I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Tak Ingin Kalah



Acara dinner malam itu membuat Rayyan tak tenang. Bayangan wajah Mira yang bermake up selalu hadir menghantuinya.


" Jangan terlalu posesif bos, cewek suka pria cool." Saran Mathew saat mereka berada di acara yang dihadiri seluruh team, para pengusaha, artis, dan tak kalah para top model international.


" Baby Alien." Bisik Mathew ke telinga Rayyan.


" Lihatlah bos, penampilannya so cool, jadi inceran inces cantik."


" Gue gak minat." Jawab Rayyan dengan angkuhnya. Dia menyibak berkali-kali lengannya untuk melihat waktu yang seakan melambat.


" Masih lama enggak selesainya?" Tanya Rayyan pada Mathew.


" Baru juga mulai bos." Jawab Mathew sambil memperhatikan cewek bergaun merah, berbelahan dada rendah, dengan kalung yang menjuntai sampai di tengah belahan dada.


" Refreshing bos." Mathew meninggalkan Rayyan dan menghampiri cewek incarannya sambil membawa dua minuman di tangannya.


" Minum?"


" Trima kasih." Gadis itu menerima sambil tersenyum lembut, mamerkan deretan gigi putih karena trend veneer.


" Sendiri?" Tanya Mathew.


" Sedang cari teman."


Jawaban yang ditunggu oleh Mathew.


" Sekarang?"


" He'em."


Gadis itu meletakkan tangan di pinggang Mathew, berjalan seiring dengan Mathew yang menggiringnya keluar aula. Rayyan hanya memperhatikan, sebelum akhirnya ia dihampiri oleh beberapa pengusaha yang menawarkan kontrak kerja sama. Tentu saja diluar area balap, Rayyan dengan senang hati menerima asalkan masih berbau otomotif.


" Ini kartu nama saya. Jika sudah tidak aktif berpacu dilintasan, kita bisa mulai berpacu di bisnis bung."


" Tentu saja, dan ini kartu nama saya, dan nama perusahaan keluarga saya di Indonesia." Ucap Rayyan.


" Mr. Johan?" Sang pengusaha meneliti nama perusahaan yang tertera di kartu yang diberikan oleh Rayyan.


" He's my daddy."


" And we're best friend." Jawab Rayyan dengan bangga, karena bertemu dengan sahabat papanya.


" Oh ya." Rayyan ikut terkejut, tapi dia senang ternyata perusahaan itu mendunia. Selama ini dia tak begitu peduli dengan usaha papanya yang ditangani oleh Jonathan.


" Kami sempat bekerja sama saat Johan ada di Europa, sayangnya dia lebih memilih ikut istrinya ke Indonesia dan mengembangkan pusat usaha disana."


" Begitulah." Jawab Rayyan.


" Ok, kalau begitu silahkan dilanjut. Saya ke yang lain dulu." Pamit sang pengusaha pada Rayyan. Mereka berakhir dengan berjabat tangan, kemudian Rayyan bertemu lagi dengan pengusaha yang bergerak dibidang entertainment, menawarinya bermain film bergenre action, sebagai pemeran utama. Sayangnya Rayyan tak begitu minat dengan akting.


"Jika lawan mainnya Mira, aku pasti mau. Sayangnya harus dengan aktris Bollywood. Big no!" Rayyan bergumam sendiri, sambil tersenyum dan menghampiri beberapa rider lainnya. Hingga ia punya celah untuk menyendiri di balkon samping aula. Ia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya dan menghubungi Mira.


" Iya mas." Jawab Mira dengan suara lemah, sepertinya dia sudah tidur.


" Sudah tidur?" Tanya Rayyan.


" Kebangun." Jawab Mira.


" Mas malah belum balik." Ucap Rayyan.


" Ya udah diselesain dulu." Kata Mira.


" Bosen, pengen cepet pulang."


" Hehehe...." Mira tertawa.


" Kok ketawa?" Tanya Rayyan.


" Lihat film lucu."


" Oh, kirain ketawa kenapa."


" Tadi ketiduran sambil lihat TV, eh malah tvnya yang lihat orangnya tidur."


" Capek kerja seharian kali. Tadi pulang jam berapa?" Tanya Rayyan.


" Jam 5."


" Naik apa?"


" Dijemput mas Dony."


" Udah makan?"


" Udah tadi sama oma sebelum pulang."


" Gak makan lagi?"


" Lupa beli stok makanan."


" Bilang aja sama Dony."


" Udah malam ini mas, besok ajalah. Jugaan enggak laper."


" Beneran?"


" He'em."


Obrolan meraka terjeda sejenak, karena Rayyan didatangi oleh seorang model yang sempat membawakan payung saat menjelang balapan.


" Hey... Rayyan Aquino ya?"


Rayyan mau tak mau menjabat tangan model itu, tapi menolak menautkan pipi seperti yang dilakukan oleh yang lain.


" Sendiri?" Tanya model itu.


" Saya sedang berbicara dengan seseorang." Rayyan menggerakkan hp ditangannya.


" Oh sorry, mengganggu."


" Tidak apa." Jawab Rayyan membiarkan model itu undur diri dengan raut wajah kecewa.


Mira terdiam mendengar percakapan singkat di seberang.


" Siapa mas?" Tanya Mira, dia penasaran, tepatnya perasaannya yang tak nyaman mendengar Rayyan berbicara dengan seorang perempuan.


" Sepertinya salah satu model, mas enggak begitu paham." Jawab Rayyan.


Mira terdiam mendengar jawaban Rayyan. Hatinya berdenyut, merasa nyeri. Tak dipungkiri dia merasa cemburu, apalagi Mira sangat paham dunia Rayyan yang dikelilingi wanita cantik dengan label high class.


" Yank, kok diem." Tanya Rayyan yang sadar Mira tak menanggapi ucapannya.


" Ngantuk." Jawab Mira.


" Ngantuk apa ngantuk?"


Mira diam lagi.


" Mas kok malah milih Mira? Disanakan banyak cewek cantik."


" Kamu cemburu?"


" Enggak." Mira buru-buru menyanggah pertanyaan Rayyan.


" Kenapa gak cari dari kalangan meraka?" Terdengar nada rendah dari ucapan Mira, seolah tak percaya diri.


Rayyan tak menjawab, melihat sebentar ke jam yang melingkar ditangannya.


" Mas kembali ke hotel dulu ya, sudah mulai bubar ini. Nanti mas hubungi lagi kalau sudah sampai." Kata Rayyan.


" Hem."


Mira tak begitu berniat, dan langsung meletakkan hp sebelum Rayyan mengakhiri panggilan.


Hatinya panas, membayangkan Rayyan berada di antara para wanita. Dan ada perasaan rendah diri jika membandingkan dirinya dengan asal dan pekerjaan para wanita yang mengelilingi Rayyan. Yang pasti dia merasa tak percaya diri, setelah mendengar sendiri Rayyan dihampiri oleh wanita yang berkarir sebagai model, yang pasti bukan model kelas bawah yang ada disana, secara Rayyan sendiri bergelut dibidang yang mendunia.


Mira bangun menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya, kemudian melihat bayangan wajahnya dicermin.


Bagaimana bisa kamu bermimpi mendapatkan hati seorang yang bagaikan langit, dan kamu sendiri hanya debu yang berada di bumi Mira.


Tak dipungkiri Mira mulai pesimis dengan perasaannya. Dia berjalan lunglai mengambil air minum, menegaknya dan berakhir dengan duduk di pembatas antara balkon dan ruang makan yang hanya terhalang kaca.


Apa ini nyata, atau hanya ilusi jika seorang Rayyan Aquino memilih gadis desa sepertiku. Sedangkan disana banyak bintang bertaburan dengan cahaya yang menyilaukan.


Tak berselang lama, hpnya kembali berdering. Mira beranjak masuk ke kamar untuk mengangkat panggilan dari Rayyan.


Ia tak langsung bersuara, membiarkan suasana hening beberapa lama. Hingga Rayyan mengubah panggilan suara ke video call.


Rayyan memperhatikan raut wajah Mira yang murung.


" Hey... Kok diem? Mas baru sampe ini."


Rayyan melepas jasnya dan menggantung di tempat yang sudah disediakan oleh Mathew.


Mira hanya diam memperhatikan setiap gerakan Rayyan yang kembali dengan mengenakan kaus putih polos dengan celana panjang yang belum dilepas.


" Yank, kenapa sih?" Tanya Rayyan. Dia tak nyaman dengan aksi diam yang dilakukan Mira.


" Apa mas ada salah?" Tanya Rayyan lagi, Mira hanya menggeleng.


" Terus kenapa kok diem?"


" Enggak papa." nada suara Mira yang terdengar berat, membuat Rayyan menghela nafas.


" Apa gara-gara wanita tadi?" tebak Rayyan. Mira menggeleng.


" Terus kenapa? Bilang dong yank, jangan diem aja!" Tentu Rayyan jadi bingung dengan perubahan sikap Mira yang tiba-tiba.


Hingga cukup lama mereka saling diam. Rayyan menunggu Mira berbicara, namun Mira malah bertahan dengan aksi diamnya, membuat kesabaran Rayyan terkikis sedikit demi sedikit.


" Yank...." Lembut suara Rayyan memanggil Mira, Mira menunduk.


" Kamu diem gara-gara wanita tadi kan?"


" Dengarin baik-baik ya. Jangan pernah ragu sama mas walaupun banyak wanita seperti mereka disekitar mas. Mereka sudah ada dari dulu sebelum kita kenal, dan selama mas ada di dunia seperti ini, ya meraka itu pelengkap dalam dunia seperti ini. Tapi nyatanya mas lebih memilih kamu, bukan mereka. Kalau mas mau, mas bisa mendapatkan yang seperti mereka dari dulu. Tapi mas tidak terpikir untuk menjadikan mereka teman atau menjalin kedekatan dengan mereka."


" Tidak ada satupun wanita, bahkan belum pernah ada yang berani mendekat, karena mas tidak memberi peluang untuk mereka mendekati. Jadi jangan berpikir mas akan tertarik dengan mereka. Satu perempuan yang bisa membuat mas yakin itu cuma kamu."


" Tapi Mira cuma gadis desa mas." Sanggah Mira.


" Tapi kamu masih tinggal di bumi kan?" Tanya Rayyan.


" Selama kamu masih menginjak bumi, berarti tidak ada beda kamu dengan mereka, walaupun kamu dari desa mereka dari luar negeri. Kecuali kalau kamu tinggal di khayangan, baru mas berpikir ulang untuk dekat kamu."


" Yank... Buang jauh- jauh pikiran kayak begitu. Percaya hati mas cuma buat kamu. Kalau kamu ragu, tidak ada gunanya mas bicara banyak-banyak. Intinya mas cuma mau kamu, mau habiskan sisa hidupku sama kamu. Itu kalau kamu mau, kalau kamu enggak mau ya mas bisa apa."


" Mas serius?"


" Apa aku meragukanmu? Bukti apa yang kamu minta biar bisa menyakinkanmu?"


Mira menggeleng " Cukup jaga hati mas disana." Jawab Mira kemudian.


Rayyan tersenyum " Apa kamu cemburu karena tadi?"


" Bukan cemburu, tapi minder."


" Jangan pernah berpikir seperti itu lagi!" Pinta Rayyan.


" Mereka juga manusia."


" Mereka cantikkan mas."


" Cantik, tapi bukan tipe mas. Cantikkan kamu, apalagi tadi waktu kerja, bikin mas gak fokus tahu."


" Ish... Apaan sih mas ini." Mira tersipu, membuang pandangannya ke samping.


" Nah gitu dong yank, senyum. Gak kangen apa sama mas?"


Mira menatap lagi layar hpnya dan melihat Rayyan yang menatapnya dengan tatapan sendu.


" Miss you."


" Miss you too." Balas Mira.


" Love you."


" Love you too."


" Emmuach."


Mira langsung menutup wajahnya dengan bantal, tak ingin melihat Rayyan yang tersenyum penuh arti sambil menunggu Mira membuka bantal.


Cukup lama, Mira berpikir Rayyan sudah memutus panggilannya, namun dia salah. Wajah Rayyan masih setia menunggunya dengan senyum menawannya, membuat Mira ingin menutup kembali wajahnya.


" Stop!" cegah Rayyan, Mira berhenti.


" Apa?" Tanya Mira.


" Emmuach."


Mira kali ini tak ingin kalah, dia diam sejenak memperhatikan Rayyan yang masih tersenyum.


" Udah senyumnya."


Rayyan seketika berhenti, bahkan kini bingung dengan espresi Mira yang tak terpengaruh dengan kiss jarak jauhnya.


" Kenapa?" Rayyan bingung karena Mira bertahan dengan diamnya, hingga sesuatu tak terduga membuatnya tercengang....


" Mas..."


" Apa?"


Mira diam menyiapkan mental, sedangkan Rayyan diam menunggu.


" Emmuach."


Mira langsung memutus sambungan telpon setelah selesai dengan kiss jarak jauhnya, sedangkan Rayyan malah bengong dengan mulutnya yang terbuka..... Merasa sesuatu seolah berhenti dalam sebuah adegan yang selalu membayang disaat Mira membalas ciumannya, yah walaupun jaraknya jauuuuuuhhhhhh pake banget, tapi bungannya bermekaran dalam bayang-bayang seoarang Rayyan seolah nyata.


🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹


Trima kasih kopinya, buat temen otor ngetik satu part lagi malam ini..... Semoga besok pagi kalian bangun suasana hatinya membaik setelah membaca part edisi gulali kali ini....


Luv you all


Fillia 😍😍😍