I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Keyakinan yang Sama



Sudah 5 jam sejak turunnya berita mengenai kecelakaan pesawat penerbangan Indonesia-Jerman yang meledak di atas gunung.


Semua saluran televisi beramai-ramai menyiarkan berita tentang kecelakaan pesawat berpenumpang 75 penumpang beserta kru yang belum dapat ditemukan, walaupun sejumlah bantuan tenaga dari basarnas gabungan sudah diturunkan dan tim pendaki yang menjadi relawan juga ikut andil memasuki kawasan pegunungan namun hingga saat ini belum ada hasil yang diinginkan.


Keluarga korban kecelakaan sudah berada di tempat yang disediakan oleh pihak bandara. Mereka bahkan rela berdiri berjam-jam untuk mengikuti perkembangan pencarian. Medan yang sulit, cuaca hujan dan keterbatasan peralatan, membuat sulit untuk melanjutkan pencarian.


Pihak keluarga bahkan rela mencari tenaga bantuan tambahan dan rela membayar tenaga profesional untuk ikut turun, termasuk keluarga Aquino. Rayyan Aquino adalah salah satu nama penumpang yang terdaftar dalam penerbangan itu.


Berita yang jelas membuat gempar seluruh keluarga besar Aquino baik yang ada di Indonesia maupun luar negeri. Bahkan teman-teman sesama rider beserta team kini berkumpul bersama mengadakan doa bersama sebelum balapan digelar sore itu. Bahkan media international gempar memberitakan berita tentang kecelakaan pesawat terbang dengan seorang pembalap bernama Rayyan Aquino sebagai salah satu korbannya. Dunia olahraga berduka, karena kehilangan salah satu pembalap berkelas dan bertalenta seperti Rayyan Aquino.


Seorang gadis bersandar dalam dekapan tubuh tegap pengganti bapaknya yang belum lama meninggalkan dirinya. Sigit, langsung melaju meninggalkan kampung halaman demi mendampingi sang adik.


Mira tak bisa berpikir, bahkan kepalanya seolah tak berisi, pandangannya kosong, menerawang entah titik mana ia jatuhkan netranya, yang pasti saat ini dia tak ingin berpikir apapun.


Baru tadi pagi dia dan Rayyan pisah, dalam hitungan jam dia harus kehilangan pria itu. Pria yang seolah punya firasat tak akan kembali. Pria yang memintanya memeluknya, merajuk seperti anak kecil, dan ternyata permintaan itu adalah yang terakhir. Jika saja ia tahu akan begini akhirnya, ia akan mencegah pria itu pergi. Tapi tidak, hatinya mengatakan bahwa pria itu saat ini baik-baik saja. Hatinya mengatakan bahwa pria itu tak ada di dalam sana, dan ia pasti akan kembali, karena dia menunggu disini.


Beberapa kali Mira menggeleng, mencoba untuk tetap mempercayai hati kecilnya bahwa mereka semua salah. Yang benar adalah Rayyan tidak disana.


" Mira tenanglah." Sigit berkali-kali mencoba menenangkan Mira yang hampir meronta.


Dibantu oleh Mathew, Sigit membawa Mira untuk beristirahat diruangan yang disediakan oleh pihak bandara. Di dalam sana ada mama Sarah dan papa Jo, juga Nathan, melihat wajah mereka, Mira mundur. Tak kuat dia melihat bayang-bayang wajah Rayyan di wajah papa Jo dan Nathan.


" Tidak." Teriakan histeris Mira membuat mama Sarah berlari menghampiri tubuh Mira yang bersiap berlari, namun berhasil dicegah oleh Sigit dan Mathew.


Sebuah rengkuhan tangan lembut seorang mama, membuat Mira semakin menjadi.


" Sabar....! Kita tunggu mereka bekerja, kita tunggu sampai ada kepastian." Mama mengusap punggung Mira, di tengah isakannya, wanita itu berusaha tegar.


" Mas Rayyan baik-baik saja ma, dia tidak ada disana."


" Kalau kamu yakin dia baik-baik saja, maka kamu harus tenang, tetaplah percayai apa kata hatimu. Sabar... Kita pasti akan bertemu lagi dengan dia."


Apapun keadaannya.... Lanjut mama Sarah dalam hati.


Hati seorang ibu pastinya hancur mendengar kabar tentang anaknya, tetapi sekarang ia merasa lebih hancur ketika hati lain kehilangan separuh dari jiwanya. Di tengah ketidakpastian, hanya doalah yang menjadi hadapan. Mengadu, meminta dari yang kuasa untuk menurunkan mukjizatnya.


" Amin."


Mereka melakukan sholat berjemaah. Meminta perlindungan dari yang kuasa untuk kerabat mereka yang berada di dalam pesawat itu. walaupun kemungkinan untuk selamat adalah yang terkecil. Mengingat ledakan pesawat yang mereka saksikan dari media yang menayangkan kejadian kecelakaan itu.


" Minumlah." Mama Sarah memberikan botol minum untuk Mira.


Mira memandang mata mama Sarah yang terlihat tegar, bagaimana seorang ibu bisa setegar ini ditengah ketidakpastian tentang kabar anaknya.


" Karena mama memiliki keyakinan yang sama denganmu, bahwa dia baik-baik saja." Jawab mama Sarah, seolah bisa membaca sorot pertayaan dari mata Mira.


Mira mengangguk, hatinya sedikit tenang.


" Trima kasih ma."


๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”น


Sementara itu, seorang laki-laki sedang berbicara dalam rapat dadakan bersama para karyawan di sebuah kantor penjualan yang berpusat di Kota Cibinong.


Gara-gara macet, Rayyan jadi tertinggal pesawat. Memilih jalur alternatif juga bukan keputusan yang tepat, karena insiden kayu yang tumbang, membuat perjalanannya menjadi terhambat.


Disinilah dia akhirnya, di dalam satu ruangan, mengadakan evalusai kerja bersama para karyawan yang turun tangan menangani bisnis penjualan yang ia geluti.


" Jadi apa yang bisa dilakukan untuk mendobrak minat beli masyarakat?" Tanya Rayyan.


" Kami mengadakan kerjasama dengan bengkel motor yang berada di kota-kota kecil, dan desa yang memiliki pertumbuhan ekonomi pesat. Dan mengingat kebutuhan masyarakat sangat tergantung dengan kendaraan, maka kami mencoba untuk memberikan kredit dengan bunga ringan."


" Apalagi dengan sistem DP nol persen yang sudah mulai berjalan, ternyata sangat membantu masyarakat lebih antusias memiliki kendaraan."


Rayyan mengangguk setuju.


" Jika bapak setuju, bagaimana kalau kita mengadakan promo dengan potongan harga atau cash back untuk pembelian langsung tunai?"


Dia percaya dengan kinerja para karyawannya yang rata-rata memiliki gelar sarjana ekonomi. Dan marketing adalah pekerjaan yang pas bagi mereka.


" Pak Jul, untuk bonus hari raya sudah dipersiapkan?" Tanya Rayyan pada kepala staf personalia.


" Sudah pak Rayyan, dan rencana akan segera diberikan."


" Bagus! Setidaknya kita juga harus memberikannya, agar mereka lebih giat bekerja."


Rayyan menarik ujung lengan untuk melihat jam yang ia kenakan. Sudah waktunya untuk pulang.


" Trima kasih, kalian boleh pulang. Sudah waktunya pulang kan ini?"


" Sudah pak." Jawab mereka serentak.


" Ya sudah, silahkan pulang."


" Trima kasih pak, kami permisi."


" Ya, saya juga mau pulang." Rayyan hampir berdiri, ketika seorang karyawan tiba-tiba mengingatkannya tentang produk dari Jerman.


" Hari ini rencana saya mau menunjau langsung kesana, tapi karena tertinggal pesawat jadi saya langsung kesini. Tolong, beri tahu pak Rohmat untuk menggantikan saya kesana, karena mereka bilang harus ada perwakilan dari pihak kita untuk launching produk baru yang rencananya akan dipasarkan ditempat kita juga." Pesan Rayyan.


" Baik pak. Oh ya pak, ini brosur produk baru dari Perusahaan di Malaysia pak, jika bapak berkenan, kami ingin bapak memberikan penilaian untuk motor jenis baru yang mereka keluarkan."


" Apa ada sample yang dikirim?" Tanya Rayyan.


" Ada pak, sudah ada di gudang, bapak bisa melihat dan mencobanya langsung."


" Ok, besok saya kesana. Masih ada lagi?"


" Sudah cukup pak, saya rasa tidak ada lagi."


" Kalau begitu, silahkan pulang. Trima kasih."


Rayyan ikut keluar dari ruangan, namun saat berjalan, matanya menangkap televisi yang sedang diputar oleh pihak keamanan.


Bahkan pihak keamanan terkejut melihatnya berdiri disana.


" S-se-lamat Sore pak." Dengan terbata mereka menyapa Rayyan.


" Selamat sore. Kalian kenapa?" Tanya Rayyan heran, matanya menangkap kedua sekuriti yang memandanginya dan bergantian dengan televisi yang sedang menyiarkan berita tentang kecelakaan pesawat. Bahkan nama daftar korban yang terpampang, membuatnya terpaku.


" Astaga! Aku lupa kasih kabar Mira kalau aku gak jadi pergi." Rayyan buru-buru berlari ke mobil, mencari hp yang ia tinggal disana.


Ia mulai menghubungi Mira, tapi tidak ada jawaban, karena Mira tak sempat membawa hp saat dijemput oleh Dony.


Dia langsung menghubungi Mathew.


Cukup lama ia menunggu jawaban, hingga hampir putus, baru terdengar suara jawaban.


" Met......"


" Mas Rayyan dimana? Mas Rayyan baik-baik saja kan? Mas Rayyan selamat kan? Mas Rayyan gak terluka kan? Mas Rayyan, jawab, kok diem aja......?!" Pertanyaan bertubi-tubi yang dilontarkan Mira membuat Rayyan merasa bersalah, apalagi suara isak tangis Mira terdengar jelas.


" Yank, kamu dimana?"


" Yank... Yank.... Dasar peyang lu Ray, pulang! Kita ketemu dirumah oma." Suara Mathew terdengar emosi.


Dan Rayyan tahu pasti apa yang akan terjadi selanjutnya. Bergegas masuk mobil, melaju menuju rumah mama Sarah, membatu bi Ijah menyiapkan menu makan malam. Supaya ketika mereka pulang nanti, sudah ada makanan. Atau malah dia yang akan jadi santapan? Hanya pasrah yang bisa dilakukan sekarang, karena memang salahnya yang sudah membuat semua orang kawatir.


๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”น๐Ÿ”น


Peace โœŒjangan marah sama otornya ya ๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰