
" Mas, tolong sebentar."
Rayyan langsung memakai pakaiannya dengan tergesa, menghampiri Mira anak-anak yang sedang bermain di kasur.
" Lebih baik kasih mbaknya aja, daripada pada ilang lagi."
Rayyan menggendong si kembar di sisi kanan dan kirinya. Sambil keluar kamar, dia memanggil susternya anak-anak.
" Titip ya mbak."
Rayyan menyerahkan si kembar ke pengasuhnya, kemudian masuk lagi ke kamar.
Mendengar suara di dalam kamar mandi, Rayyan segera menghampiri Mira yang ada di dalam sana.
Hoek...
Mira kembali memuntahkan makanan yang baru 15 menit yang lalu masuk ke perutnya.
" Yank, kamu kenapa?" Rayyan memperhatikan wajah Mira yang pucat, dan sisa air yang masih menempel di wajahnya.
" Mual, perutnya rasanya gak enak banget.... Hoek." Lagi, Mira langsung mengeluarkan sesuatu dari dalam perutnya, tapi sekarang hanya cairan berwarna kuning yang keluar.
" Kita ke rumah sakit ya?" Rayyan panik.
" Kan ada Ajeng."
" Ok, mas panggil Ajeng. Kamu istirahat dulu. Bisa jalan gak?" Rayyan mengulurkan tangan untuk membantu Mira yang sempoyongan.
Takut Mira malah terjatuh, Rayyan mengambil tindakan cepat dengan menggendong Mira agar segera sampai di kasur.
" Minum dulu." Rayyan memberi Mira air hangat sebelum akhirnya dia keluar mencari Ajeng.
Sementara itu, di kamar depan
Sepasang suami istri tengah berpelukan mesra memandangi pemandangan luar jendela. Anak sedang bermain bersama si kembar dan suster, dan masih bisa dilihat dari dalam kamar.
" Mas, orang tuamu apa semengerikan itu?" Tanya Ajeng.
" Jangan bahas mereka disaat kita sedang berdua." Wajah Mathew bertumpu di kepala Ajeng. Karena tinggi badannya yang menjulang dan Ajeng hanya sebatas dagu, dia bisa dengan mudah meletakkan wajahnya disana.
" Tapi suatu saat Mira berdua pasti akan menghadapi mereka kan?"
" Hmmm."
" Pikirkan itu saat tiba waktunya, jangan sekarang."
Ajeng terdiam, namun seketika suara ketukan pintu membuat pelukan keduanya terurai.
Mathew segera membuka pintu diikuti Ajeng yang berdiri di belakang.
" Mira muntah-muntah." Nada panik suara Rayyan membuat Ajeng harus segera bertindak.
Berprofesi sebagai dokter dan dipercaya menjadi dokter keluarga Aquino bersama dokter Tomy, membuat Ajeng harus siaga setiap saat.
Segera dia membongkar tasnya, mengambil stetoskop dan berlari keluar menyusul Rayyan.
Di kamar yang ditempati Mira, Ajeng melihat wajah Mira yang pucat terpejam.
" Padahal tadi dia baik-baik saja." Ajeng memasang alat dikedua telinganya dan segera melakukan pemeriksaan.
" Tensinya turun." Ajeng menyebutkan angka 90/60 diakhir kalimatnya.
" Mungkin dia kacapekan."
" Sebaiknya biar dia beristirahat dulu."
" Mir." Ajeng mengguncang tubuh Mira, tetapi dia hanya bergumam sebagai jawabannya.
" Minum obat dulu, baru tidur."
Tetapi Mira tak kunjung membuka matanya.
" Kalau aku bangun, rasanya berputar-putar Jeng."
" Gejala vertigo." Ajeng segera keluar dari kamar menuju kamar yang dia tempati, mencari obat yang dibutuhkan untuk mengobati Mira. Setelah ketemu dia segera kembali.
" Minum ini dulu, lalu istirahat." Ajeng meracik obat, lalu membantu Mira meminum obat itu.
Rayan tak karuan, pikiran diliputi kepanikan atas kondisi istrinya.
" Dengan istirahat, Mira akan segera membaik pak."
Mathew berlari keluar saat mendesah suara tangisan Khansa. Ajeng ikut terkejut, namun sigapnya Mathew membuatnya tenang, sambil ikut berjalan keluar dari kamar ingin tahu apa yang terjadi dengan anaknya hingga menangis.
" Ulatnya nakal ya..." Mathew yang mengetahui sebab anaknya menangis langsung mengusir ulat kecil yang menempel di baju Khansa.
" Saya mau bantu buang gak boleh pak, mama sama bapak." Jelas suster si kembar.
" Gak papa mbak, terima kasih." Mathew segera membawa Khansa masuk ke rumah, Ajeng bertanya dari tatapan matanya.
" Ada ulet tadi di bajunya."
"Oh.... Dedek takut ulet ya, sama dong kayak mama." Ajeng menghibur Khansa yang mengulur tangannya minta gendong.
" Takut kehilangan!" Bisik Mathew seraya mengangsurkan Khansa.
" Maksudnya?" Ajeng bingung apa maksud ucapan Mathew.
" Takut kehilangan ulet kasur." Mathew tergelak.
" Apaan sih!" Ajeng melengos, langsung melewati Mathew begitu saja menuju kamar Mira.
" Ish... ish... ish, gak tau malu! Diempet kenapa Met!" Rayyan menggeleng.
" Iri kan lu! Bini lu masih terkapar. Ngalamat gak dapet jatah!" Ejek Mathew.
" Pengertianlah, masak iya bini lagi sakit masih aja minta jatah." Rayyan melongok dari jendela untuk melihat anak-anak yang masih bersama para suster di taman.
" Mudah-mudahan cepet sembuh." Masih dengan nada mengejek Mathew mendoakan.
" Amin." Rayyan mengangguk.
" Lu tuh, pikirannya kesana mulu, gue aduin kelakuan lu waktu masih bujang kemarin. Tau rasa lu!"
" Janganlah Ray, ntar lu ada temennya nyolo."
" Makanya jangan cari masalah!" Rayyan mendengus.
" Yang mau nyolo juga siapa? Gue yakin bisa nahan sampai bini sembuh."
" Yakin lu!"
" Yakinlah, rasa cinta gue lebih besar ketimbang nafsu gue."
" Lagak lu!" Mathew mencibir.
" Ntar liat istri telentang, bangun si ucil."
" Berartikan masih normal. Catat ' MASIH NORMAL!' " Rayyan tak mau kalah.
" Gue jadi curiga sama lu Met." Rayyan mengamati Mathew, membuat Mathew bingung.
" Gue kanapa?"
" Jangan-jangan aslinya ucil lu yang gak bisa bangun walaupun bini lu telanj...."
" Mulut lu dijaga!" Mathew langsung membekap Rayyan sebelum Rayyan selesai bicara.
Begitu bekapannya terlepas, Rayyan langsung tergelak.
" Punya gue sensitif ya, jangan menghina!" Mathew jelas tak terima.
" Buktiin segimana tokcernya ucil lu! Target bulan depan bikin si Ajeng tekdung." Tantang Rayyan.
" Khansa masih kecil Ray. Kerjaan gue gak kayak lu, bisa diatur sesuka hati. Lu tau sendiri kayak mana kerjaan di kantor. Masih untung gak banyak lemburnya, jadi gue masih bisa bantu Ajeng ngurus Khansa."
" Cari suster buat Khansa." Saran Rayyan.
" Di rumah gak ada orang, gak bisa gue ninggalin anak sama suster tanpa pengawasan."
" Bukan gak percaya, tapi kalau masih orang di rumah, setidaknya Khansa masih terurus dengan baik."
" Ajeng suruh berhenti kerja aja. Gaji lu apa belum cukup untuk kebutuhan kalian?"
" Bukan masalah cukup atau gak cukup Ray, gue cuma gak mau batasin geraknya Ajeng. Selama dia masih mau kerja, gue cuma bisa dukung. Kalau nanti dia mutusin mau rehat, ya aku sih seneng aja, tiap malem ada temennya."
" Yang sebenarnya mau lu yang mana? Dia kerja apa di rumah?"
" Suami mana yang gak mau disambut saat pulang kerja. Malem ada temen bicara, ada yang dengerin disaat lagi pengen curhat."
Dua laki-laki itu terus asik berbincang di ruang tamu. Tanpa disadari kalau perbincangan mereka di dengar oleh Ajeng yang berada di ruang makan masih menyuapi Khansa.
Mira tengah terlelap, jadi Ajeng lebih memilih keluar dari kamar Mira dan mengurus Khansa, karena Khansa belum makan.
Tanpa sengaja dia mendekat percakapan antara suami dan bosnya di ruang tamu dan percakapan itu menyangkut dirinya.
Berarti sebenarnya mas Mathew lebih senang kalau aku di rumah?
Sambil menyuapi Khansa, percakapan itu terus terngiang di telinganya.
Apa sebaiknya aku rehat aja ya?
Ajeng jadi dilema, karena selama ini dia dan Mathew tak pernah membahas masalah ini. Dia pikir suaminya tak masalah dengan dirinya yang bekerja.
" Ada baiknya kalian bicara, enakan diomongin kalau lu sebenarnya punya keinginan kayak gitu Met, jangan diem aja Met. Berkeluarga emang harus terbuka. Harus ngomong kalau punya uneg-uneg. Jangan disimpen, ntar meledak."
" Tapi hubungan kami sampai saat ini fine-fine aja, gak ada masalah." Sanggah Mathew.
" Sekarang iya, tapi hidup terus berjalan Met."
" Emang bener, tapi minta Ajeng berhenti kayaknya alasannya belum nemu yang pas."
" Hubungan suami istri itu jangan dibikin kaku Met, kalau emang lu mau dia fokus ke kamu sama anak ya bilang aja."
" Apa kira-kira dia mau?" Mathew ragu.
" Ajak dia bicara dari hati ke hati."
" Apa mungkin berhasil?"
" Coba aja."
" Kalau lu sama mbak Mira gimana cara bahas masalah kayak gini?"
" Dari awal kami memulai, kami sudah terbiasa terbuka, ngomong langsung mana yang suka sama gak suka, boleh sama gak boleh. Jadi kalau ada apa-apa kami enak aja bahasnya."
" Itulah kelebihan pacaran dulu sebelum nikah."
" Heleh, paling waktu pacaran mbak Mira cuma lu manis-manisin."
" Gak mempan dia sama model gituan. Orangnya aja cuek kayak gitu. Malahan nih, gue yang kena terus digombalin sama dia." Rayyan terkekeh mengenang masa-masa pacaran dengan Mira.
" Kalah pengalaman lu!"
" Emang iya, dia punya mantan, gue pacaran aja gak pernah."
" Salah lu!"
" Mau tau alasannya kenapa gue gak mau gonta-ganti pacar?"
" Kenapa emang?" Mathew memasang pendengarannya dengan seksama.
" Karena gue cuma ingin mempersembahkan cinta gue cuma sama satu orang, dan itu adalah dia, Mira Adinda!"
" Preeeeeetttttt!" Mathew berlalu masuk, itu berarti dia akan melintasi ruang makan, dan saat dia masuk, sepasang mata menyambutnya.
" Mama, dari tadi dsini?"
Ajeng mengangguk.
Berarti dia denger dong!