
Rayyan mengeluh sendiri, setelah menetralisir perasaannya mendengar ucapan Mira yang membuatnya seakan melayang dan terbang.
" Seharusnya kamu itu merasa terpesona atau terharu atau pipimu itu merona apa gimana mendengar aku mengatakan kalimat pujian begitu Mira, bukan malah sebaliknya."
" Lalu apa yang akan kau lakukan setelah melihat wajah cantikku bersemu merah mendengar rayuan gombalmu mas?"
" Ya setidaknya aku akan merasa senang jika berhasil membuatmu tersenyum bahagia dengan apa yang aku lakukan untukmu."
" Kalau kamu merasa aku tidak bahagia, itu hanya perasaanmu aja mas, nyatanya aku bahagia, masih tertawa dan bercanda bersamamu."
" Bukan begitu Mira.... Pufth." Rayyan frustasi sekarang, mendengus kesal karena merasa kesusahan ingin menjelaskan maksudnya yang ingin berperilaku romantis namun gagal.
" Lalu apa? Coba jelaskan kenapa aku harus tersipu malu mendengar rayuanmu itu?" Mira memasang wajahnya, terdiam, menunggu Rayyan menjelaskan maksudnya.
" Aku hanya ingin kita itu ngobrol romantis dan membuatmu merasa bahwa berbicara denganku itu menyenangkan." Jawab Rayyan.
" Tidak harus begitu juga kali mas." Ucap Mira.
" Lalu bagaimana?"
" Ceritalah tentang kesibukanmu disana. Bagaimana kegiatan mas selama bersiap ikut balapan. Bukan malah sibuk gombal, tidak berhasil malah frustasi."
" Begitu ya!"
Mira mengangguk saja, dia merasa bahwa Rayyan memang terlalu polos tentang berhubungan dengan seorang wanita.
Dapat darimana dia cara begituan untuk merayu? Umur berapa sih dia? Gumam Mira dalam hati.
" Mas, boleh tanya?"
" Apa? Tanya aja."
" Mas Rayyan itu umur berapa sih?"
Pertanyaan yang sukses membuat seorang Rayyan merasa tersudut. Apakah harus mengatakan jujur tentang umurnya yang sudah kelewat matang itu pada Mira.
" Mas, malah bengong!"
" Malu aku." Jawab Rayyan.
" Malu kenapa? Emang apa umur harus pakai baju juga biar gak malu-maluin?"
Ucapan yang sukses membuat Rayyan ingin meledak mendengar Mira mengatakan umur yang memakai baju. Mana bisa?!
" Kamu itu ada-ada aja, masa iya umur pakai baju! Hahahaha....." Rayyan tak mampu menyembunyikan tawanya, akhirnya meledak juga.
" Asyikkan." Ucap Mira.
" Apanya?!" Sukses ucapan Mira lagi-lagi membuat Rayyan merasa bingung.
" Ngobrol yang bisa buat ketawa, ketimbang harus mendengar gombalan, rayuan yang akhirnya menyakitkan."
" Curhat nih!" Ucap Rayyan.
" Emang gitu kan mas. Laki-laki awalnya merayu, membuat wanitanya merasa terbang saat bersama, merasa senang karena kata-kata pujian, setelah itu ditinggalkan setelah bosan. Mending kalau ditinggal mati sekalian, eh... taunya ditinggal nikah. Sakit hati adek bang."
Rayyan menggeleng mendengar ucapan tragis Mira.
Ditinggal mati kok mending! Ada ya orang seperti Mira.
" Apa mantan pacarmu juga begitu?"
" Kenapa?" Mira malah balik bertanya.
" Espresi wajahmu mengatakan begitu." Jawab Rayyan.
" Ya, emang itu nyatanya. Manissssss banget diawal, terakhirnya kayak nelen empedu." Jelas Mira.
" Terus bagaimana biar aku bisa buat kamu senang dan bahagia denganku?" Tanya Rayyan lagi.
" Jadilah dirimu sendiri, berbuatlah seperti apa adanya dirimu. Jika memang mas itu takdir untukku, dengan sendirinya aku akan merasa nyaman dengan mas yang apa adanya. Begitu pula denganku, bukan karena cantikku jika mas itu menyukaiku, karena itu tidak abadi. Trima saja apapun yang ada padaku biar nanti tidak kecewa jika ternyata diriku ini tidak seperti yang mas pikirkan. Karena setiap orang memiliki kelebihan dan kurangnya masing-masing. Jangan hanya suka manisnya, karena nyatanya hidup itu banyak pahitnya. Rasa manis itu hanya untuk pembeda."
" Begitukah?"
" Aku kira perempuan suka dengan sesuatu yang romantis dan manis, tapi ternyata aku salah."
" Enggak salah mas. Bohong jika perempuan tidak suka sesuatu yang begitu, aku juga suka. Hanya saja tidak harus setiap saat. Ada kalanya yang sederhana itu lebih terkesan dan bermakna." Ucap Mira.
" Seperti apa?" Tanya Rayyan.
" Seperti dirimu yang masih menyempatkan menelponku saat ini."
" Kau suka?" Rayyan merasa senang mendengar ucapan Mira.
" Jika tidak suka, aku tidak akan mengangkat telpon darimu. Mengganggu saja, apalagi ini sudah malam. Enakan tidur daripada harus meladeni orang."
" Jadi kau menyukaiku?"
" You know the answer ( Kamu tahu jawabannya)."
" Really? Are you seriously? ( Benarkah? Apa kamu serius?)"
" I never jokes when it comes to feelings ( Aku tidak pernah bercanda jika itu tentang perasaan )."
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
" Dia pergi ibu, bapak?" Sigit menuntut penjelasan tentang tidak adanya Mira di ruangannya.
Padahal dia masih bermaksud menungkapkan perasaannya, apalagi disana ada orang tuanya. Sigit ingin mengenalkan Mira pada orang tuanya, untuk membuktikan bahwa dia serius dengan ucapannya. Namun kenyataan lain yang ia lihat saat membuka mata membuatnya kecewa. Mira tidak menungguinya bahkan mereka bilang Mira menghilang.
Berhari-hari dia dirawat di rumah sakit, berharap Mira akan datang menjenguknya. Namun harapannya sia-sia.
Banyangannya saja tidak datang, apalagi orangnya.
Sigit lebih banyak melamun selama berada di rumah sakit. Orang tuanya kawatir tentang keadaan anaknya yang tidak biasa. Mereka takut terjadi sesuatu di kepala Sigit yang membuat anaknya menjadi pendiam.
Mereka menanyakan apakah akibat cedera otak Sigit yang membuat Sigit menjadi seperti itu. Namun jawaban dokter mengatakan bahwa itu bukan karena masalah luka dikepalanya, melainkan mungkin ada sesuatu yang dipikirkan oleh Sigit. Dan itu bisa ditanyakan langsung pada Sigit.
Pak Purwadi dan bu Reni setuju dengan saran dokter untuk bertanya tentang diamnya putranya itu.
Disinilah mereka kini berada, di dalam kamar rawat Sigit.
" Nak, apa yang membuatmu diam begini? Apa ada yang sakit, yang membuatmu harus menahannya? Katakan pada ibumu." Tanya ibunya Sigit dengan lemah lembut, namun masih terdengar nada kawatirnya seorang ibu.
Sigit hanya diam tak mau menjawab. Masih belum bisa menerima kepergian Mira yang begitu saja.
Dia bertanya pada Nano, tapi jawaban sama yang ia dengar.
Mira berhenti bekerja dan entah kemana.
Ternyata keluarga Aquino menepati janjinya untuk tidak mengatakan keberaaan Mira pada keluarga Sigit.
Bukan ingin membantu Mira bersembunyi, hanya ingin memberi waktu dan ruang untuk Mira agar bisa berpikir jernih hingga akhirnya bisa menerima siapa dirinya dan keluarganya yang sebenarnya. Oma mendukung penuh keputusan Mira, karena sebagai seorang ibu, dia sangat mengerti perasaan anak. Bukan mengajari Mira egois, tapi kebohongan itu sudah berjalan hampir seumur hidup Mira, mana mungkin dia dipaksa harus menerima begitu saja kenyataan tentang dirinya dalam waktu singkat. Tidak ada yang instant, membuat mie instant saja harus dimasak terlebih dahulu... Benar begitu kan?!
" Apa kamu ingin pulang nak? Ayo kita pulang jika kamu sudah tidak betah berada di rumah sakit. Kita minta dokter untuk melakukan perawatan di rumah saja." Bujuk ibunya Sigit. Tapi Sigit tetap diam.
" Bicara sama ibu. Ibu tahu kamu sedang menginginkan sesuatu jika sudah diam begini. Ibu adalah orang yang melahirkan dan merawatmu nak, ibu paham denganmu. Jadi katakan apa yang kamu inginkan?"
" Ibu, aku ingin bertemu dengannya."
Jawaban yang membuat bapak dan ibunya kembali kawatir, mereka tahu siapa yang dimaksud Sigit.
" Kau ingin bertemu siapa?" Ibunya Sigit ingin memastikan bahwa kekawatirannya itu tidak benar.
" Gadis itu bu. Dimana dia, aku ingin menemuinya. Apakah dia baik-baik saja?" Ada sirat kecemasan pada wajah Sigit saat mengatakan gadis itu. Namun ibunya berharap yang dicari oleh anaknya bukanlah Mira.
" Siapa nama gadis itu nak?"
" Mira Adinda ibu, dimana dia? Apa ibu mengetahui dimana dia. Apa bapak juga tahu dia pergi kemana?"
Dua orang tua itu hanya diam. Karena sejujurnya mereka juga mencari kemana gadis itu pergi. Gadis yang ternyata adalah anaknya, adiknya Sigit.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Kasih tau enggak ya kemana Mira? Ayo komentar kalian mana?