I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Pelukan Ibu



" Kamu akan kemana?" Dokter Tomy bertanya pada Mira saat mereka keluar dari rumah sakit.


" Ke rumah oma." Jawab Mira.


" Ke rumah oma?" Ulang dokter Tomy dengan nada heran.


" Iya, dokter. Saya ingin menemui bu Rita disana. Saya harus berpamitan pada beliau, karena bagaimanapun saya memiliki tanggung jawab dengan pekerjaan saya. Dan jika saya pergi, maka saya harus berpamitan pada beliau." Jelas Mira.


" Ok, baiklah. Saya antar kesana."


" Trima kasih dokter."


Akhirnya Mira diantar oleh dokter Tomy ke rumah oma. Disana hanya ada bu Rita dan bi Ijah, karena semua orang masih di rumah sakit.


Mereka datang, tepat dengan selesainya bu Rita mendapat telepon dari Jonathan yang mengabarinya tentang Mira yang hilang dari rumah sakit.


Melihat mobil dokter Tomy masuk ke halaman rumah oma, pikiran bu Rita menjadi sedikit lega, berharap Mira ada di dalam mobil itu. Benar saja, wujud yang sedang menjadi tranding topik pagi ini, muncul juga dari mobil itu. Bu Rita langsung menyambut kedatangan mereka tanpa menunggu mereka masuk rumah. Tatapannya sangat tajam pada sosok dokter yang menjadi sepupunya itu.


" Kau membawanya kabur Tomy!" Hardiknya.


" Aku bisa jelaskan Rita, tapi biarkan kami masuk dulu. Lihat keadaan Mira!" ucap dokter Tomy.


Bu Rita melihat keadaan Mira akhirnya, dengan baju rumah sakit, tangan diperban dan goresan luka di lengan yang cukup lebar, serta kedua lingkar mata, dan wajah pucatnya membuat rasa iba timbul dalam dirinya.


" Encuuus......!" Teriakan Geby dari dalam sana, membuat ke tiga orang itu menengok pada sosok gembul yang sedang berlari menuju Mira dan langsung memeluk kaki Mira. Menangis karena beberapa hari tidak bertemu.


" Kita bicara di dalam Tom, Mira masuklah ajak Geby ada Gea sama bi Ijah di ruang bermain. Berikan geby pada bi Ijah dan beristirahatlah di kamar bi Ijah." Ucap bu Rita.


Bu Rita menelpon suaminya memberi kabar jika Mira ada di rumah dihantar Tomy, namun ia meminta agar keluarga Sigit tidak tahu akan hal ini, kerena itu juga yang dikatakan oleh dokter Tomy sesaat sebelum ia masuk ke dalam rumah.


Mira membawa Geby ke ruang bermain. Ada Gea dan bi Ijah. Melihat kedatangan mereka, Gea langsung bangkit menghampiri Mira.


" Encus kenapa?"


Bi Ijah yang saat itu sedang mengambil minum langsung berlari menemui Mira.


" Ya ampun Gusti, kasihan sekali kamu. Ayuk ke kamar bibi, istirahat dulu. Sudah sarapan belum? Bibi ambilkan ya."


Mira hanya tersenyum kemudian mengangguk. Ia mengikuti Gea dan Geby yang mengantarkannya ke kamar bi Ijah.


" Encus sakit ya?" Gea yang bertanya, sambil mengelus tangan Mira yang terbungkus perban. Mira hanya tersenyum, namun dalam hatinya ia menagis karena sebentar lagi ia harus meninggalkan kedua anak asuhnya itu. Rasa sayangnya pada Gea dan Geby sudah seperti rasa sayang yang ia miliki terhadap Andre adiknya. Ada perasaan berat ketika ia harus merelakan mereka. Namun, tidak ada cara lain. Ia harus menemui ibunya, agar dia merasa tenang.


" Ayo sarapan dulu, dan minum obat sama vitaminnya." Bi Ijah masuk ke kamar membawa nampan.


" Kok ada obat darimana bi?" Mira bingung karena dia merasa tidak membawa obat dari rumah sakit.


" Dari dokter Tomy. Sudah, ayo lekas dimakan sarapannya." Bi Ijah menyodorkan nampan itu pada Mira. Mira menerimanya dengan perasaan haru. Bagaimana tidak, pertama kali ia datang ke sini, bi Ijah lah yang menyiapkan makanan untuknya, dan sekarang saat ia akan pergi, bi Ijah juga yang memberikan sarapan untuknya.


" Trima kasih bi."


Bi Ijah melihat sorot mata Mira yang sendu, ikut merasa sedih. Karena oma sudah bercerita saat Rayyan memintanya untuk membantu Mira kabur dari rumah sakit, oma meminta bi Ijah untuk membawa Mira ke rumah anaknya yang berada di Cibinong untuk sementara waktu.


" Encus au Eby uapin?" Geby mengambil sendok yang belum dipegang oleh Mira. Menyendokkan satu pucuk nasi yang bisa ia raih dari piring, kemudian mengasurkan pada mulut Mira.


" Aaaaa.... Encus." Geby membuka mulutnya ketika menyuapi Mira. Mira menerima suapan itu dengan mata berkaca-kaca.


Apakah aku tega meninggalkannya? Dan Gea....!


Mira jadi mengingat kata-kata Gea sesaat sebelum Rayyan pergi. Namun ia harus pergi, karena ia harus tahu kebenarannya dari ibunya tentang ucapan bapaknya.


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Bu Rita masuk ke kamar bi Ijah, mememui Mira yang sudah selesai sarapan, dan kini sedang bercanda dengan Gea dan Geby.


" Seharusnya kamu istirahat Mira. Sini anak-anak, kita keluar. Kasihan Encus." Ucap bu Rita. Melambai memanggil anak-anak, namun anak-anak menolaknya.


" Tapi kasihan encus mama, masih sakit." Ucap Gea yang diangguki oleh Geby.


" Maka dari itu, biar encus istirahat biar cepet sembuh." Bu Rita menghampiri anak-anak yang masih bergelendot di samping tubuh Mira.


" Biarkan bu." Ucap Mira.


Bu Rita hanya tersenyum, namun ia mengingat apa yang diceritakan oleh Tomy tadi.


" Jadi Sigit itu saudaramu?" Bu Rita ikut duduk di tempat tidur, di samping Geby.


" Saya belum tahu kebenarannya bu, saya tidak bisa percaya begitu saja. Karena ibu saya bukan ibunya Sigit."


Bu Rita paham. Mungkin karena sejak bayi yang mengasuh Mira adalah ibunya yang sekarang, bukan ibu kandungnya jadi Mira tidak bisa percaya begitu saja.


" Lalu apa rencanamu setelah ini?" Tanya bu Rita.


" Saya ingin kembali pada ibu saya bu. Dengan keadaan seperti ini, saya tidak mungkin bisa berkerja disini mengasuh mereka. Jadi saya memutuskan untuk pulang."


" Bukan untuk lari dari kenyataan kan Mira?" Potong bu Rita.


" Jika saya lari, maka saya tidak akan pulang bu. Saya hanya ingin tahu kebenarannya dari ibu saya. Saya yakin ada yang salah dengan ini." Jelas Mira.


" Pasti ibumu sangat menyayangimu Mira." Ucap bu Rita.


" Sangat bu, maka dari itu mana mungkin saya bisa percaya kalau beliau bukan ibu saya."


Bu Rita paham sekarang. Namun ia juga tak bisa berbuat apa-apa. Masalah Mira jika dia yang mengalami, mungkin ia juga akan bingung, karena semua terjadi begitu saja dan tiba-tiba.


" Kamu masih ingin mengasuh mereka?" Tanya bu Rita.


Mira bingung. Keadaan sebenarnya yang membuatnya bingung. Ia masih butuh uang untuk Andre, tapi bagaimana dengan Sigit? Pasti ia akan selalu bertemu dengan Sigit jika masih bekerja di rumah bu Rita. Dan keadaannya saat ini juga tidak memungkinkan untuk bekerja dulu.


" Pikirkan nanti Mira. Tapi jika kamu masih ingin bekerja untuk Geby dan Gea, datang saja kesini. Mereka nyaman denganmu. Tapi jika kamu ingin berhenti karena ada Sigit, saran saya. Terima saja apa yang sudah menjadi takdirmu Mira. Jika memang dia saudaramu, mungkin kamu bisa mulai belajar menerima dari sekarang."


" Saya belum tahu bu. Sekarang saya hanya ingin pulang ke rumah ibu saya." Ucap Mira.


Bu Rita sekali lagi paham bagaimana Mira, karena dia sendiri masih sama jika sakit hanya ibu yang selalu ia ingat.


" Tapi sekarang istirahat dulu. Pulangnya nanti saja setelah kamu pulih."


" Tidak bu, saya harus pulang nanti malam. Karena saya ingin semuanya cepat selesai dan menjadi jelas. Saya tidak bisa tenang dengan pikiran saya saat ini." Ucap Mira.


" Tapi kamu masih sakit Mira!" Sergah bu Rita.


" Saya masih bisa pulang dengan keadaan seperti ini. Saya juga tidak ingin merepotkan disini. Saya disini untuk bekerja." Mira tetap kekeh ingin pulang.


" Apa yang membuatmu ingin pulang Mira? Tanpa ibumu, ucapan bapakmu sama saja. Cukup menjadi bukti bahwa memang kamu bukan anak ibumu, tetapi anak dari bapak dan ibunya Sigit. Mereka orang tua kandungmu."


Mira terdiam. Walaupun memang benar. Namun bukan itu yang ia inginkan saat ini, tapi hanya pelukan ibunya. Ibu yang sudah membesarkannya, memberikan kasih sayang utuh untuknya, merangkulnya setiap kali ia merasakan beratnya hidup, membimbingnya disaat ia merasa salah, dan mencintainya dengan setiap kekurangannya. Tidak pernah meninggalkannya dalam keadaan apapun, bahkan selalu berjuang untuknya, untuk adiknya dan selalu menjadi kekuatan terbesarnya disaat dia merasa lelah. Apakah mungkin ibu yang seperti itu bukan ibunya?!


Ibu... Aku rindu ibu, rindu pelukan ibu.