I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Alus pisan Euy



Akhirnya drama putar balik selesai juga, Dan Mira kini tiba di rumah mewah berlantai 2 milik keluarga Jonathan Aquino, kakak dari Rayyan Aquino.


Mira melangkah masuk di belakang Rayyan yang mengantarnya sampai dalam.


" Mbak."


Rayyan berteriak memanggil sang empunya rumah.


" Om..... Ayyaannn."


Seorang anak kecil bertubuh gendut berlari menuju arah Rayyan dan Mira, dan langsung di tangkap oleh Rayyan.


Mengalungkan leher pada Rayyan dan mencium hidung mancung miliknya yang masih dipakai bertengger oleh kaca mata hitam. Sebuah kebiasaan jika ia bertemu sang keponakan yang ia namai Gembrot.


" Mama mana?"


" Di alam."


* Baca di dalam ya, karena si Gembrot ngomongnya belum jelas, maklum masih usia 2 tahun.


" Di dalam?" Jelas Rayyan yang dijawab dengan anggukan. Mata bening bulat si Geby memandang sosok yang berada di belakang Oomnya.


" Encus?" Panggilnya.


Mira tersenyum tak kala bibir mungil yang diapit oleh dua pipi gembul itu memanggil namanya dengan senyum lebar.


" Uyun om..." Geby melorot dari gendongan Rayyan, yang mana membuat Rayyan kesusahan dengan polah ponakannya itu dan dengan berhati-hati menurunkan.


" Ni encus Eby?" Mata kedua anak itu membola, senang melihat pengasuh barunya, yang beberapa hari lalu selalu berkomunikasi melalui VC, dan sekarang ada di rumahnya.


* Eby itu Geby ya... Maklum anak 2 tahun, banyak huruf depan yang hilang saat belajar bicara, bahkan Rayyan jadi ayyan.... 😩


Mira menggandeng tangan bentet milik Geby yang terulur padanya. Tersenyum manis dan berjongkok menyamai tinggi badan Geby yang berdiri di depannya, gemas dengan manusia berbentuk boneka itu. Sekilas mirip dengan Rayyan dari warna kulit dan rambutnya.


Seorang wanita berjalan menghampiri ketiga manusia yang sedang berada di ruang tamu. Cantik, tinggi hampir sama dengan Mira, sekitar 160cm, kira-kira berumur 35 tahun, asli indonesia.


" Kok lama amat Ray, mbak sudah telat ini mau ke butik, ada janji sama pelanggan." Ucap wanita itu, matanya mengarah pada sosok yang masih berjongkok menyangga tubuh gendut anaknya yang bergelendot pada Mira.


" Dia itu mudah dekat Mira, jadi gak susah kalau


deketin Geby, beda sama kakaknya si Gea, jutek banget."


" Iya bu." Mira bangkit berdiri dan sambil mengangkat tubuh Geby, sedikit kesusahan.


" Susah ya...." Rayyan membantu memegang lengan Mira, agar mudah berdiri. Tentu mbak Rita memandang aneh pada adik ipar yang ia tahu sangat pemilih berdekatan dengan seorang perempuan, tapi ia melihat Rayyan lain saat bersama Mira.


" Ok... Mira, saya harus berangkat sekarang. Maaf ya, kamu gak bisa istrirahat dulu, tapi ya mau gimana lagi. Mudah-mudahan kamu kerasan kerja disini."


" Iya bu." Ucap Mira.


" Biasanya dia minum susu 2 kali sehari, jam 10


sama mau tidur, terus selebihnya makan biasa 3 kali sehari sama cemilan, suka ngemil dia. Beda sama Gea, dia sepertinya pemilih soal makan, karena sudah mulai tahu jaga body, jadi makan cuma sedikit tapi sama lauk aja yang dia suka. Nanti kamu bantu juga dia ya, walaupun sudah besar, tapi belum bisa kalau mandiri. Harus lebih sabar ke Gea daripada Geby."


Mira hanya mengangguk mendengar sang majikan menjelaskan sifat-sifat anak-anaknya.


" Saya lebih banyak di luar, jadi saya harap kamu bisa bantu saya jaga mereka."


" Iya bu."


" Ada Sigit sama Nano yang bantu urus rumah, kalau mau pergi bisa ajak mereka, mereka bisa nyupir. Terus nanti ada mbak Sri yang masak sama cuci baju, tapi pulang tidak menginap disini."


" Mbak Sri...." Panggil bu Rita.


" Iya bu..."


Seorang wanita paruh baya turun dari lantai atas menghampiri mereka.


" Ini Mira, susternya anak-anak. Tolong kasih tau kamarnya ya, saya mau ke butik dulu."


" Iya bu Rita... Ayo mbak Mira."


Mbak Sri tersenyum, memandang ramah pada Mira yang juga tersenyum pada mbak Sri.


" Gembrot sama om dulu sini." Rayyan mengulurkan tangan ingin mengambil alih tubuh Geby, tapi anak itu tak ingin lepas dari Mira, malah mengalungkan tangan pada leher Mira sambil bersembunyi di dada Mira.


" Sepertinya akan susah lepas dia sama kamu Mir." Bu Rita tersenyum melihat anaknya langsung nemlpok pada Mira.


" Saya tinggal dulu ya, dia sudah minum susu. Bentar lagi paling tidur."


" Mama berangkat ya Geby sayang.... emuah."


Bu Rita mencium rambut Geby dan melangkah keluar dari rumahnya.


Rayyan kembali membujuk Geby agar mau bersamanya, tapi Geby malah mulai terisak, membuat Mira mengayunkan tubuh gembul itu agar berhenti menangis.


Rayyan memandang Mira yang begitu sabar mendiamkan Geby yang sesenggukan dalam gendongannya.


" Kamu punya adik?" tanyanya kemudian.


" Punya mas."


" Masih kecil juga?"


" Sudah kelas 2 STM." Mira mengusap-usap punggung Geby yang sudah tenang, dan menjauhkan tubuhnya untuk melihat wajah anak kecil itu yang ternyata terpejam.


" Dia tidur?" Tanya Rayyan, sambil melihat wajah imut itu terpejam tenang.


" Kamarnya ada disana mbak Mira, ayo tak antar." Mbak Sri membimbing Mira masuk ke kamar Geby yang juga kamar Gea.


" Ibu sama bapak kalau malam juga tidur disini, jadi nanti mbak Mira tidurnya di lantai atas. Sini mbak... Letakkan disini." Mbak Sri menepuk bantal yang sudah ia siapkan untuk Geby.


Dengan perlahan Mira menidurkan Geby pada ranjang berpagar, yang didesain khusus untuk anak-anak agar tidak jatuh jika tidur dan ditinggal oleh pengasuh.


" Mbak Mira mau beres-beres dulu, ayo saya antar ke kamar. Pasang ini, nanti kalau Geby bangun bisa kedengaran nangisnya." Mbak Sri memasang monitor di dekat bantal untuk memantau si Geby.


" Mas, trima kasih sudah menangantar saya. Saya ke atas dulu ya." Mira mengampiri Rayyan yang duduk di ruang tamu, mengambil tas ransel miliknya.


" Oh ya, titipan oma...." Mira ingat pada paper bag yang belum di bawa turun dari mobil. Segera Rayyan keluar dan mengambil.


" Ini."


Mira menerima dan membawa masuk, meletakkan di meja dalam dan ikut mbak Sri yang menunggunya di dekat tangga.


Rayyan tak langsung pergi, entah kenapa dirinya merasa bahwa ia terlalu nyaman berada satu atap dengan Mira, padahal ini adalah hari pertamanya bertemu dengan gadis itu.


* * * * *


Mira turun, sudah mandi, mengenakan baju susternya. Berjalan ke kamar Geby untuk melihat anak itu sudah bangun atau belum.


" Masih tidur."


Ia keluar ke depan, melihat Rayyan masih ada disana.


" Belum pulang mas?"


Rayyan menengok ke arah suara, dan melihat wajah Mira yang sudah segar dengan rambut yang masih basah. Jika tadi rambutnya diikat, sekarang rambut itu digerai, menampilkan kesan seksi, cantik dan manis di mata Rayyan, emang begitu. Orang kalau menyukai sesuatu, dipandang dari sudut manapun semuanya tampak menarik.


" He'em."


Rayyan berdehem, mencoba untuk bersikap biasa saja, walaupun hatinya sedang berdetak kencang tak karuan. Tapi dia mencoba untuk tak begitu kentara jika ia tertarik dengan gadis yang sedang mengajaknya bicara.


" Belum." Jawabnya.


Mira memilih untuk pergi dan menyiapkan makan siang untuk Geby dan Gea, menyusul mbak Sri di dapur.


" Mbak Mira."


Mbak Sri masih memasak untuk anak-anak.


" Ini sayur untuk Geby dan ini untuk Gea."


Menunjuk pada dua jenis sayur yang belum matang di atas dua tungku kompor.


" Dua anak, beda sayur ya."


Mira membantu mencuci bekas masak, sedang mbak Sri masih menyelesaikan menumis sayur.


" Sebenarnya kalau Geby semua suka, tapi untuk Gea susah makan sayur, ini aja belum tentu mau mbak Mira, lebih ke lauk aja makannya, apalagi sama telur ceplok, paling demen tuh anak."


" Namanya juga anak-anak mbak Sri, emang suka pilih-pilih makanan. Geby aja masih kecil, nanti kalau sudah agak besar mungkin akan sama dengan Gea."


" Iya mbak Mira. Mbak Mira ini darimana?"


" Saya dari Lampung."


" Lampung?"


Pertanyaan yang mengandung banyak pertanyaan, karena sekarang mbak Sri sedang menilai Mira.


" Tinggalnya aja disana mbak, saya orang jawa."


" Oh... Saya kira asli Lampung."


" Lahir disana, jadi orang lampung mbak Sri."


" Kalau saya dari sumedang, tapi ngontrak disini sama suami sama anak."


" Sekeluarga semua disini mbak?"


" He'eh... Bapak kerja jadi kuli di pabrik, terus si Gadis kerja di toko."


" Gadis nama anaknya mbak?"


" Iya... Seumuranlah sama mbak Mira ini."


" Adek......"


Panggilan Gea pada Geby. Selalu berteriak saat pulang sekolah, mencari sosok adik gembulnya yang sedang tidur.


Kadang sang mama suka marah dengan anak sulungnya yang hoby teriak, membangunkan si adek, dan itu membuat sang mama jadi kesal, karena kerjaannya harus terganggu. Si adek pasti rewel, karena belum puas tidur.


Benar saja, terdengar suara tangisan dari dalam kamar Geby.


Mira langsung berlari dari dapur, menuju kamar Geby dan melihat wajah gembul itu berurai air mata, dan wajah tirus di sampingnya yang sedang berusaha menenangkan adiknya.


" Kakak tuh cuma kangen lho dek."


Sambil mencium pipi sang adek yang malah semakin keras menangis.


Rayyan dan Sigit berusaha menolong Geby, tapi Gea malah mendekap adiknya.


" Gea, bawa sini kasihan itu adikmu."


Berusaha menahan suara agar terdengar sabar, Rayyan mencoba meminta Geby yang semakin meraung. Namun Gea tetap tak melepaskan adiknya.


Itulah kenapa ibunya mencari pengasuh, kepalanya serasa mau pecah menghadapi anak sulungnya yang terlalu over protektiv sama adiknya.


Melihat itu, Mira mendekat.


" Sini sayang, sama encus ya...."


Mendengar suara susternya, Geby langsung mengulurkan tangan, minta pertolongan, namun Gea malah semakin mendekap kencang adiknya. Memandang tak suka pada Mira.


" Jangan dekat-dekat, ini adikku. Pergi sana!" Teriaknya.


" Gea, bicara yang sopan!" Rayyan akhirnya mengeluarkan emosi yang sejak tadi ditahannya, membuat Gea menangis.


Mira mendekat, naik ke ranjang. Menyentuh tangan gembul yang menggapainya dan satunya memegang tangan Gea yang memeggang erat sang adik, sambil menangis.


" Ikut om yuk Ya, om mau ke kolam." Sigit mendekat.


Tampan, untuk ukuran seorang sopir. Berusia 25 tahun, memiliki perawakan atletis, dan rapi. Menambah nilai plus dari seorang bernama Sigit.


Dia bekerja menjadi sopir hanya untuk membiayai kuliahnya, karena orang tuanya tak mampu. Sehingga ia memilih bekerja sambil kuliah. Siang hari bekerja dan malam kuliah di Universitas terbuka di kota Bogor.


" Aku berenang tapi ya."


Dengan suara yang masih menangis, akhirnya Gea mau ikut Sigit, tapi ia tak memperbolehkan Mira menyentuh adiknya, walaupun Geby sudah


menggapai-gapai ingin ikut Mira.


" Jangan pegang adikku!"


" Gea!" Bentak Rayyan.


" Huaaaaaa......."


Tangisan keduanya manjadi semakin kencang, dan akhirnya Sigit membawa paksa Gea dengan menarik dan langsung menggendong Gea, agar lepas dari Geby. Sehingga Geby langsung memeluk tubuh Mira.


" Astaga!"


Rayyan memijat kepalanya yang jadi pusing dengan tingkah keponakannya yang satu itu.


" Kenapa gak kayak Geby aja sih sifat Gea, bikin pusing aja." Gerutunya.


" Namanya juga anak-anak mas, maklum aja."


Mira turun dari ranjang dengan membawa Geby dipelukannya. Namun naas, kakinya terserimpet selimut, sehingga tubuhnya oleng dengan dan...


" Hati-hati...."


Dengan sigap, Rayyan menangkap dari belakang, menyangga tubuh Mira yang mendekap erat tubuh Geby.


Deg


Deg


Deg


Detak jantung..... Oh detak jantung.... Kenapa gini amat ya bunyinya....


Rayyan berusaha membantu Mira berdiri tegak, otomatis tangannya menyentuh kulit lengan Mira yang terbuka dan...


Ya Ampun, ini kulit apa sutra? Alus pisan Euy.....


**Selamat membaca para readers ku sayang, jangan lupa ya....


Jempolmu semangatku .... 👍👍👍👍👍


Mainkan sekarang ya...


Salam manisku Fillia... 😍😍😍😍**