
Ibu....
Bagiku bukan dari rahim siapa aku dilahirkan sehingga ia bisa kupanggil dengan sebutan ibu.
Ibu...
Kasih sayangmu, cintamu, perhatianmu, pengorbananmu, doamu, itulah yang selalu membuatku selalu ingin memanggilmu dengan sebutan ibu.
Walaupun takdir menetapkan dan menggariskan, sekalipun meraka mengatakan kau bukan ibuku, tapi aku tidak ingin kau digantikan oleh apapun dan siapapun. Selamanya kau adalah ibuku.....
Mira Adinda.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Mira pulang menggunakan bus malam yang sama dengan bus yang ia tumpangi saat ia datang.
Tadinya oma ingin ia naik pesawat, tapi karena ia tidak terbiasa Mira menolak dengan alasan takut dan lebih memilih menggunakan bus malam.
Diantar oleh Dony, karena Rayyan tak bisa membiarkan Mira pulang sendiri dalam keadaan seperti itu. Tidak ada pilihan untuk menolak, karena jika menolak keluarga Rayyan akan memberitahu kepada keluarga Sigit dimana dia berada. Memang perlu ancaman untuk membuat seseorang yang keras kepala menjadi penurut.
Oma memesan 3 kursi di dalam bus itu. Dua untuk Mira agar Mira bisa beristirahat dan satu untuk Dony diseberang, agar bisa mengawasi Mira.
" Saya bisa pulang sendiri oma." Ucap Mira sambil melirik pada pemuda yang membawakan tas ransel miliknya.
" Kamu bekerja pada kami, jadi kami bertanggung jawab pada dirimu. Lihat keadaanmu pulang dalam keadaan seperti ini, orang tua mana yang tidak kawatir Mira. Jangan sungkan, kita ini keluarga jadi jangan menolak ya. Ini untukmu. Oma yakin setelah ibumu melihat kamu pulang dalam keadaan begini, pasti beliau tidak mengijinkanmu untuk pergi jauh lagi." Oma memberikan amplop pada Mira, namun Mira hanya melihat tanpa bermaksud mengambilnya.
" Ini tidak perlu oma. Bu Rita sudah memberikan gaji lebih dari yang seharusnya." Mira mencoba menolak dengan cara halus, agar oma tidak tersinggung.
" Itu dari mamanya Gea, dan ini terima kasih dari oma, karena kamu sudah menjadi pengasuh yang baik untuk cucu oma. Rejeki jangan ditolak. Pamali." Oma meraih tangan Mira dan meletakkan amlop ditangan yang ia genggam itu.
" Hati-hati, kabari oma. Kembali lagi, oma yakin masih ada yang tertinggal di kota ini, yang buatmu kembali lagi kesini." Ucapan oma membuat Mira bingung, setahunya ia sudah membawa semua barangnya di dalam ransel yang sedang dibawa oleh Dony.
" Mbak, silahkan naik. Bus sudah mau berangkat." Suara kondektur bus memberitahu Mira, karena tinggal dirinya dan Dony yang belum naik.
" Mira pamit oma. Trima kasih atas semuanya." Mira menyalimi tangan oma, namun tidak menerima amlop itu.
" Assalamualaikum." Mira naik, namun Dony belum, karena oma memanggilnya, menyelipkan diam-diam amlop itu ke tas ransel milik Mira tanpa sepengatahuan Mira.
" Hati-hati."
Oma dan Mira saling melambai sebelum akhirnya bus melaju meninggalkan oma.
" Sayang sekali, kenapa harus ada kejadian begini disaat Rayyan mulai berjuang." Oma masuk ke mobil dan melajukan mobil kembali ke rumah. Karena ia melewatkan balapan pembuka di musim ini, tapi tidak apa masih ada 19 lagi yang masih bisa ia saksikan selanjutnya.
Maaf Rayyan, calon menantu mama harus mendapat perhatian lebih kali ini...
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Podium pertama namun bukan yang pertama, Rayyan menjadi yang ke tiga dalam balapan pembuka musim ini, setidaknya ia masih bisa memberikan yang terbaik, selanjutnya ia harus berusaha lebih lagi.
Setelah acara selesai dan waktu istirahat adalah menjadi waktu yang paling ditunggu oleh Rayyan, dia begitu tidak sabar untuk tahu kabar dari Mira yang saat ini tengah berada di atas kapal.
Duduk di atas kapal, menyaksikan air laut yang bergelombang karena dilewati kapal.
Mira melihat waktu di layar hp miliknya, menunjukkan pukul 02:00 dini hari. Ia merapatkan jaket yang melindunginya dari dinginnya angin laut malam itu.
Dony mendekat memberikan satu buah mie cup yang ia beli dari kantin yang ada di dalam kapal itu.
" Trima kasih mas Dony." Mira menerima mie cup dari tangan Dony, namun ia bingung bagaimana akan memakannya, karena tanganya yang sakit tak mungkin bisa memegang.
" Duduk di dalam aja mbak, ada tempat di dalam sana yang bisa disewa untuk duduk."
Mira mengikut Dony yang mengajaknya duduk di dalam ditempat duduk VIP. Cukup nyaman.
Mira menyendok mie cup, namun hp dalam saku jaketnya bergertar membuatnya meletakkan kembali sendok pada cup. Memasang earpiece di telinganya.
" Sudah sampai?" Rayyan langsung menanyakan itu, saat sambungan terhubung.
" Masih di kapal." Jawab Mira.
" Minta Dony tetap dekat ya, aku takut kamu kenapa-napa." Ucap Rayyan dengan nada khas posesivnya.
" He'em." Dony yang mendengar langsung berdehem. Mira tersenyum melihat kelakuan Dony. Sejenak senyum Mira membuat Dony terpana, dan mengerti kenapa Rayyan begitu tergila-gila dengan mantan baby sitter keponakannya itu.
" Mir.... Pakai jaket!" Suara Rayyan kembali membuat Mira merasa tidak enak dengan Dony.
" Sudah makan?"
" Ini masih makan mie cup, mas Dony yang beliin." Jawab Mira.
" Kenapa makan makanan kayak gitu lagi? Kamu kan lagi sakit Mira."
Mira melirik ke arah Dony, merasa tidak enak jika Dony sampai mendengar ucapan Rayyan. Dony hanya menggangguk paham, karena bosnya itu memang terlalu menjaga pola hidup sehat. Boleh makan makanan tapi yang tidak berbau pabrik, yang artinya semua harus home made, and hand made.
" Sekali-kali gak papa kan mas."
" Kamu sudah terlalu sering makan makanan begitu, itu tidak baik lho."
" Terus gimana? Apa aku buang aja ini?" Mira jadi bingung sendiri karena Rayyan.
" Tapi kamu belum makan. Memang gak ada makanan lain selain itu?" Tanya Rayyan lagi.
" Enggak ngerti, tadi mas Dony yang beli." Jawab Mira.
" Kasih hpnya ke Dony." Pinta Rayyan.
" Mas, ini ajalah gak papa. Seger juga malam-malam makan beginian. Mau coba enak lho! Slurp... Emmm." Mira malah memameri Rayyan dengan suara yang ia timbulkan dari kuah yang ia masukan ke mulutnya.
Rayyan hanya berdecak jengkel disana.
" Kamu enggak tidur?" Tanya Rayyan lagi.
" Mau tidur dimana? Ini dikapal mas. Paling 1 jam lagi juga mendarat."
" Kenapa tadi gak naik pesawat aja sih, kan cepet nyampainya."
Mira tak menanggapi ,tetap makan karena bentar lagi mie akan dingin dan menjadi asin. Dan itu tak enak, karena Mira tak suka dengan makanan asin.
" Mas kok enggak tidur? Udah hampir pagi lho ini."
Mira selesai dengan makannya dan menunggu Dony yang sedang mencari teh panas.
" Mana bisa tidur."
" Kenapa?"
" Kangen kamu."
" Eaa.... Yang kangen." Mira malah meledek.
Biasanya perempuan kalau mendengar itu dari lawan jenisnya akan tersipu malu dan merona, namun tidak dengan Mira. Karena Mira bukanlah tipe gadis kebanyakan. Dia lain daripada yang lain, dan itu yang membuat Rayyan bertekad untuk tidak melepaskannya.
" Ada kaca enggak?" Tanya Rayyan.
" Untuk apa?" Mira tentu saja bingung dengan pertanyaan Rayyan.
" Untuk melihat wajah kamu merah apa enggak? Biasanya perempuan kalau dengar begitu langsung malu-malu gimana gitu."
" Apa mas pengen lihat aku berwajah kayak gitu? Besok siang kalau pas panas terik ya." Kata Mira dengan santainya.
" Bukan gitu oneng." Rayyan jadi gemas sendiri dengan ucapan Mira. Niat awalnya pengen berbicara romatis, tapi akhirnya malah tragis. Ternyata salah sasaran.
" Ya bener kok, wajah aku kalau kena matahari pasti merah. Tapi kalau denger mas bilang begitu bukan bikin wajah aku merah."
" Terus?" Rayyan malah jadi penasaran apa kelanjutan dari kalimat Mira.
" Mau denger?" Ucap Mira.
" Mau...." Rayyan menunggu dengan semangat.
" Bikin hati aku jadi adem tau.!"
Rayyan 😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍
Yang adem hati abang dek.... Kok malah jadi aku yang merona ya...??!!
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Selamat membaca... Jangan tersenyum sendiri.... Awas!