
Bersyukurnya cinta itu baru di dalam hati, belum pernah terungkap. Jadi sakit bisa dirasakan sendiri, walaupun kecewa mendalam begitu terasa. Terima tak terima, nyatanya mereka memiliki ikatan darah yang sama.
" Dia saudara kembarmu Sigit." Bapak memperjelas hubungan Mira dan Sigit.
" Pak, bukannya bapak sudah janji tidak akan membuka rahasia ini? Bapak bilang tidak akan memberitahu Mira siapa dia sebenarnya?" Mata bu Santi menatap nanar pada mantan suaminya, sedangkan bu Reni tak terima dengan sikap bu Santi.
" Tapi saya ibu kandungnya, apakah tidak boleh tahu bahwa dia ternyata anak saya mbakyu?"
Mira mendekat ke bu Santi, mengelus lengan ibunya. Lengan yang sudah membesarkannya, lengan yang membopongnya dan menggendongnya selama ini.
" Ibu.... Jangan pernah kawatir. Meskipun aku bukan berasal dari rahim ibu, tetapi aku akan tetap menjadi anakmu." Mira tersenyum, bukan marah atau terkejut. Jelas reaksi Mira yang diluar dugaan, membuat ibu, Sigit dan Andre menatap heran padanya.
" Mira sudah tahu yang sebenarnya." Ucap Mira kemudian.
" Kamu? Sudah tahu kita bersaudara?" Sigit menatap tak percaya pada Mira. Mira mengangguk.
" Saat kecelakaan itu, semua jadi jelas. Siapa saya di rumah ini, siapa saya untuk kalian semua. Semua sudah jelas, bukan begitu pak?" Mira menatap bapaknya yang merasa bersalah, menuntut penjelasan.
" Saya bukan anak ibu, saya adalah anak yang dianggap sudah mati oleh ibu kandung sendiri, hanya karena ketidaktegasan seorang pria."
" Maafkan bapak, maafkan bapak."
" Sudahlah pak, semua sudah berlalu. Kita memang tak menginginkan semua jadi begini, tetapi tanpa sadar apa yang bapak lakukan yang mengakibatkan semua harus terjadi."
" Bapak sebenarnya kesini hanya ingin menyelamatkan seseorang dengan mengahancurkannya kan?" Mira mengalihkan padangan pada Sigit yang menatapnya penuh luka.
" Anak bapak itu terluka sekarang. Seharusnya bapak menjauhkannya, bukan memperjelas sakit dari perasaannya." ucap Mira.
" Mas Sigit, ya inilah kenyataannya. Korban dari keegoisan orang tua adalah luka untuk anak-anak."
" Perasaanmu itu dianggap salah oleh mereka, jadi mereka mencoba menyelamatkanmu agar kamu tahu bahwa tak seharusnya kamu memiliki perasaan pada adikmu sendiri. Jika saja itu tak terjadi mungkin mereka akan tetap bungkam." Ucap Mira.
" Apa kamu juga tahu kalau aku punya perasaan padamu?" Sigit menatap Mira.
" Hatiku masih cukup peka untuk melihat mas Sigit. Tapi maaf, baik dulu ataupun sekarang, saya tidak bisa menerima apapun darimu. Jika ingin marah, aku juga pernah marah, kami dirumah ini pernah marah, sakit hati dan kecewa dengan apa yang dilakukan bapak, semua sudah pernah kami alami."
" Bapak, kalau niat bapak kesini untuk mengatakan kebenarannya, semua sudah terungkap. Hati kami sudah terlanjur hancur, dan sekarang giliran dia."
" Lalu hati siapa lagi yang akan bapak hancurkan?" Mira menatap mata bapaknya dengan tatapan benci.
" Bapak tak ingin menghancurkan siapapun Mira, bapak hanya ingin kalian itu menjalin hubungan baik sebagai saudara."
" Saudara yang bagaimana yang bapak inginkan?"
" Bertahun-tahun bapak berbohong dibelakang kami. Hidup dengan mereka di belakang kami seolah kami tidak ada."
" Bapak menikah dengan ibu, tetapi bapak tinggal disana, membohongi ibu dengan alasan bekerja, tapi nyatanya bapak bahagia dengan mereka. Jangan dikira kami buta pak! Kami tahu semuanya, hanya saja kami diam."
" Lalu sekarang bapak datang, menginginkan kami hidup layaknya saudara. Ya mungkin itu bisa, tapi tidak hari ini, tidak besok ataupun kapan... Yang pasti, kami sudah terbiasa nyaman tanpa bapak."
" Seharusnya bapak menjauhkan dia, bukan malah menunjukkan pada kami bahwa dia saudara kami. Itu tidak akan merubah apapun pak! Tidak merubah apapun!" Kini Mira mulai mengeluarkan emosinya sebagai manusia. Jiwanya marah akibat kesalahan orang tua yang tidak bisa memberikan kasih sayang utuh padanya, malah meninggalkannya bersama orang lain.
" Nenek kecewa pada bapak, tetapi seharusnya bapak berbicara menyelesaikan masalah bapak sama nenek, bukan malah menambah masalah dengan menikahi ibu. Apa segitu sulitnya untuk menghadapi nenek pak?"
" Bapak melakukan itu untuk kamu Mira!" Kilah sang bapak.
" Nenek memang membawaku ke rumah ini, bukan untuk memisahkan aku dari ibuku, tetapi untuk memancing bapak datang bersama ibu, untuk meminta restunya. Tetapi bukan itu yang bapak lakukan, tetapi bapak malah berbohong pada nenek bahwa bapak sudah berpisah dengan ibu kan?"
Semua terkejut mendengar Mira berbicara mengenai nenek.
" Darimana kamu tahu itu dan menyimpulkan itu?"
" Nenek sendiri yang bilang ke Mira saat ayah diam-diam pergi meninggalkan kami setelah melecehkan ibuku, malam itu."
" Bapak tidak pernah bersikap baik pada ibu selama ini, dan Mira melihat semuanya. Hanya saja Mira diam pak, Mira diam karena ibu tak pernah mengeluh dan selalu sabar mengurus kami. Bahkan disaat ibu melahirkan Andre, bapak dimana saat itu? Bapak pergi ke rumah mereka kan?"
" Sudahlah pak, pengakuan bapak itu tak merubah apapun. Memang seharusnya bapak tak datang. Ibu besok menikah, semoga ibu bahagia dengan pak Subagio. Andre, belajar jadi laki-laki bertanggung jawab, walaupun kita berasal dari benih laki-laki yang tak bertanggung jawab, tapi kita besar dari seorang ibu yang hebat. Trima kasih ibu. Maafkan Mira jika belum bisa menjadi anak yang baik. Tapi setidaknya ajaran ibu selalu menuntun Mira tetap berada di jalan terbaik."
" Mira, jangan begitu." Ibu Santi merasa bersalah melihat sikap Mira yang terlihat begitu emosi.
" Aku baik-baik saja ibu, hanya saja terlalu banyak kekecewaan disini." Dia menunjuk sendiri dadanya yang terasa sesak.
" Mas Dony maaf, jadi menunggu Mira. Masuk dulu ke rumah." Mira mengajak Dony ke ruang tamu.
" Apa perlu ditunggu mbak Mira?"
" Maksudnya?"
" Sepertinya mbak Mira ingin kembali ke Bogor. Kalau iya, saya bisa minta ijin mas Rayyan untuk menginap sehari, sambil menunggu mbak Mira besok." Ucap Dony sambil menyeruput kopi yang disuguhkan oleh Mira.
" Saya saja yang telpon mas Rayyan, mas Dony. Tapi penginapan disini agak jauh lho mas, bagaimana?"
" Jangan kawatir mbak Mira, saya bisa mencari sendiri tempat untuk bermalam."
" Begitu. Makan dulu ya mas Dony, sebentar saya siapkan."
Mira masuk ke rumah, membiarkan Dony di ruang tamu. Bahkan juga membiarkan keluarganya tetap berkumpul di rumah samping. Dia tak berniat untuk bergabung disana.
Mira kembali dengan membawa nampan berisi makanan. Kembali duduk, sambil menunggu Dony selesai bersantap. Dia menghubungi Rayyan. Sayangnya mungkin karena sibuk, Rayyan tidak mengangkat panggilan darinya.
" Nanti saja mbak Mira, biasanya kalau jam segini mas Rayyan sibuk. Malam baru bisa dihubungi."
" Oh.. Ok!" Mira meletakkan hp ke atas meja, dan keluar karena melihat keluarga bapaknya yang keluar dari rumah samping.
" Mereka akan pulang." Ibu Santi yang mengatakan pada Mira saat mereka sudah di tenda.
Mira hanya diam, memandang kepergian keluarga itu yang menengok beberapa kali kepadanya. Bahkan bapaknya nampak berhenti, namun Mira kembali masuk ke rumah.
" Jangan begitu Mira, begitu juga dia bapakmu." Bu Santi merasa tidak enak dengan perlakuan Mira.
" Seandainya Mira boleh memilih bapak saat Mira lahir, mungkin Mira tidak akan memilihnya bu."
" Sssstttt! Jangan berkata begitu! Jangan menyalahkan bapakmu, jika tidak begini, kita tidak akan bisa bersama." Ucap ibu.
" Memang takdirnya kita bersama ibu, hanya saja caranya Mira tidak suka. Maaf Mira hanya manusia biasa. Maaf kalau Mira seperti anak kecil bu, tapi Mira masih belum bisa membuka diri menerima semuanya."
" Pelan-pelan saja, nanti kamu juga akan terbiasa."
" Ibu tidak marah sama Mira?"
" Tidak semua bisa selesai dengan kemarahan nak, tapi tidak juga selesai dengan kesabaran. Waktunya marah, silahkan marah. Tapi ingat jangan terlalu larut! Besok hari bahagia ibu, sebaiknya simpan dulu marahmu, berikan senyuman untuk ibumu."
" Ibu..... Bukannya minta kado, malah minta senyum." Mira memeluk tubuh bu Santi.
" Senyum anakku adalah kado terindah untuk ibu. Tapi kalau mau kasih kado, ibu juga tidak menolak."
Mira meraba saku jaketnya, mengeluarkan kotak kecil dari dalam sana.
" Besok dipakai ya bu. Ini hadiah dari Mira sama Andre." Mira menyerahkan kotak kecil itu pada ibunya.
" Jangan pandang isinya, pandang niat kami yang memberinya."
" Ibu tahu. Terima kasih sayang." Ibu memeluk lagi tubuh Mira.
" Aku anakmu kan bu?"
" Selama kamu menganggap ibu ini ibumu, selama itu pula kamu tetap anak ibu.
" Luv you ibu."
" Luv you my SON."
Mira seketika melepas pelukannya " Kok ibu bisa bahasa inggris?" Tanya Mira dengan wajah terkejutnya.
" Ibu hanya latihan menjadi mertua untuk si bule."
" Ibu... Apaan sih!"
🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
Jangan benci sama sikap Mira ya, kita berpikir logis aja, yang namanya luka tak bisa sembuh seketika. Tetapi butuh sedikit waktu, setidaknya sampai mereda rasa nyerinya, kalau langsung sembuh, takutnya dikira ngiklan... 🤗🤗🤗