
MIRA
Hanya setitik debu, siapa yang akan memandang keberadaannya? Tentu orang akan langsung menyingkirkannya ketika menyadari titik itu berada di dekat mereka. Tetapi ketika kata debu berada di antara bintang, tentu setiap orang tidak akan berhenti memandang keindahannya. Bahkan semua pasti akan memuji kanvas langit yang terlihat indah walaupun gelap, karena banyaknya bintang yang seperti debu yang bertaburan.
Apakah mungkin, jika aku yang hanya debu, akan dilihat oleh orang ketika bersanding dengan seorang bintang. Dan mereka akan memujiku seperti memuji bintang itu sendiri?!
Renungan yang tiba-tiba hadir dalam lubuk hati Mira, ketika ia sedang duduk sendiri di dekat jendela kaca, memandang ke langit yang cerah berhias ribuan bintang yang nampak cemerlang di tengah gelapnya malam. Dengan ditemani tiang infus di sampingnya.
Keraguan tiba-tiba terselip dihatinya, ketika sebuah kebahagiaan tengah mendekatinya. Apakah ia akan dengan suka cita menyambut kebahagiaan itu, dengan menyiapkan hatinya mendengar apa kata orang di luar sana yang akan menghujatnya karena bersanding hidup dengan seorang bintang? Sedangkan dia hanyalah upik abu, yang tak memilikinya apapun untuk dibanggakan, dan membenarkan apa kata orang yang mengatakan dirinya sedang mencoba mengambil peruntungan dengan apa yang Rayyan miliki.
" Belum tidur yank?"
Bintang itu berjalan menghampiriku, duduk didekatku, bahkan meletakkan tubuh ini untuk bersandar padanya. Terasa nyaman, tetapi rasa tak percaya sejak awal kehadirannya kembali menguar begitu saja saat ini.
" Sedang memikirkan apa?"
Mira hanya menggeleng, masih menatap bintang di tingginya langit malam.
" Sudah malam, kamu butuh istirahat, tubuhmu belum fit."
Mira berganti menjatuhkan netranya untuk memandang ke wajah yang sedang menatapnya lembut. Mencari apa yang sedang ia ragukan, meniti pancaran sinar dari mata yang dipenuhi cinta untuknya, dan ketulusan untuk menjadi pelindung baginya.
" Ada apa?"
Pertanyaan yang membuat Mira sadar, bahwa dia sedang diperhatikan juga.
" Tidak." Mira membuang pandangannya kesegala arah.
" Lebih baik jujur, daripada memendam, hanya akan membuatmu merasa berat, bukan hanya hatimu, tetapi juga hidupmu."
Ucapan yang sederhana, tetapi benar. Membuat Mira merasa bersalah dalam hatinya telah meragukan kenyakinan Rayyan padanya.
" Aku takut." Dua kata itu keluar begitu saja.
" Ada mas disini, apa yang kamu takutkan hem?" Tangan Rayyan menyikirkan sulur rambut Mira yang menjuntai di wajahnya, menyelipkan di belakang telinga Mira.
" Justru ketakutanku karena kamu penyebabnya mas."
Tangan Rayyan membawa tubuh Mira untuk kembali bersandar padanya.
" Apa sekarang masih takut?" Tanya Rayyan saat Mira bergelung aman dalam dekapannya.
Mira tak menjawab, hanya diam. Tak dipungkiri bersama Rayyan dia merasa hidupnya jauh lebih bahagia. Tak ada kesedihan yang berlarut, karena Rayyan tidak pernah membiarkannya berada di zona itu.
" Aku merasa tak pantas untukmu."
Kalimat itu mengalir begitu saja, disaat hati Mira mengakui dia tak bisa jauh dari lelaki itu.
" Apa hatimu yang mengatakan demikian, jika hanya pikiranmu, buang jauh-jauh, karena itu hanya perasaan sesaat, disaat kamu sedang gundah."
Mira diam, sekali lagi Rayyan benar, bahwa pikirannya yang meragu, tetapi hatinya tentu saja tidak.
" Apa definisi pantas untukmu?"
" Keadaan kita yang tak sepadan." Jawab Mira.
" Jika kamu ingin aku meninggalkan semua yang aku miliki, itu artinya kamu tak bisa lagi melihatku di dunia ini."
Mira tersentak, menjauh dari dekapan Rayyan. Bukan pikirannya yang tak rela membayangkan itu terjadi, tetapi hatinya.
" Kenapa mas ngomong kayak gitu?" Kekawatiran dalam nada ucapan Mira membuat Rayyan tersenyum.
" Aku dan kamu, jika bersama itu dinamakan takdir. Begitu pula dengan dirimu. Terlepas dari apa yang kamu dan aku miliki, itu semua tidak ada pengaruhnya." Rayyan menggenggam tangan Mira.
" Jika kamu ragu dengan apa yang aku miliki saat ini. Nyatanya aku memiliki semuanya, dan jika kamu ragu dengan itu, mas tidak akan memaksamu untuk tetap bersamaku. Karena tidak ada baiknya menjalani sesuatu dengan keraguan, karena akhirnya hanya akan berantakan."
" Apa mas benar-benar mencintaiku?"
Rayyan tersenyum tulus, mendengar pertanyaan Mira tentang perasaannya.
" Harusnya itu kau tanyakan pada hatimu, bukan padaku."
Untuk kesekian kali, Mira membenarkan ucapan Rayyan.
" Jika pertanyaan itu kutanyakan padamu, lalu apa jawabmu?"
" Mas sendiri tahu jawabannya." Mira kini tak berani mantap mata Rayyan.
" Katakan!" Lembut, tetapi menuntut. Rayyan menahan Mira untuk tetap menatapnya.
" Katakan, sayang.... cup."
Sebuah kecupan lembut mendarat di kening Mira lama, sebelum kemudian merambah turun ke bawah, mata, hidung serta bermuara pada bibirnya, membuat jantung Mira serasa bertalu-talu, tubuhnya seakan melemas jika saja saat ini Rayyan tidak menahannya. Pandangan mata itu, mengobrak-abrik seluruh sarafnya, membuatnya serasa ingin terbang. Perasaan yang seakan membuncah. Bahkan kupu-kupu serasa berterbangan dari dalam perutnya. Belum pernah Mira merasakan cinta sebesar ini, dan kata sayang yang begitu merdu yang baru saja dia dengar membuatnya ingin berhenti didetik itu juga. Semuanya seakan nampak indah, dengan hiasan ketulusan penuh cinta yang hanya ditujukan untuknya oleh seorang Rayyan.
" Love you." Suara Rayyan disela-sela kegiatan yang masih berlangsung, karena belum rela jika harus melepas satu sama lain. Saling menyapa dan menyambut, seolah tak ingin berhenti. Menuntut sebuah pembuktian dari perasaan masing-masing.
Pembuktian?! Sekarang adalah ujian bagi seorang Rayyan sebagai laki-laki, bagaimana dia bisa menjaga sesuatu hingga tiba saatnya. Sebuah pengendalian untuk mengatakan cukup pada sebuah kenikmatan sesaat. Walaupun kadang nafsu memang sulit dikalahkan dengan akal sehat. Bagi seorang wanita, mungkin akan bingung jika diminta untuk menyerahkan diri sebagai bukti cintanya, balaupun terkadang itu hanya modus bagi seorang laki-laki. Dan setelah semua didapat, ujung-ujungnya hanya ditinggalkan dan dicampakkan begitu saja.Tapi sebagai pria sejati, bukan seperti itu caranya. Menjaga, melindungi, mengayomi itulah seharusnya, maka itu Rayyan kini memperlambat pergerakanya, untuk perlahan mengakhiri kegiatan mereka.
Percuma dia menyandar seorang rider sejati, jika tidak bisa menggunakan rem disaat dibutuhkan. Bukan kemenangan yang ia dapat tetapi kegagalan. Maka dari itu, saat ini ia lebih memilih berhenti, daripada kebablasan. Bisa fatal akibatnya!
" Tidur."
Sebuah kata perintah, namun terdengar tak ikhlas itu meluncur dari bibir Rayyan yang masih basah. Sedangkan matanya tetap tertuju pada bibir pucat Mira yang terlihat sedikit membengkak akibat ulahnya.
" Bisa pecah ini ntar, kalau enggak cepet masuk kamar." Rayyan mengelap bibir Mira dengan ibu jarinya.
" Mas baik-baik aja kan?"
" Akan tidak baik, kalau tetap bersamamu."
" Kenapa?"
" Ingin memakanmu, sekarang!" Rayyan gemas dengan pertanyaan polos dari Mira, yang seolah menantangnya.
" Apa mas lapar? Aku buatin makanan mau?"
Rayyan menarik nafas dalam, menghembuskan pelan-pelan untuk meredakan sesuatu di dalam dirinya. Apalagi melihat kepolosan wanita di dekapannya ini, ingin rasanya dia menerkamnya saat ini juga.
" Tidur, udah malam. Kamu kan masih sakit yank." Ucapnya kemudian. Lebih baik mengalihkan pembicaraan, daripada harus kembali terjebak dalam perasaan yang susah untuk dikendalikan.
" Aku belum ngantuk mas, seharian tidur, masa iya suruh tidur lagi." Ucap Mira.
" Tapi mas udah ngantuk ini."
" Ya udah mas tidur duluan aja." Jawaban enteng itu membuat Rayyan kesal.
" Kamu masih mau disini?"
" He'em." Mira mengangguk.
" Masuk kamar aja ya, mas mau turun soalnya, nanti kamu enggak ada temannya."
" Terus apa bedanya sama di kamar? Sendiri juga kan disana." Bantah Mira.
" Mau mas temenin ke kamarnya?" Goda Rayyan.
" Enggak, makasih!" Mira beranjak, sambil membawa tiang infus masuk ke kamar.
" Mas aja yang bawa."
Rayyan mengambil alih mendorong tiang infus, sedangkan tangan satunya menuntun Mira masuk kamar.
" Mas, jangan gini, kayak orang sakit parah aja. Aku bisa jalan sendiri kok." Mira menepis tangan Rayyan yang memegangi lengannya.
" Dicium aja gak nolak, kenapa dipegang gini aja gak mau yank."
" Stop! Jangan bahas itu lagi!" Masih malu Mira jika mengingat kejadian tadi.
" Kenapa? Mau lagi?" Rayyan menaik turunkan alisnya, menggoda Mira yang mulai sewot.
" Bahas itu, Mira ikut Ajeng nih."
" No! Ya udah, iya... Sekarang masuk kamar yuk.... Utututu... Dasar anak manis.. Sini mas gandeng biar enggak jatuh."
Buk!
" Sakit yank!" Rayyan meringis karena pukulan Mira di punggungnya.
" Makanya jangan gitu."
" Jangan gitu gimana, sayang." Rayyan malah meledek lagi.
" Mas turun aja deh, jadi tambah sakit ntar akunya."
" Enggak sayang, kan udah sama mas disini, masa sakit lagi, yang ini aja belum sembuh, masa nambah lagi. Kasihan yang lain, entar gak kebagian."
" Kebagian apa?" Mira malah bingung.
" Ya sakitnyalah, kan kita sedang ngomongin sakit." Ucap Rayyan.
" Puft! Mas turun ajalah, bisa darting aku ngomong sama mas." Mira mulai melangkah lagi, Rayyan dengan sigap mengikuti.
" Ngapain ikut?" Bantak Mira.
" Mau bawain ini lho yank, galak amat sih." tunjuk Rayyan pada tiang yang ada ditangannya.
" Ya udah! Buruan, habis itu turun!"
" Iya.... jangan marah, jangan cemberut gitu, tambah cantik, nanti mas tambah cintak."
Buk!
" Gombal banget sih!"
" Hehehe.... Peace." ✌