I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Happy Family



" Kalau masih pusing, jangan bangun dulu yank! Mau ngapain sih?" Rayyan menghalangi Mira yang hari itu tidur selama 3 jam.


" Mau liat si kembar mas." Mira mencoba untuk menetralkan rasa berdenyut di kepalanya.


" Masih sakit kan kepalanya?" Rayyan membantu Mira untuk bersender di ranjang.


" Mas bawa sini aja si kembar, kamu disini aja."


" Hmmm."


Rayyan segera keluar kamar, mencari anak-anak. Tak lama dia kembali dengan menggendong di sisi kanan dan kirinya.


" Sini, sini anak mama."


Seolah tak begitu menghiraukan rasa sakit di kepalanya, Mira langsung menerima anak-anak di sampingnya, mereka langsung merangkak bergelayut di tubuh Mira.


" Mau main sama mama, hemm? Sini."


Mira memposisikan dirinya di tengah, hingga samping kanan dan kirinya luas, bisa untuk tempat si kembar. Mereka mulai asik bermain sambil menaiki tubuh Mira, membuat Mira tertawa, kadang berteriak karena si kembar yang aktif. Mencium, juga memukul wajahnya, sedang satunya menjambak rambutnya.


" Ouwww.... Ampun nak, mama sakit ini... Hiks... Hiks... Hiks." Mira pura-pura menangis, sehingga si kembar berhenti, dengan pandangan polosnya melihat akting mamanya yang mengucek-ucek matanya, berperilaku sama seperti mereka kala sedang menangis.


Rayyan menggeleng melihat kelakuan Mira yang seolah langsung sehat begitu bertemu anak-anak. Ada rasa bahagia, melihat keluarga kecilnya.


" Papaaa..... Hiks... Hiks... Hiks....". Tangan Mira terulur pada Rayyan seolah mengadu, dan itu membuat anak-anak saling berpandangan, sebelum akhirnya kedua pasang mata polos si kembar mengalirkan buliran bening, wajahnya berubah memerah dan cebikan bibir yang membuat Mira harus berhenti berakting, tetapi terlambat, anak-anak sudah mengeluarkan paduan suaranya yang menyayat hati, si kembar manangis berjemaah.


" Ya ampun! Mama cuma bercanda... Lihat nih, mama gak nangis sayang.... Cup... Cup... Cup, aduh kok malah makin keras."


" Massss, tolongin." Mira kualahan, karena si kembar menangis makin kencang.


" Ini juga usaha nolongin yank, susah bener." Rayyan berusaha mengangkat Azzura yang malah berpegangan kuat pada Mira, sedangkan Azzam di bawahnya.


Harus dengan tenaga extra untuk memisahkan yang satu. Untung Azzura segera sadar keberadaan papanya, hingga dia beralih menggapai tangan sang papa, dan terbebaslah Azzam dari tindihan adiknya.


Mereka segera berhenti menangis ketika sudah berada di pelukan masing- masing orang tuanya.


Para suster segera berlari mendengar kegaduhan di kamar majikannya.


" Mbak, tolong buatin susu ya." Ucap Mira saat melihat kemunculan pengasuh si kembar.


" Iya bu." Mereka segera berlalu.


" Mereka gak seneng lihat mamanya nangis yank, jangan dicoba lagi akting kayak tadi!" Ucap Rayyan, sambil menepuk-nepuk pelan punggung Azzura yang masih terisak.


" Aku kira gak bakal kayak gini kejadiannya mas, eh malah ikut nangis beneran nih anak." Mira memangku Azzam yang sudah diam.


" Tapi lucu loh, bikin gemes nih, nangis ngikutin mamanya, padahal mamanya cuma tipu-tipu... Ya cayang ya... Emuach!" Mira mencium pipi Azzam dengan gemas hingga bayi itu terkekeh karena senang.


Mendengar abangnya tertawa, Azzura merosot dari gendongan Rayyan ingin ikut bergabung.


" Iya... Iya, mau kesana, tapi jangan gini nak, bisa jatuh nanti." Rayyan membetulkan posisi Azzura kemudian membawa Azzura ikut bergabung, tanpa di minta dia langsung merangkak, merambati mamanya lalu mendaratkan ciuman di pipi sang mama, membuat Mira tertawa senang.


" Papa kok gak dicium." Rayyan memasang pipinya, dan Azzura segera mencium pipi papanya.


" Emuach." Begitulah bunyi ciuman si Azzura, dan Azzam segera bangkit untuk mencium pipi Rayyan, hingga keduanya kini menempel di pipi papanya. Mira segera meraih hpnya, mangabadikan moment indah itu.


Suara langkah kaki suster, membuat Mira segera menegok.


" Mbak, tolong fotoin ya."


Mira segera bergabung, mencium pipi Azzam sedangkan tangannya merangkul pundak Rayyan yang mencium pipi Azzura dan tangannya merangkul pinggang Mira, dan segera foto keluarga bahagia terabadikan di ponsel Mira.


" Kirim ke hp mas, yank."


" Ok."


Selesai mengirim, Mira meraih dua botol susu yang dipegang suster Azzam.


" Ma kasih mbak. Tinggal aja, anak-anak biar disini." Ucapan yang membuat Rayyan langsung bertanya.


" Kamu udah gak pusing yank."


" Aku baik-baik aja mas, don't worry!" Senyum manis Mira menyakinkan Rayyan untuk tidak terlalu kawatir.


" Tapi sakit itu mengingatkan kalau kita butuh istirahat." Sanggah Rayyan, dia menepuk-nepuk paha kecil Azzura sehingga membuat mata Azzura sendu, antara ingin tidur dan melek.


Bunyi suara dari dot, menandakan botol sudah kosong, namun bibir bayi itu masih bergerak, walaupun mata sudah terpejam, dan pegangan tangan sudah melemah. Beberapa saat kemudian botol terlepas dengan sendirinya, tangan sudah terkulai di samping kepala, menandakan bayi sudah tertidur.


" Akhirnya mereka tidur juga."


" Foto yank."


Mira segera mengabadikan pemandangan damai itu.


" Jangan lupa..."


" Kirim." Mira memotong kalimat Rayyan yang belum selesai.


Mereka tertawa bersama.


" Mas tadi buatin lemon tea, manisnya mau pakai gula apa madu?" Tanya Rayyan.


" Pakai ini aja.... Cup." Bibir Mira mendarat di bibir Rayyan, menyesap sedikit lalu melepaskan, menyisakan sang empunya bibir melongo, karena terkejut.


" Mingkem mas." Mira mengatupkan bibir Rayyan dengan dua jarinya.


" Kamu nyerangnya tiba-tiba, bikin shock aja."


" Heleh seneng tapi kan." Mata Mira berkedip-kedip, memasang wajah menggemaskan.


" Gak ada si kembar disini, udah habis kamu yank."


" Aku masih sakit masss." Mira pura-pura limbung di samping Azzam, membuat Rayyan menggeleng lagi.


" Mana lemon tea'nya." Tagih Mira dengan suara yang dibuat selemah mungkin.


" Ihhhhh.... Gemes mas kalau kamu kayak gini." Rayyan mengecup berkali-kali pipi Mira.


" Jangan keras-keras, ntar anak-anak bangun!"


Rayyan menjeda, melihat sebentar ke anak-anak di sampingnya.


" Mereka pulas banget."


" Jadinya pake apa ini? Madu apa gula?"


Rayyan bangkit, bersiap mengambil minuman di dapur.


" Madu aja."


" Ok." Rayyan berbalik menuju pintu.


" Mas."


Langkah Rayyan terhenti, dia memutar lehernya.


" Apa?"


" Makasih." Ucap Mira, Rayyan tertegun sebentar mencerna maksud ucapan Mira.


" Atas perhatianmu disaat aku sakit, itu sangat berarti, karena itu obat untukku!"


Rayyan melangkah bukan menuju pintu, tetapi kembali pada Mira lalu memeluknya.


" Trima kasih kembali."


" Untuk apa?"


" Menghadirkan kebahagiaan dalam hidupku."


" LOVE YOU MORE."


" VERY MORE LOVE YOU."


END