
Bahagia tiada tara, mendapatkan rejeki yang sempurna.
Rayyan tak henti-hentinya memandangi wajah cantik sang istri dengan senyum yang selalu menghias wajahnya, seolah ingin mengucapkan beribu terima kasih pada sang istri.
" Kenapa sih mas, lihat depan." Mira kesal Rayyan terus memandanginya, apalagi saat ini Rayyan sedang menyetir.
" Fokus!" Hardiknya.
" Iya." Rayyan masih dengan senyumnya menatap jalanan yang mengarah menuju rumah papa Jo.
Sampai di rumah, Mira di larang turun begitu Mobil berhenti, Rayyan langsung tergesa memutar, membuka pintu untuk Mira dan langsung mengangkat tubuh Mira yang masih duduk di mobil, membuat Mira terkejut, langsung meletakkan tangan di leher Rayyan agar tidak jatuh.
" Mas! Aku bisa jalan sendiri ih." Protesnya, tetapi Rayyan tak peduli, bahkan saat ini menutup pintu mobil hanya menggunakan kaki lalu segera berjalan masuk ke dalam rumah, tak peduli banyaknya pasangan mata yang sedang menyelesaikan persiapan acara untuk malam nanti menyaksikannya. Sengaja, biar tahu bahwa saat ini Rayyan benar-benar sangat bahagia karena istrinya sedang mengandung.
Tetapi dia perlu bermain drama kali ini, untuk mengerjai keluarga besarnya. Nah jiwa jahilnya kumat, kira-kira berhasil enggak tuh, cekidot!
Masuk pintu utama dengan pandangan datar tanpa espresi, membawa tubuh sang istri dan membiarkan wajah istrinya berlindung di dadanya, kondisi yang memudahkannya bermain drama.
" Ray...?" Mama, menatap Rayyan dengan pertanyaan.
Papa Jo, Mathew dan Nathan, ketiga pria yang sedang berdiskusi mengenai pekerjaan itu langsung menengok ke arah pintu masuk, dan Ajeng serta bu Rita yang sedang mengecek menu catering langsung berjalan masuk mengikuti Rayyan yang tergesa-gesa masuk rumah sambil menggendong Mira, takut terjadi sesuatu pada Mira.
" Kenapa?" Seluruh mata menunggu jawaban, tetapi Rayyan malah sengaja membuat semuanya menunggu dengan tetap diam, sedangkan Mira makin tak nyaman menjadi pusat perhatian, memilih bersembunyi di dada Rayyan.
" Ada apa Ray?" Mama kawatir, berjalan mendekat.
" Turun mas!" Mira berbisik pelan, sudah cukup malu baginya.
Rayyan tak menghiraukan permintaan Mira, malah membuat mama Sarah makin penasaran.
" Mira kenapa Ray?" Mathew tak sabar, apalagi wajah Rayyan yang diam seolah mengajak bermain teka-teki, ingin rasanya dia memukul wajah itu!
" Kalian darimana?" Papa Jo sekarang bertanya.
" Mir, kamu gak kenapa-napa kan?" Ajeng dengan nada kawatirnya.
" Syut!" Rayyan melarang Mira yang akan menjawab pertanyaan Ajeng, kemudian menurunkan pelan kaki Mira, masih membiarkan tubuh Mira berada di pelukannya, sambil bersiap akan berbicara, wajahnya yang serius membuat semuanya menunggu dengan kawatir.
" Dia...." Rayyan tak langsung melanjutkan.
" Dia...! Kenapa?" Mama semakin kawatir.
" Dia...."
" Aku..."
" Biar aku aja yank." Rayyan melarang Mira bicara.
" Ya udah buruan ngomong, pakai drama deh." Mama tak sabar.
" Sabar ma, aku lagi merangkai kata."
" Mau pidato kamu!"
Sekarang semua mulai sadar, kalau Rayyan hanya sedang akting, tidak ada sesuatu yang serius yang perlu di kawatirkan dengan keadaan Mira yang saat ini bersungut kesal karena kelakuan Rayyan.
" Awas, nunggu kamu ngomong kelamaan." Mama menyingkirkan Rayyan dari Mira, kemudian menggandeng tangan menantunya untuk duduk bergabung dengan para trio papa.
" Gimana hasil priksanya?" Mama mulai menginterogasi.
Rayyan kesal, karena dramanya tidak berhasil, kini berjalan lemas, sambil ikut duduk di samping Mira.
" Positif ma." Jawab Mira langsung, tanpa drama.
" Allahamdulilah." Serentak seluruh anggota keluarga mengucapkan puji syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa.
" Selamat dek, semoga sehat, lancar sampai lahiran." Mbak Rita ikut memberi selamat, diikuti Ajeng dan yang lain, tapi tidak dengan Rayyan yang tak mendapat ucapan selamat sama sekali.
" Dijagain istrinya Ray, ada anak sekarang." Papa Jo menasehati.
" Selamat pusing-pusing ria." Bang Nathan menepuk pundak Rayyan.
" Ibu hamil itu gemesin, apalagi kalau lagi pengen sesuatu tanpa pandang tempat dan waktu, uhhh... Rasanya nikmati tiada tara." Bang Nathan melirik ke arah bu Rita, tapi si istri tak peduli. Emang gue pikirin, batinnya.
" Encus mau punya dedek tuh, kasih selamat sana." Bu Rita malah menyuruh 2G memberi selamat pada Mira ketika mereka baru masuk, diikuti oleh keluarga papa Jo yang baru datang.
" Ncus mau punya dedek, wah.... Asyik! Ada temen main. 2 ya Ncus, biar aku satu, dek Geby satu. Kan adil enggak rebutan, ya kan dek."
" Ho'oh." Geby dengan lucunya menyetujui ocehan sang kakak, membuat yang ada di ruangan dan yang baru masuk tergelak dengan kelucuan 2G.
" Wow! Felicidades, los recien casados persiquen inmediatamente los depositos ( Wow! Selamat, pengantin baru langsung kejar setoran." Canda salah seorang sepupu Rayyan yang tak lain adalah anak dari om Lukas.
" Gracias, puedes usar Ingles? Porque mi esposa no entiende Espanol ( Trima kasih, Bisakah gunakan bahasa Inggris? Karena istriku tidak mengerti bahasa Spanyol)" Ucap Rayyan dengan sopan.
" Oh, por supuesto que puedes ( Oh, tentu saja bisa)" Jawab sepupu Rayyan yang didengar oleh semua yang sudah hadir, sehingga mereka kini sepakat menggunakan bahasa Inggris.
Tapi kita pakai langsung terjemahan ke Indonesia saja ya readers ok 😉.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Acara berlangsung begitu meriah, walaupun dengan tamu terbatas hanya orang tertentu yang diundang oleh keluarga Aquino. Selain keluarga besar, hanya para team yang bekerja sama dengan Rayyan serta beberapa rider yang berasal dari Spanyol yang hadir, serta para kolega papa Jo yang berada di Spanyol yang diundang, dan acara itu sangat tertutup dari para pencari berita, karena keluarga Aquino tidak mau repot dengan berita yang akan membuat mereka kualahan nantinya.
Mira walaupun dalam keadaan yang tidak fit, tetap menghormati keluarga Rayyan dengan ikut acara yang diadakan untuknya itu. Sebenarnya mama dan papa sudah menyarankan jika dia tidak harus ikut jika tidak kuat, tetapi Mira tetap kekeh ingin mendampingi Rayyan.
" Capek enggak?" Rayyan bertanya pada Mira setelah mereka menyalami para tamu yang sudah hadir.
" Ngantuk." Jawab Mira sambil menahan matanya yang berat. Beginilah ibu hamil, tak pandang bulu dimana berada, kondisi badan tak bisa diajak kompromi.
" Mas anter masuk ya. Tidur aja di kamar, tapi mas enggak bisa nemenin."
Mira mengangguk, karena dia benar-benar tidak bisa menahan rasa kantuknya, dan ingin segera rebahan.
" Mas disini ajalah, enggak enak ningalin tamunya, biar aku masuk sendiri aja." Mira berubah pikiran, karena setiap mereka berjalan, saat itu pula Rayyan selalu disapa dan diajak berbincang, dan itu membuat Mira tak mampu lagi hanya sekedar menunggu sebentar.
" Ya ini udah, yuk buruan, mumpung belum ada lagi." Rayyan mengajak Mira menepi, mengambil pintu samping untuk masuk ke dalam rumah.
" Maaf ya mas, gak bisa nemenin sampai selesai." Sesal Mira saat dia mulai berbaring setelah berganti dengan piama, dia sedih menatap suaminya yang masih mengenakan jas, seharusnya saat ini dia harusnya ada di samping Rayyan, tapi dia sudah tak mampu untuk bertahan lebih lama lagi.
" Tidak papa, tidurlah." Rayyan mengusap sayang kepala istrinya. Tanpa menunggu lama, Mira sudah terlelap.
Rayyan memandang sekejap wajah istrinya, perlahan dia mendekat untuk mengecup pelan puncak kepalanya.
" Terima kasih sudah mau menjadi sumber kebahagiaan untukku. Terima kasih juga sudah bersedia menjadi ibu untuk anakku. Semoga kita selalu bahagia."
" Luv you sayangku, cintaku, istriku, dan ibu anakku...."
" Luv you juga suamiku, ayah dari anakku. Terima kasih sudah mau menjaga kami. Sekarang kami mau tidur, jangan diganggu, sana keluar." Mira yang terusik langsung mendorong pelan dada Rayyan, membuat Rayyan terkekeh.
" Kirain udah tidur."
" Hem... Hampir, tapi mas ganggu." Mira bergumam sambil terpejam.
Rayyan menjadi gemes melihat istrinya itu, hingga dia tak tahan untuk mendaratkan beberapa ciuman di seluruh wajah istrinya yang tetap terpejam tetapi kadang menghindar.
" Masss." Mira merengek kesal.
" Iya... Iya, mas keluar. Nanti telpon mas kalau butuh sesuatu." Rayyan mendekatkan tas Mira di meja samping tempat tidur.
Tidak ada jawaban, Rayyan menunggu sebentar, setelah yakin Mira benar-benar tidur, dia baru beranjak keluar dari kamar dan kembali bergabung dengan yang lain di luar.