I LOVE YOU, ENCUS

I LOVE YOU, ENCUS
Amazing!



Indonesia


Menjalani kehidupan yang normal setelah mereka kembali ke Indonesia.


Rayyan tak lagi sibuk untuk persiapan di sirkuit, hanya sesekali saja menjadi bintang tamu di acara perlombaan di dalam negeri untuk memberi masukan pada para rider junior.


Sesekali ke kantor hanya jika penting, jika tidak terlalu urgent dia lebih mempercayakan pada pengelola. Bahkan kini Mathew sudah memegang penuh usahanya, jadi dia tinggal menunggu saja dan lebih banyak di rumah bersama sang istri serta calon buah hati mereka yang sudah menginjak usia akhir semester pertama di dalam perut Mira.


Muntah tiap pagi, tidak bisa mencium aroma yang tidak disukai, dan parahnya tidak bisa makan nasi, daging, ataupun ikan. Jika mencium aroma salah satu dari ketiga jenis itu, otomatis semua yang masuk ke dalam perut akan keluar.


Terkadang Rayyan sampai tak tega melihat kondisi sang istri yang terlihat begitu lemas setelah mengeluarkan isi perutnya.


Pernah suatu kali, Rayyan memaksa Mira makan nasi, tetapi baru mencium saja Mira langsung berlari ke kamar mandi.


Harus bagaimana kalau begini?! Apa karena proses pembuatannya di luar negeri, sehingga anaknya menolak makan nasi?


Tapi kenapa daging juga tidak mau?


Rayyan berharap pada waktu tertentu Mira akan merengek minta sesuatu, tetapi itu tak kunjung terjadi.


" Makan ya yank."


Mira hanya menggeleng.


" Mau makan apa? Kepengen apa gitu?"


" Jeruknya masih kan? Itu aja!"


Sudah kesekian kalinya Mira menyantap buah masam itu, membuat Rayyan makin bingung.


" Jeng, gimana ini? Mira tetep enggak bisa makan nasi." Rayyan berkonsultasi via telpon pada Ajeng.


" Makanan apa yang bisa masuk?" Tanya Ajeng.


" Cuma sayur rebusan, sama tadi dianter ubi sama mama, dia makan itu aja. Sekarang makan jeruk untuk yang keentah berapa kali."


" Dia bisa makan ubi?" Tanya Ajeng.


" Bisa."


" Muntah enggak?"


" Mual pengen muntah enggak yank waktu tadi makan ubi?"


" Enggak, kenapa?" Jawab Mira sambil mengupas jeruk.


" Ajeng tanya."


" Enggak kok, biasa aja."


" Itu berarti nasinya bisa diganti dengan umbi-umbian." Ajeng menyimpulkan.


" Singkong, ubi ungu itu baik untuk ibu hamil. Kalau makan sayur mau enggak dia?"


" Sayur enggak masalah, yang penting bumbunya enggak berlebihan, cukup kasih garam aja, udah seneng dia."


" Tiap hari cuma makan sayur bening cemplung. Apa itu cukup?"


" Gak masalah, yang penting sayurnya variasi jangan cuma itu-itu aja."


" Kalau enggak minum susu?"


" Asalkan ada makanan lain yang masuk tidak apa-apa. Ibu hamil punya bawaannya sendiri-sendiri. Dipaksa juga tidak bisa. Yang sabar." Ucap Ajeng.


Rayyan lega setelah konsultasi dengan ahlinya, walaupun Ajeng bukan dokter kandungan, setidaknya dokter umum juga mengetahui sedikit banyak tentang kehamilan.


Bukan tidak mampu untuk membawa ke dokter spesialis, hanya saja keadaan Mira masih dibilang cukup normal dengan pengawasan Ajeng dan Tomy. Hanya saat kontrol saja, Rayyan dan Mira baru bertemu dengan dokter kandungan.


" Jangan lupa besok jadwal kontrol, udah aku daftarin lho."


" Ok, makasih ya."


" Ok."


Rayyan tersenyum melihat Mira yang sedang asyik dengan jeruk berkulit hijau itu, dia ikut duduk di samping Mira.


" Seneng banget makan yang acem-acem anak papa." Rayyan mengelus perut Mira yang terlihat sedikit menonjol.


" Beli lagi yuk jeruknya, udah mau habiskan. Sambil jalan-jalan." Ajak Rayyan.


" Mau... Tapi beli nasi padang ya."


" Kan enggak bisa makan nasi yank, entar muntah lagi lho."


" Gak tau, pengen aja makan nasi padang yang di rames mas, yang langsung di campur sama kuah rendang sama sambel cabe ijo. Kayaknya enak banget."


" Kuah rendang juga bau daging, nanti muntah lho." Rayyan masih mengingat jelas bagaimana Mira langsung menolak saat berhadapan dengan daging.


" Pengen makan itu, tapi kalau enggak boleh ya enggak papa." Mira berdiri, meninggalkan Rayyan yang jadi bingung.


Sensitifnya keluar, harus ngalah Ray.


Akhirnya Rayyan mengalah, mengiyakan permintaan istrinya, dengan syarat makannya dibawa pulang. Dia sudah membayangkan bagaimana harus berada di tempat makan umum dengan banyaknya orang yang berkunjung. Apalagi dengan menu yang semua pakai santan, itu jelas jauh dari kata sehat. Tetapi demi sang istri dan buah hati, dia berangkat juga mencari yang diinginkan istrinya.


Mengemudi mobil, mencari restoran padang yang kira-kira terlihat bersih dan sepi namun saat mobilnya akan berbelok, Mira mencegah dan meminta melaju menuju restoran padang yang berada di dekat jalan yang terlihat ramai. Tak ada pilihan, Rayyan hanya bisa menghembuskan nafas agar bisa sabar.


" Aku ikut turun." Mira ikut membuka pintu mobil, kemudian melangkah turun.


" Seharusnya di mobil aja, banyak orang itu di dalam." Ucap Rayyan kawatir.


" Pengen lihat menunya." Tunjuk Mira pada etalase tempat penyimpanan beberapa menu khas padang.


Mengalah lagi, akhirnya Rayyan menggandeng tangan Mira membawa masuk ke dalam rumah makan itu.


Bukannya duduk, Mira malah memesan sendiri makanan untuknya, menunjuk apa yang dia inginkan, dan anehnya dia tidak masalah dengan aroma masakan yang tercium, padahal sangat pekat.


" Mas enggak mau?" Mira menatap pada Rayyan yang hanya diam, menggeleng hanya sebagai jawaban karena dia sendiri sebenarnya tak rela istrinya makan di warung pinggir jalan.


Sesekali tak apa Ray, mumpung mau makan. Dia mencoba untuk menasehati diri sendiri.


Begitu sudah mendapatkan sebungkus nasi padang, mereka kini menyusuri jalanan menuju mall untuk membeli jeruk, tetapi saat melewati toko buah di pinggir jalan, Mira lagi- lagi minta berhenti.


" Cari yang di dalam ruangan ya, jangan yang terbuka." Rayyan menentukan pilihan, Mira mengangguk.


" Enggak beli apel, anggur atau yang lain?" Tanya Rayyan saat Mira sudah mendapatkan sekresek jeruk berbobot 3kg itu.


" Enggak, ini aja." Mira menunjuk butiran jambu kristal di samping apel berwarna merah.


" Ini mau enggak?" Rayyan memperlihatkan buah mangga.


Mata Mira langsung berbinar, mulutnya serasa tak sabar untuk mencicipi rasa dari buah itu.


" Mau."


" Mbak, ada yang masih mengkal enggak? Atau yang mentah sekalian." Pertanyaan yang membuat Rayyan langsung luruh, niatnya ingin Mira makan buah yang manis, malah mintanya lagi-lagi yang bisa membuat air liurnya menetes, dan giginya ngilu hanya dengan membayangkan saja.


" Sudah."


" Hmmm."


" Pulang."


" Iya, laper." Jawab Mira.


Mereka keluar dari toko dengan membawa satu plastik besar berisi buah berasa asam, dan itu membuat Rayyan menggeleng.


Betapa anehnya ibu hamil, sabar Ray, biarkan saja!


Dan keanehan itu berlanjut begitu mereka sampai di rumah.


Mira mengambil piring sendiri, langsung meletakkan nasi padang di atas piring tanpa menuangkan isinya.


Begitu selesai mencuci tangan, Mira langsung menyuap dengan lahap makanan bernama nasi padang itu.


Rayyan sekali lagi hanya manatap heran dan tak percaya.


" Enggak mual?" Tanyanya.


" Enggak." Mira menyuap lagi nasi, memasukkan ke dalam mulutnya tanpa rasa mual atau muntah.


" Itu daging kan?"


" Hem, rendang." Jawab Mira, dia menyendok potongan kecil lalu melahapnya.


" Enak, mas mau?"


Rayyan menggeleng lagi " Untukmu aja, biar dedeknya sehat. Mau lagi enggak?"


Ada rasa lega bisa melihat istrinya makan dengan lahap makanan yang sudah lebih dari satu bulan tak bisa dimakannya, bahkan satu porsi nasi bungkus itu kini tandas tak tersisa.


Wow! Benar-benar amazing! Benar-benar aneh- aneh kelakuan ibu hamil.