I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Sandaran Untukmu



" Semangat mas, pulang bawa pialanya. Jangan lupa traktir sama bagi-bagi bonus.... Ouch."


Saking semangatnya Mira berbincang dengan Rayyan lewat telpon, tanpa sengaja tangannya yang cedera bergerak refleks.


" Kenapa Mir?" Suara Rayyan terdengar cemas disana.


" Enggak, ini cuma kram aja lehernya." Ucap Mira berbohong. Dia memang tidak mengatakan kejadian yang menimpanya pada Rayyan.


" Kenapa bisa?"


Mira akan menjawab, namun mata menatap aneh pada pintu kamarnya yang bergerak perlahan.


Kenapa oma kembali?


Mira mengira itu oma yang membuka pintu, karena baru beberapa waktu lalu oma yang keluar dari sana, ia pikir ada sesuatu yang oma lupakan sehingga oma kembali. Namun ia menangkap sesuatu yang aneh ketika pintu itu terbuka, menampakkan sosok pria yang tak ingin ia lihat lagi dalam hidupnya.


Jantungnya serasa berdetak makin kencang, matanya manatap nanar pada pria yang hanya menatapnya mematung di pintu.


" Mira." Suara Rayyan terdengar memanggil, karena Mira tiba-tiba diam.


" Mir?"


" Mira, are you Ok! Mira, kamu masih bisa mendengar suaraku, Mira hey...!"


Rayyan berusaha untuk memanggi-manggil Mira dari bunyi ponsel yang masih terhubung. Namun Mira tak bergeming disini, melihat seseorang yang mulai mendekat masuk menuju tempatnya berbaring.


" Mau apa kau?" Suara tegas penuh kebencian keluar dari mulut Mira, dan itu terdengar jelas oleh Rayyan.


" Mira, kau berbicara dengan siapa? Kenapa kau bertanya begitu?" Suara Rayyan terdengar menyahuti pertanyaan yang ditujukan Mira bukan padanya.


" Apa itu kamu Mira?" Suara laki-laki itu kini terdengar dan Rayyan kini mulai paham bahwa Mira tidak sedang berbicara dengannya.


Dengan siapa dia? Gumam Rayyan.


" Apa wanita itu sudah membuatmu lupa bagaimana wajah anakmu?" Tanya Mira penuh emosi terdengar dari nadanya bertanya pada pria yang kini berjalan mendekati ranjangnya, menatap Mira dengan tatapan sedih.


" Jangan mendekat." bentakan Mira membuat langkah kaki pria itu terhenti.


" Maafkan bapak." Lirihnya kemudian.


Bapak? Siapa?


Rayyan berpikir sendiri mendengar ada laki-laki sedang bersama Mira di tengah malam seperti ini dan menyebut kata bapak.


Ada apa ini?


Rayyan mulai curiga ada sesuatu yang tidak beres terjadi disana. Namun ia cukup diam agar ia bisa mendengar kelanjutan dari apa yang ia dengar.


" Maafkan bapak Mira." Suara laki-laki itu memang terdengar menyesal, tapi tak membuat Mira mau manatap wajah laki-laki itu, ia membuang pandangannya pada arah berlawanan.


" Bagi kami, bapak sudah tiada. Baik Andre ataupun aku. Kami tak punya bapak yang tidak bertanggung jawab. Sebaiknya pergi dari sini."


Mira berusaha mengucapkan kata itu agar terdengar setenang mungkin, walaupun nyatanya ia ingin memaki laki-laki itu.


" Keluar." Pinta Mira kemudian, dengan nada sedikit naik.


Ibu Sigit yang melintas tak sengaja mendengar suara seorang wanita yang menyuruh seseorang keluar. Ia berhenti, mencari-cari darimana arah suara itu.


" Keluar!"


Ia berjingkat ketika mendengar suara perempuan itu terdengar membentak tepat saat ia akan sampai pada pintu kamar rawat yang terbuka. Penasaran, ia melongok sedikit untuk melihat apa yang terjadi disana.


Seolah tak percaya melihat laki-laki yang adalah suaminya kini berjongkok di dekat ranjang pasien yang adalah seorang wanita.


Ia naik darah, kecewa melihat perlakuan suaminya yang kini malah sedang berada di kamar pasien perempuan sedang anaknya sedang sekarat. Ia menerobos masuk.


" Bapak! Apa yang bapak lakukan?" Bu Reni, adalah nama ibunya Sigit menatap suaminya dengan pandangan penuh tanya, menuntut penjelasan.


Mira juga sama, memandang wanita yang baru saja masuk ke ruangan dengan pandangan penuh kebencian.


" Keluar kalian semua! Keluar! Keluar! Keluar!" Mira memencet tombol disamping tempat tidur, memanggil dokter.


Oma dan Tomy segera berlari, melihat tombol dari kamar Mira berbunyi.


" Oma, dokter, suruh mereka keluar dari sini."


Oma dan Tomy menatap tak mengerti dengan adanya sepasang suami istri di kamar Mira yang mereka tahu adalah orang tua Sigit.


" Kita keluar pak." Bu Reni mengajak suaminya berdiri. Namun sang suami tak bergeming, malah memegang tangan istrinya.


" Ada yang harus ibu tahu." Ucap sang bapak.


" Bapak mau memberi tahu kalau bapak sedang selingkuh dengan wanita ini!" Tunjuknya pada Mira.


" Jaga ucapan anda wanita jalang!" Mira berteriak lagi, oma langsung masuk, membantu menenangkan Mira, begitu pula dengan dokter Tomy yang meminta perawat untuk memberi obat penenang, namun pak Purwadi nama bapaknya Sigit melarangnya.


" Dia tidak boleh tidur dokter, dia harus mendengar kebenarannya." Begitu alasan yang ia ucapkan saat mencegah dokter Tomy menyuntik obat untuk Mira.


" Kebenaran apa pak?" Tanya bu Reni, menatap aneh pada suaminya karena melarang dokter memberi obat pada Mira yang histeris dan kini sedang dalam pelukan oma.


" Kau ingat, bahwa Sigit punya kembaran?"


Deg!


Tak hanya bu Reni yang terdiam, semua orang di dalam ruangan itu ikut mendengar ucapan pak Purwadi.


" Mira adalah kembaran Sigit." Ucapnya kemudian.


Mira mempertajam pendengarannya, seolah ia memang sedang salah mendengar sesuatu yang diucapkan oleh laki-laki yang adalah bapaknya.


" Tapi dia sudah meninggal." Ucap bu Reni " dia sudah meninggal bahkan ia meninggal di dalam kandungan, itukan yang kamu katakan waktu itu pak!"


" Tidak Reni, ibuku membawanya pergi setelah dia lahir hanya untuk memancingku agar mau berpisah darimu."


" Kau berbohong! Lalu makam siapa yang kau tunjukan padaku?"


" Itu makam kosong, aku sengaja membuatnya agar kau tidak curiga."


Mira menutup telinganya dengan kedua tangannya, bahkan rasa sakit akibat cedera itu tak bisa mengalahkan sakitnya mendengar kenyataan yang baru saja ia dengar. Oma panik, karena Mira juga meronta, terpaksa dokter Tomy menyuntik obat yang sudah diracik tadi.


" Kau mengatakan dia anakku agar kau bisa menutupi kenyataan bahwa kau selingkuh kan! Apa belum cukup kau menyakitiku dengan perlakuan orang tuamu!" Kini gantian bu Reni yang histeris. Ia bahkan memukul dada suaminya yang hanya pasrah mendapat perlakuan dari istrinya.


" Golongan darahnya sama denganmu, dan dia juga yang sudah mendonorkan darahnya untuk Sigit, apakah itu belum cukup menjadi bukti bahwa itu adalah anakmu, anak kita, adiknya Sigit. Lihatlah wajah siapa disana? Apa dia mirip Santi? Tidak kan, itu wajahmu, dia mirip denganmu dan Sigit, apa masih kurang buktinya? kita kan bongkar makam palsu itu jika memang perlu, atau kita lakukan tes DNA."


Pak Purwadi tersulut juga mendengar istrinya malah menuduhnya selingkuh. Dia pernah salah, tapi itu dulu.


Bu Reni menatap wajah yang kini terlelap setelah mendapat suntikan obat penenang.


Oma dan dokter Tomy tetap disana, takut terjadi sesuatu pada Mira.


" Maafkan aku yang tak bisa jujur Reni, aku tidak punya pilihan lain selain meninggalkanmu waktu itu, karena ibuku membawanya pergi. Aku tak bisa kehilangan anak-anakku, jadi aku memilih untuk menuruti keinginan ibuku demi Mira, anak kita."


Dokter Tomy sebagai dokter harus mengambil tindakan saat ini, mengingat Mira yang tengah beristirahat di bawah pengaruh obat. Ia meminta sepasang orang tua itu untuk keluar dari kamar Mira.


" Biarkan saya menunggu disini dokter." Pinta pak Purwadi.


" Maaf pak, mungkin ada baiknya kita memberikan waktu tenang, mengingat Mira tadi begitu histeris mendengarkan anda. sebaiknya tunggu waktu yang tepat saja."


" Baiklah."


" Oma, kita juga harus pergi dari sini."


Akhirnya mereka semua keluar dari kamar Mira, meninggalkan Mira sendiri. Karena setelah itu, mereka mendengar kabar bahwa Sigit sudah siuman. Tanpa mereka sadari bahwa ada telinga yang masih mendengar dan sambungan telepon itu belum terputus.


" Mira, biarkan aku menjadi sandaran untukmu. Tunggu aku pulang, maka semuanya akan baik-baik saja."


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Eaaaa..... Babang Rayyan co cuit bingitz.... Sini bang, aku mau bersandar.... Give me your shoulder..... 😍😍😍😍


Readers give me your Vote, komen dan like juga ya.... Masih ada yang mengganjal? Komen aja, nanti akan otor jawab di part selanjutnya.... ok!


Salam Fillia