
Bermain dengan dua buah hati adalah hal yang menyenangkan.
Rayyan menunggui baby twins di dalam kamarnya saat Mira berada di kamar mandi. Seorang diri menjaga dua bayi... Ahh siapa takut!
" Besok besar jadi pembalap kayak papa ya." Bisik Rayyan pada si Azzam, bayi kecil itu malah menangis.
" Ya enggak... Enggak, kalau gak mau ya gak usah, gantiin paman Nathan aja ya, kayak pesen Opa." Ajaib, bayi itu langsung diam... Rayyan geli merasakan bayi umur 3 bulan bisa diajak diskusi, apa iya dia mengerti?!
" Kalau yang ini mau jadi apa cantik." Rayyan beralih ke baby Azzura yang malah terkekeh sambil menggapai tangan abangnya, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.
" No! Jangan, ini aja." Rayyan memberikan empeng pada baby Azzura, tetapi saat melihat baby Azzam yang terdiam mengamati empeng di mulut baby Azzura sambil menggerakkan bibir mungilnya, Rayyan langsung tertawa gemes.
" Ternyata abang pengen juga ya... Kasihlah...." Rayyan menggapai satu lagi lalu memberikan kepada baby Azzam. Keduanya sekarang seperti berlomba mengenyot dua benda yang berada di mulutnya.
" Ihh, lucu bener anak-anak papa." Rayyan menciumi satu-satu pipi yang mulai menggembul milik anaknya.
Pintu kamar mandi terbuka, si mama keluar dengan handuk melingkar di kepala, dan baju tidur.
" Mandi pa."
" Ok!" Rayyan gantian masuk ke kamar mandi.
Karena kedua anak sedang anteng, Mira hanya mengawasi sambil mengeringkan rambutnya.
" Huaaaaaa..... Huaaa..."
Satu diantara baby twins menangis, lalu disusul yang satunya lagi. Mira langsung meletakkan pengering rambut, mencabut asal kabel yang tercolok.
Anehnya dua bayi itu langsung diam, Mira ikut diam sambil berpikir.
Apa mereka takut sama suara bising dari hair dryer ya....
Mira manggut-manggut sendiri, lalu melanjutkan berjalan menghampiri kedua anaknya di ranjang.
" Anak mama takut sama suara bising ya...." Mira mengajak mereka berbicara sambil mengambil empeng yang tergeletak di kasur.
" Maaf deh, mama gak lagi ngidupin alatnya kalau kalian takut."
Mira mengecek satu-satu bagian tubuh bawah anaknya, ternyata mereka berdua pipis.
" Pantesan nangis, wong pipis." Mira mulai melepas celana baby twins, kemudian menggantikan dengan yang baru.
" Gak enak ya, gak nyaman ya... Pinternya anak mama, kasih tahu mamanya pipis pakai nangis."
Beres dengan satunya, Mira pindah ke satu lagi.
" Waduh, yang ini malah pup... Oke, kita bersih-bersih ya sayang." Mira perlahan mulai membersihkan, tetapi dia terkejut dengan si baby yang sudah beres, ternyata menyusul mengeluarkan sesuatu yang sama dengan baby yang masih dia bersihkan.
" Ya ampun! Gimana ini!" Mira jadi bingung.
" Tunggu sebentar ya sayang, mama beresin punya abang dulu." Mira memberi pengertian pada sang adik, tetapi baby Azzura adalah anak yang tak nyaman jika sesuatu di bawah sana terasa lembab, jadi dia akhirnya menangis.
Mendengar satu menangis, yang satu lagi ikut menangis.
Mira semakin bingung, mau panggil suster tidak mungkin, Rayyan sedang mandi. Biasanya Rayyan suka tak berpakaian saat keluar kamar mandi, yang ditakuti pas suster di kamar, Rayyan keluar, jadi berabe kan kalau tubuh suaminya itu dilihat mata perempuan lain.
Beruntung Rayyan segera keluar, dan benar saja Rayyan hanya mengenakan handuk yang melilit bagian bawah tubuhnya, sedangkan tubuh atasnya yang sexy terpampang jelas. Mana rela Mira berbagi pemandangan itu dengan orang lain.
" Ngapa yank." Rayyan menghampiri Mira.
" Pup."
" Bentar, mas pakai celana dulu."
Rayyan segera ke ruang ganti, secepat mungkin dia kembali dengan celana pendek tanpa baju, yang penting bukan lagi pakai handuk, agar mudah bergerak tak takut terbuka saat melorot, manampakkan belalai gajah anakkan.
Dengan cekatan dia membantu Mira membersihkan anak-anak, sehingga dalam waktu singkat kedua anak itu sudah rapi dan bersih lagi.
Mira memberikan ASI pada salah satu secara langsung, yang satu di pangku Rayyan sambil diajak mainan. Begitu pula setelah yang satu selesai, gantian yang satu lagi. Repot memang, tapi menyenangkan.
" Akhirnya mereka tidur juga." Mira ikut merebahkan tubuhnya di samping baby.
" Kasih ke suster dulu aja yank, kalau capek."
" Mas pakai baju dulu geh, masa iya mau panggil mereka mas masih telanjang gitu."
Rayyan terkekeh dengan nada bicara Mira yang seolah tak rela.
" Iya sayang, mas pakai baju dulu. Jangan kawatir, cuma kamu kok yang boleh nikmatin ini."
" Ihhh... Apaan sih mas, udah buruan pakai baju sana!"
" Iya... Iya." Rayyan masih tergelak sambil berlalu ke kamar ganti.
Mira keluar kamar membawa satu baby untuk dibawa ke kamar baby, dimana para suster ada disana.
" Mbak, tolongin ya." Mira memberikan baby Azzura yang terlelap pada suster yang mengurus baby Azzura, sedangkan baby Azzam ternyata digendong Rayyan yang menyusul setelah berpakain lengkap.
" Udah nyusu, nanti kalau bangun kasih susu formula dulu ya mbak." Pesan Mira sebelum keluar kamar.
" Iya bu."
Bukannya tak mau memberi ASI ekslusif, tapi karena dua baby yang bertambah umur semakin kuat menyusu, sedangkan persediaan ASI kadang tak mencukupi, akhirnya Mira menggunakan susu formula, walaupun jika ASI cukup dia lebih suka memberi ASI untuk baby twins.
" Mas mau makan apa?"
Mira mulai meneliti bahan makanan di dalam kulkas.
" Apa aja yank." Rayyan menunggui sambil mengecek beberapa e-mail dari kantor.
" Besok mas ke kantor kayaknya." Ucapnya setelah membaca pesan dari Mathew.
" Jam berapa?" Mira bertanya sambil menyiapkan bahan makanan.
" Agak siang, ada klien dari Jepang mau ketemu langsung. Mathew bilang jam 11."
" Gak berangkat sendiri aja, besok mas anter pulang dari kantor."
" Kan sekalian jalan mas, hemat waktu, tenaga, biaya." Ucapan yang membuat Rayyan terkekeh.
" Ngirit yank."
" Boros juga gak bagus mas." Ucap Mira.
" Iyalah... Tapi enakkan belanja sendiri kan, sekalian beli yang gak ada. Gak pengen jalan-jalan apa?"
" Mager mas, enak di rumah." Mira selesai dengan sayur, kemudian bersiap dengan mengolah lauk.
Masak ditemani suami emang bahagianya tiada tanding, apalagi dengan suami yang memeluk dari belakang, wah... Romantis bener.
" Awas kena minyak, mau masukin ikan ini." Mira memberi peringatan ke Rayyan untuk tidak mendekat, dia tahu Rayyan berdiri di belakangnya.
Otomatis Rayyan mundur, begitu ikan masuk benar saja letupan minyak dari ikan mengenai tangan Mira yang masih memegang spatula.
" Auch!" Mira mengelus kulit yang memerah terkena cipratan minyak.
" Hati-hati yank. Tadi gak dikasih tepung ya?" Tanya Rayyan sambil membantu Mira memberikan bubuk kopi di kulit tangan Mira yang terkena minyak.
" Tepung? Kok goreng ikan kasih tepung?"
" Ya biar gak lengket sama meletup kayak gini, biasanya minyaknya sebelum ikan masuk, kasih tepung, dikit aja sepucuk sendok jangan banyak-banyak."
" Kok mas malah tau sih kayak ginian."
" Ya dulu waktu di asrama, kadang dapat jatah masak seminggu sekali, jadi sedikit banyak mas bisalah kalau cuma masak."
Ide baru muncul di kepala Mira.
" Mas terusin ya goreng ikannya, sakit banget iniii." Nada suara yang mengisyaratkan rasa sakit itu malah terdengar manja di telinga Rayyan, membuat Rayyan menatap wajah yang pura-pura memelas itu dengan gemes.
Cup...!
" Gemesin banget sih, ya sudah sana duduk aja biar mas yang nerusin."
" Yes! Asyik!" Mira bersorak gembira.
Bukannya duduk dia malah ke wastafel, mencuci perkakas habis masak.
" Katanya tadi sakit, kok malah nyuci." Protes Rayyan.
" Yang sakit disini sayang, bukan jarinya, jadi aman ajah." Mira tersenyum mengejek diakhir kalimat.
" Modus!"
" Tapi senengkan di modusin. Awas gosong!"
Seketika Rayyan menoleh ke ikan yang sedang berenang di minyak panas itu, dan terlihat warna bagian bawah yang coklat tua.
" Beneran gosong ini yank, aduh gimana ini!" Rayyan gugup, dia berusaha membalik ikan, tapi karena gugup malah ikan jadi hancur.
" Sudah gosong, hancur pula." Rayyan memandang hasil karyanya yang bertengger di atas tirisan.
Mira ikut melihat hasil karya sang suami, dia hampir tergelak, tapi tak tega.
" Gak papa mas, kan masih ada bagian yang gak gosong, kita bisa pisahin kok." Mira menghibur sambil memindahkan ikan tak berbentuk ke dalam piring, kemudian menggoreng lagi ikan yang masih mentah. Menabur sedikit tepung sebelum memasukkan ikan seperti yang dikatakan Rayyan. Dan ternyata benar pemirsah, ikannya tidak meletup.
" Dipisah sama yang bagus yank, yang ini jangan dimakan." Usul Rayyan.
" Ya itu maksudku mas." Mira mengangguk sambil membalik ikan.
" Mas pikir kamu mau pilih-pilih daging gosong buat lauk."
" Makan yang ini aja." Mira membawa ikan goreng baru yang sudah matang.
Mereka kini duduk untuk makan.
" Ma kasih ya mas udah bantu masak." Ucap Mira setelah selesai makan.
" Tapi kan gagal yank."
" Enggak papa, yang penting udah usaha bantu." Ucap Mira.
" Ternyata masak itu susah juga ya, belum lagi masih kena minyak panas kayak tadi."
" Kadang motong sayuran atau bumbu juga bisa kena pisau mas."
" Pernah kena? Tadi kena enggak?" Rayyan memeriksa tangan Mira.
" Enggak, cuma kena minyak aja."
" Perjuangan berat ternyata memasak."
" Enggak berat, dibawa senang aja, apalagi kalau masakkannya di makan habis kayak gini, seneng tau mas rasanya."
" Tapi ada sedihnya juga."
" Apa?"
" Udah masak capek-capek, kena minyak panas, kadang kena pisau, eh giliran udah mateng gak dimakan. Apalagi kalau alasan gak mau makannya gak masuk akal, rasanya dongkol, jengkel jadi satu."
" Yank."
" Hmm."
" Nyindir ya."
" Enggak. Enggak salah."
" Ihh! Gak mau ngaku!"