takut mengganggu. Ia berbalik, namun malah melihat Sigit yang baru pulang dari kuliah. Biasanya Sigit langsung ke dapur. Dan itu membuat Nano mencari cara agar Sigit tidak kesana. Beruntung Mira langsung keluar dari dapur menuju kamarnya, sambil memegang hp, fokusnya masih berbicara dengan Rayyan, jadi Mira tak tahu jika ada dua pasang mata yang memperhatikannya.


Sigit terlihat tersenyum samar melihat Mira dan itu tak luput dari penglihatan Nano.


Sigit melangkah ke dapur, mengisi botol minum untuk ia bawa ke kamar. Melihat ada bekas mangkuk masih basah di rak piring, dan bungkus mie instant di tong sampah, membuat Sigit tersenyum.


Berarti harus beli stock mie yang banyak. Dengan begitu tuan putri tidak akan bingung jika mau makan malam. Dia bilang kalau malam malas makan nasi. Jadi apa salahnya aku perhatian padanya dengan membelikan banyak varian mie instant.


Sigit menyempatkan melongok pintu kamar Mira, hanya untuk melihat saja. Tapi yang terjadi berikutnya, dia malah berdiri di depan pintu kamar Mira hingga cukup lama. Entah apa maksudnya hanya dia yang tahu. Bahkan Sigit tersenyum juga dengan pintu kamar Mira, membuat Nano menggeleng heran melihat temannya itu.


" Pintunya cantik ya Git?" Nano menepuk bahu Sigit yang tak menyadari keberadaan Nano.


" Heeeh! Apaan sih." Sigit malu terpergok oleh Nano sedang tersenyum sendiri sambil memandang pintu. Kemudian pergi dari sana menuju kamarnya.


" Melihat pintu kamarnya saja sudah senang, apalagi melihat senyumnya.... Adem." Gumam Sigit. Lagi gumaman itu terdengar oleh Nano.


" Suka bilang, keburu keduluan orang. Seperti yang aku bilang kemarin, kalau sainganmu berat." Ucap Nano.


" Siapa sainganku? Kamu? Hati-hati bisa habis sama Gadis kamu kalau sampai suka sama Mira." Sigit malah meledek Nano.


" Ya, siapa tahu ada pangeran yang ternyata mengincar mbak Mira Git. Secara dia cantik, terlalu mudah untuk tertarik pada yang tipe begituan, dia juga baik, badannya gak kalah sama bu Rita. Hanya bedanya dia lebih sederhana dan tidak berkelas."


" Kelas kita sama Nano, mumpung ada cewek cantik berasal dari keluarga macam kita. Apa salahnya kalau mencoba untuk mendekatinya."


" Terserah kamu saja. Yang pasti aku sudah memberitahumu." Nano mengambil guling, merebahkan tubuhnya di kasur.


" Kamu tahu sesuatu tentang dia?" Selidik Sigit, karena menurutnya ucapan Nano mengarah pada seseorang yang sedang berhubungan dengan Mira.


" Kamu kan tidak tahu Git, dia punya pacar apa tidak. Lebih baik selidiki dulu, daripada nanti kamu dianggap pebinor." Saran Nano.


" Tapi selama janur kuning belum melengkung, berarti dia masih bebas No." Sanggah Sigit.


" Kamu benar, tapi kalau sainganmu lebih dari dirimu, apa kamu siap untuk patah hati?" Ucap Nano.


" Itu namanya resiko bercinta Nano, kadang harus siap patah hati. Tapi apa salahnya berusaha."


" Ya... Kamu benar. Semoga tidak terjadi seperti yang aku pikirkan." Nano menelungkup di atas gulingnya, dan itu membuat Sigit menatap aneh peda kelakuan Nano.


" Itu guling bukan Gadis No! Sadar."


" Apaan sih?!"