
Pemandangan manis, seorang baby yang tidur di atas tubuh ayahnya, membuat mata Ajeng membeku. Berdiri di pintu, berniat untuk memeriksa keadaan pasien pagi itu, sebagai bahan laporan turun jaga.
Ada perasaan haru akhirnya anaknya bisa bertemu dengan ayahnya. Setidaknya kekawatirannya berkurang satu. Sedangkan bayangan ketakutan lainnya bermunculan dipikirannya.
Bagaimana jika Dony mengetahui ini? Marahkah padanya? Seharusnya tidak, karena sejak awal, dia memang meminta Dony untuk mencari ayah dari anaknya. Dan sekarang ayah anaknya ada disini, sedang berbaring nyaman bersama sambil memeluk buah hatinya.
Dia pikir akan sulit untuk membuat pria itu mengakui bahwa anaknya adalah anak pria itu, tetapi di luar dugaan, ternyata semua di luar ekspetasinya. Bahkan dengan sendirinya pria itu mengakui bahwa anak itu adalah anaknya.
Apa semua anak dari wanita yang ditidurinya, dia akui? Lalu berapa banyak anaknya diluaran sana? Ah... Masa bodoh, emang apa urusannya denganku!
Ajeng melangkah masuk, diiringi oleh seorang perawat. Menghampiri Mira yang tertidur di kasur lantai, berselimutkan blazer milik Rayyan.
" Kenapa pasiennya jadi berubah?" Ajeng berjongkok, untuk memeriksa Mira.
" Di periksa dulu ya." Ucap Ajeng, lalu perawat mulai memeriksa tekanan darah Mira.
Mira hanya diam saja.
" 110/70 dokter."
" Sudah normal berarti." Jawab Ajeng.
" Aku sudah boleh pulang kan?" Tanya Mira.
" Kalau mau menetap disini juga gak papa, kerja sama aku jadi encusnya Khansa." Ajeng tertawa.
" Mana ada, ngurusin anak orang! Enakan ngurusin anak sendiri, ya kan yank." Suara Rayyan yang masih berbaring miring di sofa, sambil memperhatikan wajah Mira yang baru bangun tidur.
Tak ada jawaban dari Mira, hanya lirikan sadis, membuat Rayyan malah terkekeh.
" Apa Khansa rewel semalam?" Tanya Ajeng.
" Tanya papanya, dia yang ngurusin semalem. Aku tidur setelah si Khansa minum susu."
Ajeng melirik bayinya yang masih tertidur nyaman di dekapan Mathew.
Rayyan bangkit dari posisinya, menghampiri ranjang tempat Mathew dan baby Khansa.
" Dia memang selalu bisa diandalkan kalau hanya urusan urus mengurus."
Rayyan berlanjut, menghampiri Mira.
" Tapi kayaknya si hot daddy akan pensiun, karena sudah ada penggantinya."
" Siapa hot daddy?" Tanya Mira.
" Tuh, liat mereka."
Mira bangkit, kemudian berdiri untuk melihat ke ranjang.
" Ya ampun, manis banget. Besok kamu bisa kayak gitu gak mas?" Tanya Mira tanpa sadar, terlalu tertawa suasana, hingga omongan sampai keluar jalur.
" Gak besok, sekarang aja bisa." Rayyan menarik tangan Mira hingga tubuhnya oleng dan jatuh lagi ke kasur, dan terduduk di pangkuan Rayyan.
" Kalau mau mesraan liat tempat donk!" Ajeng bersungut, sedangkan perawat tadi hanya tersenyum.
" Iri! Bilang bos."
Mira berontak, ingin lepas dari dekapan tangan Rayyan yang melingkar di tubuhnya.
" Jangan kayak gini di depan para jomblo mas."
" Berarti kalau di belakang boleh yank." Rayyan menaik turunkan alisnya, menggoda si Mira.
Karena susah untuk lepas, akhirnya cubitan kecil di pinggang Rayyan, cukup menjadi senjata Mira agar bisa melepaskan diri. Tapi tetap saja, pergerakan Mira langsung dikunci oleh Rayyan, membuat Mira kembali duduk dipangkuan Rayyan.
" Cepet nikah aja kalian!"
Ajeng tak percaya jika mereka bisa tak tahu tempat saat bermesraan. Bahkan pikirannya kini malah menjurus pada sesuatu yang negatif melihat bagaimana Rayyan bersikap pada Mira.
Mungkinkah
mereka sudah... Ehem.... Itu urusan mereka.
" Bu dokter jangan sibuk mikirin orang, anaknya bangun tuh."
Ucapan Mira membuat Ajeng tergagap, langsung berdiri untuk melihat anaknya. Tentang baby Khansa hanya menggeliat, membuka mata sebentar, kemudian terpejam kembali.
Mathew yang merasakan gerakan di atas tubuhnya, terkejut, namun mengingat dia sudah memiliki anak, dia langsung tersenyum sambil menepuk-nepuk bok*ng si bayi, hingga makin terlelap tidurnya.
Mata yang terbuka itu kini menangkap sosok cantik yang berdiri di samping ranjang. Membuat tatapan canggung dari keduanya.
" Bisakah kau bangunkan dia? Karena ini waktunya dia bangun untuk mandi?" Pinta Ajeng.
Mathew melihat jam di dinding " sepagi ini?" Tanyanya saat melihat jam itu menunjukkan pukul 05:30 wib.
" Membiasakan anak untuk disiplin itu dimulai sejak dini, jadi apa salahnya."
Pikiran Mathew membenarkan ucapan Mira. Secara perlahan dia bangkit, dengan baby Khansa yang masih menepel. Dalam posisi duduk, Mathew memindahkan posisi baby Khansa menjadi dipangkuannya. Jemari besarnya menyentuh hidung mungil untuk mengganggu tidur bayi itu. Hanya gerakan tak nyaman, namun saat sang papa berhenti, dia kembali lagi terpejam. Lalu tangan sang papa mulai lagi beraksi, kini menoel-noel pipi merah merona seperti bakpao.
Merasa diganggu, baby Khansa akhirnya menangis. Barulah akhirnya mata bayi itu terbuka.
" Tidak apa, bayi memang begitu jika tidak merasa nyaman." Ucap Ajeng saat melihat Mathew panik.
Mira dan Rayyan hanya menjadi penonton, dengan posisi tetap sama, Mira duduk dipangkuan Rayyan, sedangkan kepala Rayyan diletakkan di samping leher Mira. Posisi yang membuat jiwa para jomblo jadi ngenes.
Ajeng meminta baby Khansa dari Mathew, seketika tangisnya perlahan mereda.
" Cup... Sayang, diganggu ya boboknya? Mandi dulu yuk.... Terus pulang."
Mathew menjadi tergelitik mendengar ucapan Ajeng.
" Kamu tinggal dimana?"
Sebenarnya Ajeng malas meladeni Mathew, tapi bagaimanapun juga dia ayah dari anaknya. Sebenci apapun dia dengan pria itu, dia harus tetap memberi kesempatan untuk dekat dengan anaknya. Toh, dia sudah melihat sendiri tadi, bagaimana pria itu begitu menyayangi anaknya.
" Di belakang kantor polisi." Jawab Ajeng, tanpa memberi spesifikasi.
Mathew bukan orang yang buta tempat, seringnya mengurusi Rayyan yang harus berpindah dari suatu tempat ke tempat lain, membuatnya untuk tanggap lokasi, situasi dan kondisi.
" Aku permisi ya." Pamit Ajeng, sambil membawa baby Khansa keluar dari ruangan.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Mama Sarah menelpon pagi itu, mengatakan bahwa mereka tidak boleh pulang ke Bogor, tetapi ke Tangerang. Mau bertanya kenapa kok disuruh pulang ke Tangerang, namun jawaban mama hanya " Ada deh".
Nyebelin tuh emang emak satu!
Tanpa menghiraukan protes dari Rayyan, mama tetap meminta mereka ke Tangerang.
" Tapi kami enggak bawa baju ma, dari kemaren aja belum ganti ini."
Alasan aja, karena semalam Mathew mencari makan malam sekaligus berbelanja kebutuhan Rayyan, termasuk baju ganti untuk Rayyan dan Mira.
" Kamu gak punya duit?" Tanya mama.
Kalau sudah begini, percuma berdebat dengan mamanya.
" Ya.... ya... terserah mama ajalah. Tapi Rayyan bikin klarifikasi dulu tentang peristiwa kemaren."
" Terserah kamu, yang penting nanti malam kalian sudah ada di rumah bu Reni." ucap mama Sarah diakhir telponnya.
" Kenapa mas?" Tanya Mira.
" Kita ke rumah ibumu, mama minta kita pulang kesana." Jawab Rayyan.
" Kenapa?" Mira menatap heran, hanya bahu Rayyan yang bergerak, menandakan bahwa dia juga tidak tahu.
" Yuk, siap-siap. Mathew gak ikut, dia mau negoisiasi sama bu dokter dulu katanya."
Mira mengangguk. Melihat ke sofa, saudara kembarnya itu masih asyik meringkuk disana.
" Bangun mas, udah siang! Pantas aja jodohnya jauh, orang suka bangkong." Ucap Mira.
" Gak ada hubungannya jodoh sama bangun tidur yank, dia capek itu, kasihan." Bela Rayyan.
Sigit hanya tersenyum senang " Ngapa senyum-senyum?!" Mira melotot, tak suka dengan cara senyum Sigit yang mengejeknya.
" Galak amat sih yank, udah buruan mandi sana." Rayyan mendorong paksa tubuh Mira untuk masuk ke kamar mandi.
" Iya... Iya bentar, kan gak ada baju, terus handuknya juga mana? Kan gak bawa apa-apa waktu kesini."
Rayyan berjalan ke sofa, mengambil paper bag dari sana.
" Ini, buruan mandi! Gantian, mau pulang enggak!"
" Sabun, shampoo, si....."
" Udah disitu semua, bawel amat sih.... cup."
Adegan yang sukses membuat Sigit berpaling, karena dia belum cukup kuat hati untuk menyaksikan adegan berbau romance, makanya lebih memilih menutup wajah dengan jaketnya.