I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Oh.... Mathew!



Tidak dibawa ke kantor polisi, tapi diadili tetap di ruang rumah sakit. Tahu kenapa? Rayyan alasannya!


" Kita melakukan itu tanpa paksaan." Jawab Mathew disesi tanya jawab.


" Tapi kita tidak saling kenal! Dan seharusnya kamu tidak mengambil kesempatan disaat seorang perempuan dalam keadaan mabuk." balas Ajeng.


" Berarti anda salah tempat nona, klub adalah tempat bebas, hampir semua yang ada disana seperti itu, bahkan para member VVIP bisa memiliki hak privat room untuk melakukan hal begituan."


Rayyan bergidik ngeri, Mira hampir muntah mendengar ucapan Mathew yang tetap tak mau disalahkan.


" Tapi tidak semua yang ada disana ingin mencari yang begituan kan!" Ajeng mulai emosi.


" Lalu apa yang anda cari disana?"


" Saya hanya hadir diacara teman saya."


" Lalu bagaimana anda bisa mabuk dan berakhir di dalam kamar saya?" Mathew malah gantian menginterogasi Ajeng.


" Teman saya minta diantar ke kamar, dan kami waktu itu sama-sama mabuk, saya pikir saya bisa berjalan sendiri pulang, tetapi setelah saya kembali, kepala saya makin sakit, dan paginya saya sudah ada di kamar itu."


" Apa anda ingat sebelum mabuk posisi anda dimana?"


" Waktu itu saya berjalan dikoridor, tapi setelah itu entahlah.... Hanya ingat saat saya membuka mata pagi itu, dan mendapati anda sudah berpakaian lengkap, kemudian pergi begitu saja, meninggalkan saya yang sedang berusaha ingat apa yang terjadi."


" Lu gak ingat dia Met?" Tanya Rayyan.


" Lu kayak gak tahu gue Ray! Mana bisa gue inget wajah satu-satu perempuan yang tidur sama gue." decak Mathew.


" Emang malam itu kamu enggak sadar Jeng ngelakuain begituan?" Tanya Mira.


" Kalau aku sadar, pasti aku gak ngusut kasus ini Mir." Jawab Ajeng dengan lesu.


" Lha terus kamu gimana Met kalau begituan gak ada tanggapan?" Rayyan sekarang yang bertanya pada Mathew.


" Kita para pelanggan udah biasa dapet yang gak sadar, namanya juga jual begituan. Pemula emang jarang ada yang suka rela dalam keadaan sadar mau begituan. Jadi aku pikir dia gadis room yang disediakan sama klub." bela Mathew.


Semua diam, sadar sudah terjadi kesalahanpahaman dengan kejadian itu.


" Terus sekarang bagaimana?" Tanya Mathew.


" Apa kamu minta aku nikahin kamu?" Lanjutnya.


" Jika dulu mungkin iya, tapi sekarang jawaban adalah tidak! Karena saya tidak butuh laki-laki seperti anda."


" Lalu apa yang anda minta dari saya?" Tanya Mathew.


" Saya tidak meminta apapun dari anda. Tapi saya berharap tidak pernah bertemu lagi dengan anda." Dingin suasana menyelimuti ruangan tempat rawat Mira saat Ajeng mengatakan demikian.


Mathew menatap bayi yang terlelap dalam gendongan Dony, ada gelayar aneh menyelimuti hatinya, dan dia tidak tahu apa hubungannya dengan perasaannya dengan penglihatannya pada bayi mungil berjenis kelamin perempuan itu.


" Saya rasa saya jatuh cinta!"


Ungakapan aneh yang sontak membuat semua orang terkejut.


" Pada dia." Mathew menunjuk bayi yang mengeliat manja dalam tidurnya. Bibir mungil merahnya, mata lentik yang terpejam damai dan hidung mancungnya, seperti melihat gambaran dirinya pada malaikat kecil itu.


" Apa boleh dia untukku?"


Plak!


Satu tamparan mendarat, menyisakan rasa panas dipipinya yang memerah. Ajeng tak bisa menahan emosi mendengar kalimat terakhir dari Mathew.


" Dalam mimpimu sekalipun tak akan aku biarkan kamu memilikinya, bahkan menyentuhnya pun aku tidak akan membiarkannya!"


Mathew ingin maju, tetapi Dony lebih dulu menghadangnya.


" Jangan pernah lupa ada aku disini. Ingin mereka, langkahi dulu mayatku!" Ucapan tegas dari seorang perwira polisi. Membuat Mathew membeku. Ada Dony dia lupa itu. Sadar hubungannya dengan Dony adalah rekan kerja sekaligus juga sahabatnya, tetapi masalah ini, dia harus berjuang demi anaknya. Biar bagaimanapun anak itu adalah darah dagingnya.


Mathew hanya bisa memandang kepergian bayi yang digendong oleh ibunya, serta Dony yang menggiring mereka keluar dari ruangan Mira.


Mira, Rayyan dan Sigit yang sedari tadi hanya menjadi penonton setia, akhirnya hanya bisa menatap Mathew iba.


" Sudah gue bilang kan dari dulu, tobat lu! Kalau kayak gini gimana coba?!" Rayyan menghampiri Mathew, menepuk-nepuk bahu tegap yang sekarang meluruh.


" Lu bantu gue dapetin anak itu ya Ray?"


" Sorry bro, gue gak ikutan sama masalah beginian." Rayyan mengangkat kedua tangannya.


" Apa lu gak ingin berjuang bersama gue disaat seorang sahabat lu merasa butuh?"


Rayyan benci situasi ini! Dia tahu bagaimana Mathew padanya, tapi Dony adalah hal yang sama seperti Mathew baginya.


" Apa kamu serius ingin anak itu?" Rayyan menatap dalam pada netra yang terlihat meredup itu.


" Aku belum pernah merasa seyakin ini!" Ucap Mathew tegas.


" Kamu tidak ingin menyelidiki dulu kebenaran asal usul anak itu?"


" Hatiku mengatakan sendiri kalau dia anakku."


" Mengapa kamu bisa seyakin itu?"


" Karena aku hanya tidur dengan satu wanita selama ini, dan itu dia."


" Maksudmu?" Rayyan terkejut mendengar kalimat Mathew.


" Apa kamu kira aku sebrengsek itu melakukan hubungan seperti itu?"


Pertanyaan yang membuat Rayyan ragu harus mengatakan iya atau tidak, pasalnya selama ini yang dia tahu Mathew adalah pemain! Jika sekarang Mathew menanyakan itu padanya, dia jadi bingung sendiri.


" Mengurusi keperluanmu saja, membutuhkan banyak waktu yang menguras pikiran Ray, kadang aku harus lembur untuk mencari apa yang kamu butuhkan esok hari. Apalagi perpindahan tempat yang terjadi dalam kurun waktu dekat, membuatku harus punya chanel untuk mendapatkan apapun yang kamu butuhkan ditempat baru." jelas Mathew.


" Lalu kalau malam kamu pergi?"


" Aku ada di kamar sebelah, dimana kamu menginap."


Rayyan tak percaya dengan ucapan Mathew.


" Kamu butuh waktu untuk istirahat. Tuntutan sebagai rider untuk selalu fit disetiap kompetisi itu membutuhkan waktu istirahat yang cukup. Sedangkan aku harus selalu siap dengan kebutuhan yang selalu kamu butuhkan segera. Darimana aku dapatkan kalau tidak melalui mereka disana?! Aku harus bergerak cepat agar kamu bisa tampil maksimal Ray!"


" Aku selalu kembali pagi hari karena jika larut aku kembali, aku takut mengganggu istirahatmu. Apalagi saat kamu butuh privasi seperti saat kamu sudah memiliki dia, setidaknya dengan begitu aku memberikan ruang untuk kalian."


Penjelasan yang sukses membuat Rayyan, Mira dan Sigit tercengang.


" Lalu bagaimana dengan kejadian Ajeng?"


Tanya Rayyan.


" Biarkan itu menjadi rahasiaku. Biarkan dia tau kalau aku adalah laki-laki brengsek, karena memang itu yang aku perbuat padanya."


" Tapi kamu menginginkan anak itu?"


" Ayah mana yang tidak menginginkan anaknya?!"