I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Ajeng Dan Mathew part 1



" Kita berapa lama disana mas?" Tanya Mira saat mereka berada di mobil menuju bandara, dengan Mathew dan Dony berada di depan, sedangkan Mira dan Rayyan di kursi penumpang.


Dony sudah sehat ternyata gaes... Duduk bersama mantan rival, semoga akur ya kalian berdua, apalagi nanti di Spanyol kalian harus tidur satu kamar.


Baby Khansa sempet rewel gara-gara dipamitin sama sang papa.


Sampai Ajeng harus bawa Khansa pergi jalan-jalan untuk memisahkan anak dan bapak itu.


Baru setelah itu Mathew masuk ke mobil yang sudah menunggu di depan gerbang rumah Ajeng.


" Sampai hari H masih ada 1 minggu, tapi kita disana paling cepet 1 bulan." Jawab Rayyan.


" Kenapa?" Tanya Rayyan kemudian.


" Enggak, cuma nanya aja." Mira terdiam hingga beberapa lama, sambil mengetik sesuatu di hpnya. Rayyan mengikuti gerakan jemari Mira yang bergerak lincah menari di atas layar hp.


" Si Ajeng tanya, aku lama apa enggak disana." Mira memberi tahu Rayyan isi pesan yang ia kirim, dia paham cara Rayyan memperhatikan tangannya, seolah bertanya sedang kirim pesan untuk siapa?


" Oh..."


" Khansa nangis terus enggak bisa diem, ditenangin susah katanya." Ucapan Mira membuat Mathew langsung mengambil hp dan melakukan panggilan pada Ajeng via vcall.


Tak lama, wajah baby Khansa yang berurai air mata muncul di layar.


" Hai.... Sayangnya papa kok nakal, jangan nakal dong, kasihan mama."


" Huaaaaa...!" Malah makin kenceng si baby saat suara Mathew terdenger, dan itu sukses membuat Ajeng kualahan.


Rayyan, Mira dan Dony hanya terdiam melihat interaksi ayah dan anak itu.


Sedangkan Mathew trenyuh mendengar tangisan anaknya yang kian menjadi, hingga suara itu tiba-tiba berhenti berganti dengan nada panik Ajeng. Layar hp menampilkan gambar yang tidak jelas, karena Ajeng ternyata meninggalkan begitu saja hpnya, hingga berakhir dengan gambar atap rumah yang bisa Mathew lihat.


" Jeng... Ajeng, Khansa kenapa?"


" Kejang." Hanya suara samar yang bisa di dengar oleh ke empat orang yang ada di mobil.


Mathew bingung sekarang, dia harus mendampingi Rayyan tetapi anaknya......


" Pulanglah Met!" Suara Rayyan menginterupsi.


" Tapi bagaimana denganmu?" Mathew jelas sekali bingung.


" Jangan kawatir, semua bisa teratasi yang penting semua sudah lengkapkan?"


Mathew mengangguk, dia memang sudah menyiapkan semua keperluan Rayyan.


" Pulang saja, Khansa lebih butuh kamu. Nanti kalau aku butuh kamu, kan ada hp kita bisa komunikasi."


" Iya, aku pulang ya. Maaf tidak bisa mengurusmu kali ini." Ucap Mathew penuh sesal.


" Ada mereka, istriku dan Dony. Juga keluarga besar ada disana."


Mathew akhirnya mengangguk.


Saat Dony menepikan mobil, Mathew mengambil beberapa barang yang harus dia bawa, tetapi meninggalkan barang lain di mobil.


" Aku usahakan untuk ada disana sebelum balapan di mulai." Janjinya, kemudian dia berlari melambai menyetop taksi yang lewat.


Ketiganya hanya menatap kepergian Mathew dengan pandangan haru, terutama Dony.


" Memang keputusan yang tepat jika aku mundur demi kebahagiaan mereka." gumamnya lirih, tetapi masih tertangkap oleh Rayyan dan Mira.


" Akan ada yang lebih baik jika melepaskan yang baik untuk kebaikan." Rayyan menepuk pundak Dony, dan membawa Mira masuk ke mobil.


Dony tersenyum samar, kemudian masuk dan melajukan kembali mobil menuju bandara.


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Mathew langsung mendorong pintu rumah Ajeng yang tidak terkunci, mencari keberadaan baby Khansa di dalam kamar yang biasa dia gunakan bersama sang anak.


Mendapati sang anak sudah tidak kejang, Mathew meluruh, merasa lega, walaupun rewel masih menyertai sang anak yang langsung mengangkat tangannya meminta gendong pada sang papa.


Dengan cekatan Mathew langsung mengambil alih baby Khansa dari Ajeng.


" Papa disini." Mathew mengoyang-goyangkan tubuhnya sambil menepuk-nepuk punggung sang anak yang bergelung di dadanya.


" Sudah minum susu belum dia?" Tanya Mathew pada Ajeng yang masih duduk di ranjang.


" Kasih langsung aja, disaat seperti ini dia akan lebih nyaman berinteraksi langsung dengan ibunya."


Ajeng mengangguk. Menerima baby Khansa yang sudah tenang dan menidurkan di ranjang. Mathew keluar untuk memberi waktu ibu dan anak itu.


Setelah beberapa waktu, pintu kamar baby Khansa terbuka, Ajeng keluar sendirian, tidak ada suara rewel dari Khansa itu berarti anak itu sudah tidur.


Mathew berdiri menghampiri Ajeng yang masih berada di ambang pintu. Melongok ke dalam, memastikan bahwa sang anak sudah tidur.


" Sudah tidur dia" Ucapnya.


" Hem." Jawab Ajeng.


Mathew menatap Ajeng sejenak, seperti berpikir sesuatu, hingga akhirnya dia meminta waktu Ajeng untuk berbicara.


" Bukankah seharusnya kamu pergi dengan pak Rayyan?" Tanya Ajeng sambil berjalan menuju sofa ruang tengah, dan Mathew mengikutinya mengambil posisi duduk di sofa yang sama, membuat Ajeng menggeser duduknya.


" Seharusnya begitu, tetapi dia memperbolehkan saya pulang saat mendengar kondisi Khansa."


Pembicaraan dengan bahasa formal itu memperjelas jarak keduanya, dan menimbulkan suasana canggung diantara mereka.


Karena selama ini, Ajeng dan Mathew tak pernah berbicara seperti ini, hanya sebatas urusan mengasuh Khansa, itupun jika sudah beralih asuhan, Mathew langsung pergi dari rumah Ajeng, seolah memang menjaga jarak.


" Apa kamu selalu begitu dengan anak-anak mu yang lain?" Pertanyaan menohok yang dilontarkan Ajeng membuat Mathew hanya diam. Memang salahnya yang membiarkan Ajeng salah paham dengan mengatakan bahwa dia laki-laki brengsek yang tidur dengan banyak perempuan.


" Saya tidak tahu, karena baru Khansa yang saya temui, dan setahuku hanya dia anakku."


Jawaban yang membuat Ajeng jengah.


" Seharusnya jangan tunjukan rasa sayangmu yang berlebihan padanya, jika akhirnya dia hanya akan kecewa saat tahu bagaimana kelakuan papanya." Sindir Ajeng.


" Saya tidak berlebihan, apa salahnya kalau saya menyanyanginya, dia anakku." Mathew hampir terpancing emosi mendengar kalimat Ajeng.


" Lalu kenapa kamu pergi setelah...."


" Karena pagi itu saya harus terbang mendampingi Rayyan, dan saya yang bertanggung jawab atas suksesnya dia, karena itu pekerjaan saya."


" Apa alasan itu juga yang selalu kamu katakan pada semua wanita yang kamu tinggalkan setelah kamu tiduri?" Mata Ajeng berkilat marah, Mathew paham dan maklum dengan itu, kerena dia memang salah.


" Jika padamu iya, tapi pada yang lain tidak, karena memang tidak ada perempuan lain selain kamu yang pernah tidur dengan saya."


" Bulshit!" Ajeng mengumpat.


" Itu kenyataannya." Ucap Mathew.


" Lalu kenapa kamu tidak mencariku setelah kembali?"


" Siapa bilang?! Yang saya tahu kamu sudah menikah dengan orang lain saat saya kembali."


Ajeng diam. Belum percaya dengan ucapan Mathew.


" Saya datang ke rumahmu di Lampung, tapi saat itu tetanggamu bilang kamu ada di Bogor. Saya mencarimu kesini, tetapi ternyata kamu tinggal dengan Bobby suamimu yang ternyata pacar mbak Mira."


" Kamu tahu darimana aku dari Lampung Dan mas Bobby pacar Mira?"


" Cukup mudah bagi saya mencari alamat seseorang dan informasi seseorang."


" Tapi kenapa mas Dony tidak bisa menemukanmu?"


" Dia polisi, tapi belum tentu bisa menuntaskan kasus hanya dengan mencari dari ucapan tanpa bukti." Ucap Mathew.


" Lalu siapa kamu?" Tanya Ajeng dengan pandangan menyelidik, pikirannya bingung bagaimana orang ini bisa bersembunyi dari penyelidikan polisi.


" Saya? Papanya Khansa." Jawab Mathew dengan santai.


" Kalau aku bilang Khansa bukan anakmu?" Ajeng tak ingin kalah.


" Nyatanya dia anakku. Kalau kamu bilang dia bukan anak saya, itu berarti kamu tidur juga dengan laki-laki lain." Kalimat yang membuat Ajeng naik pitam dituduh tidur dengan laki-laki lain, itu berarti secara tidak langsung laki-laki di sampingnya ini menganggap dirinya murahan, dia tidak terima itu.


" Heh! Dengar ya, walaupun saya menikah, tapi saya tidak pernah tidur dengan suami saya, bahkan kami tidur di kamar terpisah. Jadi jangan beranggapan bahwa Khansa anak orang lain, karena dia memang anak kamu!"


" Yes! Akhirnya ngaku juga. Khansa memang anakku kan? Naluri seorang ayah memang tak bisa diragukan." Jawab Mathew dengan santai, berbanding terbalik dengan Ajeng yang langsung terdiam karena kalah telak.


" Lalu apa maumu sekarang?" Ajeng mencoba untuk tetap tenang.


Matthew sekarang gantian yang bingung bagaimana cara mengatakan pada Ajeng apa yang menjadi bebannya selama ini jika dia memutuskan bertanggung jawab bukan hanya pada Khansa tetapi juga pada Ajeng, dengan membawanya pada sebuah komitmen. Itu berarti dia harus siap dengan segala konsekuensinya.