I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Bingung



" Nak, besok kita pulang ya?" Ibunya Sigit mengajak anaknya bicara. Sigit hanya mengangguk saja. Tak ingin mengucapkan kata apapun. Kepalanya sakit, tapi pikirannya lebih sakit karena Mira tak berada di dekatnya.


" Kau senang besok akan pulang?" Ibunya mengelus kepala Sigit yang masih berbalut perban putih. Merasa sedih dengan keadaan anaknya.


" Apa ibu tahu kabar gadis bernama Mira?"


Ibu hanya menggeleng.


" Ibu tidak tahu, setelah malam itu dia mendonorkan darahnya, paginya dia sudah tidak ada di kamarnya."


" Apa ibu lihat bagaiman keadaannya? Apa dia terluka? Karena saat kecelakaan itu, Sigit mendorongnya ke parit." Ucap Sigit, ada kecemasan dalam ucapannya.


" Ibu tidak tahu, bahkan ibu belum sempat mengucapkan terima kasih padanya."


Sigit terdiam lagi. Merasakan bahwa dia begitu tak berarti di mata Mira. Nyatanya sekarang Mira meninggalkannya.


Bu Reni merasa ini adalah waktu yang tepat untuk menanyakan tentang hubungan Sigit Dan Mira.


" Nak, memang Mira itu siapa?" Dengan hati-hati bu Reni bertanya.


Sigit tersenyum, namun senyum getir. Mengingat bahwa perasaannya yang belum tersampaikan, malah sekarang ditinggalkan begitu saja.


" Dia teman kerja Sigit bu." Jawab Sigit.


" Hanya teman?" Ulang ibu Reni, karena tatapan mata Sigit menyimpan kepedihan saat mengucapkan kalimat itu.


" Entahlah bu, kenyataannya sampai saat ini memang begitu." jelas Sigit.


" Apa kamu menyukainya?" Dengan ragu bu Reni mencoba mengorek informasi tentang perasaan Sigit.


Sigit hanya tersenyum. Bukan menjawab. Pandangannya beralih pada jendela yang menampilkan pemandangan luar yang begitu indah.


" Apa kalian punya hubungan khusus?" Tanya ibu Reni lagi.


" Tidak ibu, tidak ada hubungan khusus diantara kami hingga saat ini. Karena Sigit belum sempat mengatakannya. Kecelakaan itu seolah menjadi penjeda untukku agar tidak mengatakannya. Seolah Takdir melarang Sigit untuk mengatakan perasaan Sigit saat itu."


" Perasaan apa?" Hati bu Reni semakin tak karuan. Sudah bisa dipastikan bahwa Sigit memang menyukai Mira. Bu Reni bisa melihat jelas sorot mata anaknya itu.


" Perasaan suka antara laki-laki dan perempuan, apa itu namanya ibu?" Sigit mengalihkan lagi pandangannya pada ibunya yang sedang shok.


" Kamu menyukainya?" Ulang ibu Reni.


" Ya ibu. Bagaimana menurut ibu?"


Ya Tuhan, apa yang harus aku katakan padanya?


Bagaimana jika tahu bahwa gadis itu adalah adiknya sendiri?


Bu Reni bergegas keluar ruangan, meninggalkan Sigit yang merasa heran dengan ibunya yang tiba-tiba keluar begitu saja.


Apa aku salah jika mengatakan aku menyukai perempuan? Kenapa ibu seolah tak senang dengan pengakuanku?


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Mira begitu senang membantu ibu menyiapkan pernikahan yang akan dilaksanakan 1 bulan lagi.


Setelah acara lamaran, Mira melihat wajah ibunya begitu berbeda, lebih terlihat cerah. Rona kebahagiaan terlihat jelas pada wajah wanita yang menyandang status ibu untuk dirinya dan Andre.


" Ibu."


Bu Santi yang sedang melihat-lihat kebaya untuk acara akad nikah yang diberikan oleh pak Subagio menoleh pada Mira.


" Ada apa? Sini!" Ibu menepuk tempat untuk Mira duduk di sampingnya.


" Ini kebaya yang diberikan pak Subagio bu, cantik banget. Ibu pasti terlihat cantik kalau pakai yang ini." Mira memilih warna kuning kecoklatan yang terlihat begitu serasi dengan kulit ibunya.


" Bukan, yang ini juga bagus. Kenapa pak Subagio memberi banyak kebaya untuk ibu? Apa dia mau ibu pakai kebaya tiap hari. Kayak tukang jamu aja." Mira terkekeh melihat tumpukan kebaya di tempat tidur ibunya.


" Bukan begitu Mira, pak Subagio itu hanya meminta ibu memilih satu dari kebaya yang dipilihnya."


" Kenapa tidak beli saja bersama. Kan bisa sekalian kencan bu."


" Hus... Kamu ini! Ibu kan sudah tua, malu kalau harus berduaan pergi dengan pak Subagio."


" Halah.... Kemarin aja Mira lihat pak Subagio ke sini pas Mira nganter baju ke rumah pelanggan, terus Andre belum pulang sekolah."


" Itu karena dia sedang meminta data ibu untuk mengurus dokumen pernikahan."


" Tapi pakai pegang-pegang tangan segala." Celetuk Mira.


Ibu menjadi malu. Dia pikir tidak ada yang tahu saat pak Subagio datang ke rumah. Ternyata Mira malah memergokinya sedang berpegangan tangan.


" Kenapa wajah ibu jadi kayak kepiting masuk air panas gini? Emang bener ibu pegangan tangan sama pak Subagio?" Tanya Mira.


" Apa kamu melihat kami saat itu?" Ibu malah curiga kalau Mira hanya memancing ibunya, tapi ternyata umpannya termakan juga.


" Enggak sih, cuma nebak aja. Tapi kayaknya tebakan Mira bener." Mira memperhatikan wajah ibunya yang malu-malu.


" Apaan sih!" Ibu memalingkan wajahnya agar tidak terlihat oleh Mira.


" Asal ibu bahagia, Mira juga bahagia bu. Jangan malu sama Mira mah.... Biasa gitu wajahnya." Mira menarik lengan ibunya agar menghadap dirinya.


" Ibu, kalau nanti Mira tidak tinggal disini lagi setelah ibu menikah apa boleh?" Nada bicara Mira kini beralih ke serius.


" Kamu mau meninggalkan ibu? Apa kamu tidak bahagia jika ibu menikah lagi? Jika memang begitu, ibu akan batalkan Mira. Ibu tidak mau berpisah dari anak-anak ibu hanya karena ibu menikah lagi."


" Bukan begitu ibu, Mira hanya pergi karena Mira ingin bekerja. Ada tawaran pekerjaan bagus untuk Mira. Mira senang ibu akan menikah lagi. Mira sadar bahwa ibu butuh teman untuk hari tua ibu, dan Mira tidak mungkin kan selalu bersama ibu. Mira juga yakin ibu akan bahagia dengan pak Subagio. Beliau sangat baik." Ucap Mira.


" Lalu kemana kamu akan bekerja? Ibu takut terjadi lagi seperti kemarin. Tanganmu apa sudah pulih benar?"


" Ibu, ini akan membaik dengan sendirinya. Tapi cepat atau lambat Mira pasti akan meninggalkan ibu jugakan. Jadi latihan dari sekarang. Mira akan baik-baik saja."


" Kamu akan pergi kemana? Bekerja lagi dimana?"


" Mira bekerja di dealer tempat teman Mira bu, di Cibinong." Ucap Mira.


Rayyan yang menawarkan Mira untuk bekerja disana. Sebenarnya Mira tak mau menerima tawaran itu, hanya saja dia tidak mungkin berada satu atap dengan bapak tiri. Bukan dia yang kawatir, tapi Rayyan yang memiliki pikiran parno.


Banyak kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh bapak tiri terhadap anak tirinya. Apalagi Mira bukan gadis jelek. Wajahnya yang cantik dan tubuhnya juga ideal, tidak menutup kemungkinan akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Memikirkannnya saja, membuat Rayyan merasa ngeri. Tak sanggup jika hal itu terjadi pada Mira, tak akan ikhlas hatinya.


" Ibu, jangan kawatir. Mira akan bekerja dengan hati-hati. Tidak akan terjadi lagi peristiwa seperti kemarin. Mira janji."


Ibu menjadi bingung harus bagaimana. Kekawatiran melihat keadaan Mira saat pulang dari merantau kemarin saja belum hilang, tapi sekarang anaknya itu meminta ijinnya untuk pergi lagi.


" Ibu. Boleh ya?"


Ibu tak menjawab, malah meninggalkan Mira karena bingung akan menjawab apa. Di larang juga pasti tidak akan bisa, mengingat Mira adalah manusia keras kepala.


" Ibu..... " Mira mengikuti ibunya yang keluar kamar, menghindarinya.


" Apa gunanya jawaban ibu. Kamu tetap akan pergi kan?" Ibu tak mau menoleh pada Mira yang memegangi lengannya.


" Mira tidak akan pergi, kalau ibu tidak mengijinkan. Ingat ibu, restu ibu adalah sangu untuk anakmu ini. Hanya saja, Mira harus belajar untuk mandiri." Mira mencoba membujuk ibunya.


" Ibu takut kehilanganmu. Ibu takut kamu celaka lagi. Ibu mau kamu tetap di rumah ini bersama ibu dan Andre. Melihat kalian bahagia, ibu sudah bahagia." Ucap ibu.


Tidak ibu! Ibu hanya pura-pura bahagia untuk kami. Nyatanya ibu masih punya keinginan untuk menikah. Itu berarti ibu hanya terpaksa terlihat bahagia di mata kami. Ibu akan paham itu nanti ketika ibu sudah bersama pak Subagio. Dan ibu akan mengerti bahwa kepergianku akan membuat ibu merasa tenang.


" Mira, apa kamu sebenarnya tidak senang ibu menikah?"


" Ibu ini bicara apa? Mira hanya ingin pergi bekerja! Jangan bicara yang tidak-tidak."


" Kamu pergi karena ingin menghindari tinggal satu atap dengan pak Subagio kan?"


Darimana ibu tahu?


" Ibu adalah ibumu Mira. Ibu yang membesarkanmu, jadi jangan pernah membohongi ibu."


Mira jadi bingung sekarang, karena nyatanya ibunya memang benar.


" Maafkan ibu yang egois. Seharusnya ibu tidak memikirkan diri ibu sendiri." Ibu menunduk di hadapan Mira, membuat Mira menjadi serba salah.


" Ibu, jangan membuat masalah ini menjadi rumit. Ibu berhak bahagia, dan Mira ingin bekerja itu saja ibu. Sudahlah, kalau tidak boleh pergi, Mira akan tetap di rumah.


Ibu melihat Mira yang terlihat kecewa. Namun dia juga tidak bisa begitu saja menuruti keinginan Mira untuk bekerja jauh darinya.


" Bisa ibu bicara dengan temanmu itu?" Tanya ibu kemudian.


Mira bingung sekarang.


Kenapa jadi begini?


" Mira, bisa ibu bicara dengan temanmu itu?"


" Ibu akan mengijinkanmu pergi, jika ada yang bertanggung jawab atas keselamatanmu." Ucap ibu Santi dengan nada tegasnya.


" Benarkah ibu?"


Ibu mengangguk, membuat Mira tersenyum.


" Tapi Mira tidak bisa menghubunginya sekarang." Ucap Mira.


" Kenapa?" Nada ibu mulai curiga.


" Karena dia sedang sibuk. Mungkin nanti malam dia baru bisa dihubungi bu."


" Katamu dia memiliki dealer? Apa bekerja di dealer sesibuk itu? Sampai tidak bisa dihubungi?"


Mira jadi kelimpungan, bingung harus menjawab apa? Jika dia mengatakan bahwa Rayyan adalah seorang pembalap yang sering ia dan Andre saksikan di televisia, apa ibunya akan percaya? Dan mungkin dia akan dikatakan pembohong sehingga mendapat gelar ratu halu.


Bagaimana ini!