
" Gerah kan?" Rayyan mengusap rambut di dahi Mira yang terlihat basah.
" Di buka aja selimutnya, biar enggak keringatan."
Rayyan memindahkan tangan, membantu menyibak selimut tebal yang membungkus tubuh Mira. Mira buru-buru bangkit.
" Mau kemana?" Rayyan ikut bangkit.
" Ke kamar mandi." Mira langsung bergegas karena dia sudah tidak tahan untuk segera menjawab panggilan alam.
Hingga 10 menit kemudian Mira kembali.
" Sudah?"
" Hem." Mira kembali ke ranjang dan berbaring di tempat yang sama. Sedangkan Rayyan hanya memperhatikan wajah Mira yang masih jutek.
Diperhatikan begitu Mira jadi tak nyaman, memilih tidur memunggungi Rayyan, membuat Rayyan tersenyum, segera melingkarkan lengan nya dan memeluk Mira dari belakang, membuat jantung Mira hampir copot, apalagi Rayyan wajah Rayyan tepat ada di belakang lehernya, hembusan nafasnya membuat bulu kuduk Mira meremang.
" Masih marah yank?"
" Tidur! Katanya mas harus istirahat yang cukup, ini sudah malam."
" Gak bisa tidur kalau kamunya masih marah." Rayyan mengeratkan pelukannya, bahkan kini bibirnya sudah mulai beraksi di kulit leher Mira memberikan kecupan-kecupan kecil, membuat sensasi geli hingga tubuh Mira refleks berbalik.
" Apa?"
Mira kembali menangkap wajah Rayyan yang malah tersenyum lagi padanya, dan senyumnya kali ini terlihat begitu menawan. Sejenak Mira terpaku, baru kemudian ia mengalihkan pandangannya agar tidak melihat wajah itu. Lebih memilih berhadapan dengan dada Rayyan karena posisinya kini sedang dipeluk oleh Rayyan.
" Jangan lama-lama yank marahnya."
" Bukan marah, tapi kesel." Ralat Mira.
" Iya.... Kesel, tapi jangan lama-lama ya...."
" Janji deh mas gak akan gitu lagi. Kalau enggak ingetin mas jangan sampai lupa makan sebelum jam 7 malam."
" Hem."
" Kok hem?"
" Iya."
" Senyumnya?"
" Gak ada, ngantuk!" Mira menyusup lebih dalam agar Rayyan tak bisa melihat wajahnya.
" Masih to keselnya."
" Wajarlah mas, namanya juga manusia. Kalau usahanya untuk menjadi baik di tolak, jelas sakit hati." Mira mulai bicara.
" Kalau mas enggak bilang lapar, aku juga gak masak tadi. Tapi kembali lagi, tugas istri itu menyiapkan apa yang suami butuhkan. Mas bilang lapar itu berarti aku harus nyiapain makanan, tetapi giliran sudah siap, responnya malah aneh, alasannya apalagi gak masuk akal." Keluar juga unek-uneknya.
" Tapikan kamu juga belum makan."
" Udah aja, tadi waktu sama Ajeng di dapur. Mas aja yang gak mau, karena makannya dari santan semua. Takut inilah, itulah.... Inget gak ngomong gitu tadi?"
" Hem.... Iya inget."
" Makanya waktu pulang mas bilang lapar aku langsung masak. Eh setelah matang malah digituin."
" Kalau enggak dimasakin nanti dikira istri gak pengertian, durhaka kan jadinya."
" Iya...."
" Tuh kan! Nyebelin deh." Mira memukul pelan dada Rayyan, membuat Rayyan terkekeh.
" Belum selesai ngomong iyanya, udah main potong aja, masih ada lanjutannya itu yank."
" Apa?"
" Iya maaf."
" Maaf juga kalau gitu."
" Kok ikutan minta maaf."
" Pokoknya!"
" Kok pokoknya, jelasin geh."
" Maaf karena aku yang suka marah, suka ngambek, keras kepala, terus kayak anak kecil, nyebelin, kayak gak pernah di didi...."
" Hus, ngomong apa kamu tuh! Buat mas kamu itu bukan kayak gitu, jangan dengerin apa kata orang. Setidaknya sifat kamu yang begitu, berarti kamu itu masih manusia, bukan patung. Jadi mas gak salah pilih."
" Maksudnya?" Mira kini mendongak melihat wajah Rayyan yang menatapnya juga.
" Ya kamu masih punya sifat manusia, marah, ngambek, tersinggung itu wajarlah yank. Yang gak wajar itu kalau kamu aku gituin diem aja, sabar aja, malah takut mas kalau kamu punya sifat sempurna kayak gitu."
" Jadi enggak papa nih kalau aku suka marah?"
" Kalau kamu marah itu artinya mas ada salah kayak tadi, mas kan jadi tau kalau itu enggak baik, apalagi buat kamu kecewa, padahal kamu udah usaha buat jadi yang terbaik."
" Kita belajar bareng-bareng, biar lebih bisa saling ngertiin satu sama lain, bisa menghargai satu sama lain, jangan cuma mikirin diri sendiri. Secara kita sekarang sudah menikah, itu artinya ada perasaan lain yang harus dijaga."
" Kabur kemana? Pergi kemana, kan rumah aku suami aku, paling keluar rumah masuk lagi." Jawab Mira.
" Ya tadi kamu mau ketempat Ajeng kan?"
" Iya, mau ngambil tas, ketinggalan di kamar Ajeng pas aku main sama baby Khansa tadi."
" Berarti hp mas juga donk?"
" Ya iyalah, kan hp mas ada di tas aku."
Rayyan menarik tangannya, buru-buru bangkit, disusul Mira yang langsung duduk.
" Kok nggak bilang dari tadi yank, besok pagi-pagi mas harus hubungi pak Markus lho." Rayyan bergegas mengambil jaket.
" Pakai jaket." Rayyan memberikan untuk Mira yang berdiri di samping tempat tidur, setelah dirinya mengenakan jaket.
" Aku di rumah aja ya, mas sendiri aja."
" Ikut aja, di rumah gak ada orang." Paksa Rayyan sambil mengenakan jaket ke Mira.
" Kan cuma bentar, deket juga kan."
Jarak tempat tinggal Ajeng hanya 1 kilo dari bengkel ya...
" Iya, tapi ikut aja.... Yuk." Rayyan memaksa Mira berjalan dengan merangkulnya. Dengan terpaksa, Mira akhirnya ikut Rayyan ke rumah Ajeng.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
" Kalian ini, baru juga menikah sudah pikun!" Mathew kesal karena bunyi bel, baby Khansa jadi terbangun.
" Hehe maaf" Mira malah nyengir.
" Ambil sendiri sana."
" Permisi ya." Mira kemudian masuk ke kamar baby Khansa setelah Mathew mengangguk.
" Emang Ajeng kemana kok kamu nginap disini Met?" Tanya Rayyan.
" Jaga malam."
" Gak libur apa? Inikan masih lebaran?" Tanya Rayyan lagi.
" Kalau libur terus gimana sama yang sakit? Masa iya suruh libur dulu sakitnya?" Dengus Mathew, merasa bahwa pertanyaan Rayyan aneh.
" Hem, iya juga ya..."
" Lu mentang-mentang pengantin baru terus gak bisa mikir, belum kasih jatah apa gimana?"
" Gol aja belum." Bisik Rayyan, takut Mira mendengar.
" Amem donk! Hahaha...." Kekehan Mathew membuat baby Khansa merengek, otomatis dia langsung menepuk-nepuk si baby.
" Kasih tips biar langsung jadi, gimana?"
" Telat! Harusnya kemaren sebelum nikah lu kawinin dulu, pasti cepet jadi. Nih buktinya." Mata Mathew mengarah pada baby Khansa yang mulai mengantuk.
" Tips lu gak mutu!" Sungut Rayyan.
" Lu juga aneh, tanya sama gue tentang begituan, ya setau gue ya begitu."
" Kalau enggak gempur terus jangan kasih kendor, siapa tahu langsung melendung tuh perut kempes."
" Syut! Dia datang." Bisik Rayyan saat melihat Mira keluar dari kamar baby Khansa.
" Sudah yank?"
" Udah nih, pulang yuk." Ajak Mira, yang akhirnya membuat Rayyan undur diri, pamit pulang.
" Mbak Mira, kalau Rayyan tidur jangan banyak gerak ya, dia itu sensitive, ke senggol dikit langsung bangun." Pesan Mathew saat Mira berjalan menuju pintu keluar, diikuti Rayyan.
" Maksudnya?"
" Ya pokoknya kalau dia sudah tidur, jangan diganggu, dia itu gampang banget bangunnya. Denger suara dikit aja langsung bangun. Kalau saran saya, mending mbak Mira tidur kamar lain kalau enggak dia bakal enggak tidur semalaman."
" Lu kasih saran jangan begitu Met! Masa iya, suami istri suruh pisah kamar, gak guna donk nikah kalau tidur sendiri-sendiri." Dengus Rayyan.
" Ya coba aja mbak Mira, kalau dia bisa tidur tanpa terganggu, berarti emang dia udah gak sensi lagi."
" Emang bener gitu mas?" Tanya Mira pada Rayyan.
" Iyaaa..... Gitu deh, tapi ya gimana ya, udah bawaan kali dari sananya."
" Ya berarti bagus donk, aku tidurnya ada yang jagain. Ya udah, yuk pulang udah malam juga. Mas Mathew kami pulang dulu ya, baby Khansa juga udah tidur lagi kan?" Mira melihat si bayi yang sudah terlelap di gendongan si bapak.
" Iya, hati-hati."
" Asalamualaikum."
" Waalaikum salam."