I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Tepung kanji



" Ibu."


Mira memeluk ibunya dari belakang yang sedang menyetrika baju pelanggan.


" Maafkan Mira ya."


" Apa kamu sudah bicara sama dia?" Tanya ibu tanpa berhenti dari kegiatannya menyetrika. Anggukan dari kepala Mira terasa dari bahunya.


" Apa kamu sudah memutuskan?"


Sekali lagi gerakan Mira yang mengangguk terasa dibahunya, membuat ibu menghentikan kegiatannya. Badan ibu berbalik, membuat pelukan Mira terlepas.


" Apa dia menerima keputusanmu?" Tatapan mata ibu seolah meminta jawaban "iya" namun Mira menggeleng.


" Tidak ibu, mas Rayyan tak ingin mengakhiri hubungan kami." Jawab Mira.


" Lalu bagaimana denganmu?" Tanya ibu lagi.


" Ibu tahu, ini bukan mauku, tapi kemauan ibu."


" Jadi kamu tidak ingin menuruti kemauan ibumu?"


" Ibu.... Ibu hanya trauma karena perlakuan bu Hardi kan?"


" Mira, mengertilah nak! Ini demi kebahagiaanmu!" Kata ibu dengan lembut.


" Ibu ingin Mira bahagia?"


" Ibu mana yang tidak ingin melihat anaknya bahagia. Maka dari itu, ibu tak ingin kamu terluka di tempat yang sama dengan alasan yang sama juga."


Mira diam. Dia cukup paham dengan maksud ucapan ibunya.


" Ibu, bolehkah Mira meminta sesuatu?" Mira menatap mata lembut ibunya.


" Katakan, jika ibu bisa melakukan akan ibu lakukan."


" Aku ingin ibu memberikan satu kesempatan untuk hubungan kami." Pinta Mira.


Ibu memejamkan mata. Mencoba untuk meredam rasa yang berkecamuk di dalam hatinya.


" Ibu tahu? Waktu Mira bekerja di keluarga mas Rayyan, waktu itu Mira secara tak terduga aku bertemu dengan bu Hardi."


" Bu Hardi? Di rumah majikanmu?" Tanya ibu ,ia terkejut.


" Iya ibu. Bu Hardi ternyata temannya oma Sarah, mamanya mas Rayyan."


" Apa dia menyerangmu lagi?" Ibu sekarang menjadi kawatir. Mira mengangguk.


" Lalu bagaimana denganmu? Apa keluarga Rayyan menyaksikannya?"


" Iya ibu, oma Sarah mendengar semua tentang Mira. Beliau menyaksikan bu Hardi kembali menghina Mira disana."


" Ibu tahu apa yang oma Sarah lakukan terhadapku?"


" Apa dia ikut memandang rendah dirimu, karena termakan omongan bu Hardi?"


Mira tersenyum, melihat wajah ibunya yang penuh kekawatiran.


" Oma Sarah menyuruh bu Hardi pergi dari rumahnya. Ibu tahu apa yang beliau lakukan setelah itu? Beliau memberikan ruang di kamarnya yang mewah, hanya untuk membiarkan Mira menangis disana. Beliau juga melarang cucu-cucunya untuk menganggu Mira saat itu."


" Apa kamu menangis saat itu?"


" Tidak ibu, mengapa Mira harus menangisi sesuatu yang sudah pergi? Ibu juga begitukan, tak ingin menangisi kepergian bapak?"


" Jangan bahas bapakmu lagi." Pinta ibu.


Mira tersenyum " Ibu ingin mendengar kelanjutannya?"


Ibu mengangguk.


" Oma Sarah menasehatiku. Bahkan ia tak setuju dengan cara bu Hardi yang menjodohkan anaknya hanya karena ingin masa depan mas Bobby terjamin dengan menikahi Ajeng. Ibu tahu orang tua Ajeng memiliki rumah sakit di sini, tetapi di Bogor juga ada."


" Ibu dengar anak-anak mereka juga tinggal disana setelah menikah." Ucap ibu.


Mira mencabut kabel, karena mencium bau gosong dari bawah setrika.


" Ya, ampun. Untung bukan baju pelanggan yang gosong Mira."


Ibu melihat kain alas setrika yang bolong akibat setrika yang panas terlalu lama diletakkan disana.


" Bukan bu, ini hanya alasnya aja yang gosong." Mira memeriksa kain bercap setrika, dan meletakkannya lagi.


" Apa yang ibunya Rayyan katakan padamu saat itu?" Tanya ibu.


Mira tersenyum pada ibu " Ibu penasaran bagaimana oma Sarah menganggapi sifat bu Hardi ke Mira?" Ibu menggangguk.


" Oma Sarah meminta Mira melaporkan bu Hardi ke polisi atas kasus pencemaran nama baik dan ancaman. Bahkan oma juga siap untuk membantu Mira saat itu."


" Bu Hardi mengancammu?" Tanya ibu.


Mira mengangguk " Dia akan mencelakai ibu jika Mira tidak menjauh dari mas Bobby."


" Kenyataannya memang begitu ibu. Tapi tidak semua orang begitu."


" Ibu tahu? Mas Rayyan itu sukses bukan karena orang tuanya kaya. Oma Sarah sendiri yang bilang pada Mira saat itu."


" Orang tua mas Rayyan itu bukan tipe orang tua yang suka memaksa kehendak terhadap anak-anaknya. Mereka hanya memberi dukungan selama anak mereka itu berada di jalan yang benar."


" Bu Rita, menantunya juga bukan dari keluarga kaya ibu. Ibu dari bu Rita itu hanya seorang penjahit kecil. Tetapi sekarang bu Rita bisa menjadi seorang designer terkenal karena dukungan suami dan keluarga besar mas Rayyan."


Ibu hanya diam mendengar Mira bercerita. Kadang ia melihat wajah Mira yang berseri saat menceritakan kebaikan keluarga Rayyan, dan itu membuat ibu sedikit percaya bahwa keluarga Rayyan adalah keluarga kaya yang berbeda.


" Ibu... Mira hanya berharap restu ibu, karena restu ibu adalah bekal untuk kebahagiaan Mira."


" Tetapi ibu kawatir kamu terluka suatu saat nanti, karena perbedaan kasta diantara kalian."


" Kasta itu hanya di dunia ibu, tapi dihadapan Allah kita semua sama."


" Kamu memang benar, dihadapanNya kita memang sama, tetapi kita hidup bersama manusia, dan pandangan manusia yang membuat semuanya menjadi berbeda Mira."


" Ibu hanya belum mengenal mas Rayyan dan keluarganya. Seperti pepatah 'tak kenal maka tak sayang' Jadi ibu hanya menilai bahwa orang kaya itu sama. Nyatanya masih banyak orang kaya yang memiliki hati nurani ibu."


Ibu mengangguk, menatap Mira dengan senyum, walaupun hatinya bimbang.


" Ibu... Tadinya Mira juga tidak percaya jika mas Rayyan itu menyukai Mira. Mira bahkan menganggap mas Rayyan hanya sedang bercanda dengan Mira. Masa iya, dalam waktu 2 hari dia langsung mengatakan suka pada Mira." Mira tersenyum mengingat Rayyan waktu itu.


" Dalam waktu sesingkat itu dia bilang suka kamu?" Tanya ibu dengan nada tak percaya.


" Iya, dia mengatakan itu tanpa ada keraguan sedikitpun. Dan aku melihat jelas dari matanya saat itu bu. Bahkan saat dia akan pergi, dia menyempatkan datang menemui Mira sebelum subuh hanya untuk menyakinkan Mira. Padahal waktu itu dia sudah tak memiliki waktu lagi."


" Ibu mengenal Mira karena ibu merawat Mira, jadi ibu paham bagaimana pribadi anakmu ini."


" Ya, ibu paham."


" Apakah ibu boleh bertanya?"


" Bertanyalah ibu, agar ibu tahu dan jelas apa yang membuat ibu merasa berat." ucap Mira.


" Apa kamu mencintai laki-laki itu?" Tanya ibu.


" Mira tidak tahu apakah ini cinta. Hanya saja Mira merasa nyaman saat Mira bersama dia. Mendengar kata-katanya yang bisa menenangkan Mira, cara dia membuat Mira tersenyum disaat Mira merasa sedih, dan bijaknya dia saat Mira tak tahu harus bersikap. Bahkan cara dia berpikir tak bisa membuat Mira ragu sedikitpun bahwa dia memang yang terbaik untuk Mira ibu."


" Apa kamu yakin dengan perasaanmu padanya, dan perasaan dia padamu?"


" Mira tak pernah merasa seyakin ini bu."


" Apa yang dia katakan untuk membuatmu yakin saat ibu meminta kalian berpisah?"


" Dia hanya meminta Mira percaya dengan apa yang Mira yakini."


" Lalu?"


" Meminta Mira untuk berjuang bersama."


" Lalu?"


" Meminta Mira untuk bersabar."


" Lalu?"


" Menunggunya pulang agar bisa membuat ibu juga yakin tentang kami."


" Koyo tepung kanji, neng duwor mejo. Yen Gusti ngrestui, wong tuo biso opo? ( Seperti tepung kanji, di atas meja. Kalau Tuhan merestui, orang tua bisa apa?" Ucap ibu dengan senyum tulusnya.


" Ibu bernyanyi?" Tanya Mira dengan binar cerah dimatanya. Menatap ibunya dengan bahagia.


" Nyanyian kebahagiaan seorang ibu melihat anaknya bahagia."


" Trima kasih ibu, Mira sayang ibu."


" Ibu juga sayang anakku. Sini!"


Ibu merentangkan tangannya, menyambut anaknya dalam pelukan hangatnya.


" Trima kasih ibu."


" Jangan mengatakan trima kasih pada ibu, tetapi pada pengeranmu."


" Ibuuuu........!"


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Readers : Thor, kok bahas konfliknya cepet banget, gak disimpen dulu biar sedikit lambat?


Otor : Menyimpan itu duit, bukan konflik! gitu aja ya.... Yang pasti otornya luv you all my readers wae... 😙😙


New dari Fillia " Who's your DADDY MY SON?"


Yang belum baca CEO vs Pembantu GENIUS, cuz jangan mau ketinggalan, disana juga gak kalah serunya... Bye... 🤗🤗🤗