
Hari itu, oma meminta Mira dan kedua cucunya untuk menginap di rumahnya. Bahkan dia langsung meminta ijin sendiri pada Jonathan. Karena menantunya juga masih di luar negeri.
" Ayo makan yang banyak, biar bisa bobok nyenyak." kata mama pada Gea.
" Jangan banyak-banyak oma, nanti aku jadi gemuk kayak adek. Aku kan sudah besar, harus jaga body, biar banyak yang naksir."
Oma, opa, Mira dan bi Ijah menatap tak percaya pada anak berusia 9 tahun itu, bisa mengatakan hal semacam itu.
Yah, anak sekarang memang banyak yang dewasa sebelum waktunya.
" Memang Gea sudah ada yang naksir?" Tanya oma.
" He'em.... Sudah." Agak malu si Gea menjawab. Bahkan kini ia sedang membayangkan wajah teman satu kelasnya yang selalu mendekatinya saat pelajaran matematika berlangsung, memintanya untuk duduk berdekatan dengannya dan mengusir si Jeni teman sebangkunya.
Ray, kau kalah dengan keponakanmu!
" Oalah, Gea... Berarti Gea punya fans dong."
" Bukan fans oma, tapi pacar."
Lagi semua mata menatap heran pada makhluk bernama Gea.
" Pacar?"
" Iya pacar oma. Semua teman Gea juga gitu, punya pacar. Kecuali yang gemuk, kayaknya susah lakunya. Makanya Gea harus pintar jaga body biar selalu menarik oma... Dek, kamu harus diet mulai sekarang." Dia menepuk pundak adiknya yang berada di pangkuan Mira sedang mengunyah sayur bening bayam dan wortel.
Astaga,... Kenapa aku punya cucu seperti ini!
" Ya sudah, begini saja... Gea makan banyak sayur ya, biar selalu langsing. Sayur bagus untuk menjaga berat badan." Oma menambahkan sayur bayam ke piring Gea.
" Jangan sayur bayam oma, nanti ototku jadi besar kayak Popeye. Kan enggak jadi cantik juga badan aku."
Lagi, semua mata memandang aneh pada Gea.
" Popeye itu hanya ada di kartun Gea." Mira ikut menasehati. " Kebetulan aja disana makanan Popeye itu bayam."
" Terus kenapa kok dia makan bayam cus? Kok enggak makan yang lain, kayak telur tau burger atau sosis atau ayam goreng atau___"
" Karena pembuat filmnya waktu makan cuma dimasakin sayur bayam, jadi dia cuma kepikiran kasih Popeye sayur itu." Jawab Mira, pusing dia lama-lama meladeni Gea ngomong.
" Oh, gitu... Itu ada telur mata sapi, boleh Gea minta nambah?"
" Itu bikin kamu gemuk, nanti gak ada lagi yang naksir kamu." Oma yang jawab.
" Ya sudah sini rendangnya bi Ijah." Gea menyodorkan piringnya minta lauk sama bi Ijah.
No komen, semua orang lebih memilih diam, melanjutkan makan makanan masing-masing. Karena jika meladeni Gea berbicara bukannya kenyang tapi malah emosi.
Hayo.... Siapa yang suka emosi jawab pertanyaan anak-anak?
🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Malam itu, mama menelpon Rayyan. Semenjak tiba sampai sekarang, seolah Rayyan lupa memberi tahu kalau keluarganya belum mendengar kabar apapun darinya. Begitulah kebiasaanya saat sudah sibuk mempersiapkan balapan. Seolah dunianya dan keluarganya sudah berganti. Itulah yang selalu mama Sarah kawatirkan dengan anak bontotnya itu.
" Apa ma?" Terdengar suara Rayyan dengan nada datar seolah tak senang dihubungi oleh mamanya.
" Assalamualaikum." Sapa mama Sarah mengingatkan Rayyan.
" Walaikum salam" Jawab Rayyan kemudian.
" Kebiasaan."
" Apa sih ma? Rayyan capek ini baru kelar latihan terus syuting."
" Syuting? Apaan?" Tanya mama penasaran.
" Syuting produk untuk louncing merek motor baru disini ma."
" Weeh... Banyak duit dong kamu."
" Iyalah... Rejeki anak sholeh ma."
" Sholeh apanya, ngucapin salam aja lupa terus." Gerutu mama.
" Salam ma."
" Bukan begitu." protes mama.
" Ya besok lagilah ma, tadi juga udah aku jawab salam mama."
Rayyan melepas bajunya, terasa gerah sehabis bekerja di luar.
" Met, ACnya kok gak dinyalain."
" Bentar masih mandi gue." Teriak Mathew dari kamar mandi.
" Ini hotel katanya bintang 5, kenapa kayak kos-kosan, mesti dimatiin ACnya."
" Pemborosan itu." Mama yang menyahut.
" Ray, mama ada berita buat kamu tentang Mira."
" Ma, jangan ingetin dia dulu dong, sengaja aku tuh gak kasih kabar biar gak kepikiran sama dia. Jadi kangen kan akunya." Rayyan merebahkan tubuhnya ke atas ranjang setelah mengatur suhu kamar dengan remote control.
" Masa sih." ejek mama.
" Maaaa... Jangan gitulah." Rengek Rayyan.
" Tapi mama mau cerita tentang dia Rayaan." Ucap mama kini dengan nada serius.
" Dia kenapa ma?"
Mama Sarah menceritakan tentang bagaimana Mira dihina Dan dicaci maki oleh bu Hardi.
" Enggak tuh... Heran sih mama, padahal mama langsung ajak dia ke kamar, kasih waktu sama ruang buat dia nangis, tapi dianya biasa aja. Kalau mama yang jadi dia, pasti mama udah meraung-raung."
" Hahaha.... Mama kayak harimau aja, meraung. Tapi emang mama persis kayak harimau kalau sedang marah."
" Anak durhaka kamu itu, bilangin mama kayak harimau!" Gerutu mama Sarah.
" Gak durhaka mama, tapi kurang ajar dikit."
" Sama aja."
" Beda mama, dari tulisannya aja udah beda."
" Terserah kamulah! Udah ya, mama mau lihat Gea sama Geby sekalian calon menantu mama, mau tidur bareng mereka malam ini."
" Emang mama dimana?"
" Di rumah."
" Kok ada Gea, Geby terus Mira...."
" Ya, mereka nginap disini."
Mendengar ucapan mama Sarah, Rayyan jadi punya ide.
" Besok kalau aku pulang, ajak mereka nginap ya ma di rumah." ucap Rayyan.
" Mama yang nginap di rumah mereka. Takut mama kalau meraka nginap disini pas kamu udah pulang."
" Takut apa? Hantu? Mama kan cenayang, masa takut hantu."
" Emang kamu itu ya, gak pernah bisa serius! Pantas aja, perempuan gak ada yang mau sama kamu." Mama Sarah kesal sama Rayyan.
" Bukan mereka yang gak mau sama aku ma, tapi aku yang gak mau sama mereka."
" Terserah kamulah. Udah ya! Mama mau tidur sama mereka malam ini."
" Asalamualaikum ma."
" Walaikum salam anak mama. Gitu dong, manis dikit." Puji mama Sarah.
" Salam ma, buat Mira. Pelukin dia ya."
" Ogah! Emang mama apaan? Masa jeruk minum jeruk."
" Kirain ma."
" Emang anak kurang ajar!"
" Bukan ma, durhaka."
" Terserah kamu. Dah ya."
Mama langsung mematikan sambungan telpon. Meninggalkan kamar, bebarengan dengan opa masuk.
" Mama mau kemana?"
" Ke kamar cucu, mau tidur disana."
" Kan udah ada encusnya ma."
" Mumpung mereka ada disini pa."
" Terus papa sama siapa?"
" Malam ini sendiri dulu, sepertinya cucu oma butuh pengasuh tambahan malam ini. Kasihan calon menantu mama."
Mama terdiam, mencoba mencerna ucapan istrinya.
" Rayyan naksir Mira?"
" Heemmm... Udah ya, mama udah ngantuk... Hoam." Mama menguap, menutup mulutnya.
" Papa ikut."
" Iih! Mana boleh." Mama mendorong suaminya masuk kamar.
Namun bukan papa yang tak memiliki ide untuk menahan istrinya itu agar tetap tidur bersama malam ini.
Ia menggendong sang istri tiba-tiba dan meletakkan di ranjang, kemudian menutup pintu, mengunci dan mencabut kunci memasukkan kunci ke dalam kantong celana tidurnya.
" Papaaa...!" Teriak mama Sarah.
" Apa mama." Dengan sabarnya papa menghampiri mama yang cemberut kesal.
" Mana kuncinya?"
Mama mencari-cari kunci di kantong suaminya. Papa sebisa mungkin berkelit agar sang istri tak bisa merogoh kantong celananya yang dalam.
Karena kesal tak bisa menemukan kunci, akhirnya mama Sarah mencubit sesuatu yang sukses membuat papa berteriak.
" Ough.... Mama itu bukan kunci, tapi kon.........!"
🤔🤔🤔🤔🤔🤔
" Ups sorry pa, sengaja."
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Maaf ya baru up, hari ini kepala otor gak bisa diajak kompromi. Gini dulu ya, moga terhibur.. 🤗🤗