I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Ditinggal tidur.



Rayyan bersiap dengan team akan terbang ke Portugal besok. Jadi hari ini Rayyan sibuk. Hanya tubuhnya yang sibuk, berbeda dengan pikirannya yang terus melayang pada sosok suster pengasuh keponakannya itu.


" Sedang apa kau Mira?" Desahnya, sambil memasukkan pakaian terakhir ke dalam koper.


" Cuma tidur aja aku bisa lupa sama kamu. Mudah-mudahan semua sesuai rencana. Semangat Rayyan!" Rayyan mengoceh sendiri di kamarnya, sambil mengemas barang-barang yang akan dibutuhkan disana.


" Telpon aja apa ya? Tapi ini sudah malam."


Rayyan melihat waktu dari layar hpnya.


" Tapi kok kangen?"


Menimang-nimang, apakah ia akan menghubungi Mira, tapi takut mengganggu waktu istirahat gadis itu.


" Hubungi ajalah."


Rayyan mencari kontak bernama Encus dihpnya.


Berdering....


Detak jantungnya mulai berdebar, ketika menunggu panggilannya tersambung.


Sebenarnya dia bingung harus bilang apa, saat Mira menerima panggilan darinya, dan alasan apa yang akan ia ucapkan pada Mira saat nanti Mira bertanya ada apa, atau kenapa?


Berharap tak diangkat, namun suara diseberang sudah terdengar.


" Halo mas."


Rayyan tak langsung menjawab, karena dirinya benar-benar bingung jika ditanya alasan menghubungi Mira malam ini. Sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 22:30 wib.


" Mas?" Suara Mira kembali terdengar.


" Sudah tidur?" Akhirnya dua kata itu yang keluar dari mulut Rayyan.


" Belum. Kenapa?"


Saat inilah Rayyan kembali dibuat gugup, Mira pasti menanyakan alasan Rayyan menghubunginya. Haruskah Rayyan mengatakan bahwa ia merindukan Mira atau mencari alasan lain agar tak begitu kentara.


" Mas?" Mira memanggil lagi namanya.


" Besok saya akan berangkat."


" Besok? Memang balapannya akan dilaksanakan kapan?"


Huft.... Syukurlah dia tak tanya yang tentang tujuanku menelponnya.


Rayyan bernafas lega.


" Masih 2 bulan lagi, tapi kan harus karantina disana." Rayyan berusaha membuat nada bicaranya terdengar normal, padahal detak jantungnya benar-benar tak beraturan.


" Oh gitu. Semoga lancar ya mas dan menang pastinya. Hati- hati besok di perjalanan." ucap Mira.


" Trima kasih doanya, dan aku pastikan akan pulang dengan piala terakhir."


" Kok terakhir?"


" Ya karena ini memang balapan terakhir yang aku ikuti." Jelas Rayyan.


" Wah, gak bisa lihat mas Rayyan lagi dong di TV." Ada nada kecewa dalam ucapan Mira.


" Kan bisa lihat langsung." ucap Rayyan.


" Tapikan bukan mas Rayyan yang sedang balapan di sirkuit, yang bisa bikin tegang saat lihat aksi mas bawa motor."


Rayyan senang mendengar kalimat-kalimat Mira, seolah Mira memang begitu menantikan dirinya saat sedang berlaga dengan kuda besi miliknya.


" Kau menyukaiku?" Sebenarnya pertanyaan yang dilontarkan Rayyan bermakna ambigu, namun tidak untuk Mira.


" Sangat." jawaban penuh semangat yang diucapkan Mira, sukses membuat Rayyan tersenyum senang.


" Apalagi saat mas Rayyan bisa berada di urutan terdepan, dengan jarak yang cukup jauh dari peserta lainnya. Kadang sampai kaku perutku menunggu laps terakhir. Sayangnya musim kemarin mas malah jatuh, padahal tinggal dikit lagi nyampe finish." Ada nada kecewa dalam ucapan Mira, membuat Rayyan bertekad pertandingan kali ini harus menang dan mempersembahkan piala itu untuk Mira.


Rayyan tersenyum membayangkan bagaimana dia akan pulang dan langsung menemui Mira, memberikan piala itu untuknya.


" Mas."


Lamunana Rayyan kembali, setelah mendengar suara Mira memanggilnya.


" Masih disana?"


" I-iya." Agak gugup Rayyan menjawab pertanyaan Mira, karena dirinya malah melamun membayangkan dirinya dengan Mira.


" Mas telpon Mira ada apa?"


Aduh gimana ini? Harus jawab apa coba?


" Mas."


" Cuma minta tolong sampaikan sama Gea dan Geby, besok saya berangkat." Akhirnya Rayyan menemukan alasan yang tepat, menggunakan nama kedua keponakannya itu.


Terima kasih Geby, Gea. Nanti kita ke timezone ya kalau om pulang.


" Oh, pasti. Besok Mira sampaikan."


Keduanya kembali terdiam. Rayyan bingung akan menggunakan alasan apa lagi agar masih bisa mengajak Mira berdiskusi. Sedang Mira disana bingung karena Rayyan diam saja.


" Mas." panggil Mira.


" Ya." Hanya itu jawaban Rayyan.


Selanjutnya situasi canggung. Mira menunggu Rayyan berbicara, tapi ternyata cukup lama Rayyan malah terdiam.


" Sudah malam mas, saya mau istirahat." Akhirnya Mira mengatakan itu, karena dia tak mungkin memutuskan sambungan telpon, sedang Rayyan yang menghubungi dirinya.


" Sebantar."


Mira bingung dengan Rayyan yang memintanya menunggu, sedang dari tadi Rayyan hanya diam saja. Dan lagi, sekarang Rayyan juga masih sama. Diam.


Mira merebahkan dirinya ke ranjang. Menunggu Rayyan kembali berbicara.


Rayyan memberanikan diri mengalihkan panggilan suara ke video call. Ingin melihat wajah Mira. Entah mengapa hatinya sangat rindu dengan gadis itu.


Mira menatap layar hpnya, memandang penuh tanya. Namun dia menggeser juga layarnya, hingga wajah Rayyan terlihat.


Mira diam, tak mengatakan apapun, menunggu Rayyan berbicara lebih dahulu.


Disandarkannya hp pada guling yang ia letakkan di depan, karena tangannya pegal jika harus memegangi.


" Mas kok diem? Ada apa ya? Kalau sudah tutup aja ya telponnya! Saya sudah ngantuk."


" Jangan." Rayyan langsung mencegah agar Mira tak mengakhiri sambungan telpon.


Hatinya masih rindu, belum puas memandang wajah cantik Mira, walaupun tanpa polesan, namun bagi Rayyan itu adalah kecantikan alami yang membuatnya semakin tergila-gila.


" Kenapa sih?" Mira mulai merasa kesal. Jika tidak takut dibilang tidak sopan, ia ingin mematikan dari tadi. Namun ia tak mungkin melakukan itu. Sedangkan dirinya mulai jengah dengan Rayyan yang terus diam dan menatapnya.


Berbeda dengan Rayyan yang sedang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan lagi perasaannya. Ia menghembuskan nafas, mencoba membuat rileks perasaannya dan mencoba untuk mengatakannya lagi pada Mira.


" Mira." Panggilnya.


" Hem." Suara Mira terdengar, namun matanya seolah sudah tidak fokus dengan layar hpnya.


" Kamu ngantuk?" Tanya Rayyan, namun melihat mata Mira yang berusaha untuk tetap terbuka.


" Tidak" Hanya itu yang ia dengar, namun matanya sudah terasa berat.


" Ada apa?" Kini suaranya juga melemah.


" Aku...." Rayyan menunduk, menjeda ucapanya.


" Apa?" Suara Mira sudah tak sinkron. Karena matanya sudah mulai menutup.


Dengan keberanian, Rayyan mengatakan sambil menganggat pandangannya.


" Aku suka ka..." Kalimatnya menggantung, melihat wajah Mira yang terpejam dengan damainya.


" Yah.... Ditinggal tidur." Rayyan kecewa.


" Seharusnya aku tak terlalu lama mengatakannya." Rayyan mendengus, merutuki dirinya yang begitu lamban.


Dipandangnya wajah Mira yang tertidur dengan nyenyak, terlihat begitu damai.


Rayyan mengusap jarinya ke layar, seolah sedang mengusap wajah mulus nan cantik milik Mira.


Tak ingin kehilangan momen itu, Rayyan merekamnya. Akan ia jadikan obat penawar rindu saat dia jauh nanti.


" Love you Mira Adinda."


" Apa?!"


Rayyan tersentak, mendengar jawaban dari Mira, mengira bahwa Mira menjawab ungkapan hatinya. Namun ia kecewa, nyatanya mata Mira masih terpejam.


" Hah.... Ternyata dia mengigau."


Rayyan tersenyum sendiri. Ikut menyadarkan hpnya, menyusul Mira ke alam mimpi. Berharap bertemu disana.


" Miss you Mira, love you."


Mata Rayyan akhirnya benar-benar terpejam sekarang, tanpa sadar bahwa mata Mira sedang memandangnya dengan pandangan yang sulit diartikan.


Apa yang kau katakan? Bisakah kau ulang lagi? Agar aku tak salah mendengar!


Mira langsung memutus sambungan telpon, matanya sudah tak bisa terpejam. Pikirannya menjadi kacau setelah mendengar bagaimana Rayyan mengucapkan kalimat keramat yang sudah tak ingin ia dengar.


*Semoga ini hanya mimpi. Aku hanya tak ingin merasakan lagi perasaan sakit karena kalimat itu. Sudah cukup luka ini, karena memercayai dan mengharap dari kalimat itu, nyatanya semua hanya berakhir luka, dan luka itu seolah tak ingin sembuh, selalu menganga ketika aku kembali teringat akan akhir dari kalimat itu, yaitu kecewa.


🔹🔹🔹🔹🔹*


Selamat minggu malam ya....


Semoga tetap semangat kalian semua... 🤗🤗🤗


Babang Rayyan membutuhkan dukungan dari kalian itu... 😪😪