I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Kecemburuan Sigit



" Udah kelar Mir?" Tanya Gadis yang ternyata menunggunya di gerbang masuk. Tahu kemunculan Mira dia langsung berdiri menghampiri Mira yang berjalan tertunduk.


" Kamu kenapa?"


Gadis melihat mata Mira yang memerah dan sembab seperti habis menangis.


" Kelilipan... Hehe." Mira tertawa, namun tawa itu tak mampu menutupi bahwa dia sedang berbohong, Gadis tahu itu.


" Sudah selesai?" Tanya Gadis, merajuk pada masalah Mira dan dua orang yang dilihatnya tadi.


" He'em." Mira mengangguk.


" Mereka tidak menyakitimu kan?" Gadis memeriksa keseluruhan tubuh Mira, tidak menemukan apapun disana.


" Sakitnya bukan disitu Gadis, tapi disini." Mira menunjuk dadanya, air matanya seakan ingin keluar lagi... Bahkan kini ia menengadah, mengerjap-ngerjap agar air mata itu tak jatuh. Namun sialnya, pelukan Gadis malah membuat runtuh pertahanannya.


" Menangis saja, jangan ditahan." Gadis mengusap lembut bahu Mira yang terguncang.


Hiks... hiks.... hiks...


Huaaaa....


" Ealah.. malah bercanda." Gadis memukul bahu Mira, merasa jengkel dengan kelakuan Mira yang mengerjainya.


" Aku lapar, kenapa malah disuruh nangis, emang nangis bikin kenyang." Mira menjauhkan tubuhnya dari Gadis.


" Kamu lapar?"


Mira mengangguk, dan membuat Gadis mengingat rumah makan aneka sambal yang sering ia kunjungi jika sedang bersama Nano.


" Ingin makan yang pedas?" Tanya Gadis.


" Cocok itu untuk ngluarin air mata." celetuk Mira, otomatis Gadis memandang heran pada ucapan aneh Mira. Menggeleng cukup mengatakan bahwa Mira memang manusia unik.


" Jangan galau Mir, banyak laki-laki tampan berkeliaran di sekelilingmu. Salah satunya mas Sigit. Kata mas No, dia masih single." ucap Gadis.


" Ngomong apa kamu itu. Jadi makan enggak? Habis tenagaku untuk dengerin ceramah mamah Dede." ledek Mira.


" Hehehe.... " Gadis malah nyengir kuda mendengar kelakar Mira yang mengatakannya mamah Dede.


" Ok, let's go."


Begitulah akhirnya hari cuti Mira. Bukan mencari udara segar dengan berwisata ke kebon raya Bogor, tetapi malah memperjelas statusnya yang sekarang manjadi jomblo.


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


" Mira kau dimana?"


Di ujung belahan dunia yang lain, Rayyan menghubungi Mira, namun hingga beberapa panggilan tidak ada jawaban. Padahal, dia sedang ingin mendengar suara Mira. Sayangnya yang punya hp sedang berpesta sambal dengan Gadis, dan hpnya tertinggal dikamarnya.


" Kau dimana Mira?" Rayyan menggerutu, pasalnya sudah beberapa hari mereka tak berkomunikasi, karena kesibukan Rayyan bersiap untuk balapan besok lusa.


Mbak Sri yang sedang beristirahat siang itu mendegar hp milik Mira berbunyi.


" Oalah, kok ya ketinggalan mbak Mira ini hpnya."


Mbak Sri menghampiri arah bunyi hp milik Mira. Begitu ia mendekat, mbak Sri mengambil dan melihat nama mas Rayyan di layar.


" Mas Rayyan? Wah, jadi enggak berani angkat. Takutnya dikira lancang nanti."


Mbak Sri meletakkan kembali hp Mira di tempat yang sama. Membiarkan saja hp itu terus berbunyi. Ia keluar dari kamar Mira, tidak jadi istirahat, malah melanjutkan menyetrika.


Sekarang gantian Sigit yang terganggu dengan bunyi suara dering hp Mira.


" Gak biasanya mbak Mira memakai nada dering, biasanya cuma getar. Apa karena dia mau pergi jadi diganti mode. Malah ketinggalan pula."


Sigit tidak juga masuk ke kamar Mira, malah menghampiri mbak Sri yang sedang menyetrika.


" Mbak, itu hp mbak Mira bunyi terus." Ucap Sigit.


" Iya mas Sigit, dari mas Rayyan. Saya enggak berani angkat, takutnya nanti dikira lancang."


" Mas Rayyan?" Sigit mengulang nama yang disebutkan mbak Sri. Ada kerutan di dahinya menandakan ia sedang heran.


" Iya, mas Rayyan." Ucap mbak Sri.


Sigit, berpikir sejenak. Namun akhirnya ia pamit sama mbak Sri, mau mengantar bu Rita ke rumah oma.


" Kenapa mas Sigit menghubungi mbak Mira?" Sigit bergumam sambil melongok ke kamar Mira. Suara dering hp masih juga berbunyi.


" Apa aku angkat aja?"


Sigit menjadi bingung, namun ia juga penasaran, kenapa mas Rayyan menghubungi Mira.


" Iya mas Sigit. Nanti kita berdua yang bilang ke mbak Mira ya."


Setelah mendegar persetujuan dari mbak Sri, akhirnya Sigit mengambil hp Mira dan mengangkatnya.


" Hallo Mira, dari mana aja kamu? Apa Geby rewel, kenapa lama gak angkat telpon aku? Aku kangen tau..... bla....bla...bla........."


Suara ocehan Rayyan yang tanpa henti kini tak digubris oleh Sigit. Saat ini Sigit malah terpaku dengan ucapan Rayyan yang mengatakan kangen. Dan ucapan itu seketika membuat pikirannya berkecamuk, hatinya serasa bergetar dan panas, seolah-olah ada bara api yang menyulut di dalam sana.


" Mira, apa kamu gak ingin kasih aku support? Besok lusa aku tampil. Ayolah, mana suaramu? Berhari-hari kita enggak ngobrol lho, aku jadi kehilangan mood booster aku..... Bla.....bla....bla.."


Sigit sudah tak mampu lagi mendengar suara Rayyan yang seolah mengatakan bahwa antara dirinya dan Mira ada hubungan khusus.


Hatinya menciut. Perasaan yang selama ini ia simpan untuk Mira, ternyata akan pupus begitu saja, tanpa sempat bersemi. Bahkan ia belum sempat mengutarakannya pada Mira.


Ya Tuhan, apa aku salah jika aku menyukainya?


Sigit mematikan begitu saja sambungan telpon, tanpa menunggu Rayyan selesai berbicara.


" Kenapa mas Sigit?" Suara mbak Sri mengagetkannya, seketika ia menjadi gugup, namun secepat mungkin ia menetralkan bahasa tubuhnya, agar mbak Sri tak curiga padanya.


" Enggak tahu mbak Sri, waktu mau angkat malah dimatikan." ucap Sigit sambil menunjukkan pada mbak Sri layar hp Mira yang memang sudah mati, karena ulahnya yang menekan tombol off terlalu lama. Hingga hp Mira menjadi tidak aktif.


" Oh.... Biar nanti telpon lagi mas Rayyan kalau mbak Mira udah pulang. Biar nanti saya yang beri tahu mbak Mira lewat Gadis." Ucap mbak Sri sambil membawa keranjang pakaian ke tempat jemuran untuk mengambil baju yang sudah kering.


Sigit meletakkan kembali hp Mira di tempat yang sama. Ia berjalan ke kamarnya dengan gontai, pikiran menjadi gelisah, mengingat akhir-akhir ini ia terus memikirkan bagaimana cara mengungkapkan isi hatinya pada Mira. Namun sikap cuek yang ditunjukkan Mira selalu membuatnya ragu, takut menghadapi penolakan.


Apa karena dia memiliki hubungan dengan mas Rayyan, jadi dia bersikap seolah tak peduli?


Lalu apa ini yang dimaksud Nano dengan saingan berat?


Sigit mengacak-acak rambutnya. Pikirannya benar-benar kacau sekarang. Bahkan ia sampai lupa jika dia harus mengantarkan bu Rita ke tempat oma.


" Om Sigit, ayok berangkat."


Teriakan suara Gea menyadarkannya sekarang. Ia mengganti kaos hitam yang ia kenakan dengan kemeja, karena setelah mengantar bu Rita, rencananya ia akan langsung berangkat kuliah.


Ia turun, melihat ketiga orang yang akan ia hantarkan sudah siap, bahkan tas besar berisi perlengkapan menginap juga sudah ada di dalam tangan bu Rita.


" Mira bilang akan menginap di rumah mbak Sri, jadi kami akan menginap di rumah oma. Jaga rumah ya, bapak juga nanti ke tempat oma. Mungkin sampai lusa, sekalian nobar balapannya Rayyan." Ucap bu Rita.


" Iya bu." Sigit mengangguk dan mengambil alih bawaan majikannya ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan, Sigit hanya diam. Menjawab pertanyaan jika ditanya, bahkan celotehan Geby dan Gea yang biasanya ia sahuti tak dihiraukannya.


" Om Sigit lagi sakit gigi dek." Ucap Gea pada adiknya, itu membuat Geby tertawa terpingkal-pingkal.


" Bukan sakit gigi, tapi sakit hati." Kini giliran Bu Rita yang berucap, membuat Sigit hanya menyunggingkan senyum, sebagai rasa hormat atas ucapan majikannya yang begitu mengena di hati.


Mak jleb....! Sakit.


Tak lama mereka sampai di rumah oma. Setelah menurunkan penumpang, Sigit melajukan mobil menuju kampus yang memang searah dari rumah oma.


Jika tadi pikirannya masih bisa fokus dengan adanya majikannya, kini Sigit hanya berdiskusi dengan dirinya sendiri. Bisa dikatakan bahwa ia melamun. Memang begitu kenyataannya. Berkali-kali ia menginjak rem mobil secara tiba-tiba karena hampir menabrak orang yang melintas.


Ciiiiiit.....


Suara derit ban mobil Sigit yang bergesekan dengan aspal. Beruntung tabrakan itu bisa ia hindari, jadi tidak ada korban.


" Astaghfirullahaladzim!"


Sigit beristifar, kemudian keluar dari mobil untuk meminta maaf pada orang yang hampir ia tabrak.


" Maaf mas, saya tidak sengaja." Ucapnya penuh penyesalan.


" Iya mas, tidak apa-apa. Jangan melamun mas, berbahaya menyetir sambil melamun." Saran orang tersebut.


" Iya mas, maaf." sekali lagi ia meminta maaf sambil membungkuk.


Setelah orang itu berlalu, ia masuk kembali ke dalam mobil. Melanjutkan perjalanannya menuju kampus.


Sepertinya aku harus cepat mengutarakan isi hatiku.


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Selamat Hari senin.... Semoga tetap sehat dan semangat....


Jangan lupa, jempolmu semangatku


Salam Fillia