
Gantian Mira sekarang yang menggila di dalam kamarnya. Mengingat bagaimana Rayyan menggodanya, membuatnya merasa panas menjalari pipinya dan relung hatinya seakan terasa membuncah. Bayang-bayang wajah Rayyan seolah tak ingin hilang dari pelupuk matanya. Menari di setiap hal yang ia lihat.
Ya Tuhan, kenapa rasanya seperti jatuh cinta lagi. Apa benar aku sudah mulai mencintainya?!
Mira menggerak-gerakkan kakinya dan kadang menutup membuka wajahnya dengan bantal.
Mira mengambil kembali hp miliknya. Membuka akun media sosialnya. Mencoba mencari nama Rayyan di laman pencarian. Sayang ia tak bisa menemukan apapun disana.
Kok gak ada ya? Masa iya, orang sekelas dia gak punya akun?
Mira menggerutu sendiri sambil mencari kemungkinan lain dengan mencari nama yang mungkin dipakai Rayyan. Namun nihil, tidak ada sama sekali akun bernama Rayyan, Rayyan Aquino, ataupun Aquino.
Susah benar cari info orang terkenal. Dimana ya?
Baru mau membuka YouTube untuk melihat aksi balapan Rayyan disana, tiba-tiba sistem error walaupun jaringan penuh tetapi tidak bisa untuk membuka apapun.
" Kenapa gak bisa dibuka sih!" Gerutu Mira.
Mencoba lagi membuka situs lain yang mungkin bisa dibukanya, namun sama semua, hanya bulatan melingkar-lingkar yang nampak.
Mira mengecek sisa paket data.
" Ya ampun, ternyata habis!" Mira meletakkan begitu saja hp yang tak memiliki nyawa itu. Melirik benda itupun ia enggan.
Kenapa harus habis disaat yang tidak tepat sih!
Beginilah kalau cinta berat dipaketan, habis rasanya pengen nangis.... Hixs.... Hixs.....
Karena malam semakin larut, akhirnya Mira memejamkan matanya. Menunggu esok pagi, berharap cepat datang agar bisa segera membeli paket data.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
" Andre mana bu?"
Mira menghampiri ibunya yang sedang memasak di dapur. Ibu menoleh ke arah anak gadisnya yang masih terlihat kusut, dengan rambut yang digelung sembarangan.
" Sudah berangkat sekolah, baru aja." Ibu melanjutkan kegiatannya memotong terong untuk membuat sayur lodeh.
" Emang sekarang jam berapa sih?" Mira keluar dapur, melihat jam dinding di ruang tv.
" Ya, ampun kok udah jam 7 aja, pantesan Andre udah berangkat. Terus gimana mau beli paketan?"
Rumah Mira yang terletak agak ke dalam, dan memiliki jarak sekitar 1 kilo dari counter penjual pulsa, membuat Mira enggan untuk berjalan kaki hanya untuk membeli paket data.
" Kamu kenapa?" Ibu melihat Mira berjalan lesu menghampirinya di dapur, dan langsung memegang spatula untuk menggoreng ikan kembung.
" Mau titip paket malah Andre udah berangkat." Ucap Mira.
" Nanti kalau Andre pulang kan bisa. Apa kalau enggak telpon Andre untuk beliin sekalian pulangnya." Saran ibu.
" Orang mau pakainya sekarang bu, masa iya tunggu Andre pulang sekolah."
" Emang mendesak sekali, sampai harus sekarang?" Tanya ibu.
" Ibu bilang mau bicara sama teman Mira yang menawari Mira bekerja. Semalam Mira udah ngomong, tapi ibu sudah tidur." ucap Mira.
" Ya nanti kalau Andre pulang kan bisa."
" Ya enggak bisalah bu, orang waktu dia cuma sampai jam 8 ini."
Ibu berhenti dari kegiatannya memeras santan, menoleh pada Mira yang sedang mengangkat ikan dari penggorengan.
" Sesibuk apa sih teman kamu itu Mir? Wong katanya kerja di tempat sendiri kok sampai sesibuk itu? Presiden aja kerja masih bawa hp, masa temanmu sampai tidak sempat. Lebih sibuk dari preaiden dia ya?"
Mira bingung lagi bagaimana mau mengatakan pada ibunya, kalau setelah jam 8 hp Rayyan sudah tidak ditangannya lagi, tapi managernya yang pegang. Dan dia pasti sudah sibuk dengan persiapan untuk lomba nanti sore.
Apa ibu bisa percaya, kalau aku berhubungan dengan orang yang punya kesibukan seperti itu?
" Ya sudahlah bu, besok aja."
" Ibu kok curiga, jangan-jangan temanmu itu ojek online yang harus selalu online untuk cari pelanggan, sampai gak ada waktu untuk telpon kamu saat jam kerja."
" Ibu, dia beneran punya dealer, tapi sekarang dia tidak di Indonesia. Kegiatannya terbatas, jadi dia tidak bisa bebas untuk berhubungan bahkan dengan keluarganya juga dia tidak bisa berhubungan jika sedang persiapan begini."
" Persiapan apa? Persiapan narik pelanggan?" ledek ibunya.
Mira mendesah pelan, bingung mau ngomong apa.
" Terserah ibu ajalah" Mira melongok ke tempat cucian baju, melihat mesin masih berputar.
" Belum itu, bad cover emang lama." Ucap ibunya dari dapur.
" Bu, aku mandi ya. Baju yang punya bu Araman sudah selesaikan? Mira antar ya." Mira melangkah keluar dapur.
" Sebentar, ibu mau tanya."
Mira berhenti sebelum mencapai pintu, menengok ke ibunya yang berjalan mendekatinya.
" Siapa temanmu itu? Apa dia yang sering menelponmu malam-malam?"
Mira terdiam, menatap ibunya yang memandang dirinya dengan penuh selidik.
" Iya, ibu benar." Mira mengangguk.
" Berarti dia orang kaya?" Sekali lagi Mira mengangguk.
" Dia adik dari bos Mira waktu kerja di Bogor bu." Ucap Mira terus terang.
Mira menggeleng pelan, membuat ibunya mendesah.
" Seharusnya kamu mencari orang yang sama derajatnya dengan kita. Ibu takut kamu terluka lagi, sama seperti bersama Bobby. Ingat bagaimana bu Hardi merendahkanmu gara-gara kita tak sederajat dengan mereka." Ucap bu Santi.
" Tapi dia dan keluarganya berbeda ibu." ucap Mira.
" Berbeda karena kamu hanya bekerja disana saat itu, lalu apa mereka akan tetap bersikap baik saat mengetahui kamu memiliki hubungan dengan anaknya?"
" Mira, kita hanya orang miskin. Perbedaan kita dengan mereka terlalu jauh. Pikirkan lagi, jangan hanya terbawa perasaan lalu kamu lupa bahwa kamu pernah jatuh gara-gara perbedaan itu."
" Ibu tidak tahu, nasib seperti apa yang Allah takdirkan untukmu. Kamu selalu dekat dengan laki-laki yang memiliki perbedaan ekonomi terlalu jauh. Hanya saja ibu terlalu takut jika itu membuatmu jatuh lagi. Pikirkan lagi nak. Ibu tidak melarangmu dengan siapa kamu berhubungan, tetapi banyak orang tua tak bisa terima jika anaknya berhubungan dengan orang yang memiliki derajat lebih rendah."
" Ibu.... Trima kasih ibu menghawatirkan Mira. Mira tahu ibu begini karena sayang sama Mira. Dan terima kasih karena ibu peduli pada Mira. Tetapi ibu, tidak semua orang kaya sama seperti orang tuanya mas Bobby. Masih banyak orang kaya yang memiliki hati, yang tidak memandang status dan perbedaan."
" Ibu tahu, tadinya Mira juga tidak percaya ada orang seperti itu, tapi keluarga mas Rayyan lain bu. Mereka tidak seperti itu!"
" Mereka orang kaya, lebih kaya dari orang tua mas Bobby, tapi ibu tahu? Mas Rayyan bisa sukses bukan dari orang tuanya. Bahkan dia bekerja di luar perusahaan bapaknya."
" Ibu ingin melihatnya bekerja?" Tanya Mira.
" Bagaimana ibu bisa melihat dia bekerja Mira? Sedang kita saja ada di rumah, dan katamu dia tidak ada di Indonesia. Apa dia jadi TKI di luar negeri?" Ucapan ibu Santi membuat Mira ingin tertawa, namun semua orang pasti akan berpikir sama, bahwa orang yang keluar dari Indonesia untuk bekerja di luar negeri adalah TKI.
" Nanti sore kita lihat ibu, bagaimana dia berkerja. Karena Mira yakin ibu tidak akan percaya dengan itu."
" Mira mandi dulu ya." Mira meninggalkan ibunya yang masih berpikir sendiri, penasaran siapa dan pekerjaan apa yang dimaksud Mira.
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Rayyan menghubungi Mira berulang-ulang, namun tak bisa. Bahkan pesan juga tak terkirim.
" Met, kalau nomor susah dihubungi apa masalahnya?" Tanya Rayyan pada Mathew.
" Gak aktif bisa, gak ada paket data juga bisa. Kenapa? Cewek lu susah dihubungi? Makanya jadi orang jangan pelit-pelit. Cewek butuh dimodali juga gak cuma digombali." Ledek Mathew.
" Paket data untuk apa?"
" Ya buat internetanlah, masa iya buat bedakan. Kadang lu oon pake kebangetan ya." Mathew gemes sendiri dengan Rayyan.
" Emang gak pake wi-fi?" Tanya Rayyan lagi.
" Gak semua orang bisa pasang wi-fi bos, apalagi kerjaan mereka gak harus pakai internet, mereka lebih memilih beli peketan untuk bisa internetan." Jelas Mathew.
" Dapat darimana lu info begituan?" Rayyan menyelidik ke Mathew yang malah cengengasan.
" Lu tiap hari nge-net nebeng gue." Ucap Rayyan.
" Dari kupu-kupu tangkapan gue.... Haha." Mathew tergelak.
" Mereka minta paketan sama lu?"
" Itu bonusnya Ray, mereka dapet bonus paketan 100 aja senengnya pakai banget, sampe kasih nambah 1 ronde lagi."
" Cih! Jijik gue." Rayyan mendecih, merasa ngeri dengan cara hidup manusia yang selalu setia membuntutinya kemana dia pergi, bahkan selalu siap mengatur dan memenuhi apa yang dia perlukan. Emang jadi manager harus gitu kerjanya.
" Isiin paket cewek gue!" Titahnya.
" Ini di negara orang oon, mana bisa beli paket disini?!" Ucap Mathew.
" Bilang Dony suruh beliin, kirim sekalian nomornya."
" Berapa?"
" 1 juta!"
" Buset, bisa berkali-kali nambah tuh mainnya." Mathew menggeleng-geleng, sambil ngechat Dony.
" Otak lu emang perlu dicuci." Rayyan menoyor kepala Mathew.
" Penyakitan syukurin lu, tau rasa!"
" Gue pakai sarung, main amanlah."
" Yakin lu, gak pernah lengah! Takutnya pas mabok lu gak sadar pakai apa enggak. Kasihan kan tuh cewek kalau sampai hamil anak orang kayak lu." Ucap Rayyan.
" Namanya dunia begituan Ray, kadang emang suka lengah. Mudah-mudahan aja gak ada yang
kececer benih gue."
" Gue doain ternyata benih lu ada yang tumbuh, biar insaf lu, takutnya nanti ajal gak ada yang nangisin lu."
" Jahat bener lu Ray!"
" Udah nih, paketannya udah diisi sama Dony" Mathew melihat jam di layar, dimana waktu disana menunjukkan bahwa kegiatan akan segera di mulai, dan Rayyan harus bebas dari gangguan dalam bentuk apapun.
" Sabar ya beb, AA mau action dulu." Ledek Mathew.
" Sialan lu!"
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Siapa mau paketan seharga 1 Juta?
Gigit jari sampai habis, gak bakalan dapet!