
Mira berjalan di belakang oma menyusuri koridor rumah sakit, menuju kamar rawat Gea.
Entah mengapa, ia merasa selalu tertinggal dari langkah oma yang menurutnya terlalu cepat, padahal jika dilihat oma berjalan santai dan begitu anggun.
" Kenapa kamu di belakang, sini." Oma menunggu Mira menyamainya, kemudian menggandeng tangan Mira, maksudnya agar tidak tertinggal.
" Oma jalannya cepet banget." Keluh Mira.
" Jalannya nenek-nenek itu kalau bisa jangan kalah sama anak muda jaman now Mira, ganti semboyan dengan 'Nenek selalu di depan'." Kelakar oma, yang membuat Mira ingin tertawa, tapi takut dosa.
" Bicara sama oma ini bisa bikin awet muda lho oma."
" Oh ya... Harus itu Mir. Kamu lihat tuh, cowok yang duduk disana, dia terpesona melihat oma, apa karena oma yang terlihat masih muda?"
Mira hampir berhenti ketika menunjuk seorang pria paruh baya yang disebut cowok oleh oma, jika tidak malu dengan para manusia yang berlalu lalang di koridor rumah sakit itu, Mira ingin menjedotkan kepalanya ke tembok. Bagaimana tidak, opa yang sedang tertidur sambil duduk di kursi tunggu, dikatakan terpesona melihat si oma, dan parahnya lagi opa tidak sedang menghadap ke arah mereka, melainkan tengadah dengan mulut yang terbuka.
" Oma, itu opa yang sedang tidur, bukan cowok." Kata Mira.
" Ya, maksud oma, opa itu dulu cowok yang selalu terpesona melihat oma yang selalu berjalan cepat." Kilah oma.
Kami hampir sampai di ruang perawatan Gea, dan opa langsung bangun ketika kami mendekat.
" Opa, kenapa tidak pulang kalau ngantuk, bisa istirahat di rumah!"
" Nathan keluar kota, jadi opa bantuin nunggu disini."
" Mira, sudah datang?" Tanya opa yang ternyata tak melihat Mira yang tertutup badan oma.
Mira langsung maju sedikit untuk memperlihatkan diri.
" Opa." Mira bersuara.
" Ayo langsung masuk, opa pengen lihat wajah cucu nakal itu." Opa langsung beranjak dan menggiring oma dan Mira masuk ke ruangan Gea.
Baru saja pintu terbuka separuh, sudah langsung terdengar suara Gea yang melengking meneriakkan nama Mira.
" ENCUUUUUSSS, I MISS YOU SO MUCH."
Mira langsung menghampiri tubuh kurus kering yang sedang bersandar di tempat tidur sambil merentangkan tangan yang langsung disambut Mira dengan pelukan.
" Anak nakal!" Gerutu opa.
" Opa, aku bukan nakal, tapi pintar!" Gea melotot ke arah opa di balik punggung Mira.
" Kalau pintar, coba sekarang makan." Bu Rita mengambil makanan di baki yang baru saja dihantar oleh suster.
" Ok! Encus, suapin." Dengan manja, Gea meminta Mira untuk menyuapinya.
" Ok." Mira mengambil makanan dari tangan bu Rita.
" Aaaa.."
Seketika Gea langsung membuka lebar mulutnya dan menyantap satu suapan bubur yang disodorkan Mira.
" Lagi encus!" Gea membuka mulut ketika sudah kosong. Meminta suapan lagi pada Mira.
Semua yang ada disana menggeleng sebal terhadap kelakuan Gea. Pasalnya memasukkan makanan dalam perut kurus itu sangat susah, tetapi begitu Mira datang, seolah-olah anak itu menjadi anak yang penurut, tentu saja hanya dengan Mira.
" Kita pulang ya ma." Rengek Gea disela-sela makannya.
" Emang udah enakan badannya?"
" Udah, kan Encus udah datang. See, aku udah sehat." Gea memamerkan senyum cerianya yang beberapa hari tak pernah terlihat.
Mira ikut senang, tetapi bu Rita jadi melow.
" Mir, kamu bawa pulang aja si Gea, kalau kamu tidak mau bekerja lagi. Ikhlas saya, asalkan dia sehat."
Mira terkejut mendengar ucapan bu Rita, bagaimana hatinya tak terenyuh mendengar permintaan seorang ibu yang merelakan anaknya untuk dibawa hanya karena ingin melihat anaknya sehat.
" Gea mau ma, ikut Encus pulang."
" Pulang ke rumah Gea ya, nanti encus ikut kesana." Ucap Mira sambil mengelus rambut panjang Gea.
" Saya hampir putus asa dengan anak ini Mir." bu Rita memandang Gea dengan pandangan sendu.
" Kembalilah bekerja! Kalau tidak, tinggalah beberapa hari lagi Mir, sampai Gea pulih."
" No! Encus gak boleh tinggalin Gea lagi. Encus udah janji waktu itu."
Mendengar ucapan Gea, semua mata memandang ke Mira.
" Ya, waktu itu encus, pas om Rayyan mau berangkat." Celotehan Gea membuat Mira ingat, ketika Geby sakit dan berakhir dalam gendongan Rayyan.
" Ya... Encus minta maaf ya, kemarin encus sakit, jadi encus harus sembuh dulu. Makanya encus pulang ke rumah untuk sementara."
" Jadi sekarang encus kembali lagi, mau rawat Gea lagi kan?" Tanya Gea dengan pandangan penuh harap.
Sebenarnya Mira tak tahu harus jawab apa, tetapi dia juga tidak ingin mengecewakan beberapa pasang mata yang memandangnya penuh harap.
Perlahan, ia mengangguk dan tersenyum.
" Iya Encus."
" Pinter. Sekarang istirahat lagi, biar cepet sembuh."
Gea mengangguk, kemudian kembali berbaring. Menunggu beberapa saat sampai Gea tertidur, semua orang dewasa terdiam.
Bu Rita berdiri, menghampiri Mira mengajaknya keluar.
" Bisa bicara sebentar." Bisiknya. Mira mengangguk, kemudian mengikuti bu Rita keluar, mengangguk ke oma dan opa yang membalas dengan senyum.
Mereka kini duduk di kursi taman rumah sakit.
" Trima kasih Mira sudah mau datang."
" Iya bu."
" Saya tidak tahu akan begini jadinya. Mengejar karir demi masa depan anak, ternyata malah anak di rumah tak terkendali. Membuat saya pribadi, terus terang sakit Mira. Apalagi saat dia sakit, bukan saya yang dicari, melainkan orang lain." keluh bu Rita.
Mira tentu saja hanya menjadi pendengar, karena ia merasa bahwa bu Rita sedang curhat tentang anaknya yang mendua hati.
" Saya pikir, bekerja keras demi mereka bisa membuat mereka mengerti bahwa ini demi masa depan mereka Mira, tapi nyatanya pikiran anak sangat sulit dipahami." Bu Rita terlihat menunduk, meremas jari-jari yang ia tautkan.
" Suami mendukung berkarir, tak ingin mengekang istri, dan selalu memberikan perhatian, ternyata itu tidak cukup menjamin kebahagiaan dalam rumah tangga."
" Saya berusaha untuk membagi waktu sebisa saya, sehingga suami tidak protes, itu membuat saya tenang. Tapi saya lupa, bahwa anak juga tidak bisa hanya diberikan sisa waktu."
" Lihatlah Gea, dia menuntut sekarang, meminta saya untuk selalu di rumah. Dia menjadikan kamu pembanding untuk saya di depan keluarga saya Mira."
" Dia mengira, saya tidak menyayanginya. Dia bilang, saya lebih sayang dengan pekerjaan saya."
" Saya ini ibu yang buruk untuk anak-anakku." Kata itu terdengar begitu miris dan membuat
Mira tercengang, sekaligus bingung harus bagaimana dengan mantan majikannya ini. Dia tak cukup berani untuk bertindak lancang dengan memberikan nasehat.
" Kalau menurutmu, saya harus bagaimana Mira?" Bu Rita kini memposisikan duduknya, menyamping menghadap Mira.
" Saya belum berpengalaman bu dengan yang seperti ini. Saya juga bukan orang tanpa masalah. Hanya saja saya menyelesaikan masalah saya dengan menjual kasih sayang saya pada Gea dan Geby, dan saya juga tidak tahu akan begini akhirnya."
" Tapi bu, pengalaman saya selama merawat mereka walaupun hanya sebentar, cukup untuk menarik kesimpulan, bahwa sebenarnya ibu sangat menyayangi mereka. Hanya saja, ibu belum bisa menjadi teman untuk anak-anak. Karena cara mendidik anak yang terbaik adalah dengan menjadikan mereka teman."
" Maksud saya, kita bisa menjadi teman saat mereka bermain, teman saat mereka makan, dan teman berbagi pikiran bu."
" Itu yang saya rasakan bersama ibu saya."
" Kami bukan seperti ibu dan anak, tetapi lebih ke teman. Dan itu adalah hubungan ternyaman yang saya rasakan. Setiap masalah yang saya, atau ibu saya alami, semuanya bisa kami selesaikan dengan bertukar pikiran dan pendapat."
" Begitukah?"
" Ya bu. Dan mungkin untuk Gea, ibu bisa memberikan dia kegiatan lebih, misalnya dengan memasukkan dia ke les khusus yang sesuai dengan kemampuan dia. Ini bisa membantu mengurangi kejenuhannya selama di rumah, dan bisa membuat dia lebih berkembang. Dengan sibuk, saya rasa dia akan dengan sendirinya terbiasa untuk mandiri."
" Mengapa saya tidak pernah terpikir kesana Mira."
" Mungkin memang belum ibu, dan bisa jadi sekarang ataupun besok ibu akan mulai memikirkannnya." Ucap Mira.
" Kenapa bicara denganmu, saya merasa seperti memiliki teman curhat Mir."
" Mungkin itu juga yang dirasakan oleh Gea bu, hanya butuh saya sebagai teman, bukan pengganti ibu. Saya yakin, seorang ibu tak akan pernah terganti di hati anak-anak bu."
Bu Rita tersenyum, dan Mira lega. Setidaknya dia bisa menjadi teman untuk orang yang membutuhkan, itu sudah cukup membuat Mira merasa dibutuhkan, terlepas dia sendiri masih memiliki permasalahan yang belum selasai.
" Bagaimana dengan orang tuamu?" Tanya bu Rita.
" Ibu saya baik, besok akan melaksanakan akad nikah."
" Saya tahu kalau itu, maksud saya orang tua kandungmu dan Sigit tentunya."
" Saya belum tahu bu, saya belum menemui mereka. Menunggu sampai ibu selesai dengan acaranya, kemudian baru saya akan mencoba untuk menentukan langkah selanjutnya."
" Mira, saya hanya bisa berharap yang terbaik untukmu. Semoga semua bisa selesai seperti keinginanmu."
" Amin bu."
" Besok pulanglah, jangan lewatkan acara penting ibumu. Gea pasti mengerti jika kamu yang bicara."
Mira mengangguk.
" Sekali lagi trima kasih Mira. Saya berharap semoga hubungan kita tidak akan selesai walaupun masalah Gea sudah teratasi. Ingin bekerja di rumah atau di butik, dengan senang hati Mira, silahkan datang kapanpun kamu mau."
Mira jadi terharu melihat bu Rita. Bagaimana tidak, ternyata orang baik akan mendapat ganjarannya dengan perbuatan baiknya, dan itu terbukti dengan apa yang Mira lihat dari mereka yang bisa merasakan apa itu kebaikan.
So, jangan pernah lelah untuk menjadi baik. Walaupun terkadang usaha untuk menjadi baik menurut kita belum tentu baik untuk yang melihat dan merasa. Karena akan banyak cobaan disaat kita belajar untuk tetap berada di jalur kabaikan itu sendiri.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Suka enggak sama pikiran Mira? Kalau suka, cuz... Kasih hadiah kalian ya, yang masih punya vote jangan disimpen, ketimbang hangus kasih ke Mira, otor bonusin up deh besok.....
Trima kasih doa kalian, otor bisa bangun lagi dan berkarya lagi. Doa otor juga kalian sehat selalu. Musim begini, jaga kesehatan kalian ya... Luv you all dari Fillia...